Bersedia Untuk Melupakan

bersedia

Membaca adalah sebuah kenikmatan dan juga kegilaan. Aku membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak atau aku akan binasa. Dan berhenti itu tidak mudah.

Aku membutuhkan penutur yang kepadanya aku ingin mendengarkan. Aku membutuhkan gerak yang kepadanya aku bersedia melupakan.

–Andy Riyan–

Saya hampir selalu tidak mengenali diri saya sendiri; terhadap apa yang sebenarnya saya inginkan. Terhadap apa yang sebenarnya saya pikirkan. Terhadap apa yang sebenarnya berada di dalam benak saya. Saya hampir selalu tidak mengerti dan memahami diri saya sendiri. Lalu bagaimana saya akan memahami orang lain?

Terkadang kesendirian saya begitu menyiksa, karena saya tidak memiliki cermin. Orang lain di hadapan kita; mereka bisa menjadi cermin itu. Saya hampir selelu tidak mengenali diri saya sendiri, dan mungkin, seperti kata Takuan Soho kepada Musashi, “Kamu tidak akan pernah dapat memahami dirimu sendiri sampai kamu bisa memahami Otsu; sampai kamu memahami orang lain.”

Saya pun memahami mengapa seseorang menjaga jarak kepada saya, karena saya pun menjaga jarak kepadanya. Saya mulai mengerti mengapa seseorang begitu erat memelukku, karena saya memeluknya dengan begitu hangat.

Saya hampir selalu tidak memahami diri saya sendiri, sampai saya bercermin. Membaca buku-buku yang saya sukai; menulis jurnal setiap hari, merekalah cermin-cermin saya.

Membaca adalah sebuah kenikmatan dan juga kegilaan. Saya membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak atau saya akan binasa. Dan berhenti itu tidak mudah. Karena ia adalah cerminan dari jiwaku. Saya membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak. Saya membutuhkan penutur yang kepadanya saya ingin mendengarkan. Saya membutuhkan gerak yang kepadanya saya bersedia melupakan.

Saya merasa saya membutuhkan jeda dari menulis dan membaca. Mengambil jarak darinya hingga waktu telah menyembuhkan luka-luka saya. Saya merasa saya membutuhkan jeda dari membaca yang tidak ada henti dan tak akan ada kata hentinya ini. Sebab yang tanpa henti itu, saya pun menjadi akan terus mencoba memahami apa yang saya baca, karena saya tak ingin membacaku menjadi sia-sia. Dan itu adalah kegilaan.

Saya merasa saya membutuhkan jeda dari menulis. Apa yang saya hasilkan dari menulis ini, selain sebuah ketakutan bahwa saya tidak akan menemukan cermin lain selain diriku sendiri? Tetapi saya selalu berjanji bahwa saya tidak melakukan hal-hal yang akan saya sesali. Saya berpikir saya membutuhkan jeda dari menuliskan hal yang tidak menghasilkan apa-apa. Apakah karena saya tidak menghasilkan apa-apa dan ini adalah sebuah kesia-siaan? Saya hanya berpikir saya membutuhkan jeda.

Saya membutuhkannya untuk bersosialisasi, mendengarkan orang bicara dan mendewasakan diri dalam lingkungan. Saya membutuhkannya untuk berolah raga.

Saya merasa telah lelah.

Jangan-jangan semua ini hanya spontanitas saja dan keputusan yang emosional belaka?

Tetapi mebaca dan menulis adalah sebuh kenikmatan dan saya sangat menikmatiya. Sementara menulis sambil melihat pemandangan seperti ini, melihat pemandangan di mana wordprosesor milik saya menjadi transparan dan memperlihatkan kesejukan alam yang begitu nyata, ini sungguh menyenangkan dan sangat melegakan dan menangkan bagi pikiran saya. Saya sangat menyukainya.

Mungkin saya hanya lelah dan sisi emosional saya yang sedang tidak berjalan dengan baik.

Saya membutuhkan semuanya.

Saya butuh untuk menulis. Membutuhkan untuk membaca. Membutuhkan jeda. Membutuhkan bersosialisasi. Butuh mendegarkan. Membutuhkan olah bagi raga dan jiwa. Karena menulis dan membaca tanpa ditunjang oleh fisik yang prima dan pikiran yang dalam jatuhnya otak terkuras hanya dalam lelah berkontemplasi. Akibat badan yang lemah menjadikan apa yang dihasilkan tidak maksimal dan bahkan karena lelah jadi punya kecenderungan menginginkan semuanya segera berakhir. Melupakan kualitas dan imajinasi yang bebas dan sempurna. Fisik yang lemah dan pikiran yang dangkal tidak lagi mempunyai daya dan kualitas untuk menjalankan perannya dalam berpikir, berimajinasi, bekerja dan membaca juga menulis.

Saya menginginkan semuanya. Dan saya akan melatih semuanya. Semua yang saya bisa dan akan saya raih dalam perjalanan ini adalah sebuah proses. Saya menandai semua ini sebagai sebuah langkah, sebuah menifestasi dari jiwaku, sebagai sebuah pencapian yang bagus pada perjalan saya, dan saya telah mencapai titik ini. Titik dimana konsistensi sedang menuntutku untuk memiliki hobi dan berkah yang menyenangkan. Titik dimana saya siap untuk bahagia dengan hasil dari proses yang telah saya alami. Titik dimana konsekuensi dari penerimaan akan sebuah kebahagiaan yang saya alami.

Saya pun mengingat bahkan idola saya, Muhammad Ibn `Arabi setiap harinya menulis dan membaca kitab-kitab. Juga idola saya yang lain Imam Muhammad Idris Asy-Syafii berkata bahwa ia tidak ingin hidup gelapnya kebodohoan.

Ini adalah sebuah porses yang sangat hebat. proses yang saya nikmati sebagai sebuah tanda dalam perjalanan saya. Di mana semua kisah hidup; jalan hidup yang saya untai dari rasa dan jiwa selalu melewati rangkaian jurnal yang berada dimana-mana, dimanapun saya berada.

10 Comments Add yours

  1. nunulis says:

    Semoga, tersemogakan 😂

    Like

  2. fiskahendiya says:

    Kelihatan sih lelahnya.
    Kadang nulis “saya” kadang “ku”.😅

    Istirahat kalau lelah.
    Yang dipaksakan itu biasanya gak baik. 😊

    Like

    1. jejakandi says:

      Kalau soal saya dan ku itu sudah tak perhitungkan. Saya dan ku itu ada rimanya sendiri. Kecepatan dan musiknya sudah begitu maunya.

      😂😂😂 Terima kasih atas perhatiannya.

      Like

  3. masHP says:

    Olahraga, silaturahim, ngopi jangan lupa. Habis itu baru nulis dan baca. 😁👍

    Like

    1. jejakandi says:

      Olahraga ❌
      Silaturahim ✔️
      Ngopi✔️
      Menulis ✔️
      Membaca ✔️

      😁👍

      Like

  4. Rissaid says:

    Butuh hening mas, ketenangan jiwa 🙂

    Bagus menyadari kalau apa2 memang butuh jeda, merapikan isi pikiran.

    Like

    1. jejakandi says:

      Iya, Mbak Riss. Terima kasih. 🙂

      Like

  5. sunarno says:

    silaturahim, berdoa, mendoakan semoga didoakan agar tidak resah, tidak mudah lelah

    Like

    1. jejakandi says:

      Mendoakan semoga didoakan… Terbaik ini mah, Pak Narno. Matur thank you.

      Liked by 1 person

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.