Terkalahkan

CREDIT PHOTO STUCKINCUSTOMS.COM

Ladang dari sawah padi yang luas, tampak menghitam kini di hari yang senyap, di pagi hari yang buta. Daun-daun nan gelap itu bergoyang-goyang tertimpa hujan yang datang bertubi-tubi—seperti dirimu kasih—selalu hadir membawa rindu. Dan seperti hujan itu pula, rindunya, mengendap indah di dasar hati, genangi ladang (cinta) itu.

Segelas besar lemon tea panas melegakan tenggorokanku yang sepagi itu telah kering. Sementara di luar sana hujan sedang deras-derasnya, mengkoyak-koyak udara yang bebas. Tentu menyusahkan bagimu jika engkau harus ada bersamaku dalam gelap pagi yang dingin ini. Hujan di sepertiga malam itu menghempaskan segala rasa. Dan aku berharap memang karena hujan ini, bukan karena hatimu, yang jatuhnya disertai dengan angin sisa malam menebarkan dingin nan buat tulang-tulangku terasa linu.

“Aih romantisnya kamu lemon!”

“Kehangatanmu mengisi setiap rongga-rongga tubuh dalam kosongnya jiwaku. Kehangatanmu mengalir memenuhi segala ruang tuk tegarkan aku hadapi kekalahan malam itu.” Ku harap kekalahanku, hanyalah kalah saja melihat 5 goal yang bersarang, bukan kalah karena menyerah tuk menggapai hati dan cintamu yang—jika aku menyerah sekarang—belum tentu masih ada hari esok tuk bermimpi dapat hidup berdua hanya denganmu saja. Suatu hari kenyataan ini terbukti. Kelak aku sadari bahwa sejak malam itu aku mulai menyerah dengan hatimu yang mulai dingin.

Dan aku menyaksikannya takdir sedih yang berpuncak pada keputusasaanku padamu dan terus berkelindan di hari-hariku kemudian telah dimulai sejak malam itu. Dimulai dari kesaksian dua lembar tiket acara Nonbar yang teronggok lesu dan sayu. Sedikit basah dan tampak sangat anyep menungguku untuk ditukarkan dengan dua gelas es teh. Acara Nonbar itu memang tidak masuk akal secara moral. Tiket bisa ditukar dengan es teh. Siapa juga yang mau es teh di dini hari yang dinginnya membuat jemari-jemari beku? Tapi sungguh masuk akal secara ekonomi, pikirku di hari-hari mendatang.

Tiket mahal yang terus merengek dan menuntut untuk mengubah dirinya menjadi es teh itu, sampai detik terakhir ketegangan-ketegangan hingga rasa kesal memporak-porandakan seluruh isi dada; ku biarkan ia tak berdaya, tak kupenuhi juga tuntutannya. Seperti aku kekasih, yang jatuh bagun mencoba mengambil hatimu, dengan remeh saja kau hempaskan aku. Bahkan kamu tak perlu harus sampai menendangku. Cukup dengan memalingkan muka setengah tahun lamanya. Aku sudah dibuat modar semodar-modarnya.

“Maafkan aku tiket!” kataku merajuk, “kamu itu mahal! berada di kantongku tuh harusnya sudah bersyukur! Jangan menyusahkanku dan terlalu menuntut lebih untuk ku langkahkan kakiku menukarmu dengan dua gelas teh pada panitia yang culas itu. Harusnya kau menuntut dirimu sendiri untuk jadi susu hangat atau apa sajalah yang hangat! Mendoan misalnya.”

Riuhnya teriakan para penggemar berbaur tak karuan dengan riak hujan, bias telah menjadikan arti kekecewaan mereka dan mewakili semuanya sebagai kado tahun baru. Akan mengundang keheranan pada hal aneh yang kutemui pada diriku sendiri. Karena aku merasa biasa-biasa saja dengan sesuatu yang seharusnya, di lain waktu, telah mengesalkan aku. Tahu sebabnya? Karena setelah itu ternyata aku masih bisa tertawa, di bawah hujan melaju dengan Bubu, motor matic hitam kesayanganku. Ada apa aku tetap bahagia? Karena tetap menjadi diriku sendiri. Mesti jua, jam tiga pagi buta, berdua sudah kuyup dengan air hujan. Dan aku tetap bahagia, karena menang atau kalah aku tetap mendukungnya. Aku merayakan ketika akhir musim hampir selalu menggondol trophy juara. Dan aku tetap mencintainya dalam kalah dan hancur binasa. Itulah yang membuatku bahagia, sesederhana itu arti menjadi diriku.

Walau setelah itu, ketika sunyi kembali menusuk kedalam relung hati dan meremukkan tulang-tulang rusuk ini. Menjadi pilu seutuhnya ketika kutemukan keraguanku jika aku terkalahkan oleh rindu, ya oleh rindu. Dan kepada siapa lagi rindu itu, kalau bukan dirimu, Kasih. Dan Karena senyap juga karena ku sadari sejak saat itu aku telah terkalahkan.

SEBUAH PROSANISASI DARI SALINAN PUISI DAN CATATAN LAMA
DITULIS DI YOGYAKARTA, 2 JANUARI 2015
JUDUL ASLI : Sajak Dari Senyap
Memori kekalahan chelsea 3-5 melawan totenham hotspur *harry kane, bintang lapangan malam itu.

2 Comments Add yours

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.