Cara Yang Bisa Dilakukan Untuk Meningkatkan Skill dan Hal Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Public Speaking

public SpeakingMembaca judul ini, rasanya kayak aku ini orator atau public speaker yang sudah kondang, ahli dan terampil yang sedang membagi-bagikan tips rahasia. Padahal mah bukan siapa-siapa. Ngomong aja enggak beres apalagi berbicara di hapadan publik. Songong bener, Nih 😀 😀

Ha ha ha tapi di blog pribadi mah bebas. Ya kan? Yang penting tulis aja semau-mau kamu.

Dan kali ini aku memang mau menulis dengan topik public speaking ini. Mau membicarakan hal-hal yang sering aku temui, setelah memperhatikan banyak kasus yang sering dilakukan orang-orang di sekitarku, dalam public speaking.

Dalam posting kali ini aku juga ingin membicarakan hal-hal yang bisa dilakukan oleh seseorang untuk meningkatkan ketrampilan berbicara di depan publik. Meskipun saya sendiri masih keteteran dan boleh dibilang tidak bisa ngomong dengan bener. Atau kalau bahasa anak gaul: Ancur!!! Tapi kan saya ngomongnya sebagai komentator dan pengamat. Bukan pemain dan praktisi. Di dunia ini cuma ada satu Messi, ada satu Ronaldo… tetapi kenapa ada jutaan orang yang bisa ngomongin bagaimana jadi Messi dan Ronald, ya kan?Hehehe jadi terserah aku dong, Ya.

Oke lanjuuuuut!!!

Temen-temen yang memperhatikan tweet-tweet saya bakalan nggeh kalau postingan ini sebetulnya sudah saya luncurin di podcast. Sudah on air di podcast. Jadi post kali ini semacam transkrip dari omongan ngaco ala penulisnya yang mengalir mengikuti pola yang tidak ada polanya. Alis ruwet. Karena polanya gak jelas mau ngomongin apa, tiba-tiba malah ngomongin public speaking. Ya sudahlah…

Kalau ada yang tanya podcast-nya apa. Dah cari aja sendiri. Suaraku jelek banget. Gak enak didengerinnya, apalagi kalau dipromosikan di blog saya ini. Tambah gak enak. Jadi kamu baca aja ya tulisan ini. Karena tulisan ini walau gak jelas masih lebih jelas daripada podcast saya.

Tulisan ini ditulis pada suatu pagi yang lenggang di sebuah desa yang tenang, sunyi dan sejuk dengan sinar matahari yang bersinar cerah. Jadi sambil minum kopi penulisnya membuat rekaman hanya bermodal hape. Dan dengan hanya berteman sepi karena semua orang sudah berangkat kerja, sementara penulisnya duduk-duduk di kursi dengan santainya.

Desanya benar-benar sepi, karena berada di desa yang benar-benar desa yang masih banyak pepohonan dan udaranya masih sejuk dan mataharinya bersinar sangat cerah.

Dan pertanyaannya di jam-jam kerja begini (8 pagi) aku tidak berangkat kemana-mana ngapain? Ya karena hari adalah tanggal 1 Muharram.

Yeay Selamat Tahu Baru!!! Selamat datang tahun Wawu…. Jadi paham kan ini adalah Hari Libur Nasional. Tapi ini kan hari Ahad? Eh tapi kan… aku kalau hari Ahad biasanya tetep kerja. Jadi aku menikmati banget dong libur hari Ahad.

Dan seharian ini… sepagi ini aku sudah banyak membaca terutama berita-berita di internet. Kenapa internet, karena sepagi ini kalau buat membaca buku… kalau nanti ketiduran gimana dong? Masih terlalu pagi untuk ketiduran.

Jadi dalam podcast ini, aku berbicara tentang banyak hal, tidak tahu ujung pangkalnya. Ya karena sebetulnya memang ada banyak hal yang perlu di urai dari kepala saya inilah yang menyebabkan tidak tahu ujung pangkalnya.

Cuma yang saya gak tahu harus memulai apa karena tidak adanya topik yang benar-benar bagus untuk dibahas. Jadi untuk mengisi podcast, aku ngalir saja, berbicara aja dalam rangka untuk melatih intonasi melatih cara berbica agar menjadi enak dan semakin jelas dan bisa ngomong lebih baik. Karena ketrampilan berbicara perlu dilatih juga.

Ketrampilan berbicara, mungkin, banyak orang yang beranggapan kalau ketrampilan seperti itu sudah dari sononya sebagai anugrah dari Tuhan. Kadang memang ada orang yang sudah dari sononya sudah terampil berbicara. Sudah dengan sangat jelas, tatas dan enak disimak. Cara berbicaranya bisa fasih banget, tajam dan semua orang yang berada di sana dapat memahami apa yang dikatakannya.

