Menjadi Kutu Buku Bukan Jaminan Mutu

kutu buku

Aneh sekali yang selama ini aku lakukan ketika membaca. Yang terjadi dalam keseharianku yang penuh dengan menulis dan membaca. Yang penuh dengan lembaran-lembaran tanpa makna. Yang hanya penuh dengan lembaran-lembaran yang hanya aku yang menganggapnya bermakna. Belum relate untuk orang lain. Belum mampu menulis untuk orang lain. Masih hanya berbagi dari apa yang aku alami. Belum mencoba menjadi suara pikiran orang banyak. Belum mencoba menjadi penyambung lidah dan pikiran mereka. Padahal terkadang terbesit dalam benakku (walau hanya mampu menulis di blog) untuk memiliki tulisan, yang orang akan berkata: “Wah ini aku banget.” Tetapi aku masih selalu mengingat apa yang teman katakan padaku: “Tak perlu jadi penulis yang baik. Cukup saja jadilah penulis yang jujur.” Aku mencoba jujur. Ini yang aku alami dalam perjalananku.

Aneh sekali yang selama ini aku lakukan ketika membaca. Dibandingkan dengan yang masuk, lebih banyak isi yang tidak masuk ke dalam memori saya. Rasanya seperti hilang begitu saja. Tidak membekas dan terlupakan.

Jadi buku yang sudah habis dan banyak uang yang aku habiskan untuknya, jarang yang terekam dan teringat di memori saya. Luar biasa! Bertahun-tahun membaca, hasilnya sama saja; NIHIL. Tidak ada bedanya.

Jadi aku sepakat dengan kata Mbak Najeela, yang ia tuliskan di bukunya, Semua Murid Semua Guru, “Menjadi kutu buku bukan jaminan mutu!”

Aneh sekali rasanya…

Jadi untuk apa yang selama ini. Apa gunanya aku membeli buku dan meluangkan waktu, dan bahkan membeli waktu untuk membacanya?

Aneh rasanya jika semua itu menjadi sia-sia.

Tetapi sedari awal memang sudah aneh. Tidak jelas sebetulnya, tujuan dari membaca itu… pada umumnya (yang aku tahu), atau yang aku sendiri mengalaminya, sering tidak jelas tujuannya.

Tetapi sejauh yang aku ingat, tujuanku membaca adalah untuk memuaskan dahaga dan lapar akan bacaan-bacaan. Semacam syahwat dan nafsu yang harus dipuaskan. Dari sini mungkin tujuanku untuk membaca sudah keliru. Jadi seperti tidak ada bedanya dengan teman-temanku, yang menghabiskan waktu untuk selalu terikat—yang hanya bisa menghabiskan waktu dan— tidak bisa hidup tanpa gadget dan sosial media.

Keliru dan keblinger adalah kamu—adalah aku—yang suka mencibir dan mencemooh kesukaan orang lain yang senang membaca dan berinteraksi hingga berlarut-larut di sosial media.

Keliru dan keblinger adalah kamu—adalah aku—yang merasa lebih baik dari mereka. Hanya karena kamu—hanya karena aku—menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca buku. Rumangsamu seperti itu lebih keren begitu.

Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk.

Jangan menganggap—atau terserah kalau kamu memang harus menganggap begitu—jika apa yang orang lain lakukan itu sia-sia belaka; tidak ada gunanya dan sesuatu yang bodoh yang memunculkan suatu tanda tanya besar di atas kepala kita. Karena bisa jadi apa yang kamu lakukan belum tentu lebih baik. Sebab terkandung makna dan arti pada tiap-tiap sesuatu. Tergantung orang yang memaknainya.

Seharusnya kegiatanku membaca dapat aku maknai sebagai kegiatan yang bernilai ibadah apabila… apa-apa yang aku baca, minimal dalam benak adalah membaca dengan atau atas nama Allah ta’ala. Iqra’ bismi rabbika… bacalah dengan nama Tuhanmu.

 

Menjadi Kutu Buku Bukan Jaminan Mutu | 13 September 2019 | Saya Andy Riyan dari Desa Hujan.

19 Comments Add yours

  1. bicara says:

    Kata dosen saya dari dosen, banyak baca memang banyak lupa, tapi kalau tidak baca ya tidak ada yang bisa diingat sama sekali

    Like

      1. Dyah Sujiati says:

        Banyak baca banyak lupa
        Tidak baca, tidak ada yang dilupakan
        😁😁😁

        Kalo habis presentasi bisa ditutup begini: ada pertanyaan bagus, tidak ada pertanyaan jauh lebih bagus😁😁😁

        Like

      2. jejakandi says:

        Itu kamu. Aku mah enggak. 😁

        Liked by 1 person

  2. bicara says:

    Dari dosennya*

    Like

  3. Dyah Sujiati says:

    Wah ini aku banget…

    ——
    Wkwkwk

    Endingnya bagus, sy syukkak..

