Sebentuk Keegoisan

sebentuk keegoisanSudah sejak lama kusadari jika Point of View (PoV) atau sudut pandang adalah elemen penting dalam suatu karya, terlebih lagi karya tulis. Tetapi baru 6 bulan belakangan ini aku menganggap sangat serius betapa pentingnya PoV dalam menggerakkan sebuah cerita. Sudut pandang yang paling kusukai dalam bercerita adalah sudut pandang orang pertama, sebab ia bisa mengantarkan diriku untuk berdialog dengan diri sendiri. Ia lebih menghujam penuh perasaan ketika aku ingin menumpahkan apa yang aku pikirkan dan rasakan.

Tetapi setelah kupelajari lebih mendalam tentang sudut pandang dalam karya sastra, seperti yang aku temukan dalam epistolary yang ditulis oleh Mario Vargas Llosa dalam suratnya kepada para novelis muda, sebuah karya seni (di dalamnya sebuah novel atau cerpen) adalah karya yang utuh dan terpisah dari si penulisnya. Artinya betapapun subjektifnya karya sastra, ia adalah karya yang terpisah dari diri penulisnya. Sekalipun memakai sudut pandang orang pertama, ia bukan tubuh bahkan sangat jauh dari penulisnya. Kalau istilah Garcia Marquez, ia adalah spektrum yang memiliki jarak tertentu, yang hanya akan terlihat jika dipandang dari kejauhan dari sisi luar naratornya.

Itulah sebabnya mengapa aku merilis tulisan lamaku dalam bentuk e-book yang aku bagikan per-cahpter kepada beberapa teman yang sudah bersedia membacanya. Aku sangat berterimakasih kepada mereka yang sudah bersedia membacanya. Sebetulnya itu adalah sebentuk keegoisan yang ingin aku buang. Tulisan itu selalu menjadi penghalangku untuk membuat tulisan lain yang lebih serius—tulisan lain seperti yang aku inginkan. Mudah-mudahan dengan membuang sebentuk keegoisan ini, dadaku menjadi lebih lapang dan pikiranku bisa menyala terang. Terima kasih teman, dan maafkan aku jika setelah membaca tulisan ini kamu jadi merasa seperti keranjang sampah untuk menampung sebentuk keegoisan itu. Mudah-mudahan keikhlasan kalian membacanya mendapatkan manfaat dari tempat lain. Sekali lagi terima kasih banyak ya, teman-temanku. Saya Andy Riyan dari Desa Hujan

10 Comments Add yours

  1. @dianpur says:

    Keegoisan yang berbentuk karya.

    Like

    1. jejakandi says:

      Terima kasih, Mbak Pur, yang telah menjadi bagian dari perilisan e-book itu. 🤘🏻

      Like

  2. Si Mulya says:

    Ganbatte. 👍👊

    Like

    1. jejakandi says:

      Arigatou Gozaimashita

      Like

  3. masHP says:

    Syukurlah kalau menyadari keegoisanmu. Hehehe. Dirimu sendiri lho mas, yg bilang kamu egois. Hehehe. Tulisanmu selalu merujuk banyak penulis, kelihatan kutu buku banget. Nice article.👍

    Liked by 1 person

    1. jejakandi says:

      Everybody is egoistic, Pak Heri. Hanya kadarnya berbeda-beda, bahkan saya bisa bilang, semua orang seribu kali lebih peduli terhadap dirinya sendiri daripada orang lain.

      Ah itu hanya… mulai terbiasa merujuk kepada orang lain.

      Like

      1. masHP says:

        Pastinya. Bedanya Andy lebih jujur dan terbuka mengatakannya. 👍😁

        Like

      2. jejakandi says:

        Karena munafuck itu melelahkan, 🤣

        Like

  4. masHP says:

    Tak menceritakan sesuatu belum tentu munaroh, bisa jadi munawar atau munajat. wkwkwk

    Like

    1. jejakandi says:

      Betul. Diam tentu lebih baik.

      Like

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.