Tidak Sperti Ini

“Dunia memang kadang-kadang tak adil.// Aku mempunyai hati yang sama kecil dengan yang mereka miliki,// namun aku dipaksa memiliki hati yang lebih besar.”//

“Aku sama miskinnya dengan mereka,// namun aku diperlakukan menjadi orang yang lebih kaya// dalam segala hal yang berkaitan dengan pengeluaran biaya.”//

“Aku sama pintarnya dengan mereka,// namun dipandang sebelah mata// dan dianggap lebih bodoh// serta tidak tahu apa-apa.”//

“Aku adalah robot kehidupan,// yang tak ingin memiliki rasa iba,// iri ataupun dengki;// Mereka menuduh bahwa aku manusia paling sombong, tak tahu diri, tak mengenal terima kasih, // dan tak tahu soal hutang rasa.”//

Temanggung, 7 Desember 2017

Andy Riyan

Advertisements

Tentang The Fall dan The Silmarillion

Selamat malam semuanya, aku harus selalu merasa senang ketika dapat hadir kembali dalam menuangkan segala ide dan apa saja yang terlintas di kepalaku. Harus selalu merasa senang ketika jemari ini menyentuh pena dan menari-nari dalam buku. Harus selalu merasa senang ketika mendengar… “Ck tak ck ck tak tak tak…” suara keyboard merek Votre—entah keyboard yang ke-berapa yang pernah kubeli— itu, terlebih lagi ketika cekkecekecekeckek itu terdengar sangat cepat seperti tak kan bisa berhenti karena ia penuh semangat berkejar-kejaran dengan pikiran yang terus berlari-lari. Dan kemudian harus selalu merasa senang sekali ketika akhirnya berhasil membagi buah pikiranku kepada kalian semua, Amigos! Siapa Amigos? Siapapun yang telah mampir di jejakandi ini… bagiku adalah Amigos. Hai Amigos, semoga baik-baik selalu ya dimana saja kalian, semoga kalian selalu dalam limpahan rahmat dan kasih-Nya. Amin.

Buah pikiran kali ini adalah tentang The Fall dan The Silmarillion yang sebelumnya pernah aku tulis di akun Instagram—media sosial yang paling buruk yang pernah ku jumpai— milikku (barangkali Amigos pengen jelajah di akun Instagramku, boleh silakan scroll aja di @jejakandi *tenang, gak bakalan stuck dengan gembok). Tadi kamu komentar Instagram adalah media sosial yang paling buruk, mengapa begitu, Ndi? Ah lain kali aku ceritakan mengapa Instagram adalah media sosial yang menurutku paling buruk, sekarang kita bahas saja The Fall dan The Silmarillion. Well, Amigos pasti tahu kalau The Fall itu adalah karya Albert Camus sedangkan Profesor Tolkien -lah yang menulis The Silmarillion.

The Fall

Banyak yang mengatakan bahwa buku The Silmarillion yang ditulis oleh J.R.R. Tolkien (di-edit oleh putranya, Christopher, dan diterbitkan secara anumerta) merupakan buku yang relatif ‘sangat’ sulit—sulit untuk diphamai, dimengerti, diikuti jalan ceritanya, atau sulit diuraikan lebih sederhana—bahkan oleh penggemar Prof. Tolkien sendiri, apalagi yang versi English.

Membaca The Silmarillion, memang tidak semudah atau seenak dan senyaman ketika membaca karya Prof Tolkien yang lain, The Lord of The Ring, apalagi The Hobbit ya, anak-anak aja bisa ngerti, ya iyalah itu kan memang ditulis untuk diceritakan kepada putra dan putrinya, Bahlul Kamu!. Tapi… meskipun begitu, The Silmarillion, untuk versi Bahasa Indonesia, aku sudah berhasil mengkhatamkannya 4 kali. Wkwkwkwk Bangga banget, Ya? Bukan cuma bangga! Tapi mbahne bangga! Dan untuk versi English-nya baru khatam sekali *Cling! apakah kaca mata hitamku menyilaukanmu?

The Fall, LOL! Pada saat aku menulis di Instagram Tentang The Fall dan The Silmarillion, belum pernah sekalipun berhasil mengkhatamkannya padahal sudah sekitar 6 bulan sejak buku itu dibeli. Padahal bukunya cukup tipis, kurang dari 200 halaman.