    Btw, kita sama nih cuma main blog sm twitter. Tapi twitter udah kering. Mau buka, rasanya kok seram, banyak yg berantem, saling menyakiti. Sy curiga efek pilpres 2 kali dengan 2 calon saja. Kedua belah pendukung menurutku terlihat sama cara komunikasinya, sama2 keras. 🙈

    Jadilah saya ngeblog aja. 😁😁

    Like

    1. jejakandi says:

      Aseeeeek ada yang sama.

      Ya main twitternya di setting dulu timelinenya. Aktifin yang real time, preferences-nya diubah. Tweet tweet dari orang yang gak aku follow gak bakal muncul. Tweet yang dilike sama temen juga gak muncul. Gitu sih.

      Liked by 1 person

  4. Ibnu Rafi says:

    “Menjadi kutu buku bukan jaminan mutu” Membaca buku banyak, tapi banyak juga hal yang saya lupakan. Mungkin karena kurang memaknai apa yang saya baca, atau membaca dengan tidak diiringi pemahaman atau karena kakean ngrumangsa.

    Kalau baca novel (misal: novel tulisan bang Tere Liye) kok masih bisa diingat sampai sekarang, sedangkan kalau membaca textbook udah langsung lupa sama yang baru dibaca. Hehe.

    Like

    1. jejakandi says:

      Ya mungkin begitu, kurang memaknai apa yang dibaca, lebih dari itu… kata-kata tersebut belum mampu berinteraksi dengan kata-kata yang sudah berada dalam pikiran.

      Like

  5. sunarno says:

    yang kualami dari membaca buku beberapa membuat pemahamanku jungkir balik, apa yang telah dipahami sebelumnya bertolak belakang atau setidaknya berbeda dengan yang baru saja dibaca

    Liked by 1 person

    1. jejakandi says:

      Benar begitu, Pak Narno. Dan itu terkadang menjadi menyebalkan, membuat otak ini tak bisa diam dan hanya memperumit hal yang seharusnya bisa dipikir dan dilihat dengan lebih sederhana.

      Liked by 1 person

      1. sunarno says:

        tapi malah makin keranjingan, mencari lagi mencari lagi

        temanku dari pencarian 10 tahun kemudian menyimpulkan versi resmi aryo penangsang jauh dari kenyataan, jadilah 5 novel

        Like

      2. jejakandi says:

        jadi kesimpulannya bagaimana ini, Pak Narno? bagaimana kalau pemahaman menjadi bolak-balik dan keranjingan menemukan sesuatu? ya walaupun sebagai manusia tugasnya adalah mencari, tetapi bagaimana jika pengetahuan baru itu bukannya malah membuat pemahaman menjadi benderang tetapi malah menyesatkan?

        Liked by 1 person

      3. sunarno says:

        disinilah dibutuhkan kejernihan hati dan pihak yang bisa memberi penjelasan secara benar. selama ini buku yang saya baca, sebagian besar saya percaya pada kredibiltasnya (Ahmad Tohari dg Lingkar Tanah Lingkar Airnya dan Kubah, Mansur Suryanegara dg Api Sejarahnya, Nasirun (temenku) dengan serial Penangsang, nah untuk LKH antara menerima dan merasa ada beberapa yang memang difiksikan benar-benar

        Liked by 1 person

      4. jejakandi says:

        Sepakat. Menjadi pembaca juga harus pandai menganalisis, ibarat menelusuri riwayat, harus terpenuhi syarat-syarat keabsahan sampai membuat titik yakin. Jadi pembaca yang bagus harus kritis sehingga terhindar dari taqlid buta.

        Liked by 1 person

  6. Lai Karomah says:

    Kebiasaan buruk saya: Baca buku sukanya skip-skip, bolak-balik. Saat ditanya apa inti ceritanya, LUPA!

    Like

    1. jejakandi says:

      Sambil ditulis, Mbak. Membaca dan Menulis itu sepaket.

      Liked by 1 person

      1. Lai Karomah says:

        iya, mas. Itu yang sedang saya lakukan.
        entah jadi postingan atau coretan di bukunya

        Like

      2. jejakandi says:

        Sip. Jadilah apapun itu. Yang penting diikat. “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya,” begitulah kata orang bijak.

        Liked by 1 person

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.