Guruku Adalah Setan

“Sinau kok ora karo guru, berarti sinau karo setan.” Kata ibuku beberapa hari yang lalu ketika kami sedang duduk-duduk di ruang makan. Aku bercerita kepada ibuku kalau sekarang rasanya aku mulai menyesali masa mudaku yang hilang entah kemana. Seharusnya ada banyak hal yang bisa ku pelajari di masa- masa yang masih, katakanlah, selo, sempat, ada banyak waktu luang untuk membacanya, untuk menekuninya sebagai pelajar full-time.

Sejak aku telah berjanji kepada diriku sendiri, bahwa aku tidak akan melakukan perbuatan yang akan aku sesali, aku pun menegaskan bahwa, sekarang pun masih belum terlambat. As vivid says “Long life study.” Aku masih bisa belajar secara mandiri, berguru pada alam, berguru pada buku-buku dan bermain-main dengan apa yang aku pikirkan. Kemudian tibalah pada saat-saat seperti ini, aku mesti bertingkah seperti pelajar yang sesungguhnya. Sudah terpikirkan di benak ku sekarang untuk memulai membaca ngemil, seperti yang disarankan Pak Hernowo Hasim, lain kali aku tuliskan review bukunya, Free Writing, yang sebetulnmya sudah selesai ku baca dan buatkan reviewnya, tapi masih ada di jurnal. Dari membaca ngemil itu pun aku juga ingin mengikuti teknik yang dikemukakan oleh Pak Hernowo, yaitu ‘Mengikat Makna’. Teknik itu beliau pelajari dari penulis-penulis yang kemudian ia terapkannya dan telah dijabarkan secara ringkas dalam buku-bukunya. Secara garis besar beliau memahaminya dari perkataan Khalifah Ali Bin Abi Thalib Karamallahu Wajha (599-661 M) : “ Ikatlah Ilmu dengan menuliskannya.”

Lebih Lanjut, Pak Hernowo, menyampaiakn perkataan Imam Syafi’i (767-819M) :”Ilmu itu bagaikan binatang buruan, sedangkan pena adalah pengikatnya. Maka, ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Alangkah bodohnya jika kamu mendapatkan kijang (binatang buruan) tetapi kamu tidak mengikatnya sehingga akhirnya binatang buruan itu pun lepas kembali.”

Tetapi lagi kata ibuku, belajar tidak dengan seorang guru adalah belajar dengan syetan. Aku membaca ngemil, belajar dari alam, belajar dari orang-oarang yang aku temui, belajar dari buku yang ada seperti idolaku Musashi, Ronin di zaman Shogun Tokugawa, lalu aku pun mulai menuliskannya, pertanyaannya siapa guruku? Guruku adalah SETAN!

Salam hangat dari saya Andy Riyan, tulisan selanjutnya, insallah mengenai para perusak dan orang-orang muslih.

Temanggung, 9 Februari 2018

Note :

  1. Bisa direnungkan, Guruku adalah Setan? atau Setan adalah Guruku?
  2. Gambar fitur The Crabby Cook
Advertisements

Aku tak pernah mewakili perasaan siapa pun ketika jatuh cinta. Namun,  lebih sering, aku tidak mewakili diriku sendiri ketika maju selangkah menuju apa yang ku cintai. Semua puisi yang merangkai kisahnya adalah bukti yang paling otentik mengenai perasaan itu dan prosa yang merangkai perjalanannya adalah bukti yang paling munafik akan semua hal itu.

Terkuras Sudah Pikiranku

“Kalau begini kapan aku ketemu dengan calon istriku…” itu adalah hal yang sering aku keluhkan ketika menyadari bahwa pikiranku terkuras untuk banyak hal. Rasanya aku terlalu overwhelming dengan banyak pekerjaan. Dan kalau terus begini, sulit sekali bagiku untuk mencapai satu level lagi yang lebih tinggi.

Rasanya pun sudah lama sekali tidak menulis di blog, karena akhir-akhir ini aku sibuk sekali dengan banyak kegiatan. Pekerjaan yang bertumpuk-tumpuk dan tiada habisnya menyita waktu dari pagi hingga malam. Ada banyak acara kondangan. Beberapa perjalanan dinas, keseringan ada acara pergi njenguk temen yang lahiran bla bla bla… Adalah alasan yang paling klasik ketika seseorang kembali menuliskan buah pikirannya di blog. Yah bagaimana lagi sih, karena itu memang kenyataannya. Dan sekarang Ijinkan aku untuk memakai alasan klasik ini untuk yang ke sekian kalinya. Udah sering, ya, kamu kondangan, kapan nih gilirannya di kondangani? Eh! Njenguk temen lahiran ya? Kapan eh kamu melahirkan! Amsyoooong aku laki cuk!

