Perjalanan Pulang

The Journey Home by Andy Riyan. A diary of a man who struggling to regain his bravery to fight for dream and overcome reality.

Suatu ketika sahabat penaku berkata: “Senja adalah saat ketika seseorang kembali pulang kepada keluarganya, mengistirahatkan lelah dari penat dunia yang terus berputar.” Dan aku sudah melewati banyak senja, tidak hanya sekedar sesekali saja, tidak hanya puluhan, ratusan kali aku telah melewati senja, namun aku belum menemukan rumah. Senja yang sama, masih tetap luka yang sama.

Senja tidak mengembalikan diriku pada kemanusiaanku yang semakin memudar. Sebagaimana aku masih terjebak pada pencarianku. Aku yang masih belum menemukan arti pulang meski kakiku telah menapak pada lantai-lantai di seluruh rumah. Aku masih belum merasakan pulang meski jemariku telah menyentuh dedaunan dari tanaman-tanaman yang tumbuh di halaman, yang senantiasa tercium dingin rerumputan sekalipun rumput-rumput itu telah menjadi kelabu. Aku masih gamang dengan aroma pulang meski paru-paruku telah penuh dengan manis dan sedapanya aneka masakan di dapur tempat pelipur lara itu.

Seharusnya hanya segelas kopi yang terhidangkan sementara aku menceritakan kisah-kisah tentang pengembaraanku dan seharusnya aku hanya duduk menemani dunia yang sepi ini dengan semua cerita apa saja yang telah memninggalkan jejak agar ku mengenangkannya.

Sekarang aku benar-benar percaya tentang pentingnya manajemen waktu. Ketika waktu yang aku miliki untuk dapat melakukan banyak hal terasa begitu sempit, begitu mencekik dan sungguh terbatas. Seringnya dalam berkelana, aku kecapekan. Aku ingin pulang menyelesaikan draft yang telah aku mulai. Ternyata bukan hanya waktu yang begitu mencekik, pikiran pun rasanya sudah terkuras. Sehingga apa yang ingin aku tuliskan pun tersendat-sendat. Aku mulai benar-benar iri dengan para penyair dan seniman yang sudah sangat produktif. Aku begitu iri akan para content creator yang tetap bisa mengisi lembaran-lembarannya dengan teratur disamping pekerjaan dan pengembaraannya dan perjalanan pulangnya yang sangat menuntut kegigihan dan kesabaran.

Aku ingin pulang. Ingin sejenak mengistirahatkan lelahku, sejenak bermimpi, mengembalikan energi dan semangatku yang pernah menggelora seperti dulu kala sebelum akhirnya aku harus melesat lebih gesit dan cepat. Aku membutuhkan pulang sebelum aku kemudian pergi lebih jauh dan menantang badai yang dahsyat di musim dingin. Kemanakah arah menuju rumah? Kemanakah langkah-langkah kaki ini harus tertuju? Aku ingin pulang.

Perjalanan Pulang, Andy Riyan, Maret 2018

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.