Melempar Dua Burung Di Harbolnas 2019

burung

Ada sebuah kenikmatan yang sulit dijelaskan ketika mampu membaca sebuah buku secara tuntas. Rasanya ada sebuah kepuasan batin yang begitu hebat. Logika mestinya mengatakan, seperti makan, jika sudah kenyang, makanan yang enak pun tak lagi mengundang selera. Bahkan mencium aromanya saja bisa jadi sudah seperti ingin muntah. Logika untuk kasus ini tidak jalan sebagaimana memberi makan pada perut. Ternyata memberi makan pikiran dengan buku, yang terjadi setelah menghabiskannya bukannya semakin kenyang tetapi semakin lapar. Bukannya semakin lelah tetapi semangat. Bukannya semakin eneg tetapi semakin rakus ingin membaca lebih banyak buku yang lain lagi.

Pengalaman juga memberiku rasa yang berbeda ketika meggantungkan sebuah buku, meninggalkannya tidak selesai dibaca. Rasanya jadi ada yang mengganjal dan lelah. Lalu seperti kehilangan selera untuk membaca lagi yang lain. Menjadi semakin malas untuk membaca apalagi buku yang sama.

Ada orang yang bilang jika kamu terlalu sering meninggalkan buku tanpa selesai dibaca ia akan berpengaruh pada kepribadiannmu. Ia berdapak pada psikologimu. Yaitu menjadi kerap tidak menuntaskan suatu pekerjaan. Dan tidak bisa lagi menikmati banyak hal.

Dan karena rasa lapar itu aku pun kemudian sempat mengintip banyak buku ketika Harbolnas kemarin. Banyak diskon katanya. Banyak buku-buku bagus yang dijual murah, katanya. Dan karena pengalaman yang telah memberiku rasa yang berbeda itu, aku mengencangkan perut dengan kuat; jangan sampai kalap hingga semua ingin dibeli dengan alasan mumpung murah. Bahkan sebisa mungkin aku tidak ikutan membeli. Itu janjiku. Aku hanya ingin membeli jika bergizi dan sesuai dengan yang kubutuhkan.

Sebagaimana sudah sering kali aku singgung di blog ini, setelah berkali-kali berlatih menulis bebas—10 menit setiap harinya—dan mengikat makna dari buku-buku yang aku baca, aku menjadi tahu buku-buku mana yang bergizi dan sesuai dengan kebutuhanku. Kenapa penting sekali untuk memilih buku yang bergizi dan sesuai dengan kebutuhan? Karena jangan sampai kamu salah membaca buku, lalu menyebabkan kamu males membacanya. Triknya… jangan mudah tergoda oleh rekomendasi orang lain, apalagi oleh penjual buku baik online maupun offline.

Sekarang ini, aku sudah sangat jarang membeli buku karena direkomendasikan orang lain. Jika aku ingin membaca atau membeli buku berdasarkan rekomendasi, aku hanya memilih rekomendasi orang yang benar-benar kupercaya. Itu sangat penting, tidak hanya penting untuk kesehatan mental tapi juga penting untuk kesehatan dompet, jangan sampai krempeng pula jangan sampai obesitas.

Tapi di harbolnas kemarin, gara-gara melihat di situ ada bukunya Langit Kresna dan sedang diskon 30%, untuk pertama kalinya dalam hidup akhirnya aku ikut harbolnas. Yah itung-itung sebagai milestone, setidaknya aku pernah ikut meramaikan harbolnas gitu aja sih. Eh tapi lebih dari itu… buku-bukunya Pak Langit Kresna memang selalu bergizi dan sesuai dengan kebutuhanku. Jadi membeli buku LKH di harbolnas itu ibarat peribahasa: killed two birds with one stone.

Saya Andy Riyan dari Desa Hujan © 2019

36 Comments Add yours

  1. Rissaid says:

    Aku biasanya main2 ke toko buku, liat, menarik, tapi cek goodreads, review2 dulu, baru beli

    Like

    1. jejakandi says:

      Goodreads sangat menentukan ya? 😂 😂 😂

      Like

      1. Rissaid says:

        hihi, sejauh ini cmn berasa itu aja opsinya, 😉

        Like

      2. jejakandi says:

        Jadi begitu… Berarti dari rumah belum tahu mau beli buku apa? Gak ada semacam wishlist?

        Like

      3. Rissaid says:

        Kadang ada, kadang sekalian liat2, klu yakin bawa pulang 😉

        Like

      4. jejakandi says:

        Tipe-tipe kalau jodoh siap berangkat nih ha ha ha

        Like

      5. Rissaid says:

        lah jadi ke sana hahaha
        ada rekomendasi buku atau situs buat ngeliat buku2 bagus?

        Like

      6. jejakandi says:

        Ha ha ha

        Hemm gak ada, karena bagus itu soal selera. Paling mentok ya google book, bisa lihat beberapa halaman dulu. Tapi gak komplit sih.

        Like

  2. nunulis says:

    Selera membacanya sangat tinggi, tentunya frekuensi kamu dan buku sudah menyatu, seperti susunan halaman yang berurutan.

