Screenplay 1 : Bunga Lily

long-sheath-white-lilies-hand-bouquet-fa4021
Gambar dari Google

TAMAN BALAI KOTA

PEREMPUAN GEMUK :
Gak papa sudah kering, boleh aku menerimanya, sekarang?

Laki-laki kurus menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya. Perempuan gemuk itu pun tersenyum.

(Satu bulan sebelumnya)

DI SEBUAH KAMAR KOS MAHASISWA

Seorang laki-laki kurus masih mengenakan jaket denim dan kemeja biru, terkapar di kamarnya. Wajahnya pucat masai. Tubuhnya terlihat tak berdaya. Ia terpejam sambil meringis kesakitan. Tangannya terus memijat-mijat kepalanya.

IBU KOS :
Ai, kamu dari mana saja? Kamu kan belum sembuh. Lihat tuh mukanya pucat sekali. Tadi dicari Rama, katanya akan membawa kamu ke rumah sakit. Tapi pas aku cari kamu enggak ada.

(Tiga puluh menit sebelum itu)

AREA PARKIR, GEDUNG PERTEMUAN

Ai, seorang mahasiswa tingkat akhir–semester tua–, seperti yang lainnya, berdiri di antara kerumunan orang yang sedang merayakan wisuda teman atau keluarga mereka.

Angin berhembus kencang. Daun-daun beringin jatuh seperti hujan. Daun-daun kering berserakan di lantai conblock, tersibak perlahan-lahan.

Tatapan mata Ai lurus ke depan, memandang pintu gedung pertemuan. Menantikan seseorang yang akan datang. Di tangannya tergenggam seikat buket bunga lily lengkap dengan daun-daunnya. Titik-titik air berkumpul di dahi dan wajahnya yang pucat seperti orang sakit.

Orang-orang; tua-muda, remaja-anak-anak, laki-laki-perempuan hilir mudik berdesak-desakan di sekitar Ai.

Seorang anak menangis tersedu-sedu meminta dibelikan sebuah layang-layang.

MAHASISWI, PEDAGANG BUNGA :
(Menunjuk buket yang besar) Yang ini, lima belas ribu. (Menunjuk buket yang kecil). Kalau yang ini sepuluh ribu.

MAHASISWI BERJILBAB MERAH :
Kemahalan, ini (memegang buket besar) sepuluh, yang itu tujuh ribu.

Mahasiswi pedangan bunga tertawa.

Mahasiswi berjilbab merah tersenyum. Senyum itu nyaris tak terlihat. Ia mengembalikan bunga itu ke keranjang, mundur, lalu menghilang di antara kerumunan.

Sekelompak mahasiswi dan mahasiswa terlihat sedang mengobrol. Satu yang memakai baju hitam kotak-kotak melompat.

MAHASISWA BERBAJU HITAM KOTAK-KOTAK:
Yuk kita photo dulu.

Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Teman-temanya berkumpul berdesakan mengelilinginya. Dengan kamera depan ponselnya, ia mengambil photo itu beberapa kali.

(20 menit berlalu)

Ai masih berdiri di tempat yang sama.

Seorang mahasiswa mengenakan toga keluar dari pintu. Teman-temanya menghampiri lalu menyalaminya. Mahasiswa bertoga yang lain keluar dari pintu yang sama. Teman-temannya datang dan merangkulnya.

Titik air sebesar biji jagung menggelembung di atas alis Ai. Air itu jatuh mengenai pelupuk mata.

Mata Ai bergerak tak teratur. Bibirnya bergetar-getar. Tangannya bergetar-getar, menggengam, meremas tangkai-tangkai bunga lily terlalu kuat.

Ai berbalik membelakangi pintu. Ia mendesak maju, melawan arus orang-orang yang berdesakan ke arahnya. Ai terus mendesak dan baru berhenti ketika sampai di bawah pohon beringin. Ia duduk di atas lingkaran semen permanen yang melingkari pohon beringin. Kepalanya menunduk, bahunya merosot turun. Keringat bercucuran di dahi dan pelipisnya, air itu terus jatuh ke lantai conblock melewati pipinya.

