Kopi Fisika

Hai! Kopi apa yang kamu minum hari ini? Grade berapa? Disajikan dengan metode apa?

Hah pertanyaan macam mana pula ini? Kopi apa yang aku minum hari ini? Apa kopi memang harus punya nama-nama, ya? tidak bisakah jika aku hanya menyebutkan kopi saja? tidak bisakah jika aku bilang aku sudah minum kopi hari ini, 6 gelas, kalau kamu mau tahu. Tidak bisakah begitu saja? Walah untuk peminum kopi macam aku ini, menurutmu penting membicarakan grade dan metode? Minum kopi ya minum kopi saja.

Aku punya cerita, suatu hari, well… suatu hari seperti yang kamu duga, aku pergi ke sebuah kafe yang sangat modis bersama sahabat-sahabatku untuk menikmati, well, sajian kopi yang katanya sangat berkelas. Kafe itu sangat indah, dari luar sudah kelihatan sekali, desainnya mewah. Kaca-kaca bening yang tebal, berukuran besar dan tentunya bersih telah menjelaskan semuanya. Di situ terdapat meja dengan kursi-kursi yang berpasangan, terbuat dari kayu jati, ku kira, dipoles dengan plitur hingga mengkilat dan bercahaya oleh sinar mentari senja. Sudah banyak sekali pengunjung di sana, seandainya saja kami sedikit terlambat, kami tidak akan menempati tempat duduk yang paling nyaman itu. Tempat duduk berlatar sawah padi yang menghampar luas, sedang mentari senja tengah masuk ke dalam peraduannya untuk merapatkan dirinya yang lelah ke dalam pelukan sang malam.

IMG_20170921_165408.jpg

Begitu kami masuk, kami langsung berhadapan dengan meja pemesanan yang elegan, langsung disambut dengan senyum yang menawan. Hal yang paling menarik… terdapat banyak kopi dalam toples-toples (gelas jar) yang tersusun rapi dan sejajar. Sejenak aku terpana, ternyata ada banyak nama-nama di situ dan aku bingung mau minum kopi apa? Ada Gayo, Mandailing, Kintamani, Lombok, Java.. wah banyak sekali macamnya. Temanku pesan satu cangkir Kopi Gayo dengan French Kiss! Aku gak yakin mengapa temanku memilih itu dan aku pun turut ingin memesan kopi itu juga.

“Yang lain lah… jangan sama.” Ujar temenku dengan nada mencibir.

“Wah aku harus pesen apa ini?”

Yo sakarepmu, tapi ra keno podo!” Ia mengambil toples yang berisi Kopi Gayo itu dari tanganku. Aku pura-pura berpikir sambil menghirup green bean itu satu persatu. Baunya memang beda dengan kopi-kopi yang selama ini ku temui.

“Mandeling, Mbak. Satu” Kataku. Mbaknya tertawa. Karena heran, apa begitu lucu mengapa dia tertawa, aku kemudian mengambil toples yang ku maksud dan mengejanya lagi. Oh ternyata aku salah mengucap namanya.

Kami akhirnya memesan tiga gelas kopi dan segelas Es Jeruk! Iya ES Jeruk… satu temenku tidak doyan kopi dan gak ngerti harus belajar ngopi dari mana, makanya dia pesen Es Jeruk aja. Aku pikir lucu juga. Dan Kopi yang ketiga… ah lupa namanya, pesen kopi apa ya? Apa Java ya? Ah pokoknya aku lupa, yang aku ingat… 3 Gelas Kopi dan Segelas Es Jeruk itu harganya… 90 Ribu! Buseeet kopi apaan ini kok harganya seperti sudah menjajikan surga yang telah dirindukan. Menjanjikan Cyntia Bella di pelupuk mata.

