Sebuah Dialektika : “Ketakutan”

ketakutan

Ketakutan seperti apa yang dimiliki oleh seorang pria yang menulis jurnal? Ia mengkhawatirkan pengetahuan-pengetahuan yang tak berdasar. Intuisi-intuisi yang campur aduk; susah dipilih dan dipilah. Ia terlalu cemas memikirkan hari esok dan terlalu lelah terus diburu oleh masa lalunya.

Ketakutan seperti apa yang dimiliki oleh seorang pria yang menulis jurnal? Terus memupuk angan kosong dan tetap tak beranjak dari ingatan-ingatan yang melelahkan. Menjadi pengecut, egois dan kejam.

Apabila pernah dikatakan kepadanya, seorang sastrawan adalah mereka yang mampu mengubah penderitaan dan rasa sakit menjadi sebuah karya sastra. “Biarkan aku tertawa.” Jawabnya.

Kepuasaan seperti apa yang diperoleh para seniman sastra itu? Membungkus penderitaan dan luka-luka dengan kepalsuan? Di tangan seniman penderitaan dan rasa sakit berubah menjadi karya agung yang tak lekang oleh zaman.

Omong Kosong!

Apanya yang omong kosong? Mungkin meraka tak sungguh-sungguh mengerti arti kepuasaan itu. Kepuasaan adalah sikap arogan yang pelan-pelan akan menghancurkan dirimu sendiri tanpa pernah kau sadari. Bisa jadi karya-karya agung itu adalah sebuah bentuk lain dari berhala-berhala yang disembah oleh orang-orang purba.

Ketakutan seperti apa yang dimiliki oleh seorang pria yang menulis jurnal? Bisakah kau memberitahu jawabannya?
Andy Riyan

5 Comments Add yours

  1. Ayu Frani says:

    Ketakutan seperti apakah yang kau rasakan, Kak?
    Seperti hanya kau dan para Pria yang menulis jurnal saja yang tahu ?.

    Aku pun menulis jurnal, tapi ketakutanku hilang sirna bersama guratan-guratan tulisan di lembar putih kosong. Aku biarkan semua emosi bermuara di sana, entah Ia akan kembali atau tidak. Aku biarkan saja demikian.

    Like

    1. jejakandi says:

      Hantu-hantu dalam diri sendiri. Aku-aku yang lain yang terus bertempur dan saling membunuh dan membinasakan. Kecengengan dan air mata darah, air mata yang kering, banjir tapi tak ada wujud zat cairnya.

      Liked by 1 person

      1. Ayu Frani says:

        Setidaknya, hantu-hantu itu berwujud, meskipun perilaku mereka tidak.

        Like

  2. Grant Gloria says:

    Sayangnya aku bukan pria. Tapi kalau iya, mungkin aku takut segala curhatanku di jurnal dibaca teman trus mereka meledekku.

    Like

    1. jejakandi says:

      Woah teman macam apa itu berani-berani buka journal orang lain. Pasti nyari penyakit tuh.. 😁

      Like

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.