(Kembali ke masa sekarang, Oktober 2014)

TAMAN BALAI KOTA

Seorang laki-laki kurus, berambut lurus, berjaket denim biru dongker. Reselting jaket itu di buka memperlihatkan kaos putih favoritnya. Celananya jin hitam dan sepatunya, sepatu sport warna putih, ada bercak kotor di sisinya.

Laki-laki kurus itu sedang duduk sendirian di bangku di bawah tiang lampu. Keningnya berkerut, mencoba memahami buku yang sedang dibacanya.

Seorang perempuan gemuk, tidak gemuk sekali, tetapi tidak bisa dibilang langsing. Tingginya sekitar 165 dan beratnya sekitar 50. Muka bundarnya bersih, pipinya yang berisi selalu terlihat segar. Ia mengenakan jilbab biru muda, warna yang sama dengan bajunya. Celananya jin hitam. Sepatunya kasual berhak rendah. Di bahu kanannya bergelayut tas kulit warna hitam dengan manik-manik yang menyala.

PEREMPUAN GEMUK :
Ai!
(Ai, menoleh. mulutnya ternganga)
Ai, sedang apa kamu di sini?
(Tika mendekati Ai dan langsung duduk di sampingnya)
Ya, ampun, Ai, apa kabar?
(Tika meletakkan tangan kirinya di atas paha kanan Ai.)

Ai menatap perempuan gemuk itu 5 detik lebih lama dari sebuah daun yang jatuh di antara mereka. Perempuan berpipi tembem itu tersenyum.

AI :
Tika?
(Ai menoleh ke sekelilingnya lalu kembali menatap Tika)
Apa yang sedang kamu lakukan di sini?
(Tika melebarkan senyumnya. Ai menutup wajahnya dengan buku kemudian menatap Tika lagi.)
Aku…
(diam, berhenti sejenak, musik musim semi mengalun pelan. Selembar daun kembali jatuh. Ai tersenyum.)
Alhamdulillah sehat.

TIKA :
Di antara banyak tempat di kota ini, bukan, di dunia ini…
(Tika melihat sekeliling dan menatap lurus ke wajah Ai)
Kenapa kita harus bertemu di tempat seperti ini.

Ai mengerutkan dahi. Ia menatap ke atas. Awan gelap bergerak perlahan-lahan.

AI :
Kurasa, ini pertama kalinya, kita bertemu di tempat ini.

TIKA :
Memang!
(Ai memandangi Tika, ia menaikkan alisnya.)
Kita pernah bertemu di tempat seperti ini, di taman Gedung Bahasa, bertahun-tahun yang lalu. Kamu masih ingat? Itu adalah pertemuan kita yang pertama.

Ai dan Tika kemudian bernostalgia. Mereka membicarakan bagaimana hari-hari yang mereka lalui selama bersama ketika mengambil mata kuliah Bahasa Inggris di Kelas Bahasa. Mereka juga membicarakan kebetulan yang mempertemukan mereka di kelas yang sama untuk mata kuliah Bahasa Arab. Yang mana pertemuan mereka di kedua Kelas Bahasa tersebut yang menjadi awal jalinan hubungan mereka.

Ai dan Tika terus mengobrol hingga berlarut-larut. Mereka pun masih mengobrol ketika Adzan Ashar berkumandang. Dan mereka pergi bersama-sama, berjalan kaki menuju masjid terdekat. Mereka kemudian masih mengobrol setelah selesai sholat. Obrolan kali ini seputar kehidupan yang mereka jalani sekarang.

TIKA :
Aku sedang nyari kerja sekarang. Minggu depan insyaallah sudah wawancara di perusahaan garmen di dekat rumah.

AI :
Semoga sukses!

TIKA :
Kenapa sedih? Kamu gak suka kalau aku dapat pekerjaan?

AI :
Hah?! Kamu gila? Memangnya ada temen yang lebih suka temennya menganggur daripada kerja?

TIKA :
Ah biasanya seperti itu, seseorang kadang bahagia di atas penderitaan orang lain.

AI :
Jadi… Menurutmu, aku seseorang seperti itu?

TIKA :
Gak juga sih. Eh gimana, skripsimu
(Ai, menaikkan alis)
sudah sampai bab berapa?
(Ai, menundukkan kepalanya. Ia melipat bibirnya kuat-kuat. Tika memperhatikan Ai. bibirnya juga terlipat sama seperti Ai.)

