Storial: Pada Suatu Pagi

pada suatu pagi

Pada suatu pagi aku terjebak pada kegelisahanku sendiri. Aku serasa mati kutu tak bisa menulis suatu cerita. Padahal apa sih yang menjadikannya begitu mendesak, untuk menulis cerita itu, sedemikian aku begitu gelisah dan putus asa untuk menuliskan suatu cerita?

Aku pun tidak mengerti mengapa aku masih merasa harus memiliki impian untuk dapat menulis suatu cerita. Bagaimana itu tidak membingungkan, mengapa cerita harus dikarang dan dipaksa untuk mengada jika cerita itu sendiri tak mengada. Cerita, bagaimanapun selalu dibangun atas fragemen dan sintaks-sintaks yang berjalinan satu sama lain. Cerita bagaimanapun berjalan karena ia menapak pada waktu dan kronologis kejadian. Dan terserah bagaimana seorang penulis menyajikannya, namun yang jelas cerita tidak bisa diadakan dari ketiadaan.

Jadi suatu cerita tidak dibangun hanya karena penulisnya ingin bercerita. Cerita tidak dapat diciptakan dan tidak pula dapat dimusnahkan. Cerita tidak ada dengan sendirinya, ia mesti melalui suatu peristiwa sebab dan akibat, terlepas apakah itu logis atau tidak logis, apakah itu realis atau surealis. Dan cerita tidak dapat dimusnahkan, kalaupun ia tenggelam dan tidak dibicarkan ia tidak berarti musnah dari muka bumi. Ia hanya terlupakan dan tidak dituturkan. Ia tersimpan dalam suatu memori. Andaipun si pemilik memori mati cerita itu tak musnah meskipun terkubur bersama kematiannya.

Sekali lagi aku jadi teringat dengan pesan Vargas Llosa, tidak persis apa yang dikatakannya tetapi apa yang kutangkap kira-kira begini; jangan terobsesi menjadi penulis yang sukses. Semua penulis, yang kamu kira telah sukses di bidangnya, tidak lebih merupakan sebuah anugerah, sebab hanya sedikit sekali penulis yang menjadi besar dan kaya dari menulis. Lebih jauh ia mengungkapkan sederet fakta bahwa, sangat banyak, kalau tidak mau hampir semua orang yang terobsesi untuk menjadi penulis terkenal bisa sukses dan kaya malahan tidak pernah mencapai apa yang diobesikan. Sementara para penulis yang dalam kaca mata kita merupakan penulis yang telah sukses dan mampu menjadi kaya karena karyanya justru orang-orang yang sebenarnya tidak memiliki obsesi terhadapnya. Ia hanya sekedar beruntung mendapatkannya. Begitu banyak buku terbit setiap hari, namun hanya segelintir saja yang dapat bertahan hingga satu atau dua tahun. Kebanyakan malah terlupakan begitu buku itu terbit.

Pada pagi hari yang sama seiring keraguan yang mengapung, justru pikiranku semakin tenggelam. Aku jadi teringat dengan negeri-negeri yang telah lama hidup dalam kenanganku. Suatu negeri yang telah lama kulupakan. Pemandangan pertama yang mengapung dari kedalaman adalah suatu tempat yang luas dan sunyi. Di mana-mana bebatuan teronggok dingin, gunung-gunung menjulang dan kering, padang-padang yang tandus dan semak-semak belukar bertebaran di mana-mana.

Kenangan dalam memoriku ini pun bukan sebuah kenangan yang hebat. Namun aku akan menuliskannya, walaupun aku sendiri tahu bahwa kenangan ini pun tidak akan musnah dari muka bumi meskipun aku tidak menuliskannya lalu kemudian tiada. Tetapi bagaimanapun juga aku akan menuliskannya.

Seperti yang sudah kukatakan tadi, pemandangan yang pertama-tama muncul dari suatu kedalaman adalah suatu tempat yang luas dan sunyi. Tempat itu tak akan pernah bisa kau datangi secara sengaja oleh mereka yang belum pernah pegi ke sana. Jika kau ingin datang ke tempat itu, kau harus bersama orang yang pernah pergi ke sana atau mengalami situasi yang tak terduga seperti yang terjadi pada diriku berberapa tahun yang lalu.