Ada 3 alasan, mengapa The Fall oleh Albert Camus tidak kunjung khatam juga.

Pertama, The Fall bukan jenis novel umum, dengan Genre yang mudah diterima oleh banyak kalangan. Maksute opo, Ndi? Begini… The Fall memang memiliki struktur yang tidak biasa sehingga sulit untuk dipahami dan ditangkap apa yang sebenarnya ingin penulis sampaikan. Orang-orang membeli buku ini, menurutku karena nama penulisnya yang kadung terkenal. Peraih nobel sastra!!

Kedua, memang dasar aku-nya saja yang tidak memiliki pemahaman yang cukup akan novel hebat, karya terakhir dari seorang Albert Camus sebelum menerima Nobel Sastra itu. Atau lebih jelasnya, kualitas membacaku dan kualitas screening-nya turun atau bahkan munukik jatuh, jika demikian, ini sungguh berbahaya. Hemmmm.

Ketiga, mungkin waktu luang dan waktu potensial untuk memahami bacaan yang kumiliki tidak lagi seperti ketika dulu membeli The Silmarillion, singkatnya relatif lebih sedikit. Tapi sebenarnya tidak fair juga kalau membandingkan The Fall dengan The Silmarillion, sebab bagaimanapun juga aku kan fan die hard-nya Eyang Tolkien. Heuheuheu!

Daaaaaaaaaaaaaan…. Akhirnya pagi harinya setelah update Instagram tentang The Fall dan The Silmarillion, aku pun update lagi, update Masih Tentang The Fall. Sungguh The Fall ini memang memiliki banyak cerita deh, untuk kehidupanku sendiri… Stop! Jadi update gimana, Ndi? Gih simak dibawah ini yak… Aku kutipkan langsung dari Akun Instagram Gue.

“LOL! Tiba-tiba saja saya sudah menamatkannya.” Kekehku waktu itu, mengawali updatan terbaru di instagram.com/jejakandi/ .

the fall 2

“Ada perasaan yang sangat aneh ketika berhasil melakukannya sehingga saya harus menuliskan pengalaman saya di Instagram yang bodoh ini.” Aku masih saja mengomentari kalau Instagram itu media sosial yang paling buruk, dan aku tetap menggunakannya, bahkan sampai sekarang ketika membagi buah pikiranku, pada Amigos, aku masih menggunakannya.

Ceritakke wae nak ngono, Ndi, opo sebabe? NO! Lain kali saja!

Kembali ke kutipan langsung di akun Instagram, “Seperti sebuah perasaan kecewa namun puas, atau puas namun kecewa. Albert Camus, bermonolog, seolah-olah dia telah dengan sengaja menempatkan diri saya untuk menjadi orang yang diinginkankannya, atau mengakui legitimasi yang ingin dia dapatkan dari saya.

Aku ditempatkan dalam posisinya, kemudian diberi teropong ajaib, yang bisa melihat apa saja, untuk mengintai apa yang seharusnya orang-orang telah melakukannya atau minimal memikirkannya hal sesederhana itu. Dan hal itu telah dengan sangat keras menyindir saya, memukul dan menendang saya sampai batas imajinasi. Dia seolah-olah hendak menyetir pikiran semua orang, bahwasanya saya dan semua orang yang sudah berhasil masuk dalam monologue-nya selalu sekian detik terlambat menyadarinya, sebab seharusnya, pun demikian saya sudah melakukan semua ini tetapi mengapa hanya Albert Camus seorang yang menuliskannya dan itu sudah dilakukannya bertahun-tahun yang lalu.” Bentar aku mengambil nafas dulu untuk mencermati kutipan langsung dari Instagram ini. Mengapa kata-katanya jadi berantakan dan rak jelas ngono, Ndi? Albert Camus telah menenggelamkan aku dalam relung imajinasi yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata. Begitu yang ingin aku sampaikan kepada siapapun yang kebetulan lihat postinganku di Instagram.

“Dia benar-benar brengsek!” Maki aku waktu itu, “Albert Camus benar-benar brengsek! Dengan tulisannya ini, dia benar-benar telah menghina saya, seolah-olah dia menegaskan dia sudah tahu segala apa yang akan dilakukan oleh semua orang bertahun-tahun setelah kematiannya. Ia benar-benar secara halus telah membuat saya merasa begitu bodoh!

