Ketika Keran Pertama Terbuka

Suatu hari ketika saya memulai untuk menuliskan ide dalam sebuah lembaran-lembaran buku tulis, kalimat pertama yang muncul begini: “Untuk pertama kalinya aku mempraktikkan free writing di buku.” Sebagai mana yang sudah saya katakan “ketika saya memulai untuk menuliskan ide” sebetulnya saat itu tidak ada ide yang pasti yang ingin saya tuliskan—saat itu yang muncul dalam kepala saya hanyalah : ‘Untuk pertama kalinya aku mempraktikkan free writing di buku’—, tidak seperti kali ini, ada sebuah ide yang pasti yang ingin saya sampaikan, yaitu cerita tentang pengalaman saya ketika untuk pertama kalinya melakukan free writing di buku.

Sekali lagi saya akan mengulang cerita, gagasan utama pada artikel kali ini bermula dari sebuah keran pertama : ‘Untuk pertama kalinya aku mempraktikkan free writing di buku’ yang terbuka. Itu terjadi pada suatu malam ketika komputer saya rusak dan tidak bisa dipakai.

Bagaimana mungkin galon yang berisi air putih akan keluar susu atau kopi? Bagaimana mungkin?

Orang paling sakit pun tidak akan mengkhayal itu—Premis pertama–bisa terjadi dan saat itu saya memang sedang mengeluarkan sumbat itu sambil meminum kopi. Aku pun terus menggoreskan Fountain Pen ku yang terbuat dari redwood dengan nib Iridium Germany–mata pena standar— yang cukup baik karena tidak menghambat tangan saya untuk kosentrasi penuh ketika menggoreskannya dalam jurnal yang kelak ketika selesai akan saya beri judul “Tarian Liar Pena Ku” atau “Ketika Jemariku Menari”. Kadang saya geli sekali setiap membaca konsep judul itu, karena belum menemukan judul lain. Sebab itu seperti judul buku yang ditulis Bambang Pamungkas.

Saya masih terus menggoreskan kata-kata aneh yang tidak berbentuk. Sampai saya menyadarinya, ketika menuliskan begini : “Salah satu keunggulan free writting dengan menuliskan di buku, yang tidak dimiliki ketika menuliskannya di komputer, yaitu tak akan ada ‘typo’ meskipun kamu ‘merem’ ataupun menoleh ke arah lain.”

Ketika saya menyadari hal itu, saya pun tidak menghentikan jemari saya yang sedang menari dengan sangat liar dan gila itu. Sebab pantangan pertama dalam free writing adalah tidak boleh berpikir atau membaca ulang sampai kegiatan free writting itu selesai (aku memberi batasan 10 menit). Membaca ulang, mengoreksi ataupun berpikir saat melakukan free writting hukumnya adalah haram. Kata-kata yang keluar berikutnya pun mengejutkan saya. Si penulis terkejut dengan tulisan yang lahir dari pikirannya sendiri, dapatkan kau membayangkannya?

Tulisan-tulisan berikutnya itu begini : “Kamu bisa membayangkan betapa payahnya menulis tangan hingga typo? Sungguh sangat menggelikan. Tetapi kalau dipikir-pikir berkaitan dengan asal-muasal bahasa, tidak akan pernah ada typo dengan tulisan tangan. Kata typo sendiri berasal dari Bahasa Inggris ‘Type’ artinya mengetik. Jadi, bagaimana mungkin tulisan tangan akan berkorelasi dengan ketikan? Menulis itu bukan mengetik!”

“Jadi,… ini adalah contoh sederhana dari pengaruh Bahasa.”

Bahasa akan turut serta dan memberi andil dalam melatarbelakangi karakter dan perilaku suatu bangsa. Apabila definisi diartikan secara salah maka akan terjadi tumpang tindih suatu makna. Bisa jadi apa yang sebetulnya kita inginkan tidak tercapai karena tidak tepat dalam menggunakan Bahasa.