Saat itu usiaku masih 23 dan beberapa bulan lagi aku akan berusia 24. Saat itu kuliah sedang libur. Jadi aku berencana menghabiskan waktu liburanku di Desa Hujan. Hari itu aku menyempatkan diri berkunjung ke tempat-tempat di mana aku sering menghabiskan waktu bermainku ketika masih kecil dulu. Dulu aku terbiasa pergi sampai jauh memasuki belantara hutan, menyusuri sungai-sungai dengan rakit atau bermain jauh ke barat untuk memancing ikan di telaga. Dan setelah bertahun-tahun lamanya aku tidak mengunjungi berbagai tempat itu, aku pun terpana. Tempat-tempat itu begitu nampak begitu indah. Aku kira semua tempat dan semua kenangan akan menjadi lebih indah setelah kita berjarak dengannya. Bahkan ada anekdot yang menggelikan; mantan kekasih pun menjadi lebih cantik dan mempesona ketika telah menjadi mantan.

Pertama-tama aku pergi keluar dari desa ke arah timur laut. Sekitar 200 meter dari rumah terakhir yang kulewati, jalanan kemudian melandai masuk kedalam area yang dinaungi oleh pohon-pohon yang rimbun. Kira-kira 2 menit berjalan di bawah rerimbunan pohon itu aku pun sampai di suatu dataran rendah yang luasnya sekitar setengah lapangan bola dan ditumbuhi alang-alang yang dingin dan lesu. Cuaca di Desa Hujan selalu dingin seperti biasanya tapi pagi itu menjadi lebih dingin karena di dataran yang begitu rendah sinar mentari bersinar keemasan hanya mampu menerangi pucuk-pucuk pohon di belakangku.

Suasananya begitu hening hingga desiran angin yang membelai rumput dan dedaunan pun terdengar begitu jelas. Seandainya ada ular yang merayap mendekat pun masih akan terdengar jelas. Dari dataran rendah ini aku memandang ke arah depan, ada sungai yang luas tetapi seperti tak ada arusnya, ia begitu tenang. Aku sendirian di tempat itu, tak terlihat seorang pun di sana. Lalu aku bertanya-tanya mengapa tempat yang sepi dan tenang masih tidak menenangkan hati yang gelisah? Suatu hari nanti aku akan menyadarinya bahwa kedamaian bukan berada di luar diri kita. Kedamaian berada dalam hatimu.

Rasanya telah begitu lama aku sendirian di tempat itu lalu samar-samar kudengar anjing menggonggong di kejauhan di seberang sungai. Kemudian apa yang semula tenang dan sunyi tiba-tiba semuanya menjadi berantakan dan kacau balau. Seumur hidup aku tidak pernah mendengar suara burung gagak kecuali dari film-film. Namun pagi itu sekawanan gagak ribut bukan main lalu terbang kalang kabut seperti ada sesuatu yang mengusiknya di hutan di seberang sungai. Aku pun kemudian diserang oleh hawa yang begitu aneh. Bulu kudukku merinding. Hal yang sama juga kurasakan di kedua lengan dan punggungku. Aku diserang suatu sensasi beku. Sekujur tubuhku diliputi hawa dingin tetapi tak mampu bergerak. Di kejauhan, di seberang sungai kulihat sepasang mata yang sangat misterius. Mata itu seperti sedang mengawasiku. Mata yang berkilat-kilat dan bersinar terang seperti sorot lampu, sementara kegelapan menguasai sekitarnya. Tentu saja perasaan ngeri menyergapku. Lalu ketika mata itu tenggelam ke dalam kegelapan selang beberapa detik terdengar lagi anjing menggonggong di kejauhan. Kujunganku hari itu ke tempat-tempat masa kecil yang dulu kudatangi berkahir di tempat tempat itu, tempat yang sama namun tak lagi sama. Aku pulang dengan perasaan yang aneh, tapi aku bertekad untuk kembali ke sana keesokan harinya. Itu adalah hari sebelum aku secara tidak sengaja sampai di negeri yang tak akan bisa didatangi oleh orang yang belum pernah ke sana.

5 Comments Add yours

  1. masHP says:

    Swlalu ada kenangan yg bs diceritakan. Hi, mas Ndobos. Apa kabar?

    Like

  2. sunarno says:

    Apa kabar nih lama tak tengok menengok

    Liked by 1 person

    1. jejakandi says:

      Iya, Pak. Sudah lama sekali. Energi sedang terkuras habis-habisan, nih. Pak. Semoga bapak di sana baik-baik saja, ya. Amin.

      Like

  3. masHP says:

    Smg tak ada lagi kabar : “sedang tidak baik2 saja” 😀🙏🤝

    Like

    1. jejakandi says:

      Gimana dong, kalau jawabannya memang itu, Pak heri?

      Like

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.