Jurnal Pagi: Bukan Sok Moralis

moralis

“Apakah cuma aku yang merasa…” adalah sebuah pertanyaan aneh yang di antara jawabannya, pasti ada yang menjawab ‘eh sama, aku juga ngerasa begitu’. Ya nggak?

Apakah cuma aku yang merasa waktu terasa cepat banget berlalu? Perasaan baru kemarin aja bulan Maret atau Februari?—aku lupa—ketika lockdown dimulai, eh tahu-tahu sekarang sudah bulan Juni aja. Bener-bener dah waktu terasa cepat sekali berlalu. Sekarang sudah masuk tanggal 10 pula, dan hujan masih deras turun. Meski angin belum bertiup kencang seperti tahun-tahun sebelumnya ketika memasuki pertengahan bulan Juni dan Juli; udara terasa begitu dingin.

Aku percaya setiap orang memiliki problemnya sendiri-sendiri. Dan mereka pun memiliki tempatnya masing-masing untuk mencurahkan keresahannya. Kadang beberapa orang memiliki keresahan yang sama, namun solusi yang ada—setelah diskusi dan berbagi keresahan—tidak menyelesaikan masalah yang sama. Obat pun demikian cocok-cocokan. Ada yang obatnya manjur kalau yang ngasih dukun, ada juga yang dokter dan ada pula yang manjur kalau yang ngasih orang-orang ngaco.

Akhir-akhir ini aku begitu resah. Lebih tepatnya resah dengan keadaan diriku yang mudah resah. Jujur saja aku serba bingung sekarang ini, apa-apa mesti ada istilahnya. Apa-apa sudah tidak boleh. Itu body shamming lah, rasis lah, catch calling lah, galau, baper dan segala istilah baru yang bermunculan yang bikin pening kepala dan bisa dijerat dengan UU ITE atas nama ketersinggungan atau atas dasar telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan.

Perasaan dulu-dulu enggak terlalu sering dikit-dikit pakai istilah. Ya memang enggak harus semuanya itu ada istilahnya, kan? Terlalu banyak istilah dan saling klaim dan menuding pihak lain telah melakukan suatu perkara, bikin tambah pening saja. Atau ini memang zaman serba lebay aja ya? He he he

Di lain sisi sekarang ini makin banyak orang yang pede mengumbar makian, sumpah serapah dan kata-kata—yang apa pun itu, kalau konteksnya makian menjadi terdengar jijik—dan enggak senonoh. Di era disrupsi teknologi komunikasi, makin banyak orang yang mulai pede ngata-ngatain orang tolol, bego, bangsat, gak punya otak, gak punya akhlak—padahal gak ada orang waras manapun yang tidak punya akhlak.

Era disrupsi yang destruktif sungguh mempercepat kerusakan moral. Banyak orang yang makin pede memaki orang lain. Mereka seolah enteng saja ngatain orang lain bangsat, anjing. Mereka enteng saja seolah tanpa beban ngatain orang lain dengan cara mengabsen nama-nama penghuni kebun binatang—mana udah pakai enggak peduli lagi bahkan ia itu mamalia, reptil ataupun aves. Mentang-mentang enggak ketemu tatap muka, mereka bebas mengumbar serapah seperti itu sebagai hal yang lumrah dan bebas karena murah. Sungguh ya kok bisa memaki orang lain dengan menyebut sederet nama alat kelamin, sungguh gak habis pikir aku… kalau mereka ngomong itu di depan bapak atau ibunya, atau ngomong langsung di muka, mereka bisa babak belur. Dan yang paling bikin aku pening, semua serapah itu dilontarkan dengan bangga, padahal kalau ketemu aslinya, sumpah rek cupu!

Aku tahu kalian semua—orang-orang yang gampang banget ngata-ngatain dengan kata-kata kotor itu, aku tahu kalian itu kesel dengan layanan yang tidak kalian dapatkan dengan memuasakan. Aku tahu kalian telah mengeluarkan isi kantong kalian sehingga kalian merasa angkuh dan kalian berhak untuk komplain. Aku tahu kalian semua sangat jengkel karena komplain kalian tidak segera ditanggapi. Mentang-mentang kalian punya uang dan sudah mengeluarkannya lalu kalian bebas memaki-maki dengan kata-kata kasar dan tak senonoh itu?