Kami kemudian pergi menuju tempat di pinggir sawah itu, di bawah temaram senja sambil kangen-kangenan dan bergosip! Iya bergosip macem emak-emak rempong lupa belanja… Sepertinya dunia memang sedang terbalik seperti yang diucapkan temenku ketika bahas satu sinetron yang belum pernah aku tonton itu. Yang katanya, dari ceritanya yang kudengar, dunia sudah berubah… yang kerja si istri jadi TKI dan si suami kerjaannya bergosip selama menunggu kiriman tiba. Tapi keadaan itu, menghabiskan waktu, aku lewati dengan senang-senang saja, melupakan semua penat yang berminggu-minggu membebani relung pikirku, sambil berharap aku akan minum kopi yang sangat enak, berharap kopi paling enak di dunia.

Setelah menunggu lama, kopi pun tiba.

IMG_20170921_163132.jpg

Aku deg-deg-an, macam perawan yang di dekati lelaki cinta pertamanya, ketika menuangkan kopi itu kedalam gelas-gelas kristal yang cantik. Kopi macam manakah yang aku minum ini? Sebelum ku sruput, aku coba menghirupnya dengan perlahan, menikmati sensasi seperti para profesional –Edan pikirku, macam mana pula, mengapa aku harus akting begini? apa hidup memang harus palsu seperti ini ya?– Sruuuuuuuuuuup!! Kopi panas itu aku sruput.

Aku tertegun.

Diam.

Hening.

Sruuuuuuuuup! Aku seruput sekali lagi.

Aku berpikir apa yang salah dengan kopi ini? Apa yang salah dengan aku?

Aku menegakkan badan, bersandar pada punggung kursi. Melirik ke arah teman-temanku. Memandang senja yang tengah jatuh dalam merah jingga, langit menjadi ungu. Apa yang salah? begitu pikirku. Di hadapanku, sahabat-sahabat yang paling riang yang ku miliki, yang tak pernah menampakkan raut yang palsu, tenang-tenang saja. Wajahnya berseri-seri, kadang tersenyum dan tertawa. Mereka melanjutkan pesta minum kopi itu. Tetapi aku, terdiam di sudut dunia. Aku teransingkan dari duni ini. Aku sendirian di antara jutaan manusia.

Aku mencoba merenungkannya? Apa yang salah?

Jika aku harus percaya pada kekuatan rerata yang dibentuk oleh normalitas sehingga orang-orang yang berada pada sebaran yang jauh dari puncak lonceng kurva akan dianggap sebagai orang yang terbelakang, maka sesungguhnya aku sedang menghadapi kenyataan itu. Dan aku bukan jenis manusia yang mau diajak kompromi soal cita rasa, soal ideologi dan soal idealisme. Kemudian aku menyadari dengan rerata yang pada akhirnya dibentuk oleh orang-orang yang selamnaya akan bersebrangan dengan idealisme yang ku percayai, aku akan tergerus dan akan semakin terasingkan oleh peradaban.

IMG_20170921_163138.jpgKopi apa yang aku minum hari ini? Grade berapa? Disajikan dengan metode apa? Aku sulit percaya istilah-istilah ini telah membentuk rerata dan kategori baru dalam kamus-kamus normalitas dan semakin mengkerdilkan aku dalam dunia yang bertambah luas saja setiap detiknya.

Jadi apa kopi yang aku minum hari ini?

KOPI FISIKA!

IMG_20171001_120456_HDR.jpg

Hari ini aku membuat kopi dengan mengamati hukum gravitasi dan hukum pascal. Hukum pascal mengatakan, bahwa air akan merambat melalui celah-celah yang kecil, air akan memancar ke segala arah ke dalam ruang-ruang yang bebas, air akan mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah dan gravitasi menyebabkan segala benda akan jatuh sebanding dengan massa dan percepatannya. Beginilah aku membuat kopi itu, Kopi Fisika. Dari Kopi merah yang dipetik sendiri dari kebun, kopi pilihan. Di sangrai di tempat tetangga dengan menggunkan open sampai berwarna coklat. Di giling dengan mesin tepung dan inilah KOPI FISIKA. Sebab bagi penikmat kopi sepertiku, peduli setan, itu kopi macam apa, grade berapa dan disajikan dengan cara apa. Peduli setan! Bagiku sangat sederhana, ketika kopi memberimu kekuatan dan kepuasaan hingga mengalirlah nuansa-nuansa ilham, itulah sebenar-benar kopi yang aku butuhkan! APAPUN KOPIMU SELAMAT HARI KOPI INTERNASIONAL!!!

