Kutatap Fajar Setelah Menengok Senja

kutatap

Malam ini, ketika telah jatuh seperti biasanya, seperti yang tak berubah, seperti yang selalu terjadi, aku membeli sejumlah waktu 10 sampai 30 menit setiap harinya untuk menulis jurnal, sempat terbit dalam benakku bahwa jurnal malam ini tidak akan berhasil dengan baik. Bagaimana bisa berhasil dengan baik jika aku tidak memiliki stok apapun dalam pikiran. Kadang memang begini, kadang memang inilah masalahnya mengapa kita tidak bisa berkembang kemanapun; stabil. Stabil membuat seseorang merasa nyaman dan tidak lagi merisaukan atau memiliki pertanyaan dan memerlukan sesuatu untuk bergerak dan berkembang. Walau aku selalu tahu, selalu ada yang terjadi dalam pikiranku. Namun saat-saat stabil seperti sekarang, saat lempeng-lempeng saja hari-hari yang dijalani, jadinya seperti ini: menjadi terlalu nyaman dan sulit untuk beranjak dan berkembang. Halah repot banget sih… bilang saja: “Stabil bikin jadi mager.”

Aku sempat merasa jurnal malam ini tidak akan berhasil dengan baik. Tidak akan berhasil dengan baik itu berarti jurnal yang aku tulis masih sama, seperti yang tak berubah, hanya seputar hari-hari yang datar-datar saja, paling-paling refleksi apa yang aku lakukan sejak dari bangun tidur hingga tidur lagi. Tidak akan berhasil dengan baik itu artinya masih sama; masih males untuk mengeksekusi koleksi topik yang semakin berderet-deret di buku, di bullet journal. Tidak akan berhasil dengan baik itu pasti hanya akan diputuskan berakhir di Jurnal Keramahan Cinta.

Kemudian segera, setelah jurnal itu mendekati selesai. Dan mendapati apa yang dihasilkan dari saat-saat jemariku menari membuatku tergerak untuk merawat tulisan malam ini dan mengantarkannya untuk terbit di jejakandi nanti.

Keyakinan itu bermula ketika jemari-jemari ini menuliskan apa yang pernah terekam oleh pikiran saat menjelang Maghrib, tentang betapa saya, walau sebentar saja, tadi merasa sedikit terkejut melihat dan membaca sebentar tulisan saya sendiri mengenai perjalanan saya bersama teman-temanku ke Gunung Merapi. Perjalanan dulu sekali ketika tahun 2014.

Aku terkejut mendapati diriku sekarang. Ternyata ada banyak hal yang telah terlupakan untuk sementara waktu. Dan ternyata aku telah melupakan banyak hal yang terjadi dalam hidupku, seperti nama-nama tempat, nama-nama orang, detail tentang hal-hal yang dulu aku mengira aku akan sangat ingat kapanpun aku mau mengingatnya.

Meskipun hanya sedikit saja catatan dalam jurnal yang aku terbitkan di blog itu namun sedikit membantuku mengingat yang telah terjadi. Jadi memang aku tidak perlu mengingat semuanya karena—selain untuk menjaga agar pikiranku tidak terlalu penuh—pada akhirnya juga akan terlupakan. Tetapi bila kamu sudah mendokumentasikannya dalam sebuah tulisan, kamu tidak perlu khawatir akan kehilangan semuanya.

Betapa aku tadi sangat terkejut ketika membaca sekali lagi catatan cerita dari perjalananku itu. Meskipun ditulis dengan sangat buruk, tetapi untuk sekarang cerita itu menjadi satu fragmen yang sangat penting. Aku pun kembali meyakini bahwa tidak penting bagaimana tulisan itu dapat terbaca suatu hari nanti, tidak terlalu penting apakah ceritamu ditulis dengan baik atau buruk, sebab yang paling penting adalah kau pernah menuliskannya. Ya… yang paling penting adalah kau pernah menuliskannya. Dan ini lah gunanya jejakandi, adalah ketika kamu menengok kebelakang, ketika kembali membaca jejak yang pernah kau tinggalkan, kau merasa ada sesuatu yang telah berubah.