Apa sebenarnya yang lebih aneh dari merasa lebih bodoh dari seorang peraih nobel sastra? Ia menuliskan semua hal sederhana yang sebenarnya mampu semua orang melakukannya, tapi tak pernah dilakukannya. Dan itu sangat menjengkelkan. Semua monolog saya sudah ada yang menuliskannya bertahun-tahun yang lalu yaitu oleh seorang Albert Camus.”

“Salam Jari Tengah!”

“Apakah saya perlu bercerita bagaimana semua ini terjadi? Menamatkannya dalam semalam setelah sekian bulan tertunda? Saya rasa tidak perlu! Sebab ini akan semakin menegaskan kekalahan saya pada seorang Albert Camus. Saya menyarankan kalian membacanya sendiri, tapi ingat…. Jika nanti kamu merasa dipecundangi olehnya juga, saya sudah mengingatkannya.”

“Sekali lagi…. Salam Jari Tengah!”

Ndi kok awit mau nyeritak ke The Fall wae, padahal judule kan The Fall dan The Silmarillion, lha kapan arep cerito The Silmarillion? Wah! Setahun pun kalau aku harus cerita tentang Mahakarya-nya Profesor J.J.R Tolkien, tetep gak rampung. Moco dewe wae lah, bukune regone murah kok! Mbiyen aku pas tuku tahun 2015 regone mung Rp130.000,00

Wis ngono wae yo… sekali lagi matur suwun wis gelem mampir ning kene. Salam hangat, mugo-mugo dino-dinomu nyenengake yoh! Aku Andy Riyan, isih ning Deso Udan.

Temanggung 3 Desember 2017

Tentang Proses Kreatif, Nilainya dan Prosa Yang Tertulis : Sajak Terbenam

IMG_20171118_174322

Sajak Terbenam [Sebuah Prosa]

Lagi, matahariku yang tengah terbenam, menititipkan salamnya pada senja itu. Dan siapakah senja? Matahariku yang sedang merapatkan dirinya pada Sang Malam atau saat pesonanya berada pada tingkat terindah kemudian ia meredup lalu pergi dari pelukanku? Siapakah senja? Jingga di langit barat atau awal dari sinar merah yang menodai angkasa? Siapakah senja?

Siapapun dia, senja selalu datang kala gelap menjelang. Senja selalu datang sebagai pertanda bagi kita untuk pulang. Dan pertanda bagiku untuk menjemput gelap, juga pertanda bagiku untuk berhenti berharap. Sebab, senja yang sama masih tetap luka yang sama.

Dengar! Senja yang sama adalah luka yang sama.

Harapku padamu adalah kau kembali terangi jalan gelap ini. Seperti bulan sabit yang kan terbit mengantikan sinarnya yang terbenam bersama senja. Harapku padamu kau dan bintang adalah satu dalam semesta kemana cahaya menuntunku pada surga kehidupan. Cinta dan keabadian.

Karena aku hanyalah lentera, yang terang beberapa waktu saja, sementara aku masih selalu merindu dalam relung sepi dan tak ingin terbangun sendiri di tempat ini. Dan harapku padamu, kau sudi pinjamkan sinarmu agar aku menemukan kembali jalan yang telah menghilang di balik kegelapan.

Dan jika matahari cintaku telah menyentuh jingga ke dalam keremangan senja ia tak kan menunggu. Dan hanya aku yang terjebak menjemput gelap di antara daun-daun mati nan basah di sudut-sudut dunia yang kelam guna melengkapi malam yang sebentar lagi semakin pekat. Sementara sunyi senyap tak mampu menyentuh kalbuku yang telah rapuh, tak mampu memanggil perasaan yang sama, yang dulu pernah menyentuh kesunyian, yang menyelimuti kehampaan dalam duniamu yang temaram.

Karena mungkin kalbumu kini telah utuh sejak yang kau dapatkan dari semua sajakku telah kau rengkuh. Kini kau telah sempurna terpejam sepanjang malam. Dan aku bukan lagi lentera yang pernah kau rindukan. Yang denganku kau tertawa dan menyala. Yang denganku syair kehidupan kau hirup dalam-dalam dan kau ikatkan dalam denyut-denyut pernafasan kemudian kau tiup menjadi gelembung-gelembung kenangan, yang ketika aku sentuh ia menghilang.

Di sisa musim, di padang tandus aku mengering. Aku yang hijau, yang bergoyang-goyang, telah menguning. Memutih dan kemudian menjadi kelabu dan akhirnya membusuk menjadi jerami dan tak lagi mungkin bersemi di sepanjang musim berikutnya nanti.

