Kalkulasi Keyakinan

Kalkulasi Keyakinan

Teknologi informasi zaman now ini memang luar biasa sekali. Bicara keakraban soal IT dan media sosial, aku paling akrab dan suka mengakrabi Twitter. Dari sejak aku membuat akunnya tahun 2009, sampai hari ini, yang aku paling konsisten di sana, paling loyal dan paling banter update-nya ya Twitter itu. Itu cuma bias pribadiku ya. Nah soal penyebaran hoaks, soal twitwar, nyinyir-nyinyir sampai mambu anyir dan berbagai hal negatif itu, sebetulnya semua itu ya terserah kita. Di sana memang ada yang negatif tetapi ada yang positif juga. Jadi ya terserah kitalah. Suka-suka kitalah mau positif atau negatif.

Dan menariknya kata Gus Mus ketika di singgung tentang positif dan negatifnya media sosial (twitter, instagram, facebook) beliau menjawab bagi beliau adalah hal yang positif. Kurang lebih begini kata pengasuh Pondok Pesantren yang terkenal di Rembang itu :

[…] karena yang di twitter itu orangnya hebat-hebat. Di sana ada ahli politik, ada ahli diplomat, ada bahkan ada ahli busana, ada ahli teknologi […] banyak sekali. Jadi saya dengan di sana bisa ngaji ke mana-mana. Ya jadi tinggal follow aja ini ini […] setiap dia ngomong saya perhatikan. Tak harus mondok seperti dulu jauh-jauh… kan tinggal buka; klik […] ada yang ahli fekih, ahli tasyawuf. Ada keahlian-keahlian yang saya gak mungkin ngerti… .”

Nah pengalamanku ketika bertwitter kurang lebih sama. Ada banyak hal positif yang aku dapat di sana, seperti ngaji dengan Gus Mus ini. Ngaji sama Mbah Tejo, Mbak Najeela… banyaklah gak bisa sebutin satu-satu. Dan yang aku sering banget memperhatikan ya twit-twitnya Pak Haidar Bagir. Aku follow Pak Haidar itu awalnya karena aku membaca buku-bukunya yang merupakan buku yang sering aku baca selain buku-bukunya Pak Quraish dan Mbah Nun. Tak bisa dipungkiri lagi, di twitter itu banyak sekali orang hebat. Di sana juga ada dosen filsafat seperti Pak Tommy dan Rocky Gerung. Ada seorang jurnalis kawakan yang kritis banget dengan isu-isu yang terjadi di Indonesia, namanya Dhandy Dwi Laksono, dia tuh concern banget dengan lingkungan hidup, yang bukunya telah aku masukkan kedalam salah satu buku yang wajib dibaca sebelum mati; Indonesia For Sale.

Nah pada suatu malam, yang agak membingungkan apa faedahnya ngaji gak jelas seperti itu, ketika ngaji di Pondok Jami’ Al-Twitter, di dalam sebuah diskusi di ponpes sejuta umat antara Mbah Tejo dan Rocky Gerung—menampilkan cuplikan program Q&A—mengenai kitab suci, aku tercenung. Kata Rocky Gerung kitab suci itu fiksi. Dan beliau mewanti-wanti dengan tegas untuk membedakan fiksi dengan fiktif, soal ini aku sudah lewat setelah berdiskusi dengan teman saya.

Aku tercenung ketika Mbah Tejo menyinggung kitab suci kira-kira begini : bagiku kitab suciku adalah apa yang aku yakini. Entah mau disebut comberan atau apa, soal kitab suciku, tidak akan menambah keyakinanku ketika banyak fakta terbukti dan tidak akan mengurangi keyakinanku ketika banyak disangkal kebenarannya. Kalau keyakinanmu itu bisa bertambah atau berkurang karena suatu hal, bagi Mbah tejo itu bukan keyakinan, tapi Kalkulasi.