Aku berubah sangat total dari sejak saat itu. Sekarang, ketika aku mengingat nama-nama orang yang pernah aku temui, ketika aku mengingat jejak-jejak dan nama nama tempat yang dulu pernah aku kunjungi dan ketika aku mengingat cerita-ceritanya, segalanya tampak luar biasa bagiku saat ini. Betapa aku pernah sejauh itu berjalan dan aku pernah segila itu menikmati kesenanganku sendiri. Betapa aku pernah memiliki cerita yang seindah itu. Luar biasa.

Betapa aku tidak terkejut, ternyata aku pernah mengenal banyak orang dalam hidupku, sementara di sini sekarang aku hanya bisa menuliskan tentang semua itu, sementara di sini sekarang merasa merasa tidak punya teman. Sebab memang lingkaran pertemananku yang semakin mengerucut dan mengecil. Dan aku bahkan bisa bilang, aku tidak punya siapa-siapa. Aku bahkan tidak punya teman untuk menggila dan menikmati hidup ini sedikit lebih berwarna saja tidak harus seperti ketika aku menjadi orang yang paling ekspresif dan penuh dengan kata-kata, penuh petualangan dan penuh hal-hal yang sangat menantang. Dulu aku bisa membawa banyak orang mengikutiku kedalam suatu perjalanan bodoh. Dan mereka mau. Dulu aku bisa saja menemukan orang yang mau kuajak untuk tertawa dan bergembira. Berbeda… sangat berbeda dengan aku hari ini.

Jadi aku seperti tertegun dan masygul seperti tidak tahu bagaimana lagi aku akan menjalani sisanya. Sepertinya aku ingin menghabiskan sekali lagi dengan satu saja teman, tidak harus banyak untuk menjalani hidup yang lebih berwarna. Aku berpikir, apalagi kalau bukan istri. mungkin inilah saatnya, bahwa aku harus menemukan sesorang untuk mendewasa berdua, tumbuh bersama dan membangun subuah rumah impian. Menemukan seseorang untuk bersama-sama berjuang, menemukan arti untuk bahagia dan sedikit bersedih. Membangun cerita baru bagi masa depan. Berkembang bersama untuk menentukan pilihan dan mengalami mimpi-mimpi sekali lagi hingga tua. Dan mengalami hidup ini untuk hal yang berarti.

Kutatap Fajar Setelah Menengok Senja | Andy Riyan dari Desa Hujan | Photo Credit by Saras © 2019

9 Comments Add yours

  1. Paragraf kesembilan sangat relatable sekali mas :”)))

    Like

    1. jejakandi says:

      Mendadak menghitung hingga paragraf termaksud, dan ketika membacanya, di dalam hati cuma bisa bilang: “Oh.” Lalu ngakak… 😝😝

      Like

      1. Hmm malaaah ngakaaaak 😒😒 kayaknya itu kan problematika hidup yang banyak dihadapi orang orang yang mulai berusia 20 tahunan keatas wkwk

        Like

      2. jejakandi says:

        25+ Mbak. Sorry koreksi dikit 😁 20-24 kan lagi gayeng-gayengnya, lagi top-tope.

        Yah memang begitu, ngakak ke diri sendiri. Lah bagaimana lagi, yang tersisa dalam hidup ini adalah untuk ditertawakan. Dan seni menertawakan diri sendiri adalah puncak dari sebuah seni. 🤪🤪

        Like

      3. Soalnya saya sejak taun terakhir kuliah suda merasa pertemanan saya mengerucut sekali makanya bilanh memasuki usia 20an wkwkwkkw 😅

        Hoooo kirain ngakak kenapaaa

        Like

      4. jejakandi says:

        Berarti kamu lulus kuliahnya masih sangat muda 😁

        Asline yo pengen mengekek i dirimu tapi gak etis 😝😝

        Like

      5. HEEEEH kenapaaa ngetawain sayaa :((

        Like

      6. jejakandi says:

        Lho kan gak jadi 😝 Ngetawain karena ternyata: Yo podo wae, banyak yang gitu gak cuma aku. Ha ha ha

        Like

      7. Siyaaapp mas, siyaaapsss wkwk

        Liked by 1 person

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.