Pesan Dan Kesan Buku Logika Agama dan Yang hilang dari kita: Ahlak karya M. Quraish Sihab

PSX_20181008_202201Dulu aku pernah berpikir bahwa kemampuan berpikir manusia itu tak terbatas. Ia bisa melampaui banyak hal, menembus ruang dan waktu. Ia bisa menampung apapun yang didengar, dilihat dan dirasakan. Ia bahkan sanggup melihat apa yang tidak mata lihat, sanggup mendengar apa yang tidak didengar telinga. Ia bahkan dapat berlomba-lomba berteriak lebih kencang dengan luasnya hati manusia.

Sederhananya–walau mustahil dapat disederhanakan–pikiran manusia, selama manusia sendiri mau mempergunakannya, pikiran itu masih tetap akan mampu memenuhi kebutuhan akan yang dibutuhkan alam pikiran. Selama ia tak jemu, ia akan mampu menampung, memproses dan menyajikan semesta pikiran yang lainnya.

Namun suatu hari, ada di saat aku benar-benar tak kuat menerima serangan bertubi-tubi. Mungkin aku berlebihan, katakanlah demikian, namun sungguh kepala ini rasanya seolah akan meledak. Hasrat untuk berpikir sudah sedemikian kuat dan tak tertahankan, namun aku terjatuh pada lingkaran yang tidak berawal dan berakhir, tiada putus-putusnya. Serangan itu terus menghujam hingga aku jatuh sakit dan demam.

Dalam keadaan yang demikian itu, pikiran pun sudah tak dapat dihentikan. Aku menjadi semacam orang gila yang syaraf-syaraf kendali otaknya telah putus. Malam tidak dapat mengistirahatkan penat, dan siang tidak menghentikan keajaibannya. Fixed, aku menderita. Aku menjadi pecandu yang gila.

Jika orang sakit panu, maka yang diobati adalah kulit yang berpanu dengan suatu ramuan yang disebut sebagai obat yang mengandung penisilin anti jamur. Tetapi orang yang sakit pikiran karena berpikir, tidak bisa diobati pikirannya dengan suatu ramuan, katakanlah obat tidur. Tidak bisa begitu. Maka yang diobati adalah pikirannya dengan cara memutus jalur berpikir yang sakit itu dan mengganti dengan jalur berpikir penyembuh, menyibukkan diri dengan pikiran lain.

Kedua buku ini, “Logika Agama” dan “Yang hilang dari kita: Ahlak” adalah buku terbaik yang pernah aku miliki. Saking bagusnya buku ini, saya membacanya pun dengan cara mengirit-irit, supaya tidak cepat habis. Kedua buku ini meskipun tipis, ‘sejenak’ mengobati dahaga pikiranku. Karena sudah cukup menyita batin dan ketenangan, sehingga aku larut di dalamnya. Dan buku ini mencakup hal-hal sederhana yang harus dipraktikkan, dan aku pun kemudian sibuk dengan teknis praktik yang mesti kulakukan di hari-hariku kemudian.


Gambar : Dokumen Pribadi
Original post : Tulisan ini sudah dipublikasikan di Instagram saya, di sini

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.