Dengar senja yang sama adalah luka yang sama.

Dalam senja bulan pun berkenan. Bentuknya berganti dan berubah, seiring perjalanannya mengintari bumi. Di malam baru terbentuk sabit sebagai senyum lukis di wajahmu. Kau tumbuh dalam cinta dan harapan semua manusia. Kau berbahagia dan semakin tampak mempesona dan tepat ketika purnama telah sempurna hatimu telah penuh, telah bulat dan menyeluruh. Sementara aku tetaplah di timur jauh, masih menjadi bintang pagi tak berganti. Yang menyala kecil di sisa malam-malam yang senantiasa mengagungkan keindahanmu.

Hanya sanggup mengagungkan keindahanmu

***

sajak terbenam

Betapa Berharganya Catatan Historis Dari Proses Kreatif

Aku tak ingat kapan menulis prosa ini, tetapi catatan di wordprocessor (bukan MS Word) menunjukkan catatan ini dibuat pada tanggal 17 November tahun 2016 dengan judul Sajak Terbenam. Kemudian aku pun menelusuri bagaimana proses kreatif prosa ini ditulis. Yang dilakukan pertama kali adalah memeriksa catatan snapshots, yang tidak kutemukan juga riwayat editing-nya. Kemudian melangkah pada usaha membuka lembaran-lembaran sajak dan puisi *sedikit ingat pernah menulis dengan judul yang sama di blog, dan tak kutemukan juga jejaknya.

Kenapa proses kreatif menjadi begitu penting sekarang? Karena akhir-akhir ini aku mengalami kondisi dimana seseorang merasakan kehampaan. Aku kadang tidak lagi merasa menjadi manusia melainkan robot yang terus melakukan hal yang sama berulang kali setiap harinya. Aku bahkan tidak punya waktu untuk memanjakan diriku sendiri, berdamai dengan segala rasa yang menggumpal-gumpal tak karuan–tentang ini harusnya aku bisa mengatasinya, aku pasti telah melakuakn hal yang salah secara mendasar, barangkali nanti aku bisa bercerita tentang ini juga, terimakasih semesta berkonspirasi agar aku menuliskan catatan ini, setidaknya aku ingat sekarang apa yang ahrus dilakukan–. Aku tak merasakan harum rerumputan meski aku berada di ladang-ladang subur. Aku tak lagi merasakan aroma hujan beserta puisi dan sajak serta melankoli yang selalu datang bersamanya.

Sekali lagi aku membuktikan, bahwa catatan pribadi bisa menjadi barometer buat seseorang—khususnya untuk diriku sendiri—bisa digunakan untuk melihat jejak lama yang telah dtinggalkan. Aku bisa menelusuri proses kreatif bagaimana catatan terbentuk dengan upaya yang sebenarnya sederhana : Tidak begitu penting untuk apa kamu menulis sekarang, tetapi suatu hari nanti menjadi berarti.

Aku hanya harus menuliskan apa yang kupikiran untuk mengurangi penderitaanku. Bah! Sebegini menyedihkannyalah diriku? Penderitaan! Menjadi manusia yang sepi di tengah keramaian umat manusia. Mungkinkah hanya kebetulan saja aku menemukan prosa ini? Ataukah prosa ini adalah bentuk dari evolusi dimana aku telah diperingatkan sebelumnya bahwa aku tengah memudar dalam gelap? —Mungkin saja!— Menjadi manusia yang sesepi kegelapaan dan kehampaan? Menjadi bintang pagi di timur jauh, yang hanya sedikit orang–tentu saja– menghabiskan waktu bersamanya. Tentu saja… ya tentu saja bintang pagi itu adalah bintang yang paling sepi. Semua orang masih terlelap dalam mimpi-mimpi mereka, atau semua orang masih tengah hangat dalam pelukan pasangan-pasangan mereka, atau semua orang masih tengah terengah-engah menuju puncak… maaf, orgasme.

Bintang pagi adalah bintang yang paling sepi, tentu saja. Semua orang, meski telah bangun dari mimpi-mimpinya, meski telah bersuci untuk menghadap Tuhannya, meski telah membersihkan diri untuk menyongsong hari-hari mereka, mereka masih berada dalam teduh atap… R U M A H.. Ya rumah. Ah mengapa aku menjadi sebegitu menyedihkannya untuk menyebut kata ‘rumah’, entahlah!

