Welcome Home Frank Lampard

1153597721.jpg

Dia dicintai semua orang. Dicintai seluruh jagat olahraga seluruh negeri, sepakbola. Dia dikagumi dan dihormati oleh lawan-lawannya. Dia adalah Frank James Lampard.

Mantan pesepakbola dari sebuah klub di London Barat; Chelsea FC, yang kembali ke klub yang membesarkan namanya itu sebagai pelatih. Sulit untuk mendeskripsikan bagaimana publik dan jagat sepakbola mencintainya saat dia masih menjadi pemain, dan ketika ia menjadi manajer klub Derby County. Cinta yang tak bertepi untuk Super Frank, kalau digambarkan dengan pemain saat ini, umpama paling dekat apabila dibandingkan dengan Ngolo Kante. Anak baik yang selalu tersenyum, dan membuat orang jatuh cinta.

1129185949.jpg.0

Bagaimana menggambarkan sosok Frank Lampard sebagai seseorang yang sangat penting bagi dunia sepakbola dan dunia saya? Lebih mudah apabila saya menjelaskan melalui pertanyaan : “Siapa pesepakbola yang membuatmu sangat mencintai sepakbola?”

Frank Lampard adalah jawaban saya.

Dia adalah Frank Lampard seorang pesepakbola yang membuat saya mencintai dunia sepakbola, meskipun klub idola pertama saya, klub idola masa kecil saya adalah AS Roma. Klub sepakbola dari ibukota Italia, di mana saya terpukau oleh aksi-aksi seorang pangeran gondrong, Francessco Totti. Ya bisa dikatakan, selain True Blue, aku juga seorang Romanisti. Jadi kembali kepada pertanyaan “Siapa pesepakbola yang membuatmu sangat mencintai sepakbola?” Bukan Totti tetapi jawabku tetaplah Frank Lampard dan tak tergoyahkan. Totti mungkin cinta pertama saya, tetapi Frank Lampard adalah yang paling istimewa. Ini mengingatkan kita kalau ‘cinta pertama’ meskipun selalu terkenangkan, ia tidak selalu yang terbaik dan terindah selamanya, tidak yang paling istimewa, bukan?

Kapan pertama kali melihat aksi Frank Lampard dan kamu jatuh cinta?

Persisnya, saya lupa kapan. Tetapi saat itu saya melihat pertandingan antara Arsenal dan Chelsea. Di mana Arsenal, klub yang sekota dengan Chelsea itu—saat itu— di lingkungan saya adalah klub yang lebih populer. Selain karena klub yang lebih besar, Arsenal adalah klubnya para juara bergelimang piala (tidak seperti sekarang lah, yang cuma bisa masuk liga malam jum’at he he he peace ya). Thiery Henry, Patrick Viera, Ljunberg, Antonio Reyes, Campbell… adalah pemain-pemain yang membela Arsenal. Di klub lawan—Chelsea—saat itu masih dilatih oleh seorang pelatih berkebangsaan Italia—lagi-lagi Italia—yang tahun 2016 membawa Leicester City mengguncang dunia; Claudio Ranieri. Aku melihat aksi Frank Lampard menyamakan kedudukan dan membawa angin perubahan, harapan dan semangat juang bagi timnya untuk menumbangkan sang juara.

1055771388.jpg.0

Kenapa aku begitu mencintai Frank Lampard? Karena goal dari aksi rebound itu? Aku rasa bukan. Susah untuk mendeskripsikannya. Tetapi hari-hari berikutnya ketika melihat aksinya, saya berkesimpulan Frank Lampard adalah pencetak goal ulung. Uniknya dia bukan seorang Striker, namun seorang gelandang tengah. Pencetak goal dari lapangan tengah, tendangan yang sangat keras, kencang, dan deras; akurasi yang sangat luar biasa. Saya melihat dia adalah seorang pesepakbola yang menjadi magnet dan pusat permainan bagi timnya. Maka semua itu adalah asalan saya jatuh cinta pada pandangan pertama kepada seorang Frank Lampard. Walaupun di kemudian hari, saya baru menyadarinya, Claude Makalele—sosok di balik kecemerlangan— yang sangat berperan bagi bersinarnya seorang Frank Lampard.

