Sebuah Jurnal: Maaf, Bu Tejo! Aku Gagal Menjadi Orang yang Solutif

She eyes me like a pisces when I am weak.
I’ve been locked inside your heart-shaped box for weeks.
I’ve been drawn into your magnetar pit trap.

Vokal rendah dan beratnya Kurt Cobain itu bergema kemudian pelan-pelan memasuki ruang hampa dalam jiwaku. Vokal yang sangat powerful itu semakin menyentuh berkat sebuah intro dari melodi gitarnya; lembut dan berteknik tinggi. Lalu salah satu lagu favoritku yang dibawakan Kurt bersama Nirvana itu terasa semakin meluas membentang jauh di dalam ruang-ruang hampa yang lebih dalam di kedalaman jiwa, dan memunculkan sebuah citra dari hari-hari yang kulewati akhir-akhir ini.

Hari-hari itu merentang kian dalam merangkum sekian panjang kejadian selama 6 bulan sejak suatu masa yang oleh pemerintah ditetapkan sebagai situasi darurat; pandemi. Hari-hari yang luar biasa di mana banyak hal berubah dengan tiba-tiba. Namun jika ada hal yang tak berubah, salah satunya mungkin adalah perasaanku yang tetap dingin seperti sedia kala. Meski hanya sesaat, aku sempat terguncang. Ya hanya sesaat saja, sebab hati itu tetap dingin. Aku tak sepenuhnya bersedih, atau mendadak melakukan manuver-manuver tajam. Ya karena pandemi, aku jadi punya alasan tambahan untuk tidak perlu pergi ke mana-mana.

Yang masih tak kumengerti adalah—seperti kata sahabatku dulu—paradoks-paradoks yang ada dalam diriku sendiri. Aku adalah seorang petualang, jiwaku adalah jiwa petualang—menyukai hal-hal baru dan menantang, tetapi aku juga termasuk orang yang merasa nyaman, settle di suatu tempat. Begitu settle-nya, rekreasi—di zona hijau—pun sering tak mampu memaksaku untuk memiliki alasan agar keluar di masa pandemi ini. Dan situasi ini seakan-akan kian hari kian damai—tak usah mendebat, percayalah tak ada orang yang suka situai pandemi ini, begitu pun aku yang sejujurnya tak suka—, aku suka karena tak harus membuat alasan untuk risau oleh sebab tak pergi ke mana-mana. Ya, lingkaran pertemananku yang sekarang ini, hanya melihat aku yang tak suka diajak pergi-pergi, mereka tidak melihat sisi lain dari jiwa petualangku. Hampir pasti mereka tak percaya, dulu aku sering mendaki gunung, tidur di alam liar, sering berada di camp-camp organisasi, duduk-duduk di pinggir-pinggir jalan, setiap malam ngobrolin banyak hal dalam suasana diskusi di warung kopi, dan sering berada di pantai hanya untuk mengobrol sambil membuat api unggun; mereka hampir tak percaya aku memiliki kehidupan seperti itu.

Masa-masa ini tak sepenuhnya membuatku bersedih, karena alhamdulillah aku masih bisa bekerja seperti biasanya; proyek bertambah dan karena dituntut untuk melakukan percepatan dalam banyak sektor, aku cukup mendapat tantangan yang menggairahkan dan tentu saja aku jadi belajar banyak hal baru. Dan pada masa ini pula aku tengah menyiapkan sesutu yang baru pada dunia tulis-menulis. Semoga saja bisa segera lauching. Hehe…

Selama 6 bulan, sejak bulan Maret lalu, masa-masa di mana oleh pemerintah ditetapkan sebagai situasi pandemi ini melahirkan perdebatan; lahir banyak kubu yang saling bertentangan, menuding satu sama lain, pro dan kontra yang tak karuan lagi bentuknya. Perdebatan-perdebatan itu kalau disimpulkan secara kasar akan meruncing pada perdebatan antara pandangan dua kubu. Satu pihak yang berpandangan bahwa Pandemi Covid-19 ini memang benar-benar ada dan sangat serius. Di kubu lain meraka memandang ya coronavirus ini memang ada tetapi tidak semengerikan yang diberitakan. Kubu kedua mengatakan bahwa situasi ini sengaja dibesar-besarkan, mereka mencurigai ada pihak-pihak yang sedang mengail di air keruh. Lalu yang menjadi pertanyaan, aku berada di pihak yang mana? Nah itu dia masalahnya… “berada di pihak yang manakah aku ini?”