Proses penelusuran proses-kreatif dalam penulisan sajak terbenam ini mengantarkan aku pada catatan kaki dan deskripsi, bahwa prosa ini dimaksudkan menjadi draft pertama dalam BAB III dalam buku yang masih menjadi KONSEP? Aku mulai pusing sekarang! BAB III buku yang mana? Dan kenapa puising padahal belum pernah membuat buku sekalipun… ah ya kenapa pusing ya? Ah sekarang aku ragu untuk mempublishkan tulisan ini di blog. Seharusnya tulisan ini belum siap untuk dikonsumsi publik, kan? Atau anggap saja ini sebagai hadiah? Hadiah apa?!! Hadiah untuk siapa? Memangnya layak hal beginian disiapkan sebagia hadiah?

Hei setan-setan brengsek yang berbisik di telinga kanan dan kiriku!! Diam kalian semuanya! Biar sudah aku publish saja tulisan ini. Tak perlu di edit lagi? Tak usah! Buat Apa? Biarkan begini saja. Ini adalah proses kreatif yang perlu dihargai, kamu menceritakan tentang gejolak dalam dirimu kemudian kamu tinggalkan dalam blog yang dimaksudkan bagimu untuk kembali menatapnya dimasa yang akan datang. Anggap saja kamu sedang meninggalkan sesuatu yang berharga yang ingin kamu temukan lagi nanti. Ya anggap saja begitu, sebab nanti ini akan menjadi lebih berharga daripada saat ini. Sudah damai ya, kamu, sekarang? Mbuh!

Temanggung, 1 Desember 2017
Andy Riyan

Perempuan Bermata Bening

“Ada lagi yang bisa saya bantu, Pak?” Tanya perempuan bermata bening itu.

Aku diam beberapa saat, pura-pura berpikir.

“Aku ingin tahu, apakah aku bisa berkenalan denganmu,” kataku langsung menusuk untuk memberikan efek yang tak terduga, “Maksudku, apakah kamu sudah menikah?”

Mendadak semua orang yang berada di dekat kami menoleh, termasuk rekan kerjanya yang tampan dan berambut klimis dan terlalu sering mengetuk-ngetukkan pulpennya di atas meja itu. Mendadak mereka menemukan tontonan paling absurd nan tabu untuk adat ketimuran. Perempuan yang kuajak bicara itu pun mengeryitkan keningnya, pandangan matanya jelas tertuju langsung pada mataku, ia tak lagi menampakkan ekspresi manis yang harus selalu ditampilkan untuk melayani customer. Jelas ia bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba, setelah percakapan yang begitu panjang, begitu intens, dan saling respon yang begitu kuat —akibat sentuhan tuntuntan untuk profesional— tak ada alasan untuk tiba-tiba berubah menjadi sok jaim dan kejam.

“Aku tahu ini tidak begitu sopan,” cepat-cepat aku menyambung pernyataanku sebelum terjadi kesalahpahaman lebih lanjut, “Setelah keluar dari ruangan ini kecil sekali kemungkinannya aku dapat berkenalan denganmu…” mendadak aku terpukau dan tak dapat mengatakan apa yang terlintas di kepalaku, sebab kulihat perempuan bermata bening itu menyunggingkan kedua sudut bibirnya—senyum sinis dan mengejek ku kira—.

Ia mengambil selembar kertas kecil dari laci mejanya, lalu dengan cepat mencoret-coretnya dalam tiga baris.

“Ini alamatku,” katanya menyerahkan kertas putih itu, “Kalau kamu serius, kamu bisa datang ke rumahku, kapan saja di akhir pekan.” Pandangan matanya sangat menusuk, bola mata yang jernih itu terlihat sangat dingin dan mengancam.

“Baiklah, aku akan datang.” Aku menerima kertas berukuran 8 kali 10 centi itu dan mendorong kursi mundur kemudian berdiri.

Perempuan itu pun berdiri, “Terima kasih.” Katanya.

***

Tiga hari berikutnya aku pun datang ke rumahnya. Setelah dipersilakan masuk oleh ibunya aku pun menunggu di ruang tamu, pandangan mataku tak bisa lepas keluar rumah melewati jendela besar yang terbuka dan mengalirkan udara dari pepohonan yang tumbuh di halaman.

