Liburan Akhir Tahun (2018)

Liburan! Liburan itu bukan tentang kemana kita pergi. Namun tentang dengan siapa kita pergi. Benar begitu kan? Kalau setuju belikan aku secangkir kopi dengan cangkir ukuran besar, 5 sendok makan kopi bubuk dan satu sendok teh gula [untuk menghilangkan jenuh kafein-nya]. Kalau tidak setuju? Belikan aku wafer Beng-Beng! 3 biji saja cukup. Terima kasih.

Jadi liburan kali ini kamu sudah ngapain aja, Ndi? Sudah ngerencanain apa aja? Pergi kemana aja? Kencan sama siapa?

Kok kamu menyapa aku dengan bahasa informal begitu? Hanya dengan sapaan “Ndi” aja? Baiklah berarti aku anggap kamu sudah sangat akrab dengan aku. Maka kali ini aku akan bercerita dengan bahasa tidak baku saja. Oke, berarti tambah segelas kopi dengan ukuran yang sama sperti tadi. Dan well untuk semua tanya mengenai tetek-bengek-mu tadi, [Ingat perkara ini sama dengan perkara puting-beliung; tak ada urusannya dengan KPI. Jadi tak usah pakai sensor segala, tetek-bengek ya tetek-bengek bukan t*t*k-bengek] akan aku bahas satu persatu.

Pertama, aku jawab yang “kencan sama siapa” dulu. Berkesan banget ini pastinya ya? Dari sekian pertanyaan kata kencan nih yang dibahas duluan. Ya ya ya ya tentu saja! Begini setelah membayangkan dari beberapa adegan fiksi di dalam kepalaku yang berputar bak film-film di bioskop, menurutku kencan paling keren dan paling asik itu kencan ke toko buku. Jadi kalau kamu lagi minim budget untuk nonton film, kamu bisa langsung tengok ke dalam kepalaku. Paham kan maksudnya? Kamu bisa menonton adegan-adengan orang kencan. Salah satunya kencan di toko buku. Tapi adegan yang satu ini, aku sendiri belum pernah mencobanya di dunia nyata; aku plirik ke kanan ke kiri, sepertinya orang-orang bakal pada bosan ke tempat seperti ini. Yohooo! Jadi aku putuskan akan mengajak ‘temen’ kencan ke “Out of the Boox” yang di Jogja itu. Tahu orang akan bosan, masih nekat juga kamu ngajak ke tempat seperti itu, Ndi? Kayaknya ada yang gak beres sama otakmu nih. Ckckckck dasar psikopat!

Jalan-jalan itu bukan tentang ke mana kita pergi tapi dengan siapa kita pergi, gimana sih?

Anonim

Ya aku sudah ngajak temen untuk kencan ke sana tapi… brengsek… temen aku yang satu ini kalau diajak kencan… ke tempat manapun, mlipir terus, selalu saja ada alasan dan membuat aku seperti merencakan sesuatu di waktu yang salah. Aku sampai putus asa dan berjanji : “gak akan pernah ngajak kencan lagi.” Tapi bener-bener malang tidak tahu diuntung, ganti waktu ganti tahun ganti kesempatan, berulang kali aku masih ngajak dia kencan, dan jawabannya selalu alasan yang intinya enggak bisa. Lah koe pekok atau idiot sih? Itu berarti sinyal kalau dia ora gelem karo koe! Bukannya koe dah bilang, jalan-jalan itu bukan tentang ke mana kita pergi tapi dengan siapa kita pergi, gimana sih?

Pekok, idiot dan cinta… ya kadang bedanya sangat tipis kalau tidak mau disebut sebagai segi tiga sama sisi atau sama persis.

me

“Jadi kamu cinta sama dia? Temen—yang ingin diajak—kencan mu itu?”
“Hah? Siapa bilang begitu?”
“Kamu!”
“Kapan?”
“Barusan!”
“Memangnya ku bilang begitu?”
“Coba baca lagi deh! Gak sama persis tapi kesimpulannya seperti itu.”
“Oh bukan itu bukan aku!”
“Lha terus siapa?”
“Itu cuma karater fiksi yang ada di dalam kepala aku.”
“Halah pret! Bulshit! Taik Kucing!
“Kok kamu jadi bawa-bawa taik kucing segala?”
“Halah sak karepmu! Sak bahagiamu! Anyway itu yang pertama, yang kedua?”
“Eh sebentar, belum selesai ni yang…”
“Halah bosen! Lanjut yang kedua!”