Kopi Fisika (C) Andy Riyan

Advertisements

April and May

Long and far away he had been from you.
And you are lying next to him now
For four months I have missed
The places where you used to go.
I still see your footsteps from behind
Not knowing where to go
And what to find.

O when will I see
The skies no longer grey,
When God makes April and May fade away.

Shouldn’t I look up the sky
And find a little part of the universe,
Where he and all my loved ones
Are there, in His loving care Embrace

April and May, written by Damayanti
A guest writer, a good friend and an imaginative person.
If you want to know more about her, send an email to yantidama260[at]gmail[dot]com

deucesPenulis tidak seharusnya menjelaskan sair atau puisi yang ditulisnya, karena pembaca punya hak untuk memiliki khayalannya sendiri tentang isi puisi dan syair tersebut. Dan karena aku bukan penulisnya, biarkanlah aku menghancurkan mimipi-mimpi dan khayalan pembaca yang mampir di sini. Perlu di perhatikan, ini adalah intrepretasiku akan puisi yang di tulis oleh teman saya, Damayanti.

Pertama kali aku membaca puisi ini pagi sekali tanggal 11 September, hari itu hari Senin. Kebetulan ponselku tersambung dengan Wi-fi tempat kerja –biasanya sengaja tidak disambungkan, untuk menghindari gangguan—karena harus mengirim file yang cukup besar kepada teman. Nah E-mailku itu masih settingan pabrik, maksudnya, notifikasi akan muncul jika ada koneksi Wi-Fi. Ketika sebuah notifikasi muncul di layar dengan ringkasan sekilas, aku terkejut dengan lirik yang tidak biasa, pilihan kata yang sungguh indah. Aku kemudian menyempatkan untuk mencuri waktu guna membaca puisi ini. Kemudian setelah diskusi sebentar, penulisnya jujur… kalau baris pertama itu adalah narasi dari William Shakespeare. Aku tidak peduli dengan hal itu, seperti yang kemudian ia jelaskan kalau baris kedua sampai baris terakhir adalah murni imajinasi dan karyanya. Beginilah interpretasi ku mengenai puisi ini.

Long and far away he had been from you. And you are lying next to him now. Telah lama, telah jauh dia dari mu. Setelah sekian lama perpisahan itu, kini kau bersandar padanya. Ketika kau memiliki seseorang yang sangat sepesial yang kini kembali, kau hanya ingin bersandar di sisinya menumpahkan segala kerinduan setelah perpisan yang terlalu lama ini. Kalau kata The Titans, terlalu lama kau jauh, hingga waktu pasti kan berlalu. For four months I have missed the places where you used to go. Benar empat bulan telah berlalu, dan aku kehilangan semua memori dan kenangan akan tempat-tempat dimana kamu biasanya pergi menghabiskan keseharianmu, mengukir cerita dan kisah yang tak pernah kita sadari itu akan berkahir dengan tiba-tiba.