“Seger, Ya?” Kata seorang laki-laki—yang kelak kemudian menjadi mertuaku—itu mengagetkan. Aku tak menyadari kehadirannya. Tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangku.

Nggih, Pak.” Aku pun meraih tangan kanannya dan menempelkan dahiku pada tangan yang kokoh itu.

Yang terjadi setelahnya sungguh membuatku kikuk dan tak nyaman. Kami hanya duduk saling berhadapan tanpa sepatah katapun mampu kuucapkan. Dan bapak perempuan yang ku kenal di kantor tiga hari yang lalu itu juga diam saja. Aku benar-benar mati kutu di hadapan bapak yang umurnya kira-kira 52 tahun itu. Ke-kikuk-an itu kelak selalu menjadi bahan tertawaan Wina—ternyata Wina memperhatikan kami berdua dari balik jendela gelap di ruang sebelah.

Dalam keadaan kacau yang membuat saat itu aku mengutuki kenekatanku datang ke rumah Wina, malaikat penyelamatku datang dengan membawa secangkir teh dan sepiring roti dalam sebuah nampan.

“Ini tehnya, Mas.” Tuturnya lembut dan sejuk.

“Maaf, Bu. Jadi merepotkan.”

“Ah ndak merepotkan, Mas.” Menyadari aku sangat kikuk di depan bapak Wina, ibunya berteriak, “Wina keluar sini, jangan berdiri di situ!”

—Tamat—

Perempuan Bermata Bening | Andy Riyan
Temanggung 28 November 2017

Foto Bercerita : Dunia Yang Sepi


​Terkadang aku hanya harus menuliskan apa yang kupikirkan untuk temani dunia yang sepi ini.

Malam telah begitu gelap ketika aku kembali. Dan malam telah terlalu gelap ketika meja dan pena tulis merah–teman terbaik ketika aku pulang–ini harus kuhadapi. Dan malam selalu telah menjadi sangat gelap ketika aku ingin berteman dengan mereka tuk kurangi sepi ini.

Sejujurnya ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu, tetapi…

Biarkan sajalah foto ini bercerita, cerita dalam diam… Di dunia ini ia mampu bertahan.

Hari-hari ku begitu berat, tetapi tetap kujalani dengan sepenuh hati. Hal terberat saat ini adalah aku masih tak mengerti apa peranku di dunia ini.

Desa Hujan, Temanggung 27 November 2017

Andy Riyan

Everyday Is Everything New

It’s very important to do everything wholeheartedly. I repeat it’s very important. As human being, we often lost in sight of our future and found that is very difficult to get back to we were before.

 

I am absolutely sure you know better than I did, that every day is everything new. It makes us delighted, doesn’t it? It always makes us feel like we always have another thing to do. We always have a certain amount of time and space to make dream comes true. Or another chance to begin wherever we want started to do. As we could not pull our self back to the way we began, but we still have a lifespan to start and make another ends we wanted to get in live.

Back then, when I was able to write constantly here in the world-away of madness, I can imagine that in the last day of the year I will have finished my book. But every day is everything new, right? And I didn’t think all these crazinesses will be affecting my daily basic. I have never counted these all before. May be for you this is normal, because you do all your life as let it flow. But for me— a man who always act as a true mathematician, I mean to be that true mathematician even though shall not be true, that everything in the world is logic and could be counted as dynamic flow that output is depend on input and also will be affected by some constrains— it was a sophistical wrong counting. However to arrive in this palpable discord, it costs nothing, no less than wasteful time though. So I must be proud of hard work that I’ve given wholeheartedly. Oh yeah, I’ll never be able to sorry for what I’ve been doing because I do all by myself wholeheartedly.

It’s very important to do everything wholeheartedly. I repeat it’s very important. As human being, we often lost in sight of our future and found that is very difficult to get back to we were before. So then we live in endless circles, like a headless chicken run away from their shadows. Professor Tolkien and Mr. Bilbo said : Not all those who wander are lost. And I mean not to be lost even though that I found is the time dipping me in the ocean of falseness and drowning my body and souls into the deep of the darkness in hearts of doubtful.

I wish I could tell you story that I mentioned above, the crazinesses that affected my daily basic before. But now it’s not the right time to, it shall right to tell you that I’m still alive and glad I still here with these world, “HELLO! 🙂 .” Now, what I’ve been doing? I set my goal to reading better, writing better. Because I believe if you could reached that goals the world will follow you, keep in touch and getting closer to you. All along I move from door to door and seeking what I can do to prove the logic I had is true.