Aku percaya hal seperti itu memang ada. Nanti akan aku tunjukkan, orang-orang di sekitarmu yang sudah di anugrahi skill semacam itu. Cuma aku juga ingin percaya, hal seperti itu juga bisa dilatih.

Aku membuat tulisan ini sebagai refleksi. Karena akhir-akhir ini saya sangat bermaslah dengan cara ngomong dan cara menjelaskan sesuatu kepada orang lain. Kadang-kadang orang yang mendengar suaranya yang tidak enak itu. Dan kalau suara tidak enak itu jadi berisik banget di telinga. Dan aku setress.

Sekarang aku ingin bercerita tentang pengamatan saya akan pengalaman orang lain.

Aku pernah mendengar seseorang lagi berada di mimbar, sedang berada di depan banyak orang sebagai publik speaker. Aku memperhatikannya, suaranya bener-bener gak enak dan cara menjelaskannya parah, kacau. Aku perhatikan, sepertinya orang-orang yang mendengarkan itu juga gak ngerti dia mau ngomong apa. Dia sampai teriak-teriak pun tetep gak jelas. Di sini paham kan? Public Speaking tidak hanya tentang volume suara. Karena volume suara bisa dibantu dengan michrophone.

Menurut saya ada beberapa hal yang harus diperhatikan mengapa suara orang ini bisa menjadi tidak jelas dan tak enak didengarkan ketika berbicara.

  1. Tidak benar-benar paham gambaran besar yang akan disampaikan

Yang pertama. Yang pertama sekali dan pertama banget orang yang mau ngomong ini bener-bener belum tahu kemana arah dia mau berbicara. Jadi kesannya seperti meraba-raba begitu. Walau aku pikir, orang ini agak pandai, cukup pandai kalau boleh bilang. Tetapi yang aku cermati nomor satu, menurutku ia tidak tahu gambaran besar topik yang ingin dibicarakannya. Dan seperti tidak tahu harus mulai dari mana dan kemana setelah itu. Seperti yang tadi aku katakan, meraba-raba.

Seharusnya kalau seseorang tahu, minimal, gambaran besar apa yang ada di otaknya dan sudah bener-bener paham, dia tidak akan lupa dengan apa yang akan disampaikannya. Jadi dia bisa mengalirkannya dengan pelan-pelan dan tidak radikal atau langsung menuju titik tujuan dari inti masalah. Bukan langsung pakai teriak-teriak segala.

Bisa dimulai dengan pelan-pelan dan memperhatikan tahapan-tahapan yang enak. Pertama dari nada rendah, kemudian naik dan naik lagi hingga sampai puncak atau klimak dan kemudian dia dapat turun dengan cantik. Dan pada akhir pembicaraan itu dia dapat menyimpulkan dengan sangat baik atau dengan kalimat penutup yang keren. Itu kalau dia bener-bener paham apa yang berada di kepalanya.

Itu salah satunya adalah karena satu: seperti yang sudah saya katakan tadi adalah karena dia gak paham dengan pa yang akan dikatakannya.

  1. Tidak pandai mengatur jeda dan Tempo

Dia tidak pandai mengatur jeda. Jeda ini begitu penting. Karena dalam beberapa kalimat harus ada yang namanya jeda. Jadi harus ada tap-tap di mana dia harus berhenti. Berhenti sebentar atau berhenti sedikit lama atau di mana dia harus cepat menyambung. dalam atau dalam istilah lain bukan jeda tapi tempo. Jeda dan tempo saling menguatkan dan mengisi kekosongan masing-masing.

Karena tempo, dalam publik speaking itu, menurutku penting sekali untuk dapat mengaturnya. Di mana di harus lambat di mana dia harus menjelaskan dengan bernas atau menohok karena mencapai suatu permasalahan yang sangat penting dan perlu digaris bawahi. Tempo juga sangat penting, karena ia akan tahu di mana ia harus menurunkan volumenya.

Jadi dia tahu saat dia akan berbisik.

Jadi semua orang sudah memperhatikan, dan menantikan kelanjutannya dengan sungguh-sungguh. Telinganya sudah tegak menyimak kelanjutannya. Para pendengarnya sudah tegak menyimak. Tempo ini sangat penting untuk digunakan dalam menyampaikan apa yang menjadi gagasannya.

  1. Tidak menguasai seni mengatur tinggi rendahnya nada

Kemudian selanjutnya yang ketiga, menurut saya, ini penting untuk dapat menyampaikan dengan baik, apa yang biasanya orang tidak miliki mengapa ia tidak bisa menyampapaikannya dengan baik adalah karena dia tidak menguasai seni untuk mengatur tinggi redahnya nada. Jadi semuanya sampaikan dengan bablas saja dengan nada yang sama dengan suara yang sama. Tidak enak didengar.