Misalnya manusia diciptakan itu untuk beribadah dan menyembah tuhannya. Tapi definisi tuhan ( t kecil atau t besar tidak akan menjadi tesis maslah di sini, abaikan saja dulu) yang kita dapatkan dari orang-orang yang—maaf—materialistik, pemahaman kita terhadap tuhan pun menjadi materialistik, yang kita pahami dari pengajian-pengajian dari syair-yair suci dari puji-puji dari mana saja; misalnya kita memberi sedekah atau sumbangan maka kita akan mendapatkan hal yang lebih besar dari sumbangan yang telah kita berikan (materialistik banget). Kita bangun tengah malam berdo’a memohon kepada tuhan agar dilancarkan rezekinya (materialistik tanpa tedeng aling-aling lagi nih ah); jangan-jangan tuhan yang kita konsepkan selama ini adalah tuhan yang materialistik hingga kita sibuk berdebat tuhan siapa yang paling benar. Kita meributkan bagaimana wujud tuhan. Terdiri dari materi apakah ia? Unsur dan senyawanya apakah ia? Kita pun meributkan jumlah tuhan, berapakah jumlah tuhan? Satu? Tiga? Sembilan belas? Atau….?!@#$^&&%(*()($#@!??:”>.

Apa sih yang sebetulnya pengen kamu katakan?

Begini, maksud saya, jika bahasa disalah artikan, jika bahasa tidak digunakan sebagaimana mestinya—kita mengenal warna soklat (sengaja aku menulis begini, bukan coklat) Bahasa Inggris-nya Brown, kemudian orang antah berantah sana memakan makanan yang di olah dari biji Kakao (cocoa) menyebutkan nama makanan itu sebagai chocolate, Bahasa Indonesianya juga Coklat. What the hell! Yeaaaaah!!!.

Analogi di atas, tentu belum menjelaskan maksud saya, dan coklat yang berupa makanan atau coklat yang itu artinya warna, saya kira tak ada yang salah cuma rada anu aja, sih.

Jika bahasa disalah artikan, atau salah namun di-kaprah-kan jadinya ya salah-kaprah (opo sih?! Opo yo mungkin salah terus segojo digawe kaprah?), sesuatu yang sudah disalahkaprahkan itu tidak akan berjalan sebagaimana definisi seharusnya.

Saya mengambil contoh belajar. Belajar, dalam Bahasa Arab, tholabul ‘ilmi, itu wajib ‘ala kulu muslimin wal muslimat. Kemudian pemerintah kita mewajibkan ‘Wajar’, wajib belajar, sembilan tahun? Dua belas tahun? Apa-apaan maksudnya ini? Kewajiban belajar kok jadi kewajiban sekolah? Belajar ya belajar, sekolah ya sekolah! Jadi maunya itu wajib belajar 9 tahun, 12 tahun? Atau wajib sekolah? Jare Cak Nun: “Piye iki rek?”

Belajar kok cuma 9 tahun. Belajar itu seumur hidup! Dari sejak ayunan sampai liang lahat!

Kewajiban belajar berubah menjadi kewajiban sekolah ini agak meresahkan saya juga, seolah-olah orang yang tidak bersekolah menjadi orang yang tidak terpelajar. Dan orang-orang yang sekolahnya sampai tingkat tinggi tertentu kadang menjadi sok dan bahkan menganggap dirinya sendiri adalah orang yang terpelajar dan wajib baginya mendapatkan kedudukan yang terhormat, merasa perlu aspirasinya lebih didengar daripada orang-orang yang tidak mencapai tingkat setinggi itu.

Kewajiban belajar berubah menjadi kewajiban sekolah ini agak meresahkan saya juga. Persoalan bangsamu memang komplek sekali, Ndi! Kompleks! Harus ditambah huruf ‘s’ untuk menempatkan kata benda, nomina yang bersifat plural. Karena permasalahan bangsamu sangat banyak dan itu perlu untuk menegaskannya dengan kata yang bermakna jamak. Sudah salah! Belagu lagi! Memangnya kata ‘komplek’ itu nomina? Kata benda? Itu kata sifat lik! Sejak kapan kata sifat mengenal tunggal dan plural? Begitulah persoalan bangsamu!

Lho koe kok ngeyel? Komplek kui kata benda, Lik! Komplek A, Komplek B, Komplek Taman Asri, Komplek Taman Sriwedari? Ha ha ha. Hasembuhlah!!!

Kewajiban belajar berubah menjadi kewajiban sekolah ini agak meresahkan saya. Banyak instansi dan bahkan masyarakat sendiri menghakimi bahwa orang yang tidak bersekolah adalah orang yang tidak terpelajar. Seorang yang ingin menjadi guru, harus seorang sarjana. Seseorang harus mencapai level tertentu untuk bisa menduduki suatu jabatan. Padahal kalau kamu mau tahu, gadis cantik yang aku jatuh cinta padanya, Sri Gitarja Tribhuanatunggadewi, tidak pernah lulus SD, tapi bisa menjadi Ratu bagi kejayaan Majapahit.