So come to me, Dear! I will read you better! Come to me! Close to my hearts and souls then perfection in near our grasp even on the way belongs to us.

Winter di Desa Hujan, Temanggung,
21 November 2017

Andy Riyan

Note : Pictures are private documents

Kopi Fisika

Hai! Kopi apa yang kamu minum hari ini? Grade berapa? Disajikan dengan metode apa?

Hah pertanyaan macam mana pula ini? Kopi apa yang aku minum hari ini? Apa kopi memang harus punya nama-nama, ya? tidak bisakah jika aku hanya menyebutkan kopi saja? tidak bisakah jika aku bilang aku sudah minum kopi hari ini, 6 gelas, kalau kamu mau tahu. Tidak bisakah begitu saja? Walah untuk peminum kopi macam aku ini, menurutmu penting membicarakan grade dan metode? Minum kopi ya minum kopi saja.

Aku punya cerita, suatu hari, well… suatu hari seperti yang kamu duga, aku pergi ke sebuah kafe yang sangat modis bersama sahabat-sahabatku untuk menikmati, well, sajian kopi yang katanya sangat berkelas. Kafe itu sangat indah, dari luar sudah kelihatan sekali, desainnya mewah. Kaca-kaca bening yang tebal, berukuran besar dan tentunya bersih telah menjelaskan semuanya. Di situ terdapat meja dengan kursi-kursi yang berpasangan, terbuat dari kayu jati, ku kira, dipoles dengan plitur hingga mengkilat dan bercahaya oleh sinar mentari senja. Sudah banyak sekali pengunjung di sana, seandainya saja kami sedikit terlambat, kami tidak akan menempati tempat duduk yang paling nyaman itu. Tempat duduk berlatar sawah padi yang menghampar luas, sedang mentari senja tengah masuk ke dalam peraduannya untuk merapatkan dirinya yang lelah ke dalam pelukan sang malam.

IMG_20170921_165408.jpg

Begitu kami masuk, kami langsung berhadapan dengan meja pemesanan yang elegan, langsung disambut dengan senyum yang menawan. Hal yang paling menarik… terdapat banyak kopi dalam toples-toples (gelas jar) yang tersusun rapi dan sejajar. Sejenak aku terpana, ternyata ada banyak nama-nama di situ dan aku bingung mau minum kopi apa? Ada Gayo, Mandailing, Kintamani, Lombok, Java.. wah banyak sekali macamnya. Temanku pesan satu cangkir Kopi Gayo dengan French Kiss! Aku gak yakin mengapa temanku memilih itu dan aku pun turut ingin memesan kopi itu juga.

“Yang lain lah… jangan sama.” Ujar temenku dengan nada mencibir.

“Wah aku harus pesen apa ini?”

Yo sakarepmu, tapi ra keno podo!” Ia mengambil toples yang berisi Kopi Gayo itu dari tanganku. Aku pura-pura berpikir sambil menghirup green bean itu satu persatu. Baunya memang beda dengan kopi-kopi yang selama ini ku temui.

“Mandeling, Mbak. Satu” Kataku. Mbaknya tertawa. Karena heran, apa begitu lucu mengapa dia tertawa, aku kemudian mengambil toples yang ku maksud dan mengejanya lagi. Oh ternyata aku salah mengucap namanya.

Kami akhirnya memesan tiga gelas kopi dan segelas Es Jeruk! Iya ES Jeruk… satu temenku tidak doyan kopi dan gak ngerti harus belajar ngopi dari mana, makanya dia pesen Es Jeruk aja. Aku pikir lucu juga. Dan Kopi yang ketiga… ah lupa namanya, pesen kopi apa ya? Apa Java ya? Ah pokoknya aku lupa, yang aku ingat… 3 Gelas Kopi dan Segelas Es Jeruk itu harganya… 90 Ribu! Buseeet kopi apaan ini kok harganya seperti sudah menjajikan surga yang telah dirindukan. Menjanjikan Cyntia Bella di pelupuk mata.

