Duel Seorang Pria Paruh Baya vs Kolonel Yang Berkharisma

duel

Kami merasa sangat bahagia di sepanjang musim penghujan itu. Bagaikan sebuah simponi yang ditulis dengan megah, ketika bunyi derai hujan menghentak atap rumah diringi dengan suara hempasan yang jatuh menghantam bebatuan berwarna hitam serupa mutu manikam yang tertanam di teras-teras rumah. Sesekali deru angin mengisi pada bagian solo yang kosong dan panjang.

Saat waktu minum teh, sebagai mana di rumah kami, semua keluarga di kota itu menikmati sore mereka dengan biskuit-bisikut yang renyah sambil berbincang-bincang. Kehangatan dalam keluarga sungguh ceria dan bergelimang tawa yang bahagia. Semua keluarga di kota itu masih bahagia ketika di suatu tempat yang jauh dari negerinya, suatu kelompok kecil menjarah pasar hewan.

Kelompok kecil itu semula hanyalah dongeng samar-samar, yang lebih cocok dikisahkan sebelum tidur. Tetapi sebagaimana kelompok kecil yang militan, mandiri tanpa tuan yang membayarnya sehingga mereka bebas dan tak terkendalikan, sebagaimana Ken Arok begal dari padang Karautan, mereka menjadi semakin kuat karena tekadnya yang tak kalah kuat. Beberapa komando militer telah dikerahkan untuk menghabisi kelompok kecil ini, tetapi merka bisa meloloskan diri. Dan bagaikan tersulut kesumat dendam yang membara, kelompok kecil yang berhasil lolos ini menjadi semakin beringas dan berani. Mereka mengancam lebih serius dan menembangkan dendang kematian. Dewi Fortuna bagai sedang berada di pihak mereka, segala desas-desus tentang mereka segera berkembang dan menjadi teror yang luar biasa mengerikan.

Bagai dibangunkan, kelompok kecil-kelompok kecil dari seluruh bangsa tampil dan maju kedepan menggabungkan diri dengan kelompok kecil yang telah berhasil mencuri perhatian dunia itu. Segera kelompok kecil itu menjadi aliansi penjahat, teroris dan perampok yang mematikan.

“Dyerrrr!!” geledek menggelenggar dan merusak simponi lagu-lagu kedamaian yang panjang itu. Dongeng sebelum tidur seperti menjelma menjadi kisah-kisah antara ilusi dan nyata. Seperti kisah-kisah yang dituturkan oleh Gabriel Garcia Marquez dan Haruki Murakami, penuh kutukan dan kerap mempertanyakan moralitas. Kota itu sekarang dipenuhi horror yang membingungkan. Rakyatnya segera jatuh bergelimpangan tertembak dari segala arah. Tetapi yang paling mengejutkan adalah serangan psikologis yang sulit dipahami. Rakyat di kota itu lebih banyak mati karena depresi dari pada tertembak oleh aliansi yang tiba-tiba datang tanpa permisi, merusak musim hujan yang dulu penuh dengan senandung kebahagiaan dan gelak tawa.

“Dyerrrr!!!” geledek menggelenggar lagi nyaris bersamaan dengan datangnya kilat yang membelah angkasa; mengagetkan penduduk seluruh negeri. Pemerintah kota itu segera menerjunkan pasukan-pasukan terbaiknya. Serasa harus bergerak lebih cepat dan lebih gesit, rakyat segera berkumpul tanpa ada yang memintanya. Mereka bersatu membentuk komando militer rakyat, siap siaga menghadapi ancaman darurat. Mereka sekarang berdiri di perbatasan membentuk barikade di sebuah jembatan tua.

“Tanpa ampun akan kuhabisi mereka, jika mereka berani melewati garis ini.” Seorang pemuda tampil ke depan, dengan batu kapur ia melukis garis; melintang memotong jalan di depan jembatan tua. Setelah tiga kali melukis garis sehingga tampak begitu jelas dari kejauhan, anak muda itu kembali ke dalam barisan, bergabung dengan ratusan pemuda seperti mereka. Siap siaga dengan perlengkapan militer yang sangat serius.

“Tek dung!” sebuah meriam ditembakkan dari seberang jembatan ke arah mereka oleh aliansi perampok membuat dada para penjaga perbatasan ini bergemuruh hebat. Mereka mengangkat senjatanya masih-masing, mengokang peluru dan membidik sasaran yang tersembunyi dari balik kabut. Napas mereka berlarian berkejaran dengan kegugupannya sendiri.

“Tek dung!” meriam meledak di dalam kerumunan. Para penjaga perbatasan menjadi kalang kabut.

Kacau balau.

“Bajingan!” teriak seorang lelaki paruh baya di antara para penjaga perbatasan yang seperti kerumunan semut diusir dengan api. Ia maju ke depan. “Bajingan tengik! Hadapilah aku seperti lelaki!” suaranya yang menggelenggar seperti guntur, mampu mengalahkan keributan. Mendadak keributan terhenti dan teredam. Hujan berhenti. Kabut tipis turun. Perbatasan itu kini menjadi kelabu.

Hening.

Tak ada suara.

“Jeglek… jeglek… jeglek!” suara sepatu besi menghantam aspal.

Kemudian sunyi lagi.

“Jeglek.. Jeglek… jeglek!” hanya suara sepatu besi itu yang terdengar.

Kabut di seberang jembatan perlahan-lahan tersibak. Seseorang muncul. Badannya tegap dan besar. Ia mengenakan topi koboi coklat menudungi kepala yang berwajah pucat masai. Sebuah rompi hitam yang terlihat berat menyelimuti tubuhnya yang berbalut dengan kaos lengan pendek dan berwarna biru. Ia berdiri tegak dan kokoh. Sorot matanya menatap tajam lurus kepada seorang pria paruh baya yang menantangnya.

“Baiklah!” katanya kalem namun berat dan dalam. “Mari kita selesaikan perang konyol ini secara jantan.”

Keheningan menyelimuti perbatasan itu.

Pria bersepatu besi itu mengeluarkan pistol. Pria separuh baya juga mengeluarkan miliknya.

“Kita akan mati sebagai seorang lelaki,” Kata Pria bersepatu besi dan bertopi koboi “Namaku Kolonel Fernando Corona. Sebutkan namamu supaya kami bisa mengenang keberanianmu, Pak Tua.”

Pria paruh baya yang dipanggil Pak Tua itu perlahan-lahan mengangkat wajahnya. Ia menatap lurus kepada Kolonel Fernando Corona. Pria paruh baya itu menghisap rokoknya untuk yang terkhir kali sebelum ia menjatuhkan dan menginjaknya dengan kakinya yang bersepatu kulit buaya.

“Kita akan mati sebagai seorang lelaki yang terhormat, Kolonel Fernando Corona. Perkenalkan namaku Hernandes Pes Bebe.”

Tamat.

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.