Dulu aku berfikir setelah selesai kuliah aku bekerja dari jam-jam tertentu hingga jam-jam tertentu juga. 8 jam sehari tidak masalah begitu. Setelah selesai kerja aku bisa memanjakan diriku berselancar dalam literasi dan buku-buku. Kemudian mencurahkan pikiranku dalam tulisan-tulisan, membuat sebuah karya atau hanya sekedar berinteraksi di blog.

Hah… di kehidupan ini ternyata ada saja hal yang menyita waktu hanya untuk sekedar berselancar di wordpress. Sebetulnya aku sangat menikmati saat-saat ketika menggulung layar membaca tulisan-tulisan kece yang nongol di WP Reader; tidak seperti dulu, blog walking rutin saya lakukan, kali ini blog walking terasa hal yang begitu langka buatku… Maaf jarang blogwalking seperti dulu dan jarang berinteraksi. Padahal blog walking dan berselancar di wordpress adalah hal yang paling positif yang pernah saya dapatkan selama bermain gawai dan internet. Tapi ah sudahlah… sekarang mungkin memang ini fase-nya, tahap ketika blog jejakandi ini menjadi sebuah instrumen atau medium untuk melepaskan penat dan mereduksi beban di pikiran. Subhanalloh, kepala sekecil ini ternyata bisa memikirkan banyak hal, Ya? Subhanalloh, dengan otak sekecil ini, aku masih saja mau memikirkan hal-hal yang mungkin aku tak akan sanggup jika dalam kesempatan yang sama, aku sadar bahwa pikiran-pikiran itu hanya sampah yang faedahnya cuma sedikit. Subhanallah… masih sadar, aku memikirkan banyak hal sampai yang tak berfaedah pun, masih mau mencurahkan di sini. Ah begitu banyak yang aku pikirkan.

Pernah suatu ketika aku sempat memikirkannya untuk mengolah semua catatan harian di buku-buku, mengolah banyak file yang berserakan di drive sedemikian rupa mencari benang merah dari pikiranku. Namun nyatanya sekarang itu menjadi angan yang sungguh indah untuk terwujud.

Perasaan ini mulai membebaniku, ketika aku menemukan kenyataan ini tidak pernah sesuai dengan harapanku. Dulu aku berpikir, aku hanya perlu bekerja untuk mengisi kehidupanku, kemudian setelahnya aku hanya perlu memusatkan pada impian dan cita-cita… namun, ternyata aku bukan anak-anak lagi. Ada banyak tanggung jawab di luar pekerjaanku. Dan rasanya kemanusiaanku bakalan terus meredup kalau terus begini, semua yang aku lakukan ini tidak sesuai dengan passion-ku. Aku perlu menata dan membagi ide ini sehingga aku bisa tetap fokus pada tujuan yang sesungguhnya.

Apakah aku menyerah sekarang dengan kenyataan ini? Tidak aku tidak menyerah, hanya saja rasanya aku butuh sesuatu untuk membuat kehidupanku lebih tertata.

Lebih tertata… ini berarti kau sedang merasa sangat berantakan sekarang? Iya. Aku merasa sangat kacau. Pikiran ini rasanya terus terkuras dan kadang aku merasa bosan dan jenuh dengan semua yang aku lakukan. Gak cuma sekedar bosan atau jenuh… tapi ‘enegh’. Sebetulnya sih, hal-hal seperti ini bisa aku atasi ketika aku bertemu dengan sahabat-sahabatku. Aku menganalogikan mereka sebagai charger bagi smartphone android. Namun charger yang sering aku gunakan ini ternyata hanya charger pinjaman. Tidak mesti sebulan sekali bisa mengisi gairah dan semangatku. Padahal aku membutuhkannya setiap hari. Itulah yang aku pikirkan, itulah solusi yang aku butuhkan, sahabat dua puluh empat jam. Ketika memikirkannya… entahlah rasanya aku membutuhkan seorang istri yang bisa menjadi sahabatku. Rasanya hidupku akan sulit tertata jika belum memiliki seseorang yang demi dirinya aku akan bekerja sangat keras dan menikmati semua yang ku lakukan, yang demi dirinya aku akan terus meluapkan kegembiraan dan rasa cinta yang tak habis, yang demi dirinya energi-energi alami dalam diriku bisa terus berlipat sebagimana energi yang dimiliki orang-orang yang dinaungi matahari, yang dimiliki para Cardinal Fire, para Arian. Ya… walau memang aku menyukai apa yang aku lakukan, tapi jika begini-begini saja, tenyata bisa bosan juga nih otak. Daaaaaaaaaaaaaaaah capek, cukup sampai di sini dulu tulisannya.