05-770x425I still see your footsteps from behind. Not knowing where to go and what to find. Jejak-jejakmu masih aku lihat, jejak-jejak ketika aku berjalan di belakangmu, mengikuti kemana kamu pergi, mengikuti ketika kamu menunjukkan padaku duniamu yang tidak pernah kita sadari itu akan menjadi begitu menyakitkan kelak, seperti sekaranng ini. Sebab kini ketika aku melihat kepada kenangan, kepada jejak-jejak yang pernah tertuliskan, kebingungan hanya yang ku ketahui, aku tidak tahu kemana aku harus beranjak dan pergi menumukan dirimu lagi untuk ku ikuti. Brengsek! ini… ini seperti filosofi dari blog jejakandi, kau akan kembali membaca jejak yang pernah kau tinggalkan kelak, sebab itulah cerita harus tertuliskan. Dan aku tak pernah menyadari ini akan menjadi begitu menyakitkan untuk dikenangkan.

O when will I see, the skies no longer grey. Oh kapan lagi aku akan melihat langit tak lagi kelabu, ini bukan sebuah pertanyaan, tapi sebuah ungkapan bahwa kini kau sedang dalam terang matahri dengan birunya langit yang menghampar, bersih tak berawan. Karena, when God makes April and May fade away. Tuhan telah mengantarmu melalui April dan Mei, telah melenyapkannya, telah melenyapkan April dan Mei yang kelabu, karena kini kau telah sampai pada September yang biru. Oke aku gagal paham dengan September yang biru, April dan Mei yang kelabu. Sebab sepanjang tahun duniaku selalu kelabu, ya sejak badai bulan Desember beberapa tahun yang lalu, setelah hanya senja dan penyesalan yang tiada akan pernah ada gunanya. Seluruh isi dadaku seolah meloncat membaca kata kelabu, shade and grey, shadows of mistakes. Well, aku terlalu cepat baper dengan kata grey ini, dan gagal paham karena dunia yang berwarna itu kini hanya tinggal kenangan. Namun andaikan ini adalah pertanyaan, seperti yang selalu aku imajinasikan, aku seperti orang bodoh yang selalu berharap langit kan menjadi biru, padahal biru lah langit adanya namun tidak pernah menjadi biru karena April dan Mei selalu ada sepanjang tahun dan Tuhan tidak mungkin akan menlenyapkan dua masa yang kelabu ini untukku.

Oleh karenanya, Shouldn’t I look up the sky, and find a little part of the universe, seharusnya aku tidak menatap kepada langit, ataukah haruskah aku? Untuk menemukan sekeping saja dari potongan-potongan dunia, —where he and all my loved ones, are there, in His loving care Embrace—di mana dia dan semua orang yang aku cintai berada disana dalam dekapan, dalam pelukan cinta Tuhan. Haruskah aku mencari kepingan-kepingan itu? jika aku memag harus maka itu adalah kematian, sebab aku tak akan pernah memahami sekeping saja dari potongan alam semesta. Dan mungkin aku hanya akan memahaminya ketika kematian menjemputku di… Well, Neraka.

*Edit dan Revisi

Permisi… Aku baru di tabok sama penulisnya. Oh iya, maksud saya, baris pertama puisi ini sekarang adalah original karya penulisnya a.k.a. Mbak Damayanti. Dan puisi yang berjudul April dan Mei ini sudah lengkap ditulis dengan darah dan tangis si penulisnya (*sumpah dia curhat ke akunya gitu… puisi ini tentang… *plak ditabok lagi sama penulisnya.  Oh aku tidak boleh menghancurkan khayalan pembaca.) 

Mengunjungi Pantai Indrayanti

On This Day 5 years Ago : Math Indrayanti Tour. The story is written by Andy Riyan, based on true history

15 September 2012 hingga 17 September 2012

Mengunjungi Pantai Indrayanti

Perjalanan ini terlaksana di hari Sabtu tanggal 15 september 2012. Dengan mengendarai sepeda motor berbarengan… Kami membuat cerita yang sangat fenomenal ini. Keberangkatannya sesuai rencana… Kita ngumpul di kampus terlebih dahulu kemudian menuju ke rumah salah satu dari temen kita.. Harois(usil)Mawati. Dalam perjalanan, ketika sedang asik-asiknya, ada beberapa oknum polisi sedang melakukan ritual razia orang jelek, SIM dan STNK. Dan ini konyol, ada temen kita yang kena teguran polisi gara-gara belum bayar pajak, sebut aja si teteh Teti.


