Aku Jatuh Cinta Lagi

jatuh cinta lagi

Awal bulan Desember ini aku sudah menambah sepuluh teman di rak buku-buku. Dan sampai hari ini aku sudah menghatamkan empat darinya dan sedang jalan yang kelima. Bilangan-bilangan itu adalah sebuah prestasi tersendiri, karena hanya baru berselang sebelas hari aku sudah menghabiskan 4 darinya.

Sejak aku menulis jurnal yang berisi tentang keinginanku untuk kembali menemukan kesenangan di masa kecil. Kesenangan-kesenangan sederhana seperti membaca koran bekas, sobekan artikel dan bahkan cuma surat-surat yang diterima dan ditulis—lebih tepatnya diketik—dengan mesin tik tua—oleh pakdheku. Hingga kesenangan-kesenangan yang lebih menggairahkan, berjam-jam tiduran di karpet membaca buku-buku yang dipinjam dari perpustakaan sekolah. Mengingat semua itu, betapa menyenangkannya caraku dulu dalam menikmati bacaan. Sesederhana membaca dan menikmati fantasinya. Tidak menganalisis secara mendalam bagaimana struktur cerita, keterkaitan antar tokoh dan kedalaman bahasa sastranya.

Dan awal bulan ini setelah sepuluh teman mengisi rak buku-buku, aku mulai menikmati lagi jenis bacaan baru. Buku-buku genre baru, dari penulis baru dalam khazanah koleksiku, yang sebetulnya adalah nama-nama penulis lama dan telah malang melintang kudengar mereka dibicarakan di mana-mana. Dan mereka baru berjodoh denganku sekarang. Kedepannya mungkin perburuan bacaanku adalah seputar mereka.

Aku mulai menyukai buku-buku Leo Tolstoy dan Gabriel Garcia Marquez. Seingatku aku hampir berkenalan dengan mereka setelah berkenalan dengan Ernest Hemingway dan Mark Twain di awal tahun-tahun 2017, tapi di tahun itu aku lebih dulu kenal Albert Camus dan The Fall-nya, sehingga aku sudah mabok duluan dan akhirnya gagal berkenalan dengan Tolstoy dan Gabo. Dan dominasi kegilaanku kepada sastra Jepang dan Eyang Tolkien pun berlanjut. Sampai semuanya berubah sama sekali ketika pelan-pelan buku bacaanku menanjak sampai akhirnya menjadi 80% non-fiksi.

Sekarang, di saat aku ingin menemukan kehidupan fiksi lagi, di awali oleh Angsa Liar-nya Mori Ogai dan Senyap Yang Lebih Nyaring-nya Eka, aku berkenalan dengan Leo Tolstoy dan Gabriel Garcia Marquez. Sungguh sangat mengagumkan. Buku-buku yang sangat memikat. Meskipun ceritanya sederhana namun entah bagaimana mereka bisa sangat kuat. Aku telah terpikat dan jatuh cinta.

Mungkin karena ia sama sekali tidak jauh dari khayalan, fantasi dan fatamorgana diriku. Ia begitu dekat, mengisahkan kisah-kisah tentang perjalanan dalam tulisan-tulisan yang bermakna. Sebuah kisah besar yang berada dalam kesunyian. Cerita-cerita besar yang terselip dalam makna kehidupan sehari-hari.

Gabriel Garcia Marquez, bagiku tidak mengisahkan cerita yang jauh dari jangkauan khayalanku, tidak seperti berada di menara-menara gading. Ia begitu membumi. Dengan apik menceritakan hal-hal kecil, plot-plot sederhana dan bahasa-bahasa sehari-hari, namun dengan cara yang sangat hebat dan sangat luar biasa. Harus aku ulangi: begitu sederhana namun memiliki daya tarik yang kuat. Aku harus berterimakasih kepada para penerjemahnya, berkat mereka aku bisa jatuh cinta lagi.

Buku yang sedang dan telah aku baca dari Gabriel Garcia Marquez, Strange Pilgrims-Perjalanan Ziarah Misterius, dua belas kisah perjalanan yang menegangkan, dan Bagaimana Aku menjadi Penulis. Yang pertama adalah buku fiksi yang konon katanya ia karang selama 18 tahun. Buku fiksi yang begitu kuat karena telah mengedap hingga 18 tahun. Moral story-nya buku yang hebat itu tidak ditulis dalam waktu yang singkat. Ia adalah sebuah buku kumpulan cerita yang penuh dengan kedalaman dan kuat, sehingga ia bertahan dan bahkan masuk menjadi buku kelas dunia.

