Catatanku Tentang Hidup Bermakna Dengan Mengikat Makna

hidup bermakna

Mengikat makna adalah hal yang sangat brilian dalam perjalananku untuk terus bahagia menuliskan apa saja.

Mengikat makna selalu erat dengan kegiatan membaca. Dan hari ini aku tidak membaca banyak tetapi rasanya aku menemukan banyak hal daripada ketika aku membaca banyak. Karena dari membaca yang tidak banyak itu, aku bisa menuliskan hal yang—meskipun tidak banyak, tetapi—lebih bermakna. Banyak dan tidak banyak bagiku sekarang ini tidak terlalu penting. Karena ada hal yang lebih penting dari dua persimpangan itu, yakni hidup bermakna.

Hari ini aku hanya membaca sedikit-sedikit saja, tetapi aku melakukannya dengan cara mengemil. Aku kunyah dengan perlahan-lahan setiap kata yang bermunculan. Aku menikmatinya setiap kalimat sambil merenungkannya.

Aku membawa pikiranku keluar dari diriku sendiri. Aku terbangkan diriku melesat bersama jalinan kata-kata.

Tidak banyak yang aku baca, tetapi renungan membawaku kepada banyak kemungkinan-kemungkinan lain yang berbeda.

Dan dengan mengikat makna, aku merenungkannya sejenak. Memikirkan apa yang aku dapat. Apakah hal positif ataukah hal yang negatif.

Tanganku terus bergerak bersama setiap gagasanku yang juga bergerak.

Dan aku terus menarikan tanganku untuk apapun yang bisa aku tangkap dan bisa aku renungkan secara langsung. Dan ini lebih efektif untuk mengisi otak ku yang dalam keadaan kering, sepi dan gersang dari imajinasi.

Dengan membaca sedikit namun mengunyahnya sampai sehalus mungkin. Sampai setelah beberapa kali disentil sedikit demi sedikit, apa yang pernah tersimpan dalam memori otakku pun kembali aktif dan kembali bangkit. Kembali bangun dari mimpi. Dari tidur panjang. Aku terbangun dari tidur panjang yang telah membuatku sangat lelah.

Hari ini aku berhasil mengikat makna dan mengalami arti pentingnya. Dan memahami satu definisi lain atau hal penting lain yang akan aku catat dalam perjalanan menulisku.

Pagi tadi aku membaca buku Tirai Di Balik Aroma Karsa. Bukan apa-apa hanya menengok sedikit, satu atau dua halaman. Dan di situ aku mengerti. Aku mulai memahami bahwa sekelas Dee Lestari pun ternyata sesungguhnya ia tidak selalu tahu banyak hal dalam bukunya. Tetapi apa yang ditulis dalam bukunya merupakan kumpulan dari riset-riset atas ketidaktahuan itu. Dan diceritakan dalam buku yang sama bahwa riset adalah hal paling seksi untuk mengambil jeda dari menulis.

Kemudian ia jalan-jalan sambil riset. Sehingga ia bisa memiliki alasan sejenak berhenti dari kegiatan menulis Aroma Karsa, seperti yang aku lakukan terakhir kali dua bulan ini.

Kalau Dee berhenti untu meriset dan mendalami arena balap dan segala sesuatu tentang balapan, aku berhenti dan seolah-olah sedang riset, sedang mencari plot dan adegan. Sedang mencari konflik dan maslah yang ingin aku tulis dalam buku ku. Kalau Dee berhenti untuk satu tujuan yang tertentu, kalau aku berhenti karena tidak tahu mau ngapain lagi. Itu bedanya penulis besar dengan aku. Makanya aku pun bilang kepada diriku sendiri: “Mau bikin novel? WTF! What are you doing? Ngimpi!.”

Ketika sedang mencari inspirasi dan mencari bahan untuk konflik, aku malah banyak menemukan hal lain. Tetapi hal lain itu tidak pernah aku abaikan, tetap aku tulis barangkali suatu hari nanti akan berguna. Dan tetap tersimpan di sini. Itulah makna-makna yang terikat. Sisi lain dari penrjalanan dan proses untuk terus menulis dengan bahagia.

Inilah alasan… atau ini kebetulan dan jawaban mengapa aku lebih suka dengan buku nonfiksi yang berkaitan dengan cerita behind the scene dari seorang penulis. Kegiatan sehari-hari penulis. Catatan-catatan tentang apa yang dilakukan seorang penulis, cerita sehari-harinya di luar novel best seller-nya, bagiku lebih menarik. Aku lebih menyukai karya-karya berbentuk jurnal harian dan proses terlahirnya pemikiran-pemikiran itu dari pada karya fiksi mereka. Karena aku tahu karya fiksi adalah cara penulis untuk membuat lambungan dari setiap kejadian. Semuanya adalah artifisial. Kalau mau dibuat seorisinal mungkin, tidak ada manusia dengan konflik sebegitu beratnya. Tidak ada manusia dengan kekuatan super power segitu hebatnya. Tapi balik lagi semuanya itu adalah untu imajinasi. Sebab lagi-lagi tanpa imajinasi dunia ini hanya benda fisika. Tak menarik sama sekali.

Kembali lagi dengan membaca sedikit dan perlahan-lahan. Tidak apa-apa kalau kecepatan membacaku menurun, asalkan lebih banyak yang masuk kedalam pikiranku daripada semuanya babalas karena banyaknya yang aku baca, tetapi aku tak memahaminya.

Oke sekarang aku ingin menjelaskan mengenai membaca ngemil. Yaitu membaca dengan sangat hati-hati dan teliti. Membaca untuk merasakan dan menikmati apa yang dibacanya. Dalam hal ini bukan berarti ketika membaca ngemil—nama lainnya yaitu deep reading—itu tak berarti kita dilarang untuk membaca cepat atau speed reading, fast reading. Sangat Boleh kok membaca dengan cepat asalkan tetap jangan lupakan untuk mengikat makna dan merenungkannya.

Membaca ngemil itu untuk membantu menikmati membaca dan memahami. Penting sekali untuk memahami. Sehingga kepala lebih terisi dan dapat mengungkapkan apa yang ingin coba disampaikan seperti yang sekarang aku lakukan ini.

Sekian dari saya Andy Riyan dan sampai jumpa.
Menulis dengan bahagia di Desa Hujan, 15 September 2019

3 Comments Add yours

  1. Ayu Frani says:

    Saya sangat setuju dengan “Membaca untuk memahami arti”. Saya pun sedang belajar untuk memahami hal demikian.

    Semangat!

    Like

    1. jejakandi says:

      Semangat!!!

      Sebab waktu begitu berharga dan sayang jika terbuang sekalipun untuk membaca tetapi tak lagi bermakna.

      Liked by 1 person

      1. Ayu Frani says:

        👍👍

        Setuju!

        Liked by 1 person

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.