Ya begitulah jadinya kalau seseorang dididik atau mendidik dirinya sendiri untuk mendewakan uang. Seoalah-olah dengan uang kalian telah menjadi raja dan bebas melakukan segalanya mana suka.

Bukan untuk membanding-bandikan diri dengan kalian ya, aku juga sering merasakan seperti itu, kesel! Tetapi bagiku, daripada memaki-maki di platform layanan publik yang semua orang bisa membacanya, aku lebih suka mengirim pesan pribadi atau email. Kalau pun terpaksa harus DM, supaya lebih instan, tak pernah juga aku mengutarakan kekesalanku dengan bahasa makian. Sebelum memaki, aku mencoba merasakannya bagaimana kalau kata-kata itu diarahkan ke mukaku sendiri. Dan itu sungguh sangat menyakitkan. Jadi aku pantang mengumbar serapah jorok dan menjijikkan itu ke costumer service atau orang lain yang bersinggungan di media sosial, aku pantang melakukan itu meskipun aku mampu melakukannya. Sebab kecewa bukanlah sebuah alasan yang memperbolehkanmu melakukan apapun sesuka hati. Kecewa bukan berarti aku punya hak memaki karena aku telah mengeluarkan uang untuk membeli layanan tersebut. Ia tidak lantas membuatku berhak untuk memaki-maki orang lain dan memperlakukan mereka seoalah binatang.

Aku tidak sedang bertindak sok alim, sok moralis, tetapi itu adalah prinsip-prinsip kemanusiaan. “Uang tidak pernah membodohi siapapun, melainkan hanya menunjukkan siapa kita.”

Dengan uang yang hanya tak seberapa, yang cuma cukup untuk membeli layanan internet, maki-makian Anda begitu barbar, dan tak terkendali seperti tak punya rasa kemanusiaan. Hanya uang segitu saja tak bisa mengendalikan diri? Maaf! Periksa kembali dimana kedudukan Anda.

5 Comments Add yours

  1. Bener juga sih makin kesini makin banyak istilah yang rasa rasanya semakin membatasi kita utk ngmg sesuatu. Kayak bahas fisik dikatain body shaming, godain cewe/cowo dikit dibilang catcalling lah, sexual harrashment lah. Ya ada bagusnya sih orang orang jadi aware sama hal-hal jelek yang ga patut dilakuin tapi selama ini dinormalisasi dan menjadi sesuatu yg common in our culture. Terus ada lagi yang namanya toxic positivity, dimana mgkn orang orang niatnya hanya memberi semangat dgn blg “aku aja bisa, kamu juga bisa” tapi ternyata skrg itu dibilang sebagai toxic positivity.

    Rasanya agak too much 😦

    Like

    1. jejakandi says:

      Terima kasih, Mbak Nadia sudah mampir dan memberikan komentarnya, it’s a nice words. Betul aku pun sepakat, ada bagusnya karena membuat orang jadi ‘lebih’ aware dengan hal-hal seperti itu. Namun sekali lagi apa pun itu, jangankan hal buruk suatu hal yang sekalipun baik kalau berlebihan ya it’s too much. Enggak banget dah.

      Oh ya baru-baru ini aku baru tahu istilah positif toxic, walaupun sebenarnya sudah lama merasakan itu. Memang sulit kalau hidup dengan standar orang lain. Secara enggak sadar cynicsm pun tumbuh dalam diri, itu gak banget deh. Begitu. Thank you, Nad.

      Like

  2. Ai says:

    Prinsip yang baik, Kak 👍
    Komplain apa pun disampaikan dengan santun akan jauh lebih menyenangkan ketimbang sebaliknya.

    Like

    1. jejakandi says:

      Thank you, Mbak Ai untuk positif vibe-nya, hehe.

      Benar, kalaupun kita merasa tidak diberikan apa yang menjadi hak kita, seenggaknya komplain yang santun akan membuat mereka mawas diri dengan sepenuh hati. Bahkan pernah, aku malah diberi hadiah berupa paket, sebuah buku jurnal, pena, mug dan tas kecil cuma karena aku menyampaikan keluhan saya dengan sejujur-jujurnya di email dengan bahasa yang menurutku sopan. Mereka justru berterima kasih kalau kita bisa memberikan saran yang bagus.

      Liked by 1 person

      1. Ai says:

        Sama-sama, Kak.

        Wow, lucky you! 👍
        Keren Kak, semoga hal-hal seperti ini bisa dipertahankan. Dan bisa dicontoh banyak orang.

        Like

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.