Saya Andy Riyan, beginilah postingan pertama saya di bulan Februari tahun 2018.

Eh.. Sudah Februari aja ya? Kayaknya kudu siap-siap membuat daftar reading list lagi nih… Ada saran? Nonfiksi boleh, fiksi juga boleh.

Salam!

Sebuah Prosa : Sayap Sang Waktu

“Jatuh cinta padanya? Oh tidak!” katamu pada sahabatku ketika kau ditanya perihal tentangku.

Sahabatku itu pun melanjutkannya, menirukan kata-katamu, lengkap dengan ekspresi marah dan semua gerak tubuhmu : “Perlu hati yang telah hancur berkeping-keping, untuk dapat jatuh cinta padanya, perlu tangis yang telah habis untuk dapat memahaminya, perlu ruangan yang telah meledak dalam semestaku agar dia mampu masuk kedalam hatiku.”

Itu adalah sebuah cuplikan obrolan yang terjadi di sela-sela istirahat makan siang, ketika aku menemukan fotomu bebrapa tahun yang lalu dan membicarakannya dengan sahabatku. Bajingan! Sahabatku itu memang sungguh bajingan, ia selalu tahu cara mengolok-olok diriku.

Tentang fotomu itu, aku hanya ingin membayangkan betapa bagus pemandangan itu. Sebuah landskap yang luas. Bagai permadani lautan zamrud, menghampar di depan mata. Tetapi hal terindahya adalah senyumanmu yang terlukis itu begitu tulus menatap padaku. Entah sebetulnya senyum tulus itu menatap siapa, yang jelas itu adalah senyuman di depan kamera, dan aku bukan tukang-foto-nya.

Pernah kau bercerita–walau aku tak pernah tahu—,sebetulnya kepada siapa kau bercerita, betapa kau sungguh menyukai nyanyian hujan. Pernah kau menceritakannya bahwa kau merindukan angin pujaan yang berhembus bersama butiran-butiran bening itu, sementara aku adalah pembaca dari kesunyian. Perlahan aku menelusup di antara lembaran-lembaran dalam kehidupanmu dan kemudian menyadari bahwasannya kau adalah perindu yang kesepian di tengah orang-orang yang mengintarimu. Kau adalah matahari dengan sembilan planet lainnya yang mengintarimu, tapi kau merindukan cerita tentang bintang yang lama telah kau cari.

Kau tahu, bintang yang telah mengalami supernova itu telah mati dan menjadi lubang hitam? Aku berharap kau mulai merasakan letihnya menunggu angin pujaan, sebab angin laut masih berhembus dan kau akan merasakannya hanya di bibir pantai. Kau tidak akan merasakannya di gunung. Atau di tengah ilalang. Bagaimana aku tahu? Kau tak melihatnya? Aku berada di tengah ilalang sekarang, di sebuah negeri yang terlupakan, negeri tempatku besar di tengah pergaulan.

Well, sebagai pembaca dari kesunyian yang terlalu lama menelusup dalam lembaran kehidupanmu… kuharapkan, sekali lagi, sayap-sayap patahmu tersembuhkan dan menerbangkanmu mencapai mimpi yang telah kau cita-citakan sejak dulu. Dan biarkan jemariku menjadi sayap sang waktu, di pagi yang dingin ini aku berdo’a untuk kesembuhan cintamu.

