Screen Play : Diari Depresi

Kami menyimpulkan, ada gejala depresi ringan yang sedang kamu alami. Tapi tenang saja. Itu bukan masalah yang serius. Itu normal. Baiklah sudah cukup. Kami akan melihat perkembangannya minggu depan, jadi pastikan kamu datang lagi ke sini, OK?

ILHAM

YOGYAKARTA, DESEMBER 2011. KAMAR KOS

AI

Hari ini aku bertemu Mas Ilham. Aku mengunjunginya, memenuhi janji untuk bertemu dengannya. Tempo hari dia mengundangku untuk datang ke fakultas tempatnya kuliah. Semula aku curiga, ada sesuatu yang tidak beres, mengapa tiba-tiba saja dia menginginkan aku guna datang ke Faluktas SOSHUM. Tetapi demi sahabat dan demi persahabatan, aku mengiyakan aja undangan itu tanpa tanya mengapa.

YOGYAKARTA, 5 JAM YANG LALU, HALAMAN F-SOSHUM

AI

Aku datang ke Fakultas ini, Fakultas Sosiologi dan Humaniora, fakultas di mana orang-orang pintar berada, tepat setelah kelas Bahasa Inggris bubar. Berbeda dengan fakultas yang baru saja kutinggalkan–Fakultas Bahasa–, di F-Soshum, aku tidak menjumpai mahasiswa atau mahasiswinya yang tidak membawa buku dalam pelukannya.

Benar-benar kontras dan sedikit ironi. Tak kutemui, orang yang tengah membaca buku ataupun novel di fakultas Bahasa, tetapi di fakultas ini, bahkan tempat-tempat untuk duduk mengobrol, di bawah pohon Sawo dan Mangga telah penuh dengan mahaiswa yang sedang membaca buku. Kadang kutemui mereka sedang mendiskusikan topik-topik yang ku rasa sangat menarik hingga mereka terlihat begitu intens dan menikmatinya. Benar-benar ironi. Atau sebetulnya normal hanya aku saja yang ironi.

“Otakmu yang paradok, Mas.” Kata teman aku, di setiap kali aku mengungkapkan paradok yang kujumpai. Kemungkinan besar teman aku, mahasiswa Biologi itu, juga akan menuduh otakku saja yang ironi kalau aku mengungkapkan perkara yang baru saja kutemui. Tetapi sore itu aku datang sendirian dan tidak membawa buku di tanganku. Jadi aku tetap diam dan tetap bertahan dengan teori ironi.

Ku rasa aku satu-satunya mahasiswa yang tidak membawa buku ketika menelusuri jalan-jalan di halaman fakultas tempat Mas Ilham kuliah ini. Ini adalah pertama kalinya aku mengunjungi F-Soshum. Selain Departemen Matematika, Fakultasku, gedung-gedung universitas yang ku kunjungi paling-paling hanya Perpustakaan dan Fakultas Bahasa.

Aku melangkah menuju pintu utama fakultas dan langsung menuju lantai tiga lalu mengambil sayap timur. Informai yang sangat akurat yang aku terima dari Mas Ilham melalui SMS, membuatku tidak tersesat dan menghindarkan aku untuk bertanya-tanya. Ajaibnya informasi, apabila informasi itu tepat maka akan menjadikan waktu begitu efisien.

Mas Ilham sudah menungguku di depan ruang praktiknya. Penampilan Mas Ilham seperti kebanyakan mahasiswa Soshum. Setelan bajunya begitu rapih dan necis. Ia mahasiswa yang tampan. Matanya hitam bercahaya, rambutnya tercukur dan disisir begitu rapi dengan model rambut seperti Dimas Andrean. Ketika bertemu dengannya aku langsung menyapa dengan hai dan mengulurkan tangan. Sambutan Mas Ilham membuatku canggung dan kikuk. Mas Ilham tidak hanya menjabat tanganku melainkan juga langsung memelukku. Sebetulnya ingin kodorong saja, tetapi karena rikuh dan banyak orang di sana, kubiarkan itu tetap terjadi. Budaya orang soshum mungkin begini, kataku dalam hati.

Mas Ilham kemudian mempersilakan aku masuk ke ruang Praktek. Ruang dengan ukuran 4 kali 3 itu berwarna putih susu. Aku mungkin akan langsung jenuh dalam 5 menit jika ruangan itu tidak ditolong dengan jendela yang dibuka lebar-lebar dan nampak pepohonan dari sana. Lalu ketika aku menerawang jauh melewati jendela, awan-awan putih menghias pemandangan langit yang biru cerah. 5 menit sampai 10 menit telah berlalu. Aku hanya memandang ke lau jendela. Dan Mas Ilham, ada di sampingku di mejanya. Juga diam.

AI

“Mas Ilham, boleh ku tahu mengapa kamu mengundangku ke sini.”
(Ilham tersenyum)
“Ada yang bisa aku bantu? Mengisi kuisioner misalnya? Atau apa? Oh kalau mau diskusi soal komputer atau soal nonbar bisa kita bahas di kos aja.”

ILHAM

“Ai, kita sudah berteman sejak tahun lalu. Bukankah begitu?”
(Ai menaikkan kedua alisnya tanda setuju dan tanya “So?”)
“Ai yang kutemui tahun lalu… Ia adalah orang yang suka bangun pagi. Kemudian lari keliling lapangan. Sambil menunggu giliran mandiku selesai, Ai yang kutemui tahun lalu sedang asik menyiram bunga. Kalau tidak, pasti sedang memutar musik rock sambil membaca buku.”

AI

“Hei, Mas Ilham. Rupanya kamu tertarik dengan psikologi yang ku alami, hem. dan hendak menjadikan bahan studi.”
(Ai tertawa)
“Kamu mau menjadikan aku kelici praktek atau kelinci percobaan? Kamu harus memilihnya tak boleh memiliki kedua-duanya.”

ILHAM

“Ah sial. Aku mau dua-duanya. Baiklah kalau begitu kita mulai saja dari pertanyaan pertama. Apa kita sudah siap?”

Mas Ilham kemudian menghidupkan audio recorder. Dan Aku mulai kemudian menjawab pertanyaan demi pertanyaan dan kemudian menceritakan semua kejadian yang ku alami. Mimpi-mimpi dan hal-hal yang membuatku kesulitan tidur. Mas Ilham mencatatnya.

ILHAM

“Kami menyimpulkan, ada gejala depresi ringan yang sedang kamu alami. Tapi tenang saja. Itu bukan masalah yang serius. Itu normal. Baiklah sudah cukup. Kami akan melihat perkembangannya minggu depan, jadi pastikan kamu datang lagi ke sini, OK?”

AI

“Oke dengan satu syarat.”
(Ilham mengangguk)
“Kamu jangan memelukku ketika aku datang. Itu budayanya orang sini atau apa?”

Ilham hanya tertawa menanggapi pertanyaan Ai.

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.