Sekali lagi, kewajiban belajar berubah menjadi kewajiban sekolah ini agak meresahkan saya. Seseorang harus mencapai level tertentu untuk bisa menduduki suatu jabatan. Kemarin terjadi sebuah kekosongan kepemimpinan di kampung saya, kepala dusun sudah sepuh dan pensiun dan sampai sekarang kekosongan itu tetap dibiarkan kosong karena tidak ada penerusnya. Selain jabatan itu tidak terlalu bergengsi, jabatan itu menuntut seseorang tamat SMA untuk dapat mendudukinya. Penduduk yang tamat SMA di kampung saya hanyalah orang-orang yang masih muda. Mereka tidak berani menduduki jabatan sebagai Kepala Dusun. Kau tahu? Anak muda yang masih cetek pengalamannya bisa saja di ‘Pret’-in sama warga. Kepala Dusun haruslah seorang yang mempunyai pengalaman yang banyak, berjiwa besar, berpengaruh untuk bisa memimpin Desa. Kalau harus yang tamatan SMA… masih bau kencur begini? Bisa-bisa tidak di dengar tuh, di cuekin dan paling parah kalau sampai di jembelotin—susah nyari padanannya dalam Bahasa Indonesia— dan di ‘Pret’ in. Anjaaaaayyyy!!!

Dari free writting ini, setidaknya, saya belajar bahwa penting sekali untuk membuka keran pertama yang kemudian akan mengalirkan gagasan—yang bisa jadi adalah gagasan orang lain yang kamu olah—yang kemudian menjadi dasar dari pemikiran selajutnya. Menjadikan saya manusia yang senantiasa ingin terus berpikir. Apa gunanya selama ini saya menjaga perut agar jangan sampai begitu kenyang sehingga membuat otak menjadi lamban dan malas berpikir, kalau pada akhirnya aku tidak mau memikirkan hal sepenting ini, berkaitan dengan bahasa? SUDAH TIDAK KENYANG, BERAT BADAN GAK NAMBAH-NAMBAH MALAS BERPIKIR PULA!

Hal sepenting ini, bahasa, mulai harus saya maknai dengan sungguh-sungguh. Sebab sejauh pengetahuan saya, bahasa adalah sesuatu yang sangat sakral yang diajarkan oleh Tuhan sendiri. Bahasa adalah salah satu ajaran Tuhan, yang tanpa-Nya, tanpa campur tangan-Nya, mustahil dapat dipahami oleh manusia. Bagaimana mungkin Tuhan tidak mengajarkan pada bayi untuk menangis ketika ia lapar? Dan dengan kehendak Tuhan, sang ibu memahami bahasa bayi itu dan segera menyusuinya.

Bahasa adalah sesuatu yang sangat suci dan sakral, ajaran yang nyata sangat tampak berasal dari Tuhan, yang entah Tuhan sematerialistik apakah Dia. Yang jika aku meniadakan kematerialistikannya, aku belum memahami seperti bagaimana adan-Nya? Aku hanya percaya bahwa Allah itu wujud, qidam dan baqo’.

Bahasa adalah salah satu ajaran Tuhan yang sangat nyata, yang aku menduga-duganya, maksud dari Surat Al-Alaq itu, yaitu bahwasannya Tuhan mengajari manusia, apa yang tidak ia ketahuinya. Tuhan mengajari manusia melalui perantara qolam. Hurf Qof, qolam, pena? Tulis baca? Bayi bisa membaca? Yang dibaca mungkin bukan huruf dan tulisan yang kita kenal. Bisa jadi apa yang dibaca tidak selalu wujudnya harus materi seperti yang kita inginkan (ah makhluk materialistik). Wallahu ‘alam.

Buah Pikiran Bebas
di tulis oleh : Andy Riyan, 6 April 2018
keyword: Mengalirkan ide, Bahasa, Kewajiban Belajar,
Keran Pertama, Teknik Menulis, Materi, Materialistik,
Filsafat, sosial, sosiologi, free writing
Catatan: Free Writing adalah teknik menulis yang
dikemukakan oleh Pak Hernowo Hasim, seorang penulis yang
produktif dan menghasilkan puluhan karya.
Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s