Sebuah Prosa : Sayap Sang Waktu

Andy Riyan

Note: ‘Sayap Sang Waktu’ sebetulnya adalah judul puisi yang aku gubah di hari kemarin. Puisinya masih di simpan, menunggu saat yang tepat. Hemmmm

-Feauture image by : meditainment.com

Monolog Rasa : Merancang Kesangsian

Aku menjadi suamimu, dan kamu menjadi istri yang mencintaiku dengan tulus dan apa adanya, adalah angan yang paling jauh sekarang. Karena tidak mungkin bagi dua manusia yang berada di ujung masing-masing kutub dengan jarak terjauh itu untuk menjadi satu bangunan dalam rumah tangga.

IMG_20180126_084528

Aku menjadi suamimu, dan kamu menjadi istri yang mencintaiku dengan tulus dan apa adanya, adalah angan yang paling jauh sekarang. Karena tidak mungkin bagi dua manusia yang berada di ujung masing-masing kutub dengan jarak terjauh itu untuk menjadi satu bangunan dalam rumah tangga.

Sebab ada jarak yang tak bisa dilipat sedemikian sehingga begitu rapat dan saling memeluk satu sama lain dengan cinta. Aku yang tak pernah berani merangkul pundakmu dan mengajakmu membaca sebuah kisah yang membentang di cakrawala. Dan kamu dengan segala keterusterangannya mengungkap rasa tidak suka pada semua yang melekat bersama ragaku hingga nurani dan ketulusanku dalam semua kata-kata pun akan kau campakkan, tak menyisakan satupun bahasa yang akan membuat mu menarik semua kebencian yang telah kau alamatkan untukku.

Tidak ada satu rahasia yang terjadi pada manusia yang secara kebetulan akan mempertemukan mereka dengan yang lainnya. Dan sudah tidak lagi menjadi rahasia bahwa semesta tak akan berkonspirasi untuk menyatukan kita. Jauhnya jarak dan ketidakmungkinan pada waktu untuk kebetulan saling membutuhkan adalah hal yang paling jelas yang kita miliki.

Sebab, sekali lagi maaf, aku tidak percaya kebetulan.

Walau terkadang aku menyadarinya, kamu pun tidak pernah terlambat untuk menyadarinya, bahwa terdapat banyak kesamaan antara aku dan dirimu. Tetapi semakin banyak kesamaan itulah kamu akan semakin tidak menyukainya. Sebab kamu akan terus melihat hantu dalam dirimu setiap bertatapan dengan sosok yang mewujud dalam diriku.

Aku tak pernah lari dari siapapun, aku tak pernah lari darimu. Aku tak pernah sembunyi dari siapapun, aku tak pernah sembunyi darimu. Ada terlalu banyak langkah-langkah yang cepat, tentu mudah untuk menangkapku. Ada banyak mata yang melihat tuk menjadi saksi, bahwa jatuh cinta padamu adalah hal yang paling sia-sia.

Terakhir kali kita melangkah menapaki jalan yang sama, aku terus menjaga jarak, tujuh atau sepuluh langkah di belakangmu. Aku mengunci mulutku tuk tak bersuara, sebab terlalu agung keindahan yang menghampar di depan mata kita untuk dirusak oleh dua manusia yang tak pernah berdamai. Dua orang yang sama-sama gengsi, satu sisi gengsi untuk mengakui kekalahan sisi yang lainnya gengsi untuk menyatakan bahwa tidak ada alasan yang paling masuk akal kenapa membenci.

Dan tahu kenapa monolog rasa masih merancang kesangsian pada manusia yang sangsi, bahwa aku menjadi suami dan kamu menjadi istri yang mencintaiku dengan tulus adalah angan yang paling jauh? Satu sama lain belum pernah lagi bertemu.

PS: Picture, Pixabay

Monolog Rasa : Merancang Kesangsian

Jika Melodi

Jika melodi
sempurna membuatku terasing,
nada-nada harmoni
menyatukan utuh siapa jiwaku.

Mungkin
kegelapan tak akan pernah
menghilang dariku.
Ada sebuah perasaan
yang serba entah,
tetapi
telah ku yakini,
jawabannya ada
pada waktu.
Tak ku tahu kapan
waktu itu,
akan datang.

Maka nada-nada dan puisi,
sekali lagi,
ungkap teka-teki
dengan bahasa imajinasi.

Sekalipun mimpi akan runtuh di bumi.
Pastikan…
aku tidak menunggu ada yang datang.
Tetapi aku mendatangi kamu
yang menungguku.
Jangan letih…
Selamanya.