AI :
Aku sedang vakum, aku meninggalkan TA dan meninggalkan dosenku. Aku gak ngerti mengapa beliau gak bisa membantuku mengenai TA sialan ini. Sudah 6 bulan aku meninggalkannya.

TIKA :
Kamu harus mulai berhenti memikirkan dirimu sendiri, Ai. Coba kamu mulai melihat orang-orang yang kamu sayangi. Orang-orang yang menyayangimu… Cewek…
(Tika menatap Ai yang juga menatapnya. Padangan mata mereka bertemu pada satu titik di garis yang lurus.)
Cewek kamu misalnya.
(Tika mengulum bibirnya. Ai menelan ludah yang tersangkut di tenggorokannya.)

AI :
Oh ya, bulan lalu aku datang ke wisuda kamu. Cuma kamu sulit ditemukan.

TIKA :
Kamu pasti tidak sungguh-sungguh mencariku.
(Ai menatap Tika. matanya bergerak-gerak tak teratur.)
Bunga lily itu untuk siapa? Cewek kamu ya?
(Tika kembali mengulum bibir. Ai ternganga.)

AI :
Bagaimana… Bagaimana…

TIKA :
Fatma.

AI :
Fatma?

TIKA :
Fatma, bilang sama aku. Waktu itu dia melihat kamu membawa bunga lily.
(Tika menyipitkan matanya.)
Aku penasaran, siapa cewek itu… Kok bisa-bisanya aku enggak tahu. Bertahun-tahun kita kenal, tapi aku gak tahu. Aku penasaran.
(Ai menunduk, memejamkan matanya.)
Kamu memang pandai menyembunyikan sesuatu ya? Apa jangan-jangan kamu juga pandai menyembunyikan perasaan ya?Ai mengulum bibir, meremas tanganya

AI :

(berbisik)

Bunga itu… Aku bermaksud memberikannya padamu.

Mata Tika terbuka lebar.

Hening. Hening sekali. Hening selama 2 menit.

TIKA :
Apa? Kamu bilang apa?
(Tika mengusap pipi dan matanya yang berkaca-kaca.)
Kamu bilang bunga itu untuk aku?
(Ai mengangguk. masih belum menatap Tika.)
Kenapa tidak kamu kasihkan ke aku, Ai?
(Ai menggelengkan kepalanya.)

Hening.

TIKA :
Bunga itu, bunga itu terus kamu apain?
(Ai memejamkan matanya.)
Bunga itu dikemanain? Kamu buang?

Ai menggelengkan kepalanya. Ai sekarang menatap Tika.

AI :
Bunga itu masih ada. Aku tinggal di atas lemari di kos ku.

TIKA :
Bunga itu pasti sudah layu, sudah kering. Masih kamu simpan?
(Ai mengangguk.)
Gak papa sudah kering, boleh aku menerimanya, sekarang?

Ai menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya. Tika pun tersenyum. Ai mengangguk lagi. Dan kemudian keduanya beriring-iringan pergi ke kontrakan Ai.

Tika menunggu Ai di luar rumah. Ai mengambil bunga lily yang sudah menghitam dan kotor. Ada sarang laba-labanya juga.

Ai memberikan bunga kering itu kepada Tika.

Adzan Maghrib berkumandang. Ai dan Tika menoleh ke barat, kearah datangnya suara Adzan. Langit senja di sebelah barat terlihat kemerah-merahan. Tika tersenyum.

TIKA :
Ai, boleh aku minta kantong plastik.

AI :
Tentu.

Ai masuk lagi ke dalam, satu menit kemudian sudah membawa kantong plastik bekas bungkus belanjaan dari minimarket.

TIKA :
Ai, terima kasih, sudah menyimpan bunga ini untuk ku. Aku pulang dulu sudah malam, nanti dicari ibu
(Ai mengangguk.)Tika meraih tangan Ai, kemudian diciumnya.

TIKA :

Assalamu’alaikum.

Ai terpana. Mulutnya ternganga dan tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Ia hanya mengamati Tika yang pergi meninggalkannya mengendarai motor matic yang dulu sering dikendarainya bersama Tika, berboncengan pergi kemana-mana.

TAMAT.

Screenplay 1 : Bunga Lily
Writer            : Andy Riyan
date(s)            : 05.10.18

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.