PSX_20191211_205353

Tampaknya bagi mereka yang berhasrat dan bercita-cita menjadi seorang penulis dalam waktu dekat, harus berpikir ulang lagi. Harus memikirkan ulang cita-citanya, memikirkan lagi rintangan dan resikonya atau saranku lebih baik mundur saja. Karena jika pada suatu malam kau memiliki mimpi ingin menulis sebuah buku yang hebat, lalu pada pagi harinya terbangun dan menyadari bahwa keesok harinya lagi tulisan itu akan terbit dan dikenal dunia, aku kasih tahu itu adalah hal yang paling koyol dan paling buruk. Kan aneh. Seperti yang sudah kusebutkan kalau Gabriel Garcia Marquez menulis Strange Pilgrims, Perjalanan Ziarah Misterius saja membutuhkan waktu hingga 18 tahun hanya untuk sekitar 302 halaman. Belum lagi, aku dengar katanya bukunya yang Seratus Tahun Kesuyian juga membutuhkan waktu bermeditasi selama lebih kurang 20 tahun.

Buku yang kedua, Bagaimana Aku Menjadi Penulis, adalah buku non-fiksi. Tipe buku-buku yang paling aku sukai, ya jelas lha non-fiksi je! Buku itu seperti sebuah jurnal pribadi yang ditulis Gabo. Berisi tentangtentang sisi-sisi dirinya, pandangan dirinya terhadap orang-orang yang ia temui. Kisah bagaimana awalnya ia menjadi penulis dan hidup sebagai mahasiswa Hukum yang menggilai sastra. Epik sekali, bagaimana bisa seorang yang kuliah di bidang Hukum dan akhirnya menelantarkan studinya karena terperosok atau terlalu mencintai sastra. Dan kisah-kisah lain tentang apa yang ia alami dalam perjalanan-perjalanannya. Seperti pandangan pribadinya tentang Fidel Castro. Cerita pertemuanya dengan Maestro Ernest Hemingway. Pendapatnya mengenai Hugo Chavez dan kegelisahannya mengenai kematian seorang perwira tinggi, Allende. Dan banyak lagi yang lain.

Teman-teman baruku yang lain adalah Carlos Fuentes dan Voltaire, ia masih duduk menunggu untuk kuhabiskan minggu depan. Dan tentu saja tidak ketinggalan aku menambah teman dari Jepang, Banana Yoshimoto. Dan sangat mungkin, sebelum tahun ini berakhir aku akan berkenalan dengan seorang yang gagal berkenalan karena ia out of stock, Jorge Loius Borges.

Sungguh aku sangat telat untuk jatuh cinta dengan mereka. Sementara mereka telah dibicarakan dimana-mana. Biarlah aku telat disebabkan karena prinsipku, aku yang memilih kepada siapa aku ingin berkenalan dan membacanya, bukan karena aku membaca mereka karena bertubi-tubi diteror oleh iklan-iklan yang berjatuhan bagai hujan.

Andy Riyan @ Desa Hujan © Desember 2019

15 Comments Add yours

  1. aurorsi says:

    Salah satu kemewahan adalah bisa membaca demi kesenangan dan bukan karena keharusan.

    Liked by 1 person

    1. jejakandi says:

      Ya. Lebih kurang begitu.

      Like

  2. Si Mulya says:

    Waa keren. Lanjutkan. Selamat bersenang-senang. 👍👊

    Like

  3. Deyo says:

    Banyak sekali yang sudah dibaca, Maaass!

    Like

    1. jejakandi says:

      Itu bukunya yang tipis, Deyo! Jangan tertipu!! 😁

      Like

      1. Deyo says:

        Yakan tetep aja, buku setipis apapun, kalau emang niat untuk membacanya ya pasti bakal dibaca sampe rampung 🤗

        Like

      2. jejakandi says:

        Ye masa beli mendoan cuma untuk dilihatin?

        Like

      3. Deyo says:

        Mohon undur diri dulu deh 😌

        Like

  4. bicara says:

    Kenapa kamu nda bikin salihara lokal, atau utan kayu lokal, sia2 nanti potensimu itu kalau tidak dibumikan

    Like

    1. jejakandi says:

      Hai, Mad. Lama tak jumpa, kemana aja?
      Salihara lokal? Kayu lokal? Apa itu? Gimana cara bikinnya?

      Like

      1. bicara says:

        Itu loh semacam komunitas intelek dulu yg di Utan Kayu (ulil absar dkk), atau salihara (teater liberal) gitu2, bikin grup puisi atau apresiasi sastra diskusi intelek gitu2

        Like

      2. jejakandi says:

        Oh jadi bener dugaanku, utan kayu tempat Ayu Utami nongkrong. Aku pengen sih bergabung, cuma di tempatku, di sekitarku gak ada kayak gituan. Gak tau juga siapa aja yang punya passion yang sama. Wah wah wah. Gak ngerti juga mulai dari mana. Ada sih komunitas baca puisi sudah bergabung juga, tetapi bentrok terus waktunya.

        Like

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.