Sebuah Puisi dari Antologi Embun Pagi oleh Andy Riyan : 2014

Maaf Jika… 

“Maaf jika ini membutamu meradang. Sedari dulu, inilah diriku. Selalu ke-aku-aku-an. Sulit membuatnya terbuka dan menjadi sisi yang lain.”

“Harapkan semoga niat ini begitu tulus: Membuka kedua telapak tangan, menyambutmu sebagai sebuah kesatuan jiwa, menjadi “kita”.”

“Terlepas dari sudut pandangmu, jujur aku muak dengan semua ini.  Tapi bagaimana lagi, aku harus bertahan hidup.”

“Terdapat banyak sentimen mengenai diriku. Belum sampai mengenai pola pikirku, bahkan sejak disebutkan namaku, ada terdapat pagar yang membentengi nalar dan nurani.”

“Ada banyak cinta dan benci terhadap diriku. Namun kesemuanya dari itu hanyalah ilusi. Mereka mencintai yang tidak ada pada diriku. Dan mereka membenci yang tidak ada pada diriku.”

“Atau memang aku harus datang, dan membisikkan keraguanku padamu? Aku adalah wujud yang tak dapat kau sentuh, sebelum merasakan hangat jemariku.”

Sebuah Prosa dari Complicated Pola oleh : Andy Riyan, 2015

Reading List Bulan Januari (Bagian II)

Assalamu’alaikum Warganet. Salam sejahtera untuk kita semua. Semoga kebaikan senantiasa memancar dari diri kita dan orang-orang di sekitar kita sehingga kedamaian akan selalu mengiringi langkah-langkah kita dan mewarnai kehidupan bermasyarakat yang damai dan sentosa. Amin.

Ya sebagai manusia yang punya hari libur berbeda di bandingkan rata-rata manusia pada umumnya, pada Jum’at yang tidak begitu cerah ini aku ingin melanjutkan postingan yang kemarin tentang reading list bulan Januari. Sebelum sampai kesana, sampai bagian ke dua dari judul yang sama, aku pengen cerita… curhat ya sebetulnya, mengapa ya kadang-kadang, bukan kadang-kadang lagi sih, tapi sering, kalau membuat cerita bersambung tidak pernah selesai.

Seperti banyak cerita dan topik di blog ini, sebetulnya cerita-cerita itu masih memiliki kisah lanjutannya, tetapi tidak pernah dilanjutkan. Bukan sebenarnya saat itu ketika menulis belum memikirkan bagaimana kisah selanjutnya, namun lebih kepada ketika tulisan itu saya selesaikan saat itu juga akan terlalu panjang. Bagian utama dari kelanjutan cerita tersebut sebetulnya juga sudah ada. Namun aku sering kehabisan waktu untuk menyelesaikannya, sebab ketika sudah ganti acara biasanya juga sudah ganti topik dan perlahan-lahan cerita itu terlupakan, bahkan lupa sama sekali. Dan ketika membacanya lagi di lain waktu feel untuk melanjutkan cerita bersambungnya sudah berubah… ya begitu deh jadi tidak dilanjutkan. Mengapa? Sebab aku lebih menyukai gaya menuliskan yang menitik beratkan pada penuangan cerita dengan penuh perasaan, bukan asal jadi dan selesai. Ada plus dan minusnya juga sih model seperti itu.

Memiliki hari libur di hari Jum’at memang berbeda, sebab tidak sepenuhnya bisa libur total kemudian bisa memanjakan diri di dunia tulis menulis, seperti hari ini, seperti kali ini saya harus dengan sangat cepat menuangkan cerita ini, topik kali ini sebab sebentar lagi saya harus pergi untuk meroasting green been, ya sebetulnya pengen sekarang aja sih, biar nanti aku punya waktu yang lebih baik untuk bercerita, ya tapi bagaimana juga… jasa roasting baru buka jam 9 nanti.

