Inilah Alasannya Mengapa Saya Menjadi Ranger Merah

ranger merah

Sifat bacaan dan cara membaca dari dunia digital adalah ringan dan serba menghibur. Konten-konten yang laku dan paling sering di akses adalah hal-hal yang berbau serba hiburan bisa jalan-jalan, kuliner dan gosip. Bahkan yang paling cenderung menonjol adalah meme; dan berita satu paragraf (kalau enggan menyebut satu kalimat kerena terlalu singkat). Sehingga tidak heran kalau orang-orang, pada masa kini, cepat lelah untuk membaca bacaan yang sifatnya analitis kritis dan menusuk kedalam. Bahkan orang-orang cenderung cepat lelah untuk sekedar mengerti inti persoaalan. Sehingga bacaan, masa kini, kalau isinya berat tidak akan laku bahkan bisa dijauhi. Makanya konten-konten di Instagram dengan caption yang pendek dan memikat lebih asik dan lebih mudah dilirik. Makanya jutaan twit dapat terbit dalam waktu sekejap saja. Arusnya begitu cepat sampai-sampai kewalahan untuk mencernanya. Layanan chating via WA tak terbendung lagi kecepatannya, saking cepatnya membuat banyak orang bisa duduk bermenit-menit hingga berjam-jam hanya memandangi layar hape dan lupa waktu. Dan saya, mungkin, adalah satu dari banyak orang yang terkena imbas zaman serba cepat dan serba instan ini. Dan saya, mungkin, adalah satu dari banyak orang yang sedang mencari suaka untuk hidup baik-baik saja tanpa harus tertekan dan terseok-seok mengejar kecepatan yang tak bisa lagi saya kejar itu. Rasanya dulu, ketika masih kecil, kegiatanku hanya menonton Tv; membaca, bermain dan mengaji, tetapi itu sangat membahagiakan untukku. Saya menyukai kesenangan-kesenangan masa kecil itu yang sekarang ingin kembali saya temukan. Seperti, betapa suka dan menyenangkannya saya membaca sobekan-sobekan majalah atau koran-koran bekas; mengisi teka-teki silang; menonton film kartun dan power rangers. Sungguh jika kamu dulu pernah melihat saya ketika kecil, kamu akan menemukan saya sedang membaca koran bekas atau sedang bermain kelereng. Saya lupa kapan tepatnya mulai berhenti menonton Tv, tetapi kira-kira saat saya mulai bisa mengakses internet—1 Rupaiah per Kb—dan berselancar di waptrick dan online chating sperti mig33 dan mXit. Saat itu saya sudah SMA. Sore harinya kalau tidak kugunakan untuk pergi ke warnet browsing-browsing guitar tab dan iseng-iseng belajar bikin tema blog, ya main PS dengan game andalan Winning Eleven. Tetapi saya inget betul sepanjang SMA itu saya masih sempat menamatkan banyak Novel. Antara lain: Harry Potter seri 3 The Prisoner of Azkaban sampai yang ke 6 Half Blood Prince; The Lord of The Ring; Jomblo—yang kemudian diangkat ke layar lebar dengan bintang utama Ringgo Agus dan pacar kedua saya, Nadia Saphira awkokokok—;di masa ini pula saya pertama kali mengenal Kahlil Gibran; dan banyak lagi yang lain. Dan sejak masa-masa itu, kebahagiaanku mulai naik turun, sampai hari ini, saya mulai menemukan buku-buku yang sangat sulit dipahami. Buku yang sangat menggoda tetapi meremukkan kepala. Seseorang pernah berkata—lupa siapa yang ngomong begini—“Dengan menulis tentang suasana yang emosional atau pengalaman yang mebuat stres, kemampuanmu untuk berkosentrasi dapat ditingkatkan.” Dan Tahafut Al Falasifah sebuah buku karya Abu Hamid Al Ghozali ketika masih muda adalah buku yang paling sulit yang pernah saya baca. 15 tahun setelah wafatnya sang imam, lahir seorang filosof muslim (klasik) terakhir yang kelak menulis sanggahan, kritik atau boleh disebut sebagai counter atas Tahafut Al Falasifah—Tahafut At Tahafut—beliau adalah Ibn Rusyd. Dua buku yang baru saja saya sebut adalah buku paling menjengkelkan dan paling sulit yang pernah saya baca. Ia menjadi menjengkelkan karena kedua buku ini terus menggoda saya untuk mencoba lagi dan mencoba lagi untuk menyelami dan memahaminya, meski akhirnya saya tumbang berkali-kali juga. Walau sesungguhnya