Kliwon Brengsek

“Kliwon? Ngapain kamu di sini?” Kataku kaget, ketika tidak sengaja bertemu dengannya di sebuah kafe yang berada di pinggir jalan di desa kawasan pegunungan berkilo-kilo meter jauhnya dari kota Temanggung.
“Ngopi lah… sesekali cari udara segar di luar!”
Biasanya aku dan Kliwon bersama-sama dengan Kang Paidi dan Kang Paijo sering menghabiskan waktu di brak di perempatan 3/2 yang dekat dengan warung Angkringan Kang Juned. Tetapi hari itu aku ada janjian dengan seseorang. Perempuan. Perempuan cantik kalau harus diceritakan lebih spesifik. Di Kafe itu. Kafe yang sekarang kedatangan seorang manusia yang aku berharap dia tidak ada di sini sekarang ini. Dan dia sekarang ada di sini tepat di depan mataku. Sungguh mengacaukan suasana. Saat itu aku sungguh-sungguh berharap Kliwon tidak pernah dilahirkan. Ya Tuhaaaaaaan! Kenapa makhluk ini ada di sini?
“Kamu sendiri ngapain di sini? Kopi di rumah sudah gek enak lagi ya?” Kliwon nyengir.
Sesungguhnya wajah itu sangat lucu. Giginya yang tidak beraturan membuat definisi yang berbeda tentang wajah yang menyenangkan. Rambutnya yang selalu klimis di potong semi mohawk itu sungguh tidak sesuai dengan tampangnya yang lugu. Tapi betapapun menyenangkannya Kliwon dan betapapun aku sungguh menyayanginya, sore itu aku sungguh-sungguh benci padanya. Hanya benci mengapa ia ada di sini sekarang.
“Hanya kebetulan aja lewat sini dan sialnya ketemu kamu.” Kataku jengkel. Aku berbalik dan pergi meninggalkan Kliwon.
“Woi kok buru-buru, gak mampir?” Teriak Kliwon.
Aku menyalakan motorku dan menatap Kliwon “Enggak. Males!”

***

Mas di mana kamu sekarang? Aku sudah sampai.

Bunyi WA dari seseorang yang kontaknya aku beri nama Pipi Tembem.
Aku menggeser layar ke atas, membaca percakapan sebelumnya. Aku lega. Pada janjian kali itu aku tidak menuliskan pesan seperti yang sudah menjadi ciri khasku setiap kali ada pertemuan dengan siapa saja. Misalnya, 15 menit lagi sampai. Atau, aku sampai di sana dalam 27 Menit. Atau aku akan menunggumu pukul 15. 45 mampir sebentar ke Musholla. Aku tidak melakukannya hari itu karena aku belum pernah memperhitungkan lamanya perjalanan menuju kafe yang memiliki pemandangan langsung menghadap pada lebatnya hijau rerumputan dan pohon-pohon rimbun di kawasan perhutani. Aku bernafas lega. Tapi ini akan menjadi yang pertama kalinya aku mesti berbohong pada PPT (Perempuan Pipi Tembem).

Ketemuannya di cancel aja, ya. Aku baru inget, aku harus ngaji gantiin Ustadzah Arikah.

Aku merasakan tanganku gemetaran cukup hebat. Aku khawatir akan terjadi kebohongan yang beruntun. Beruntungnya percakapan ini melalui pesan teks, coba pesan suara, aku tak bisa membayangkannya. Bodoh! Kenapa malah nyari perkara gini sih! Dasar bodoh! Gali lubang untuk diri sendiri.

Ya sudah! Bilang dong dari tadi.

Aku cuma membalas dengan emot icon tangkupan tangan sebanyak tiga kali.
***

Hari berikutnya.

“Yah kamu, Yan… Coba kemarin kamu jadi nongkrong di Kafe Jeruk Legi itu.” Kata Kliwon tiba-tiba ketika aku sedang asik ngajari Kang Paidi bermain game tetris menggunakan hapeku.
“Memangnya kenapa, Won?” Jawabku acuh.
Kang Paidi tidak peduli dia tampak serius memandangi layar hape. “Piye to iki… kok gak iso di pejet!” Kata Kang Paidi agak gugup.
“Jempol mu gegeden, Di! Gak bakat sampeyan dolanan smartphone.” Ujar Kang Paijo.
“Bukannya nongkrong tapi malah pergi. Memang bukan rejekimu, Yan.” Kliwon terus nyerocos. Aku melirik ke arah Kliwon. Kliwon tersenyum puas, “Beberapa saat setelah kamu pergi, ada cewek cakep datang, Yan! Beneran cakep! C A K E P!”
Nyas! Dadaku berdesir-desir tidak karuan.
“Ha kenalan ora? Ora kenalan percuma…” Sahut Kang Paijo.
“Kenalan dong…! Siapa dulu Kliwooooon!” Kliwon menepuk-nepuk dadanya sendiri dengan perasaan bangga.
Hatiku terasa sangat panas. Jangan-jangan itu Pipit, kataku dalam hati.
Sopo jenenge, Won?” Tanya Kang Paidi datar tanpa memalingkan mukanya dari layar hape.
“Rini, Kang!” Kliwon tersenyum.
Huh. Aku mendesah lega. Tapi mendadak kepalaku pusing, pandangan terasa sangat gelap. Rini? Pasti enggak salah lagi! Pipit Pusparini!
“Punya fotonya enggak?” Tanya Kang Paijo.
“Punya… untungnya aku sempat nyolong pas dia lewat di depanku.” Kliwon kemudian sibuk mengutak-atik smartphone nya. “Niiiiih cantik gak?” Kliwon menunjukkan foto itu di depan kami bertiga.
Dengan dongkol aku berteriak: “KAMPREEEEEEEET KOE WOOOOOOON!!”

Keterangan, sumber photo : pxhere.com

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.