  1. Isi pembicaraan yang tidak berkualitas

Kemudian yang selanjutnya adalah kualitas isi apa yang ingin dia sampaikan. Jadi kalau dasarnya (isi) sudah gak enak ya memang gak enak mau digimanain lagi.

Sebetulnya ada beberapa hal yang nanti akan saya gali lagi dan gali lagi. Karena sampai sekarang ini, hanya itu yang paling menempel di kepala saya. Ada banyak hal yang perlu dilatih.

Karena skill berbicara ini adalah salah satu skill yang apabila orang dapat menguasainya ia akan dapat menyihir banyak orang. Jadi ini penting sekali untuk dapat di pelajari.

Satu dari cara belajar untuk pintar berbicara atau ngomong adalah seperti…. Ya saya tidak tahu metode yang terbaik seperti apa. Saya pun masih mencari-cari formula yang tepat untuk berlatih dan meningkatkan skill ini. Dan saya pun mencoba banyak metode. Dan sekarang saya sedang mencoba metode podcast. Yaitu saya mencoba untuk berbicara sendiri di depan mic di depan rekaman.

Jadi saya memperdengarkan suara saya sendiri, bagaimana saya berlatih ngomong.

Ada banyak hal yang perlu dilakukan atau yang bisa dilakukan seseorang agar dia bisa ngomong.

  1. Menguasai Wacana (Banyak-banyakin Baca)

Yang pertama tadi adalah dia harus menguasai wacana jadi dia harus banyak-banyakin membaca. Banyakin isi di dalam kepala agar dapat menyampaikan gagasan dengan wawasan yang lebih luas.

Jadi kalau orang yang wawasannya luas, dia akan dapat menyampaikan banyak hal dengan enak penuh isi dan berbobot. Tapi yang paling penting dari seseorang yang berwawasan luas adalah bijak dan cerdas.

Kenapa? Karena semua wawasan kalau dimasukkan di situ kesannya akan bertabrakan. Menjadikan gak enak di dengernya.

  1. Pintar-pintar mengambil sisi yang akan ditonjolkan

Yang kedua adalah dia harus pinter. Jadi dia harus pinter mau mengambil sisi mana yang akan ditampilkan atau ditonjolkan dalam publik speaking tersebut sehingga tidak semua kata berantakan tidak semua ditampilkan di situ.

  1. Jangan Sok Pintar

Dan yang ketiga dan selanjutnya adalah jangan sok pinter. Pinter itu bagus, tapi sok pintre itu lain cerita.

Jadi jangan sok pinter, kenapa? Karena pembaca dan pendengar itu banyak dan macem- macem. Ada yang bener-bener pembaca cerdas. Ada juga pembaca atau pendengar yang bego yang bisa dikibulin semau kamu karena tidak tahu-apa-apa dan ada yang standar-standar aja.

Jadi kalau sok pinter, sok menggurui itu gak enak. Dan tetep gak enak di denger di telinga bagimanapun juga. Apalagi memberitahu orang yang sudah tahu… ya itu sama aja kayak ndobos.

Pembicara yang sok pinter itu gak enak dan gak asik kalau didengerin. Dan yang paling parah adalah dia mengatakan sesuatu dengan sok tahu, sok pinter padahal dia gak tahu. Jadi kalau dia gak tahu kalau ada pendengar yang lebih baik, itu bahaya. Jadi ini bener bener harus di manage.. Dan di jajaki dengan secara saksama.

Kemudian latihan latihan yang bisa dilakukan agar kita bisa ngomong dengan baik lebih baik di depan publik agar kita bisa ngomong tidak hanya di depan publik tapi dengan semua orang baik dalam kelompok kecil atau empat mata secara individu. Karena ketrampilan berbicara itu penting juga. Apa yang harus dilakukan seseorang yaitu menguasai menguasai panggungnya. Menguasai audiennya.

Jadi untuk melatih seperti itu (menguasai audien tanpa harus membuat audiennya sedang dikuasai)… saya… kalau saya pribadi ya.. Yang sering saya lakukan adalah

  • Membaca Nyaring

Metode membaca nyaring ini adalah metode membaca sebuah buku menceritakan kembali. Atau membaca buku dengan nada-nada tertentu.

