Cantiknya Mubazir

“Berjalanlah kamu di atas jalanmu sendiri, begitupun aku, akan berjalan di atas jalanku sendiri.. Tuhan Mahatau.. kita kan sejalan lagi nanti.”

Keheningan tidak mampu mengusai keadaan, meskipun malam telah jatuh pada titik kesunyiannya. Udara juga tidak menjadi dingin walau angin telah berhembus membawa kabut-kabut malam yang paling dingin. Keramaian di setiap sudutnya, di kota itu, tidak akan pernah mati. Dan jika ada satu ritual suci nan sakral yang semasa SMP dan SMA mampu kujalani dengan sungguh-sungguh dan kini hilang adalah Tahajud.

Entah karena diriku yang mulai berlumuran banyak dosa, sehingga tak mampu merengkuh kesunyian malam. Entah karena aku yang semakin rasional, sehingga sisi relijius dalam diri perlahan-lahan terkikis. Atau entah karena sudah terlalu akrab dengan bahasa malam, sehingga jarak yang semula ada yang membuatku segan dan hormat kepadanya telah terlipat-lipat sedemikian sehingga begitu dekat. Entah kebenaran yang mana… tapi lima tahun itu telah cukup untuk menodai keheningan dan kesakralan malam-malam ku hingga kini.

Dan di suatu malam yang tak lagi dingin, tak lagi sunyi, tak lagi… well, suci… di satu sudut di tempat yang sering di kunjungi di Jogja, di Alkid, untuk yang kesekian kalinya aku membicarakan banyak hal dengan Rani (bukan nama yang sebenarnya).

“Aku tak tahu, apakah mimpi-mimpi kita ini akan terus hidup,” Kataku pada Rani, “sementara sudah pasti kita akan kembali memenuhi takdir kita masing-masing.”

Rani tertunduk, ia hanya mengunyah-nguyah sedotan plastik dari pesanan segelas jus jambu yang sudah lama kosong. “Aku pun ragu, kalau kamu punya pacar…” Rani terbangun dari renungannya dan mendadak menggenggam erat tanganku sebelum aku bisa menyelesaikan yang ingin ku katakan.

Tatapan mata Rani begitu menusuk, seolah mengatakan, “tidak, itu tidak akan terjadi, kita akan baik-baik saja.” Namun aku tak terbiasa menghentikan topik yang tengah berjalan menggantung begitu saja, aku pun tak ragu untuk menyelesaikan kalimat ini meski keringat dingin Rani telah terasa membasahi telapak tangan,

“Kita masih bisa jalan dan ketawa bareng-bareng seperti ini, aku ragu.” Aku bilang.

Rani melepaskan genggaman tangannya. Aku membuang muka, menatap langit gelap tak berbintang. Pemandangan yang tak lagi aneh; langit kota itu seperti telah diselubungi oleh selimut mistis, aku tak ingat kapan bintang pernah berpijar di langit Jogja ketika malam datang. Dan tentang bintang di langit Jogja, aku hanya mengingatnya ketika fajar telah memecah di timur jauh, ketika Yupiter sudah tenggelam, ketika hanya ada satu rasi bintang terakhir yang terdiri dari 4 bintang membentuk ekor di arah tenggara 8 penjuru mata angin sebelum bintang putih terakhir yang terlihat; Venus. Yang seharusnya di tempat lain, di kota ku, masih ada merkurius yang nampak ketika bintang-bintang itu menghembuskan napas terakhirnya sebelum tidur.

“Kamu tahu tentang kisah Nabi Sulaiman… ” Rani bilang.

“Yang mana?” kataku memotong tanpa mengalihkan tatapanku pada langit gelap.

“Meskipun di antara Sulaiman dan Bilqis terdapat rentang dan jarak yang cukup jauh…” Rani yang semula menatapku dengan tajam menyipitkan matanya dan kedua bahunya mengendur. Fix, di kehilangan semangatnya.

“Ya, aku mendengarkan, maaf…” tampaknya Rani sedikit jengkel, karena ia mungkin menangkap raut muka yang aneh ketika aku menyimaknya berbicara. Mengeryitkan dahi dan garuk-garuk kepala. Tapi aku tak bisa menahannya. Itu tidak disengaja, itu otomatis. Apa aku harus berkompromi dengan masalah ini?

“Kau bilang apa tadi? Sulaiman dan Bilqis berjauhan? Borobudur dan Ratu Boko, gak jauh kali… Magelang-Jogja. Cuma berapa…”

“Kau gila! Itu teori Pak Fahmi Basya… kau percaya?”

Kali ini, aku dengan sengaja menggaruk kepalaku, bedanya jika tadi di bagian belakang dekat dengan ‘uyeng-uyeng’ sekarang dekat dengan pelipis sebelah kanan. Tak lupa, aku sengaja meringis seperti orang kesakitan. Aku kira Rani tahu maksudnya.

“Terserah, gini aja… terserah Sulaiman di mana Bilqis di mana, yang jelas mereka berjauhan.” Rani memiringkan kepalanya dan mencuatkan alis sebelah kanannya. Bagaimana? Kira-kira maksudnya begitu.