Oke selesai curhatnya, sekarang menju topik utama. Buku-buku yang telah hadir yang telah memastikan stok bulan januari aman. Oh ya untuk nomor 1 sampai 4 bisa di baca di blog ini juga ya judulnya Reading List Bulan Januari (Bagian I). Nah bagian ke-2 nya langsung saja

5. Indiepreneur oleh Pandji Pragiwaksono

Sebetulnya tidak ada alasan khusus pada saat mau membeli buku itu. Tetapi karena saya selalu suka dengan tulisan mas Pandji di blognya, cukup bagi saya untuk membeli buku ini. Di blog mas Pandji, tulisan-tulisannya cukup lugas dan enak di baca dari awal sampai akhir tanpa perlu screening, isinya aktual dan terstruktur. Tulisan yang sangat bagus ku kira… Mas Pandji jelas termasuk penulis yang cerdas. Tak heran sih karena kegemaran mas Pandji yang suka melahap buku-buku berkualitas. Seperti yang saya baca di buku Free Writing nya Pak Hernowo, kalau kita tidak memiliki perbendaharaan kata, atau jarang membaca apa yang akan kita tuliskan? Jadi jelas tulisan-tulisan yang bagus itu lahir dari jenius-jenius yang banyak membaca.

img_f6k2ex305486489.jpgSaya yakin tidak ada ruginya membeli buku Indiepreneur mas Pandji. Sebab buku ini membahas banyak hal, mulai dari keresahan para pekarya yang karya-karyanya banyak dibajak. Tapi setelah membaca buku ini, aku hanya bisa bilang “Oh begitu, Ya.” Sungguh bagiku, buku ini begitu menginspirasi, aku pun kemudian menjadi begitu bersemangat untuk melanjutkan apa yang telah aku mulai, untuk mengerjakan segala sesuatumnya seperti layaknya seniman sejati. Setelah membaca beberapa bab buku ini, anehnya, karena memang tidak biasnya, aku langsung mengucapkan terima kasih sama mas Pandji lewat akun twiternya. Jarang-jarang sih aku mengucapkan begini langsung mentions penulisnya. Bukannya aku tidak pernah berterimakasih dengan penulis lain, aku selalu bersyukur dengan banyak para penulis yang telah mewarnai kehidupan saya. Dan saya kira cukup dengan mengucapkan di dalam hati. Tapi malam itu berbeda… aku mentions mas Pandji.

6. The Meaningful Life With Rumi

img_20180112_083748523078697.jpgYa aku selalu suka baca tulisan-tulisan tentang penyair dari Maldives ini. Sebetulnya aku kecewa dengan buku ini, sebab ternyata saya salah buku. Dulu aku pernah membaca buku Rumi dengan judul yang sama dalam Edisi bahasa Inggris. Aku suka banget dengan buku itu. Hingga aku pengen memiliki bukunya untuk melengkapi koleksi ku. Kesalahan ku juga sih… aku tidak membuka isinya ketika membeli buku ini… ya sudahlah.. Ternyata ini buku yang berbeda. Tetapi ya asalakan itu masih buku tentang Rumi. Ya masih bagus lah untuk dibaca.

7. Proses Kreatif menulis Cerpen Oleh Hermawan Aksan

Jujur aja, aku tidak tahu alasannya mengapa beli buku ini. Aku asal ambil… sebagai sebuah hiburan di kala aku jenuh dengan bacaan-bacaan yang tebal. Mungkin karena ada tulisan Dewi Dee Lestari yang mewarnai buku ini. Ya walaupun Dee hanya berperan sebagi pengisi pengantar buku saja… yang oh ternyata oh ternyata Hermawan Akhsan ini adalah editor langganannya Dee. Saya kira buku ini worth reading juga sih. Hermawan Akhsan pasti bukan penulis sembarangan, ia sudah di percaya oleh Dee Lestari. Lagian juga membaca itu kan tidak ada salahnya, karya siapapun… seperti yang sudah saya sebutkan tadi, untuk dapat menulis sesuatu kita perlu banyak membaca. Kalau tidak membaca apa yang akan kita tuliskan?img_20180108_163732775002481.jpg

Begini kata DEE tentang buku ini:

“… tak terhitung seringnya saya ditanya trik dan tips dalam menulis. Namun, karena keterbatasan waktu dan keterbatasan media (kalau ditanya lewat Twitter yang cuma bisa memuat 140 karakter, bagaimana mungkin saya menjabarkan jawaban dari pertanyaan “Gimana sih caranya mulai menulis?”), tidak semua bisa direspons.

Namun, kini saya punya cara praktis, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu, yakni: “Bacalah buku Proses Kreatif Menulis Cerpen-nya Hermawan Akhsan.”

Saya menyukai bukan karena Hermawan Akhsan sering menjadi editor saya, melainkan buku ini berusaha menjawab hal-hal dasar dalam menulis tanpa janji berlebih. Realistis dan tidak muluk-muluk. Ditulis secara rapi dan lugas. Bagi sya, itu sudah lebih dari cukup.

