Terkuras Sudah Pikiranku

“Kalau begini kapan aku ketemu dengan calon istriku…” itu adalah hal yang sering aku keluhkan ketika menyadari bahwa pikiranku terkuras untuk banyak hal. Rasanya aku terlalu overwhelming dengan banyak pekerjaan. Dan kalau terus begini, sulit sekali bagiku untuk mencapai satu level lagi yang lebih tinggi.

Rasanya pun sudah lama sekali tidak menulis di blog, karena akhir-akhir ini aku sibuk sekali dengan banyak kegiatan. Pekerjaan yang bertumpuk-tumpuk dan tiada habisnya menyita waktu dari pagi hingga malam. Ada banyak acara kondangan. Beberapa perjalanan dinas, keseringan ada acara pergi njenguk temen yang lahiran bla bla bla… Adalah alasan yang paling klasik ketika seseorang kembali menuliskan buah pikirannya di blog. Yah bagaimana lagi sih, karena itu memang kenyataannya. Dan sekarang Ijinkan aku untuk memakai alasan klasik ini untuk yang ke sekian kalinya. Udah sering, ya, kamu kondangan, kapan nih gilirannya di kondangani? Eh! Njenguk temen lahiran ya? Kapan eh kamu melahirkan! Amsyoooong aku laki cuk!

Dulu aku berfikir setelah selesai kuliah aku bekerja dari jam-jam tertentu hingga jam-jam tertentu juga. 8 jam sehari tidak masalah begitu. Setelah selesai kerja aku bisa memanjakan diriku berselancar dalam literasi dan buku-buku. Kemudian mencurahkan pikiranku dalam tulisan-tulisan, membuat sebuah karya atau hanya sekedar berinteraksi di blog.

Hah… di kehidupan ini ternyata ada saja hal yang menyita waktu hanya untuk sekedar berselancar di wordpress. Sebetulnya aku sangat menikmati saat-saat ketika menggulung layar membaca tulisan-tulisan kece yang nongol di WP Reader; tidak seperti dulu, blog walking rutin saya lakukan, kali ini blog walking terasa hal yang begitu langka buatku… Maaf jarang blogwalking seperti dulu dan jarang berinteraksi. Padahal blog walking dan berselancar di wordpress adalah hal yang paling positif yang pernah saya dapatkan selama bermain gawai dan internet. Tapi ah sudahlah… sekarang mungkin memang ini fase-nya, tahap ketika blog jejakandi ini menjadi sebuah instrumen atau medium untuk melepaskan penat dan mereduksi beban di pikiran. Subhanalloh, kepala sekecil ini ternyata bisa memikirkan banyak hal, Ya? Subhanalloh, dengan otak sekecil ini, aku masih saja mau memikirkan hal-hal yang mungkin aku tak akan sanggup jika dalam kesempatan yang sama, aku sadar bahwa pikiran-pikiran itu hanya sampah yang faedahnya cuma sedikit. Subhanallah… masih sadar, aku memikirkan banyak hal sampai yang tak berfaedah pun, masih mau mencurahkan di sini. Ah begitu banyak yang aku pikirkan.

Pernah suatu ketika aku sempat memikirkannya untuk mengolah semua catatan harian di buku-buku, mengolah banyak file yang berserakan di drive sedemikian rupa mencari benang merah dari pikiranku. Namun nyatanya sekarang itu menjadi angan yang sungguh indah untuk terwujud.

Perasaan ini mulai membebaniku, ketika aku menemukan kenyataan ini tidak pernah sesuai dengan harapanku. Dulu aku berpikir, aku hanya perlu bekerja untuk mengisi kehidupanku, kemudian setelahnya aku hanya perlu memusatkan pada impian dan cita-cita… namun, ternyata aku bukan anak-anak lagi. Ada banyak tanggung jawab di luar pekerjaanku. Dan rasanya kemanusiaanku bakalan terus meredup kalau terus begini, semua yang aku lakukan ini tidak sesuai dengan passion-ku. Aku perlu menata dan membagi ide ini sehingga aku bisa tetap fokus pada tujuan yang sesungguhnya.

Apakah aku menyerah sekarang dengan kenyataan ini? Tidak aku tidak menyerah, hanya saja rasanya aku butuh sesuatu untuk membuat kehidupanku lebih tertata.

Lebih tertata… ini berarti kau sedang merasa sangat berantakan sekarang? Iya. Aku merasa sangat kacau. Pikiran ini rasanya terus terkuras dan kadang aku merasa bosan dan jenuh dengan semua yang aku lakukan. Gak cuma sekedar bosan atau jenuh… tapi ‘enegh’. Sebetulnya sih, hal-hal seperti ini bisa aku atasi ketika aku bertemu dengan sahabat-sahabatku. Aku menganalogikan mereka sebagai charger bagi smartphone android. Namun charger yang sering aku gunakan ini ternyata hanya charger pinjaman. Tidak mesti sebulan sekali bisa mengisi gairah dan semangatku. Padahal aku membutuhkannya setiap hari. Itulah yang aku pikirkan, itulah solusi yang aku butuhkan, sahabat dua puluh empat jam. Ketika memikirkannya… entahlah rasanya aku membutuhkan seorang istri yang bisa menjadi sahabatku. Rasanya hidupku akan sulit tertata jika belum memiliki seseorang yang demi dirinya aku akan bekerja sangat keras dan menikmati semua yang ku lakukan, yang demi dirinya aku akan terus meluapkan kegembiraan dan rasa cinta yang tak habis, yang demi dirinya energi-energi alami dalam diriku bisa terus berlipat sebagimana energi yang dimiliki orang-orang yang dinaungi matahari, yang dimiliki para Cardinal Fire, para Arian. Ya… walau memang aku menyukai apa yang aku lakukan, tapi jika begini-begini saja, tenyata bisa bosan juga nih otak. Daaaaaaaaaaaaaaaah capek, cukup sampai di sini dulu tulisannya.

Saya Andy Riyan, beginilah postingan pertama saya di bulan Februari tahun 2018.

Eh.. Sudah Februari aja ya? Kayaknya kudu siap-siap membuat daftar reading list lagi nih… Ada saran? Nonfiksi boleh, fiksi juga boleh.

Salam!

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.