Well yang kedua, rencanaku pas liburan : aku ngajak temenku kencan ke “Out of teh Boox” yang di Jogja [mulai lagi deh!], memperbaiki instalasi listrik rumah bersama bapak [hemmm menarik bukan?], menanam pohon-pohon baru dan menata ulang halaman rumah, menulis cerpen, menghabiskan buku bacaan, dan… menanti keajaiban.
“Hahaha keajaiban! Jiban kali, robot dari Jepang tahun 90-an, kendaraan andalannya helikopter, penampilan trademark-nya terbang pakai turbo di punggunya; konyol. Eh btw keajaiban apa sih? Kenapa menanti?”

“Hemmm aku pernah baca tapi di mana ya, intinya menanti dan menunggu itu berbeda. Dan kenapa menanti bukan menunggu? Soalnya datangnya enggak pasti. Datangnya belum tentu. Datangnya tidak dapat dipastikan, akan datang atau enggak. Beda dengan menunggu. Kalau menunggu kan tahu yang ditunggu pasti akan datang, walau entah kapan. Nah gitu, keajaiban ini, aku sedang menantikannya. Aku menanti keajaiban—semacam ilham atau inspirasi—. Spontanitas rencana yang aku harap mendadak muncul begitu saja. Lalu aku dengan semangat berapi-api mewujudkannya.”

“Jadi kamu enggak punya rencana yang begitu bagus di akhir tahun ini?”
“Tepat sekali!”
“Oke! Yang terakhir?”
“Kok terakhir?”
“Ya udah! Ngomong aja deh! Terserah!”

Well! Selama liburan ini… aku engak libur. Maksudnya apa sih? Tetep kerja? Ya! PNS gak punya hari libur dong [PNS; Preelancer Ngenes Sekali 😀 😀 😀 ]. Musim liburan atau bukan musim liburan aku tetep aja kerja. Di sela-sela itu di akhir pekan, di sore hari aku sudah garap satu instalasi listrik bersama bapak. Ternyata rencana dari tahun lalu untuk membongkar semua instalasi rumah belum terlaksana sepenuhnya, cuma membobol satu tembok dan mindahin aliran listrik lampu depan rumah. Ya, kemudian hari ini, aku berencana mlanjutkan membongkar beberapa tanaman yang sudah dimulai 3 minggu yang lalu; tinggal menanam anak-anakan palm ke pot-pot baru, memangkas daun-daun melati yang dimakan ulat.h

Kemudian selain itu, aku juga ikut kursus online bahasa Jerman, membaca Serat Centhini yang sering bikin aku tertidur—yang kalau bosan karena enggak ada perkembangan signifikan— aku tinggal dan lanjut membedah Al Futuhat-nya Ibn ‘Arabi atau Tahafut-nya Imam Ghozali dan Ibn Rusyd yang dua-duanya juga sering membuatku jatuh terlelap. Dan satu lagi yang aku lakukan… lihat aja foto di bawah ini… weeeeeek!

Sekian dan salam dari saya,
Andy Riyan —masih—di Desa Hujan

Pokokmen segeeeerrr!!! dokumentasi pribadi nih,
Tim Kuning
Sebelum pindah ke depan! kuyup!

10 Comments Add yours

  1. Lillah Asri says:

    Gambarnya seger, jadi haus

    Liked by 1 person

    1. jejakandi says:

      Airnya kalau masuk hidung bikin pilek. Apalagi yang masuk kuping bikin kepala pening :v

      Like

  2. Ikha says:

    Uwowwo..bukunya berat beraat 😱

    Desa Hujan itu mana Mas? Ada di Jogja juga kah?

    Like

    1. jejakandi says:

      Uwouwouwo… Gak berat-berat amat sih, semuanya kalau ditimbang cuma sekilo punjul sithik 😀 😀 😀

      Desa Hujan itu di Amegakure desanya desanya Pain 😀 desanya Nagato, Yahiko dan Conan 😀

      Like

      1. Ikha says:

        Berat bahasannya atuh. Itu buktinya bikin tidur. 😀

        Waaah, anak 90an emang ga bisa lepas sama nama nama kartun tersebuut 😂

        Like

      2. jejakandi says:

        Itu karena terdukung dengan musimnya, November-Desember udaranya gemulai. Kalau di musim berbeda, enggak atuh.

        Ngarang! Angkatan 45 yo hahaha

        Liked by 1 person

      3. Ikha says:

        kalau di musim berbeda ga bakalan jadi bantal ya bukunya 😀

        wah angkatan pejuang ternyata. 😀

        Like

      4. jejakandi says:

        Yak tul… Tambah lagi gak bakalan dijadiin selimut dan tutup muka. 😁 😁

        Like

      5. Ikha says:

        😂😂😂

        Liked by 1 person

      6. jejakandi says:

        Angkatan pejuang cinta 🤣🤣

        Like

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.