Cintaku kepada Frank Lampard tak pernah surut. Sebaliknya semakin besar setelah melihat karakternya yang sangat kuat. Determinasi, professional, dan pejuang keras adalah atributnya. Cintaku semakin besar, terlebih lagi setelah mengetahui dia ternyata adalah seorang pesepakbola yang ber-IQ 150; jenius. Cintaku semakin besar dengan atribut-atribut yang selalu melekat kepadanya : sopan, kalem, style yang elegan dan tidak neko-neko. Dia tidak bertato dan potongan rambutnya pun wajar. Skillnya bahkan jauh lebih besar dari gayanya. Tidak kebanyakan gaya adalah bukti kecerdasan seseorang. Orang cerdas biasanya tidak norak. Norak itu, seperti kata Fedi Nuril, kalau gayanya lebih besar dari skillnya.

Hari ini saya sangat bahagia. Kebahagiaan saya sulit dilukiskan dengan kata-kata. Mr. Lampard kembali ke Chelsea sebagai pelatih. Satu kata : Bahagia.

Hari di mana Frank Lampard resmi ditunjuk dan diumumkan sebagai pelatih, hujan turun dengan sangat deras; membasahi bumi yang kering dan tandus. Suasana menjadi sangat sejuk setelah sebulan lamanya, selama bulan juni, tak pernah hujan. (Saya masih penasaran, kenapa novelnya Sapardi Djoko Damono itu judulnya Hujan Bulan Juni?)

Hari di mana Lampard datang, seperti penyembuhan dari sebuah luka. Baru saja kami di tinggal Eden Hazard ke Santiago Bernabeu, ke klub ibukota Spanyol; Real Madrid. Kembalinya Frank Lampard membuat seakan-akan luka itu tidak pernah terjadi. Sembuh begitu saja. Semudah itu.

Kehadirannya seperti sebuah pesan bagi kita : “Seseorang tak tergantikan; sepertinya itu mitos. Ketika seseorang pergi meninggalkanmu dan menyisakan kesedihan, begitu datang seseorang yang lainnya, sedih itu hilang.”

Kehadirannya seperti sebuah pesan bagi kita : “Ketika kekasihmu pergi, jangan terlalu bersedih hati, apalagi sampai menyakiti diri sendiri. Seseorang akan datang. Sambutlah dia dengan cara yang paling istimewa. Persiapkanlah dirimu, seseorang akan hadir mengobati lukamu. Seseorang akan hadir untuk menghiburmu.”

Kehadiran seorang Frank Lampard—meskipun ia akan berjumpa dengan badai—adalah hal yang sangat berarti bagi hidupku; membangkitkan gairah dan cinta yang sempat teredam. Kehadirannya yang semudah itu menyembuhkan luka, semudah ketika Antonio Conte—idola berat saya—datang begitu Jose Mourinho menyebrang ke Carrington Road.

Kehadiran Frank Lampard adalah hal yang sangat berarti bagi hidupku; membangkitkan gairah dan cinta yang kurang lebih sama bahkan lebih semangat—dari semangat saya—yang begitu kuat dan berapi-api ketika dulu masih bersama Antonio Conte, seorang allenatore berkebangsaan Italia. Ah lagi-lagi Italia. Yang semangat itu sempat meredup bahkan hampir mati ketika Conte digantikan oleh Maurizio Sarri, entrenadore yang semula adalah pegawai bank dan lagi-lagi berkebangsaan Italia. Hampir satu musim saya selalu tertidur ketika melihat Chelsea-nya Sarri. Suatu fenomena yang sangat aneh sejak aku mencintai Chelsea.

Kembalinya Frank Lampard adalah sebuah kisah baru dan sangat penting bagi hidupku; membangkitkan gairah dan cinta.

Welcome Home Frank Lampard

645270850.jpg


Andy Riyan, 4 Juli 2019

3 Comments Add yours

  1. Nu Na says:

    Seorang yg ga punya clue tentang bola, baca ini kek orang yg baru nginjak kota. Kek baca novel romance

    Like

    1. jejakandi says:

      Benarkah? Jadi bener kata si Tanaka, romance itu tidak harus selalu tentang dua manusia laki-laki dan perempuan. Bisa juga tentang sepak bola. Terima kasih sudah mampir ya.

      Like

      1. Nu Na says:

        sama sama

        Liked by 1 person

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.