“Bukan tugas polisi untuk memungut pajak,” Kata pak polisi yang berbadan sangat gede, “Tapi tolong jadi warga negara yang baik dengan membayar pajak.”

“Ya, Pak.” Jawab Teteh Teti dengan mlu-malu.

Musibah lain jatuh dan kena atas diri Risna, dia tidak punya SIM, 40 ribu rupiah pun melayang nyampe tuh di kantong oknum. Dan setelah menit-menit yang tidak sebentar, akhirnya sampailah kami di alun-alun desa eh kota Wonosari, maksudnya. *Peace. Di sana kami dijemput oleh Rina, perempuan ayu asli South Mountain, menuju tempat Harois–usil–mawati, taraaaaaa dan sampailah kita di tempat tujuan yang pertama dari serangkaian agenda yang terencana.

Di sana acaranya pun sungguh spektakuler, dari macem ngobrol, nyanyi-nyanyi dan gitaran sampai burung milik bapaknya Haro pun juga ada yang stress –ini burung beneran jangan ngaco lu semua– dan kebersamaan kami di sana menjadi lengkap karena ada acara makan barengnya.. juga rujakan.. thanks a lot for Harois and Family.

Setelah waktu menunjukkan pukul 15:20, dan semua awak tour sudah sholat Ashar, di lanjutkanlah perjalanan kami itu menuju agenda berikutnya, dengan membawa bekal 1 termos nasi –rencananya buat makan malem sambil bakar bakaran–. Di tengah perjalanan, ya lagi-lagi di tengah perjalanan, kita mampir dulu ke tempatnya Rina –betul Rina yang tadi menjemput kami di alun-alun. Thanks a lot Rina and Rina’s Mother, atas penyambutannya yang ramah.

Lalu wuuuussssss! diteruskanlah perjalanan itu menuju tempat ke dua dan cerita pun menjadi lebih indah walau tanpa seorang anak yang gagah berani sekalipun.

Ketika sampai di suatu perjalanan, kami berputar-putar mencari tempat yang paling pas untuk berkumpul ria, ada dua personil yang hilang sebut saja Agita dan Haris. Dua manusia dengan dunianya yang unik. Ternyata oh ternyata… mereka tertinggal di belakang, dan nyasar ke pantai Baron. Parahnya kami baru sadar, pas kami sudah sampai di tujuan, sudah masuk waktu Maghrib pula.. Lalu Ahmad dc dan Hasan bergerak mencari dan menjemput mereka.. entah bagaimana ceritanya, kamu tahu sendiri di pantai bagaimana sinyalnya. Itu sekilas perjalanannya hingga di tempat yang sudah direncanakan jauh hari saat halal bi halal. Thanks Musa dan Satio, survei mu cukup, walau tak bisa dibilang sempurna.


Di malam hari, tidak di malam yang sesunyi ini, sehabis Isya’ kami mengadakan acara bakar-bakar ikan, yang sebelumnya sudah Dwi sama DC (Dwi Cahyanto) beli di Baron.. thanks a lot brother.. Bakar-bakar ikannya ada yang salah ternyata, Ladies and Gentlemen. Alhasil ikannya pada ancur dan gosong.. tapi ada beberapa yang berhasil diselamatkan, kamu tahu sendiri siapa sang penyelamatan itu 😀 coba tebak! Ha ha ha

Ikan bakar selesai. Kita makan bareng-bareng di pantai. Woii.. ini yang paling keren yakinlah sumpah! Aku ora ngapusi!

Acara demi acara terus berlanjut.. Kita teriak teriak lepas.. bernyanyi gembira dan curhat sampai larut malam. Hingga hanya tersisalah kami berlima ( saya, risna, dwi, dc dan hasan ) yang melakukan ritual wajib militer.. tidur di pantai woooh..