Kami kemudian pergi menuju tempat di pinggir sawah itu, di bawah temaram senja sambil kangen-kangenan dan bergosip! Iya bergosip macem emak-emak rempong lupa belanja… Sepertinya dunia memang sedang terbalik seperti yang diucapkan temenku ketika bahas satu sinetron yang belum pernah aku tonton itu. Yang katanya, dari ceritanya yang kudengar, dunia sudah berubah… yang kerja si istri jadi TKI dan si suami kerjaannya bergosip selama menunggu kiriman tiba. Tapi keadaan itu, menghabiskan waktu, aku lewati dengan senang-senang saja, melupakan semua penat yang berminggu-minggu membebani relung pikirku, sambil berharap aku akan minum kopi yang sangat enak, berharap kopi paling enak di dunia.

Setelah menunggu lama, kopi pun tiba.

IMG_20170921_163132.jpg

Aku deg-deg-an, macam perawan yang di dekati lelaki cinta pertamanya, ketika menuangkan kopi itu kedalam gelas-gelas kristal yang cantik. Kopi macam manakah yang aku minum ini? Sebelum ku sruput, aku coba menghirupnya dengan perlahan, menikmati sensasi seperti para profesional –Edan pikirku, macam mana pula, mengapa aku harus akting begini? apa hidup memang harus palsu seperti ini ya?– Sruuuuuuuuuuup!! Kopi panas itu aku sruput.

Aku tertegun.

Diam.

Hening.

Sruuuuuuuuup! Aku seruput sekali lagi.

Aku berpikir apa yang salah dengan kopi ini? Apa yang salah dengan aku?

Aku menegakkan badan, bersandar pada punggung kursi. Melirik ke arah teman-temanku. Memandang senja yang tengah jatuh dalam merah jingga, langit menjadi ungu. Apa yang salah? begitu pikirku. Di hadapanku, sahabat-sahabat yang paling riang yang ku miliki, yang tak pernah menampakkan raut yang palsu, tenang-tenang saja. Wajahnya berseri-seri, kadang tersenyum dan tertawa. Mereka melanjutkan pesta minum kopi itu. Tetapi aku, terdiam di sudut dunia. Aku teransingkan dari duni ini. Aku sendirian di antara jutaan manusia.

Aku mencoba merenungkannya? Apa yang salah?

Jika aku harus percaya pada kekuatan rerata yang dibentuk oleh normalitas sehingga orang-orang yang berada pada sebaran yang jauh dari puncak lonceng kurva akan dianggap sebagai orang yang terbelakang, maka sesungguhnya aku sedang menghadapi kenyataan itu. Dan aku bukan jenis manusia yang mau diajak kompromi soal cita rasa, soal ideologi dan soal idealisme. Kemudian aku menyadari dengan rerata yang pada akhirnya dibentuk oleh orang-orang yang selamnaya akan bersebrangan dengan idealisme yang ku percayai, aku akan tergerus dan akan semakin terasingkan oleh peradaban.

IMG_20170921_163138.jpgKopi apa yang aku minum hari ini? Grade berapa? Disajikan dengan metode apa? Aku sulit percaya istilah-istilah ini telah membentuk rerata dan kategori baru dalam kamus-kamus normalitas dan semakin mengkerdilkan aku dalam dunia yang bertambah luas saja setiap detiknya.

Jadi apa kopi yang aku minum hari ini?

KOPI FISIKA!

IMG_20171001_120456_HDR.jpg

Hari ini aku membuat kopi dengan mengamati hukum gravitasi dan hukum pascal. Hukum pascal mengatakan, bahwa air akan merambat melalui celah-celah yang kecil, air akan memancar ke segala arah ke dalam ruang-ruang yang bebas, air akan mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah dan gravitasi menyebabkan segala benda akan jatuh sebanding dengan massa dan percepatannya. Beginilah aku membuat kopi itu, Kopi Fisika. Dari Kopi merah yang dipetik sendiri dari kebun, kopi pilihan. Di sangrai di tempat tetangga dengan menggunkan open sampai berwarna coklat. Di giling dengan mesin tepung dan inilah KOPI FISIKA. Sebab bagi penikmat kopi sepertiku, peduli setan, itu kopi macam apa, grade berapa dan disajikan dengan cara apa. Peduli setan! Bagiku sangat sederhana, ketika kopi memberimu kekuatan dan kepuasaan hingga mengalirlah nuansa-nuansa ilham, itulah sebenar-benar kopi yang aku butuhkan! APAPUN KOPIMU SELAMAT HARI KOPI INTERNASIONAL!!!

Kopi Fisika (C) Andy Riyan