    “sejak kapan seneng baca mas?”

    Like

    1. jejakandi says:

      Jujur saja aku gak tahu, tinggi dan rendahnya selera baca diukur dengan apa?
      Dan yang kutahu, selera membaca, antara orang yang satu dengan yang lain, bisa berbeda. Dan itu tidak salah. Stop diskriminasi dan membuat kotak-kotak baru dalam seni membaca.

      Sejak kapan suka membaca? Lupa. Yang jelas begitu bisa membaca, aku langsung suka. Sejak itu.

      Like

      1. nunulis says:

        bukan diskriminasi, tapi provokasi 😂😂😂😂

        Like

      2. jejakandi says:

        Sepertinya juga menyindir. Ha ha ha

        Like

      3. nunulis says:

        Kalau menulis ibarat nabung, saya nabung gope-an mas andi nabung ceban-nan, 😂 ok aku menikmatinya

        Like

      4. jejakandi says:

        Oke in aja dah. Daripada nanti aku jadi sombong. Heuheuheu

        Like

      5. nunulis says:

        😌 yaudah aku membaca judul yang lain

        Like

  3. @dianpur says:

    Buku yang bergizi, lucu juga aku bacanya hahaha

    Like

    1. jejakandi says:

      Heuheuheu dan kebutuhan gizi antara pembaca yang satu dengan yang lain berbeda. Anak SD yang baru mengenal novel dicekoki Laskar Pelangi atau Bumi Manusia, sepertinya bisa tersedak. Hehehe

      Liked by 1 person

      1. @dianpur says:

        Betul betul betul 🤣

        Like

  4. cerita nina says:

    Kalau beli buku yang bikin kita jadi tambah pinter namanya investasi… hihihi..

    Like

    1. jejakandi says:

      Walau menjadi kutu buku tetep bukan jaminan mutu, tetapi setidaknya menurut Mbak Ai, blogger favoritku, buku adalah investasi masa depan, bisa diwariskan ke anak cucu.

      Like

  5. Grant Gloria says:

    Istilah baru: buku yang bergizi. 😁
    Kalo beli buku, aku lebih suka baca sinopsis yg ada di belakangnya dulu. Kalau merasa oke baru beli. Nggak tergantung sama review.

    Like

    1. jejakandi says:

      Wiiih ada yang baru kembali dari hibernasi.

      Eh itu istilah sudah lama lho ya.

      Ehehe aku kadang juga gitu, terus nyari yang plastiknya sudah dibuka, langsung baca tengahnya. Kalau suka, bungkus yang baru. 😁

      Like

      1. Grant Gloria says:

        Hibernasinya sudah usai. Hahaha.
        Dulu aku jg nyari yg plastiknya sdh dibuka. Tapi di sini sekarang susah nemu yg plastiknya sudah dibuka. Jadinya main tebak-tebakan aja. 😄

        Like

      2. jejakandi says:

        Kalau belum ada yang dibuka… 😁 😁

        Like

      3. Grant Gloria says:

        Jangan bilang kamu yg buka plastiknya trus setelah cocok baru beli. 😂

        Like

      4. jejakandi says:

        Gak dosa kan? 😁 Sebenarnya kalau mau ke toko buku, aku sudah ngantongin wishlist. Sekarang ini aja masih ada sekitar seratus buku di daftar wishlist.

        Like

      5. Grant Gloria says:

        Gak dosa tergantung dr sudut pandang siapa. 😁
        Buanyakk bener 100 buku. Buku apa aja itu? Apakah termasuk buku pelajaran sekolah? Buat keponakan (mungkin)

        Like

      6. jejakandi says:

        Ya karena pada titik tertentu baru sadar seolah waktu terhenti. Aku tertinggal jauh. Masih ada banyak buku yang belum kubaca. Dan begitulah wishlist terus menumpuk. Sementara tidak semua langsung kebeli kan?
        Buku bacaan semua. Fiksi dan nonfiksi.

        Like

      7. Grant Gloria says:

        Mantap. Semoga bisa terkejar beli dan baca semuanya.

        *kalo aku nggak bakal sanggup sebanyak itu, mending disortir aja: diurutin dari yg ‘paling harus’ sampai ke ‘nanti dulu deh’

        Like

      8. jejakandi says:

        Ya prioritas tetep ada, dan bisa berubah-ubah. Jodoh-jodohan ketemu buku tuh, seringnya. Kan gak harus sekarang semua bisa sampai 3 tahun juga gak masalah kan.

        Like

      9. Grant Gloria says:

        Betul. Setuju. 😊👍

        Liked by 1 person

  6. Chan says:

    Kalau aku kok senang baca buku lihat covernya dulu, padahal cover tidak menentukan bagus tidaknya isi buku.

    Like

    1. jejakandi says:

      Bisa jadi karena kamu punya feeling yang bagus. Cover aja digarao serius apalagi bukunya, bukan begitu?

      Like

      1. Chan says:

        Feeling bisa saja salah Mas🤣

        Like

  7. aurorsi says:

    Pilihan buku bisa jadi begitu personal memang, begitupula alasan membelinya

    Like

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.