Kemudian di pagi hari, sehabis shubuh kita langsung menjemput sunrise di tepi timur.. dengan memajat tebing tebing yang tinggi.. lalu berlanjut main air dan, asik pokoknya,

Dan di siang harinya sekitar jam 8 tanggal 16 September kami memutuskan untuk pulang. Di perjalanan, kami singgah di warung buat makan mie ayam dan bakso.. dan pulanglah.. begitu ceritanya…

Masih (Mentari Yang) Sama

Masih di bawah mentari yang sama, aku menjalani kehidupan ini tanpa rasa yang mengudara. Sial masih mentari yang sama juga; aku mulai meragu, meski yang lalu ia telah temaram menjadi senja. Di balik mentari yang sama ini aku masih tidak menemukan apa-apa selain hanya kelabu yang kian luas menghampar menyelimuti masa depan yang kian tak tertakar.

Esok yang bimbang sepantasnya akan memudar berganti dengan pencerahan yang terbit dari kedalaman jiwa, setelah sore ini berjumpa tuk memulai sesuatu yang tak terkira sebegitu jauh kita telah memulainya.

Banyak yang datang, banyak yang pergi. Begitulah hidup selalu berjalan. Tetapi kita tak bergerak menuju satu titik pun untuk menjadi sebuah kalimat, selimut ragu pada apa yang telah kita mulai dan bagaimana arah kita menuju, masih menentukan langkah-langkah itu.

Suatu hari, di kala pagi menghembuskan napasnya yang pertama, bintang-bintang pucat masih mengerling dalam keremangan langit yang kelabu.  Setetes hujan dari mimpi mengilhamiku untuk bergerak meninggalkan pembaringan menuju masalah-masalah lain yang membuat kerumitan kian sulit teruraikan. Napas angin itu membawa sebuah pesan pada ku, ia membisikkan sesuatu yang membuat keraguan yang tak tertakar semakin mengakar mencengkram jiwa-jiwa yang berharap yang masih tersisa, begitu kuat cengkramannya, hingga lepas darinya adalah seolah melepas daging hidup dari tulang-tulangnya.

“Kau telah kehilangan kebahagiaan murni… Sungai-sungai telah menjadi kering dalam jiwamu  sebagaimana kau semakin tersesat dalam mengembara. Lagu yang kau ingat, ia mengalir dari zaman purba… adalah sebuah pesan bahwa kedamaianmu terenggut oleh ingatanmu sendiri begitu pula manisnya rumput yang mengisi rongga-rongga dada adalah cermin dari kerinduanmu, ia telah tinggal di palung hati yang terdalam. Lembutnya angin yang menyentuh jemarimu adalah sebuah pesan bahawa sentuhanmu telah hampa, terkikis oleh syair bisu, tak seorang pun mengenangkannya, kau akan terlupakan.”

“Jika dengan kehampaan aku tidak bisa menyentuhmu, Kasih!” kataku mendebat “Tentu kematian tak akan mengakhiri semuanya. Terimakasih atas bisikanmu yang manis itu, Kekasih! Sungguh manis dan aku sangat terhina! Apa katamu tadi? Kebahagiaan murni? Kebahagiaan murni apanya?! Omong kosong! Rupanya kau sekarang makin lihai ya untuk berdusta!”

“Tak terpikirkan sama sekali olehku, jika aku merindukan kedamaian, di terik dan keringnya hatiku, jangankan sungai yang akan kering, salju abadi di kutub utara pun pasti mencair dan habis kedalam berjuta-juta rongga yang tersebar pada pertemuan dan kehilangan… Palung hati yang terdalam apanya? Kau terlalu banyak bicara! Seolah mampu mengukur kedalaman hati manusia! Kegelapan hatiku tak selesai hanya pada palung-palung tak berdasar, ia lebih jauh dari kehampaan yang paling gelap sekalipun sebagaimana gelapnya dunia oleh matahari yang telah menjadi supernova.

