Surat Untuk Sahabat: “A Letter From Me to Me 10 Years From Now

Ha ha ha!

Halo, Bro. Apa kabar?

Ha ha ha! Maafkan aku yang tiba-tiba menyapamu dengan tawa. Tapi jika kamu ingat hari ini (10 tahun yang lalu) kamu pasti maklum, karena memang kita, entah sudah berlalu sejak berapa lama, selalu suka begini; suka menertawakan diri sendiri. Kuharap kamu di sana masih suka tertawa dan menertawakan diri sendiri.

Bro, jika aku membayangkan 10 tahun yang lalu, aku selalu merasa waktu begitu cepat lewat. Rasanya seperti baru kemarin aku memutuskan untuk berhenti bekerja dan mengambil kuliah. Aku pun hampir begitu yakin, kamu, ketika melihat hari ini, akan merasa seperti baru saja kemarin aku menulis untukmu, tetapi itu telah 10 tahun berlalu.

Saat itu, dan begitu pula saat ini, aku tidak pernah yakin apakah 10 tahun ke depan aku masih hidup, tetapi anehnya aku seperti kurang bersyukur saat menyadari masih hidup hingga hari ini dan 10 tahun itu telah terlewati. Setidaknya itu yang kurasakan, kurang. Sebab, jika dilihat dengan kacamata hari ini, seharusnya dulu aku masih bisa melakukannya lebih baik lagi.

Pahamilah, dan tentu saja kamu pasti memahaminya jika suatu saat nanti, kamu merasa saat ini seharusnya aku bisa melakukan hal yang lebih, itu karena kamu telah memiliki jarak dengan hari ini. Dan bersyukurlah kamu telah memiliki jarak itu, sehingga kamu bisa melihatku, yang sedang menulis untukmu ini, dengan cara yang lebih objektif.

Tak pernah terbesit sedikitpun sesal di hatiku, untuk sepuluh tahun yang telah aku lewati, dan kuharap kamu juga masih begitu, tak ada sesal di hatimu ketika melihatku sejak hari ini. Sebab kita tahu, kita tidak melakukan sesuatu yang akan disesali.

Sekarang aku ingin mendengar bahwa kamu sejak hari ini, sejak surat ini kutulis untukmu, kamu tidak lagi kekurangan rasa bersyukur, kuharap kamu melakukan lebih dari yang aku lakukan saat ini untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikan kepada kita. Kuharap, selalu seperti rumus yang kita pahami, kita selalu mencoba sadar dengan apa yang sedang kita jalani saat ini, sehingga itulah yang terbaik yang telah kita lakukan. Itulah yang membuat tidak terbesit sedikitpun sesal dalam diri kita.

Bro, aku ingin memberitahumu banyak hal, tetapi apakah itu mungkin untuk kutumpahkan semuanya dalam surat ini?

Tepat sekali, kamu pasti akan menjawab seperti itu. Ketika kamu membaca surat ini, ingatlah, bahwa kamu dulu sepuluh tahun yang lalu menulisnya dalam jurnal yang berjudul “Menjalani Mimpi”. Jadi sisanya kamu bisa menengok ke jurnal itu.

Bro, jujur saja, aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan kita sepuluh tahun lagi. Jadi, sebagaimana yang kita pahami, bagaimana mungkin kita mengajukan sebuah pertanyaan dari sesuatu yang tak kita ketahui? Bagaimana kita bisa mengajukan pertanyaan tanpa ada minimal sedikit saja kilasan di dalam benak kita?

Jadi kumohon, jika kamu masih hidup, sudilah kiranya kamu bercerita tentang apa saja yang kita lakukan sejak aku menulis surat ini untukmu.

Bro, jika kamu tanya apakah saat ini aku punya cita-cita atau keinginan yang ingin kita lihat dalam lima atau sepuluh tahun, aku jawab bahwa, saat ini sedang tidak ada gagasan atau ide yang terbesit dalam benakku tentang apa yang ingin aku lakukan ke depan. Tetapi aku menduga kamu tidak akan peduli, apakah saat ini aku punya cita-cita dan keinginan atau tidak. Soal itu, aku hanya ingin memberitahumu satu hal, bahwa sekarang ini aku punya setumpuk mind map yang belum dieksekusi. Mudah-mudahan dalam beberapa bulan ke depan aku mulai bergerak untuk merangkainya dan mulai mengumpulkan energi untuk membentuk kepingan-kepingan itu menjadi sesuatu yang bermakna.

Bro, surat ini, untukmu mungkin belum terlalu panjang. Untukku pun demikian. Tetapi aku cukupkan sampai di sini saja, sisanya biar menjadi miliki misteri.

Sampai jumpa,

Saya, adalah kamu, Andy Riyan dari Desa Hujan.


NB: Istriku mencintaiku dengan sangat, begitu pula aku mencintainya tanpa syarat.

3 Comments Add yours

  1. Ayu Frani says:

    NB. Jangan lupa juga dengan anakmu. Mereka pun mencintai Ayahnya, dan selalu menunggu pelukan hangatnya.

    (Ikut menambahkan hee)

    Liked by 1 person

    1. jejakandi says:

      He he he itu belum. Tapi makasih untuk do’anya. Amin amin amin. 🤲

      Liked by 1 person

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.