Entahlah apa yang dimaksud Mbah Tejo dengan kalkulasi kitab suci ini. Aku tetap saja tercenung dengan soal ini. Walau jauh-jauh hari sudah aku mantapkan, sudah aku katakan pada diriku sendiri ketika belajar Logika Agama-nya Pak Quraish Shihab dulu, bahwa kelak ketika banyak ayat Al-Qur’an terbukti secara ilmiah, kami tidak akan pernah menyangkut pautkan Al-Qur’an dengan pembuktian. Al-Qur’an tidak perlu pembuktian. Dan apabila secara ilmiah banyak hal bertentangan dengan ayat Al-Qur’an, sekali-kali aku tidak akan mempertentangkan hal tersebut. Itulah hakikat iman terhadap Al-Qur’an bagiku. Hanya harus percaya dan tak perlu pembuktian. Tetapi alrm di dalam diriku berbunyi dengan sangat nyaring.

Aku masih tercenung soal kalkulasi ini. Karena bagaimana mungkin aku bisa mengalkulasi pemahamanku, mengalkulasi keyakinan dan proses belajar. Aku tidak mempertentangkan dan menguatkan keyakinan dengan melakukan sekian penelitian terhadap Al-Qur’an, karena bisa jadi benar dan bisa jadi salah. Namun yang aku pelajari, dalam Al-Qur’an banyak sekian ayat yang mengajarkan untuk memperhatikan, untuk memikirkan ciptaan Allah lewat redaksi bertanya apakah mereka/kamu tidak berpikir? Dari sini seharusnya wajar ketika bertambah iman atau keyakinan seseorang setelah melalui serangkain proses belajar dan memahami. Dan aku mungkin salah satu dari banyak orang yang dulu menolak dengan sangat keras teori evolusinya Darwin, “The Origin Of Species”, setelah direcokin doktrin ketika menonton video-video dan pemaparan Harun Yahya yang mengungkapkan penyangkalan yang keras. Namun sekarang aku sangat terbuka dengan kemungkian itu, walau aku tidak menyakini betul. Setidaknya aku tidak menolak dengan sangat keras, karena bisa jadi teori Darwin itu benar, bahwa dulu kala di zaman Pra-Sejarah ada manusia purba yang kemudian berevolusi menjadi Homo Sapiens atau Manusia Modern. Bisa jadi teori itu salah. Itukan ilmiah. Menolak atau menyakini teori itu… jangan dibentur-benturkan dengan Al-Qur’an-lah. Jadi jelaskan? Yang berbahaya itu doktrin dan indoktrinasi, karena bisa menyebabkan mati akal dan sikap fanatik yang berlebihan.

Aku masih tercenung dan bagaimana mungkin aku mengalkulasi keyakinanku. Bukankah di dalam hadist pun disebutkan? Salah satu tanda iman adalah ketika hatinya bergetar setiap mendengar ayat Allah dibacakan dan dia bersegera memenuhi seruan panggilan itu. Bukankah sudah sangat populer? Bahwa ada pernyataan iman Nabi itu akan senantiasa terus bertambah tetapi tidak berkurang, iman para malaikat tidak bertambah dan tidak berkurang, iman setan tidak bertambah tetapi terus berkurang sedangkan iman manusia adalah bisa bertambah atau bisa berkurang; naik-turun sesuai kualitas manusia itu sendiri.

Lalu bagaimana mungkin aku mengalkulasi keyakinanku. Andai yang ketika dulu aku masih kecil, belum bisa berpikir dan tidak memahami apapun, tidak memiliki keyakinan selain apa yang disampaikan orang tua dan guru ngaji. Dan setelah beranjak dewasa, mendewasa dan mulai berpikir malah bisa menjadi sebodoh ini? Mengalami pasang surut berpikir. Aku kira itu adalah kodrat manusia; mencari.

Sekian Saya Andy Riyan dari Desa Hujan.

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.