Tentang Dua Hal : Manis dan Pahit

Yang manis jangan buru-buru kau telan. Yang pahit jangan buru-buru kau muntahkan. Begitu kata peribahasa.

Hidup ini memang tentang urusan perut, tetapi menikmati segala rasa dari getir dan pahitnya kehidupan adalah sebuah pengalaman yang berharga. Suatu hari nanti segalanya akan menjadi berarti. Yang pahit akan menjadi pelajaran dan yang manis bisa jadi hanya menguntai kenangan.
Karena belum tentu yang manis di lidah adalah nyaman untuk terkandung dalam perut, begitu juga belum tentu yang pahit di lidah tak dibutuhkan oleh tubuh kita. 
Tetapi sudah barang tentu apa yang di butuhkan oleh perut adalah rasa kenyang. Kenyang oleh makanan, kenyang oleh pengalaman, oleh sebab itu manis dan pahit adalah hakikat yang tak terpisahkan.
Jika engkau menelan yang manis sudah berang tentu engkau membutuhkan yang pahit, begitu pula ketika engkau memuntahkan yang pahit engkau perlu juga memuntahkan yang manis.
Manis dan pahit hanyalah soal kita menikmatinya. Tetapi soal menikmati, kita membutuhkan seluruh elemen yang ada. Hidup ini hanyalah tentang rasa syukur dan bagaimana cara mensyukurinya. Syukuri apa yang ada dan lakukan apa yang kita bisa untuk dapat terus bisa bersyukur tentang apa yang ada dan bisa kita perbuat lebih banyak untuk yang ada.
Tentang Dua Hal : Manis dan Pahit
©Andy Riyan

Terimakasih (2)

Terimakasih untuk jiwa-jiwa
Yang mencintaiku dengan tulus
Terimakasih wahai jiwa-jiwa
Yang mencoba mencintaiku dengan makna

Meski aku tak menjanjikan
Jiwa-jiwamu kan berbalas

Tapi percayalah…
Cinta yang benar akan bersama
Yang Maha Benar

Dan jika engkau mencintai dengan benar,
Maka engkau berjalan diatas kebenaran

TERIMAKASIH..!!!

©Andy Riyan

​If you keep hiding yourself behind your name, I will never know you, Girl. However if you need me to know you only when you are wearing a mask, I didn’t mind it. And I no need to see your face to know that you are look upon me. I no need to see your smile to know that you are happy to stand beside me. I see the stars will always shine and spark even if I died. I just want to write these things happily and after nothing but joy.

Update status dulu lah…

Akhirnya aku sudah mewujudkannya untuk mengganti tema setelah melalui galau demi galau. Dengan diiringi ‘Separuh Aku’ -nya NOAH aku menuliskan status ini, lagu itu aku representasikan untuk tema yang lalu, ‘Scrawl’ aku ingin Scrawl tak pernah merasa sendiri karena aku selalu bersamanya… wihihihi.

Setelah dipikir-pikir; kebanyakan pembaca blog jejak andi ini membancanya menggunakan aplikasi resmi dari wordpress atau menggunakan fitur wordpress reader yang tersedia, jadi sepertinya pergantian tema tidak terlalu berpengaruhbagi mereka.

Yah beginilah tampilan blog jejakandi yang sekarang, belum ada headernya… besok lah tak buatin header biar terlihat lebih sesuai. Yak untuk pembaca yang pengen berkomentar atau menyampaikan apa saja terkait perubahan tema ini… monggo saya persilakan, mau menuliskan pesan dan kesan juga monggo dan kalau ada pertanyaan juga saya persilakan untuk meninggalkan pertanyaannya di kolom komentar atau kirim e-mail ke alamat ini : siapaandyriyan[at]gmail[dot]com

Sekian dan selamat malam Amigoooooos!!!