buku yang disebut kedua masih agak mendingan daripada buku pertama. Namun, tetap saja seribu kali saya mencoba memahaminya seribu kali saya tumbang dan jatuh merana. Setiap kali membaca satu atau dua halaman dari dua buku tersebut, kepala saya langsung pusing dan penuh seperti akan meledak. Sakit sekali rasanya memahami buku ini. Dan setelah seribu kali saya tergoda dan seribu kali saya jatuh… sampai sekarang saya masih tergoda untuk memahami buku-buku ini. Saya masih tergoda untuk memahaminya, dan sekalipun sulit, saya masih akan terus mencoba mengulang-ulang buku ini paragraf per paragraf yang sampai ketika tulisan ini turun, belum satu bab pun yang sudah saya pahami secara mendasar dan penuh. Pemahaman saya masih lompat-lompat dan parsial. Padahal saya sudah mulai menuliskannya hingga seluruh halaman-halaman yang sudah saya baca itu penuh dengan coretan. Dan apa yang saya tulis, secara ironis masih belum terikat. Sebegini menyakitkannya memang membaca dua karya dari tokoh yang sangat penting di Khazanah Islam. Namun, seakan-akan kontras dengan dua buku yang saya sebut itu, baru-baru ini saya melahap buku nonfiksi paling mudah dan teranyar yang saya baca, yaitu Senyap Yang Lebih Nyaring-nya Eka Kurniawan. Senyap Yang Lebih Nyaring membawa angin segar dan sedikit motivasi tambahan bagi saya. Buku ini sangat menginspirasi. Satu hal yang paling membekas di benak saya adalah kira kira begini, jika ketika suara dibungkam sastra harus bicara, lalu bagaimana apa tugas penulis, sastrawan dan penyair ketika semua orang sudah bisa berbicara dengan bebas? Sudah dapat melantangkan unek-unek dan aspirasinya? bahkan sudah tak terkendalikan lagi untuk menghujat tanpa rasa takut? Ketika orang-orang sudah bisa berlomba-lomba adu cepat dan adu keras dalam berargumen dan mengkrkritik, apa tugas penulis? Mungkin jawabannya adalah diam. Lebih baik mundur dari dunia internet dan lebih banyak diam, lebih banyak membaca saja. Dalam buku Senyap Yang Lebih Nyaring juga, Eka bercerita bagaikan sedang mengobrol saja. Dalam obrolan-obrolan ringan itu, Eka banyak bercerita tentang novel-novel yang telah dibacanya. Sehingga saya seoalah-olah di bawa ke dalam dunia Eka Kurniawan perihal kegemarannya membaca dan menulis. Dari Senyap Yang Lebih Nyaring, saya belajar darinya yaitu bahwa orang-orang yang sudah sehebat mereka, Eka Kurniawan dan penulis-penulis yang sering ia ceritakan dalam bukunya, yang sudah jadi penulis reguler dan terkenal saja masih bermasalah dengan konsistensi. Lalu seorang training, seorang yang sedang belajar dan sedang menapaki jalan untuk menulis seperti saya, seorang yang sedang menapak dan sedang dalam langkah yang sangat baru, sangat awal untuk mengambil langkah kegiatan menulis sebagai jalan hidup, yang hanya menulis saja, yang tak peduli apakah menghasilkan tulisan yang bagus atau tidak masih bermalas-malasan untuk membaca dan menulis? Tak masuk akal. Tetapi tak ada hubungannya dengan Senyap Yang Lebih Nyaring, Eka Kurniawan dan penulis-penulis hebat yang menghasilkan buku hebat, saya hanya ingin berjuang untuk konsisten dan menulis dan membaca. Persetan dengan mereka. Lalu yang terakhir, setelah pengembaraan dari hal-hal yang saya sukai, saya jadi paham satu hal, tentang buku yang tidak saya sukai, yaitu buku jenis Bunga Rampai yang ditulis beramai-ramai oleh banyak penulis, macam Antologi. Lebih sering saya tidak menyukainya daripada sukanya. Bingung saja, membacanya dengan berbagai gaya cerita dengan berbagai penulis dan karakternya. Saya bingung saja. Ya Kurang suka sajalah. Begini sajalah tulisan kali ini, tak usah harus ada kata penutup. Sekedar catatan saja, pada konten ini sengaja saya membuatnya menjadi satu paragraf saja, biar pembacanya bingung. Ha ha ha saya Andy Riyan dari Desa Hujan.

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.