Jadi saya membacakan dengan nyaring, dengan suara lantang, atau minimal suaranya keluar sampai batas minimal sampai mendengar. Agar pelafalan itu bisa menjadi jelas. Jadi seseorang yang sudah biasa bercerita itu akan memiliki pengalaman-pengalaman bagaimana melafalkan dengan jelas.kamu bisa melihat bagaimana orang yang pandai bergosip dapat melafalkan atau menyihir orang yang diajak bergosip jadi betah berlama-lama. Karena… ia terbiasa bercerita. Ia terbiasa ndobos. Ya kan? Perhatikan aja orang-orang yang suka bergosip. Karena bergosip itu… sudah berapa ratus jam aja dia habiskan untuk berbicara… pasti makin jago dan makin pinter lah. Orang yang suka bergosip, bukannya makin bego tapi makin pinter mengikat orang dengan pembicaraannya. Jadi kalau kamu menemukan orang atau public speaker yang pandai ndobos, curigalah jangan jangan di apandai ndobos 😀 😀

Satu dari banyak kelemahan yang aku alami. Adalah ketika aku mengatakan sesuatu itu bertabrakan. Jadi saya mengatakan a itu tidak menjadi a. Jadi bertabrakan antara satu kata dengan kata-kata lain yang sudah mengantri untuk keluar dari kepala. Berebutan. Begitu.

Apalagi ketika saya harus ngomong dengan lambat. Karena banyak yang harus saya keluarkan tapi saya tak bisa kalau harus ngomong secara lambat. Jadi saya sering salah ngomong atau salah melafalkan kata.

Saya mencoba mengatasinya dengan membaca nyaring dan membuat podcast.

Ah ternyata bayak hal yang harus kita perbaiki, ya.

Manfaat berbicara dengan diri sendiri, salah satunya adalah menjadi mengerti kekurangan dan banyak hal yang harus dijadikan pelajaran. Bisa belajar bagaimana cara agar bisa ngomong dengan baik. Bapak ku ngakak terus pas podcast-ku aku puter pakai Speaker Aktif di ruang tengah. Tapi untungnya bapak ku support. Jadi ikut ngakak-ngakak gitu.

  • Ngomong di depan kaca

Kemudian selanjutnya adalah ngomong di depan kaca.

Jadi ketika kamu ngomong di depan kaca, kamu tahu itu lah apa yang sedang kamu katakan. Jadi kamu berkata di depan kaca dan itulah yang sedang terjadi… kamu ngomong dan sedang berlatih meninggatkan skill berbicara.

Oke jadi inilah yang bisa saya sampaikan di episode flow nind yaitu kesalahan-kesalahan mengapa seseorang tidak menguasai seni public speaking atau hal hal yang perlu kita tingkatkan untuk untuk dapat menguasai seni publik speaking. Sekian dari saya Andy Riyan dan sampai jumpa.


Catatan: Ternyata sulit juga ya membuat transkrip dari rekaman. Tapi menarik dan asik. Aku masih punya stok belasan rekaman bersama temen-temen rata-rata 30 menit. Gimana dong cara ngerjainnya nanti? Ah pikir belakangan dah. Yang penting apa yang bisa aku rekam-aku rekam dan apa yang bisa aku tulis, entah itu transkrip, aku tulis juga. Apapun itu yang penting tidak pernah berhenti berkarya.

9 Comments Add yours

  1. Keren kak. Kalau Musik memang ungakapan jiwa, yang dituangkan dalam irama. Apakah Dalam berorasi dituangkan juga emosinya, dan seperti apakah emosi yang paling baik untuk berorasi. ?Saya jadi ingat bung tomo di kota pahlawan. Membakar semangat orang2 surabaya, sehingga dikenal 10 november hari pahlawan.

    Like

    1. jejakandi says:

      Wah ada yang bahas Orasi. Gimana ya, topiknya sedang bukan orasi sih. Tapi yang jelas, menurutku orasi akan keluar emosinya jika melantangkan sebuah kejujuran. Apa yang ia ungkapkan dengan berapi-api adalah sebuah kejujuran dan mewakili suara orang banyak. Orasi terbaik menurutku adalah Hitler. Dan kenapa orasinya begitu hebat hingga dia bisa menyatukan rakyat Jerman. Karena ia menyuarakan dengan jujur kondisi rakyat dan Jerman masa itu.

      Like

      1. The power of blak-blakan

        Like

      2. jejakandi says:

        Juga romantisme masa lalu dan ilusi masa depan.

        Like

  2. Orasi juga masuk public speaking. Kalau aja presiden kita blak-blakan, apakah indonesia bisa solid?

    Like

    1. jejakandi says:

      Public yelling. Belum tentu. Yang membuat solid adalah membuat seluruh rakyat memiliki rasa yang sama, tujuan yang sama. Orasi dengan meneriakkan ide-ide kebersamaan: romantisme, sebuah cita-cita dan musuh bersama yang bisa membuat solid. Sekedar blak-blakan belum cukup. Harus bisa menggerakkan menuju satu pemikiran dan kepercayaan. Menuju satu mitos yang bisa dipercayai bersama-sama. Satu-satunya ideologi pemersatu saat ini, menurutku adalah gagasan tetang Timnas. Saat ini pemersatu bangsa kayaknya cuma timnas.

      Like

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.