“Karena ada sesuatu? Sulaiman bertingkah kejauhan sih, tapi mungkin karena dia sayang…”

“Gak lucu! Lagu itu gak cocok dijadikan soundtrack kisah ini.”

“Oke! Terus?”

“Gak usah ada soundtracknya segala…”

“Bukan! Bukan itu… Sulaiman dan Bilqis-nya berjauhan terus apa?”

Dengan polosnya Rani hanya berkata ‘oh’, kemudian mengalihkan pandangannya dariku, memejamkan mata lalu katanya kemudian dengan menatap miring ke arahku,

“Meskipun Sulaiman dan Bilqis berjauhan, mereka tetap dapat berkomunikasi…”

“Kok bisa? Mereka menguasai ilmu sihir ya? Pakai telepati? Atau kaca benggala? Atau liat di permukaan air seperti Mak Lampir? Atau… ” Aku akan terus menggoda Rani sampai dia menangis.

“Bukan! Kamu gak ilmiah banget sih, klenik! Mereka berkomunikasi lewat burung Ababil!”

Aku ternganga, takjub demi mendengar jawaban Rani yang tak terduga. “Apa katamu? Burung Ababil?” Aku tak percaya.

“Iya burung Ababil…” katanya tajam dan galak seolah aku ini adalah domba gemuk dan dia adalah Serigala yang sudah puasa tidak makan tujuh hari tujuh malam.

Aku mengangkat tangan dan hendak meneriaki dia, kalau dia sinting. Tapi sebelum sempat terlaksana, rupanya Rani tahu gelagat maksudku.

“Diam!” teriak dia. “Kamu pikir aku mau ikutan kamu? Percaya klenik? Tidak ilmiah? Kamu pikir aku akan bilang kalau Sulaiman dan Bilqis berkomunikasi lewat burung Ababil seperti dongeng yang sering kau ceritakan? Nala dan Damayanti? Lewat Angsa yang berbicara? Kau pikir aku akan begitu, Heh? Sulaiman memang bisa berbicara dengan hewan, tapi Bilqis tidak! Jadi itu tidak mungkin. Aku punya alasan ilmiah… Diam! Turunkan tanganmu!”

Aku semakin terkesima dengan Rani. Rani perempuan cantik, bola matanya besar, pupilnya hitam dan penuh, wajahnya bersih tak ada garis di pipinya, semuanya melengkung seperti garis-garis maya yang bias oleh warna, dan di dahinya tumbuh rambut-rambut halus yang menjadi daya tarik paling utama. Perempuan secantik Rani pun, kalau ngomongnya ngaco seperti orang bego, cantiknya jadi mubazir. “Ya Tuhan, cantik-cantik kok ngaco gini.” Tapi kata itu hanya bergema di ruang-ruang hampa dalam otak ku. Aku tidak setega itu meruntuhkan kepercayaan dirinya. Aku hanya berkata “Oke.”

“Mereka berkomunikasi melalui surat yang dikirimkan lewat burung Ababil itu.”

Ya tuhaaaaaaaaaaan! Anak ini benar-benar…” teriakku dalam hati.

“Jarak tidak menjadi masalah, selama masih ada tekad dan itikad baik untuk menjaga komunikasi, komunikasi itu pasti bisa dilakukan.”

“Hemmmm…” Aku sengaja memasang tanganku di bawah dagu dan menggosok-gosoknya sejelas mungkin dan memutar-mutar bola mata melirik ke kakan, kekiri keatas dan ke bawah agar Rani tahu, kalau aku tidak sependapat, aku menolak dengan sangat halus ku kira.

“Kenapa?” dia bilang.

“Kok burung ababil sih..” Kataku sengaja samar-samar seperti orang yang sedang ngomong sendirian.

“Iya Ababil, burung yang gedenya cuma segini.” Rani mengepalkan tangannya kemudian membolak-balikkan genggaman itu sambil meleng-meleng seperti sedang menimbang-nimbang. “Bukan sih, lebih kecil lagi.” Dia bilang. “Ya kira-kira gedenya cuma segede burung emprit.”

“Grkgg Grkkg… haaaaek..” Aku tersedak ludahku sendiri. “Apa kau bilang? Cuma segede emprit? Gimana bawa suratnya?”

“Kau bodoh rupanya, ya?” Maki Rani “diselipin di kakinya lah, di kakinya itu ada logam seperti cincin gitu. Jadi suratnya digulung di situ?”

“Lah kecil banget dong, emang bisa dibaca?”

“Pakai kaca pembesar lah, gimana sih?”

“Ha? Zaman Sulaiman sudah ada mikroskop?”

“Bukanlah! Itu lho pakai lensa yang segede permen lolipop, yang sering dipakai Serlock.”

“Loop?”

“Nah itu dia…”

Aku garuk-garuk kepala lagi.

“Ah orang seperti kamu, mana tahu lah hal-hal kek gitu.”

“Hemmmm…. Burung Ababil itu, bukanya yang dibacakan di surat Al Fiil itu ya, Ran? Al Fiil itu gajah bukan?”

Krik… Krik… Krik… Krik.


Judul : Cantiknya Mubazir, Mending cantiknya di kasih ke orang lain saja
ada yang protes, kalau cantiknya dikasihkan keorang lain apa jadinya? udah ngaco jelek pula, tega?
Eh gimana ya?

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.