Jawaban Yang Samar-Samar

jawaban

Amigos, Sayangku.

Aku berterima kasih atas kebaikan hatimu. Apa yang kau berikan itu telah mendorongku untuk terus membuktikan bayak hal yang kutemukan dalam perjalanan ini. Informasi yang kau sampaikan itu, meskipun sesungguhnya kau tak menyadari sepenuhnya apa yang telah kau berikan kepadaku, ia telah membantuku melengkapi potongan-potongan yang ingin kurangkaikan. Sekali lagi kuhaturkan rasa terimakasihku kepadamu. Semoga engkau berkenan, walaupun hanya berupa sebuah ucapan.

Di suratku nan lalu aku telah berjanji untuk melanjutkan apa yang telah aku tulis di sana. Inilah surat itu.

Ketika fajar tahun 2020 merekah dan aku tidak tahu apa yang ingin aku lakukan kecuali membaca, sejak saat itu aku lebih sering duduk di samping jendela dan memandang ke luar rumah. Hujan tiada henti terus mengguyur bumi dari pagi hingga pagi lagi di kemudian hari. Januari, hujan sehari-hari. Begitulah kami sering mengorelasikan antara bulan Januari dengan hujan yang tiada berhenti sepanjang hari. Di tengah dinginnya dunia itu, aku mendapati satu hal yang menarik ketika aku bercumbu dengan sebuah buku di dalam balutan hangat selimut dari wol. Aku mendapati sebuah karya sastra yang disebut epistolary. Yah memang, aku sungguh ketinggalan zaman, setelah sekian lama, baru hari itu aku mengenal istilah epistolary. Tetapi bukan itu, bukan itu yang ingin aku kisahkan ke kamu, bukan pertemuanku dengan istilah itu, tetapi apa yang aku dapat darinya. Aku begitu tergugah dengan gaya penyampaiannya sehingga meninggalkan kesan yang mendalam di benakku.

Amigos, Sayangku, ketika membaca epistolary Mario Vargas Llosa itu, aku terkenang dengan impian lamaku. Suatu hari aku pernah bermimpi ingin menjadi penulis novel. Hari itu aku tidak tahu apa yang ingin kudapatkan dari menulis novel. Tidak tahu novel seperti apa yang ingin ditulis dan pula tidak tahu apa yang paling penting dalam buku yang kelak akan aku sebut sebagai novel.

Amigos, Sayangku, aku mulai suka melamun lagi. Perlahan-lahan aku mengunyah sepotong impian di masa lalu yang aku hadirkan bersama sepiring roti dan segelas kopi itu untuk mewarnai pagi. Aku menutup buku, kemudian merenung. Apa yang lebih penting daripada menulis novel? Mengapa dulu aku begitu ingin menulis sebuah novel meskipun aku belum tahu apa yang akan kutulis. Walapun aku tak tahu novel tentang apa yang ingin kuhadirkan untukmu. Rasanya aku mulai menemukan jawaban yang samar-samar seiring dengan nikmatnya kopi yang mulai dingin, sementara hujan di luar semakin deras saja dan langit pagi masih diliputi mendung sehingga menghalangi masuknya sinar mentari ke ruang bacaku. Rasanya jawabannya adalah seputar untuk membuat namaku abadi. Mencapai kejayaan seperti penulis-penulis yang telah mencapai kesuksesannya. Menjadi miliader—atau miliarder (?)—dengan karya-karyanya yang mengagumkan dan menjadi nyaman dengan kegiatan menulisnya yang serba laris.

Sekarang aku tertawa. Menertawakan diriku sendiri, betapa impian bisa sangat tak masuk akal dan begitu tinggi. Lalu sekarang aku melihat diriku sendiri saat ini, apakah aku masih begitu yakin akan menulis novel demi mengabadikan namaku? Mencapai kejayaan dan menjadi kaya raya dari karya-karya yang mengagumkan? Jadi bagaimana kalau aku sendiri tidak begitu yakin? Ataukah sebenarnya aku hanya ingin menulis sesuatu lalu itu aku sebut sebagai sebuah novel, entah seburuk apapun itu? Mungkinkah itu yang kuinginkan sesungguhnya, seburuk apapun itu ia akan melengkapiku? Sekarang semua itu adalah keputusanku, sebagaimana judul buku karya Grant Cardone yang aku baca tahun 2018, Be Obsessed or Be Average. Itu sepenuhnya menjadi keputusanku apakah aku akan terus menjaga obsesiku atau malah melambatkannya dan menjadi biasa-biasa saja. Dan masalah ini, Amigos sayangku, biarkan aku simpan sendiri.

Karena sekarang aku mulai mengerti ketika membaca epistolary Vargas Llosa ditambah dengan wanti-wanti Eka Kurniawan beberapa bulan yang lalu, “Ketika kamu menulis novel, ada dua pilihan yang harus kamu tentukan. Kamu sekadar menulis cerita yang kemudian kamu sebut sebagai novel, atau kamu menulis novel sebagai jalan kepenulisan?” Vargas Llosa, dengan sikap kebapakan, dengan baik hati menambahi, “Mereka yang menjadikan kesuksesan—menjadi penulis, ed. pen.—sebagai tujuan utama mungkin tak akan pernah berhasil mewujudkan impiannya; mereka hanya mencampuradukkan dorongan menulis dengan harapan untuk menjadi besar dan kaya, yang dalam dunia literatur hanya dialami oleh ‘sangat’ sedikit penulis.”

Amigos, Sayangku. Suratku ini sudah begitu panjang sekarang, lain kali, di kesempatan yang lebih longgar biar kujelaskan lebih lanjut tentang apa yang baru saja aku pahami itu. Sampai jumpa.

Sincerely yours,
Andy Riyan dari Desa Hujan

10 Comments Add yours

  1. nunu says:

    Semoga terlaksana mas

    Like

    1. jejakandi says:

      Sebentar. Apanya yang semoga terlaksana?

      Like

      1. nunu says:

        Menjadi novelis

        Like

      2. jejakandi says:

        Aku belum memutuskan apakah mau jadi novelis atau tidak. Tetapi terima kasih banyak atas do’anya wahai sahabat.

        Like

  2. cerita nina says:

    Jadi menulis novel untuk hidup atau hidup untuk menulis novel?

    Like

    1. jejakandi says:

      Itu adalah salah satu pertanyaan yang harus dijawab, monggo silakan dijawab.

      Like

  3. Rissaid says:

    Terlepas dari keputusanmu, aku mau nunggu novelmu.

    Like

    1. jejakandi says:

      Semoga tidak lelah menunggu.

      Like

  4. Fahmi Ishfah says:

    semoga sukses, ndy

    Like

    1. jejakandi says:

      Amin, terima kasih Mas Fahmi.

      Like

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.