Hermawan Aksan memiliki kapabilitas dan posisi yang unik karena beliau aktif sebagai editor sekaligus penulis, bahkan tipe produktif. Dengan kemampuan gandanya, sya tak heran jika buku semacam ini lahir dari tangan Hermawan Aksan.

Barangkali tidak semua pertanyaan Anda ( juga saya) tentang kepenulisan akan terjawab oleh buku ini, tapi saya rasa buku ini pun tidak akan mengecewakan anda. Lagi pula, menulis hanya bisa kita selami lewat mengalami. Jadikan buku ini sebagai peringgahan, perenungan, stimulus sejenak bagi hati dan otak, setelah itu, tutuplah dan mulai menulis…”[]

Woow itu kata Dee… buku ini tidak akan mengecewakan.

8. MOBIL BEKAS & Kisah-Kisah dalam Putaran oleh Bernard Batubara

Jujur saja, buku ini masuk dalam reading list bulan Januari, karena saya suka dengan judulnya, katanya buku ini merupakan adaptasi dari sebuah film. Iya, buku yang mengadaptasi film bukan film yang diadaptasi dari sebuah buku. Oke kukira cukup penjelasan tentang buku ini, karena murni suka judulnya saja, buku ini saya beli.img_20180112_083742911878693.jpg

Oke sekian warganet, saya sedang buru-buru dan mohon maaf kalau tulisannya gak enak dibaca, dan hanya membuang-buang waktu dan paketan internet warganet dan amigos semuanya, maafkan saya yang tidak mengedit postingan ini. Postingan ini saya sajikan apa adanya. Tapi semoga tidak mengurangi gairah *saya pribadi tentunya untuk terus menuangkan pikiran saya di blog ini. Terimaksih sudah mampir, cukup dulu ya… sebab saya harus mencuci motor dan mandi dulu sebelum pergi ke warung roasting Kopi, sebab rasanya sudah tidak nyaman kalau harus minum kopi sobek, cukup kemarin dan pagi ini saja sya minum kopi sobek. Selamat berakhir pekan *eh ini kan kahir pekannya saya saja sih hehehe… oke selamat hari Ju’at barokah, barokah untuk kamu untukku dan untuk kita semua. Sampai jumpa, saya Andy Riyan masih di Desa Hujan.

 

Reading List Bulan Januari (Bagian I)

Aku tidak tahu mengapa aku menuliskan hal ini di blog. Entahlah, sebenarnya apa motivasinya mengapa tulisan ini saya posting di blog juga. Yang pasti ada satu hal, saya hanya menyukainya; bisa menulis dan membagikannya di blog adalah sensasi dan kesenangan tersendiri sekalipun tak ada orang yang membacanya; kebahagiaan memang tidak butuh alasan dan seringnya memang tidak beralasan.

Apakah itu berarti ketika saya tidak menerbitkan sesuatu di blog, saat itu saya tidak menulis? Enggak juga! Menulis adalah kegiatan rutin seperti halnya makan pagi, siang dan sore atau malam; Wajib. Masalahnya kan kadang-kadang tulisan saya enggak worth reading makanya tidak dibagikan di blog. Kadang tulisan-tulisan saya itu sangat sentimentil dan memiliki nilai privasi tingkat tinggi. Jadi pernah, ketika hanya tinggal Copy-Paste dan tekan publish aja… pun tidak saya lakuakan, ya memang tidak worth reading -sih, sesimple itu.

Pernah juga ketika saya sudah selesai menulis, sudah disunting segala macem, kata-katanya sudah dipilih dengan cermat, dan ketika saya baca ulang : “Kok rasanya murni bener-bener pamer…” jadi deh gagal posting lagi.