Aku berada pada sebuah persimpangan yang tak jelas. Dan tetap berada pada persimpangan itu dari awal hingga kini, sebab pandanganku sekarang ini selalu kabur. Aku tidak bisa melihat dengan mata yang jernih, apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Dan andaikan aku mencoba mengikuti gerak jiwa, aku pun berada pada situasi yang bias. Sesederhananya aku tidak bisa mengambil sikap, termasuk ketika diminta untuk memberikan suatu pendapat, ketika diminta untuk mengisi suatu lembar persetujuan, lembar pernyataan dan sekian banyak hal terkait pilihan untuk mengambil tindakan; aku gamang. Situasiku benar-benar bias. Pada akhirnya aku pun tidak mau ikut menandatangai persetujuan apa pun, tidak pula mengisi angket apa pun. Aku seoalah merasa menjadi rakyat yang useless, apatis dan merusak. Aku menjadi pribadi yang berbeda di setiap situasi; oportunis, iya; pragmatis, iya; idealis juga iya. Padahal kesemua itu saling kontradiktif. Benar-benar merepotkan, tak bisa menjadi orang yang solutif seperti yang dikehendaki Bu Tejo.

Dalam masalah ini, seorang borjuis kecil sepertiku mestinya memperhatikan pertimbangan-pertimbngan ilmu sains. Pandemi, fenomena alam, penyebaran virus dan lain sebagainya semestinya bisa dijelaskan secara saintifik. Namun lagi-lagi aku terjebak pada sebuah situasi; iklim informasi di era disrupsi ini benar-benar tidak sehat. Aku benar-benar buta dan tersesat. Orang bijak pernah mengatakan, “Lebih baik diam berhenti ketika tersesat, dari pada mengarungi bahaya dalam gelapnya kesesatan.”

Ya pada era disrupsi ini, sains menghadapi musuh-musuh yang sangat besar. Ada dua musuh sains yang sama-sama tidak bisa diidentifikasi apakah mereka itu musuh atau teman. Yang pertama adalah musuh yang tidak percaya kepada sains. Mereka adalah orang-orang yang menolak kebenaran sains dan dengan segala cara dan upaya mereka menyangkal dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan rumit nan membingungkan. Mereka lalu membuat teori-teori dan postulat untuk memojokkan, untuk mendiskretkan sains yang telah berkembang sejauh ini. Sebenarnya ini adalah musuh yang mudah, temankah atau lawankah kubu ini, kalau tak dipedulikan ya selesai, habis perkara. Namun musuh yang kedua adalah bahaya yang membuat kepalaku pening; tak peduli ia berada di pihak mana, pro atau kontra dengan sains; mereka sama-sama berbahaya. Mereka adalah orang-orang yang mengaku telah menggunakan metode sains untuk mengunkap sebuah fenomena, mengaku telah dengan ketat mengikuti standar saintis untuk menepatkan suatu kebenaran, tetapi sesungguhnya mereka mengingkari praktik ilmiah. Mereka menipu dan memanipulasi untuk kepentingan mereka. Yang terjadi kemudian muncul kelompok-kelompok yang saling menuduh telah melakukan sebuah manipulasi dalam mengungkap fenomena sains. Sehingga informasi ini menjadi tidak reliable. Sesama saintis mereka saling serang. Kalau sudah begini apa yang harus kupercaya?

Perkelahian antara sesama saintis ini melumpuhkan kepercayaan, dan melahirkan orang-orang yang apatis, tak peduli dan para ignorant.

Kebanyakan manusia—sekarang ini menjadi—begitu apatis tidak lain adalah disebabkan oleh banyaknya informasi-informasi yang hadir dan membungkus kenyataan yang sedang terjadi. Seolah-olah dihadirkan untuk mereka dengan cara demikian sebagai kamuflase.

Kebanyakan mereka berubah menjadi ignorant karena kebingungan. Informasi yang tumpah-tindih dan simpang-siur mempercepat kejenuhan dan ketidakpedulian. Selalu ada dua atau lebih pihak yang saling bertentangan dan saling menegasikan ini membuat mereka semakin bingung dan muak. Ah ya inikah situasi di mana seperti judul buku, “Matinya kepakaran”?

Seandainya kita bisa menyingkap kebenaran yang tidak dibingkai oleh pernyataan atau informasi tanpa bukti. Sesederhana ia memang benar karena ia benar bukan karena ia benar dari suatu sudut pandang dan kepentingan. Seandainya kita bisa menyingkirkan kebenaran yang berbingkai politis. Seandainya kita bisa menyingkirkan kebenaran versi opini yang samar. Karena yang lebih penting dari sebuah kemenangan politis, yang lebih penting dari sebuah kemenangan semu… di atas semua itu yang lebih penting adalah kemanusiaan.

Demikian saya Andy Riyan dari Desa Hujan.

4 Comments Add yours

  1. bicara says:

    Mas kamu percaya teori evolusi ga

    Like

    1. jejakandi says:

      Evolusinya, Darwin? Sebagai kajian ilmu pengetahuan dan teori sains, aku tidak bilang aku tidak percaya. Masih terbuka.

      Like

      1. bicara says:

        Syarat percaya sains itu di barat ya percaya teori evolusi

        Like

      2. jejakandi says:

        Teori evolusi, bagiku, adalah teori yang masih terbuka. Aku tidak perlu barat timur atau mana pun, selama kajian ilmu pengetahuan tidak dibenturkan oleh apa pun; politik, agama, kepentingan maupun setimen, kebenaran mutlak tak akan bisa ditolak. Syarat kebenaran sains cukup dengan matematika.

        Like

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.