Dan untuk kali ini saya gak tahu apa motivasinya, saya hanya ingin berbagi reading list bulan Januari, seperti yang saya katakan tadi, aku bahagia saja bisa menulis dan membagikannya. Nah buku-buku dalam daftar list ini sudah saya beli guna memenuhi stok bulan ini, jadi karena bulan ini, jadwal untuk berburu buku nyaris tidak ada, maka dengan hadirnya 8 buku berikut, stok untuk bulan Januari pun aman. Yeah!!! :v

Berikut reading listnya :

1. Free Writing oleh Hernowo Hasim

Reading list tempat teratas, buku yang unik dengan slogan “MENGEJAR KEBAHAGIAAN DENGAN MENULIS”. Bah apa-apaan ini!! Apakah aku sedang darurat kebahagiaan? Mengapa mengejar kebahagiaan? Dengan menulis? Apakah selama ini ketika saya menulis saya tidak bahagia? Entahlah. Bahagia deh kayaknya! Buktinya beberapa masalah sering teratasi ketika saya menulis, saya pun bahagia. Pikiran yang kacau sering mendapatkan pemecahan dan pikiran pun jadi senyap ketika mendengar suata -suara tuts keyboard yang nyaring sekali bunyinya dan terdengar sangat cerpat. Kayaknya di atas 200 kata per menit deh. :v :v tenan ora koe An? Hahahaimg_20180108_1944261600585601.jpg

Apa sih sebabnya kok buku ini nongkrong di tempat paling atas?

Ini merupakan buku yang pengen sekali aku baca bulan ini, ingin diselesaikan pertama kali bulan ini, yak bukunya lumayan tipis, dan sepertinya ringan. Jadi itulah sebab utama Free Writing ini nongkrong di tempat nomor satu.

Namun, sebenarnya ada kaitannya dengan : ‘buku yang enak dan ringan di baca’ – juga sih. Sebab selama ini, aku kalau baca buku, sukanya yang berat-berat terus, ya gimana sih menantang gitu rasanya walau sering bikin setres. Kayaknya hanya bukunya Sapardi Djoko yang Hujan Bulan Juni (versi novel) buku ringan yang kuvbaca sepanjang tahun lalu.

Nah sekarang pengen yang ringan-ringan saja gitu.

Dan mengapa milih Free Writing -nya pak Hernowo? Sebab, dulu ketika masih kuliah, masih jadi single player yang sukanya sendirian mojok di sudut perpustakaan, aku sering berulang-ulang membaca serial Quantum: Quantum reading Quantum Learning, QuantumWriting, kalau tidak salah (maaf lagi males riset hehehe), penulisnya ya Pak Hernowo ini. Jadi ketika kemarin melihat buku itu, ya sudah aku langsung ambil.

2. Kahlil Gibran – Syair-Syair Cinta

Ketika melihat sebagian isi dari buku itu, “Kayaknya aku pernah deh… baca buku ini di perpustakaan kampus!” Begitu pikirku. Dan aku masih gak yakin, lalu aku pun membuka bab pertama: “Lho kok Sang Nabi? Berarti ini buku yang dulu aku baca ketika aku masih SMA? Dulu kayaknya gak setebel ini deh! Wah ini berati kumpulan-kumpoulan karya Kahlil, Ya?” Dan tepat perkiraanku, memang iya (padahal di sampulnya juga tertulis dengan jelas sih, kalau buku itu adalah ‘Kumpulan Karya-Karya Besar Kahlil Gibran’) lah ya mbuh lah ya, bukan itu yang pertama terlintas di kepalaku saat melihat sampulnya. Saya pun membaca daftar isinya, buku satu buku, dua sampai buku dua belas, Sayap-Sayap Patah. Wuuus! Aku pun langsung membeli yang versi hardcover untuk aku masukkan ke koleksi Master-Piece bersama The Silmarillion -ya eyang Tolkien.img_20180108_182659618799481.jpg

Ya kalau pembaca sering mampir dan mencermati tulisan-tulisan saya di blog ini, pasti tahu mengapa karya Kahlil harus di koleksi, yak dia itu kan influence banget dalam kehidupan gue —baca ‘gue’ nya dengan intonasi yang tinggi biar kayak ABG yang sebetulnya gak ada pantes-pantesnya bilang ‘gue’.

Yak akhirnya bukunya Kahlil ini sejenak akan mengobati kerinduanku akan keindahan kata-kata, romantisme dengan Tuhan dan kerinduanku akan saat-saat ketika aku dalam gelora asmara yang teramat sangat, pada perempuan berwajah sendu itu…. Ya itu dulu banget! Pfffffft!!

‘Kok kamu sentimentil banget sih kalau ngomongin Sing Biyen-Binyen?’

‘MBOK BEN SAK KAREP KU NOOOOOOOOO!!!”

Buku-buku Khalil kan enak kalau dibaca untuk selingan di waktu istirahat, atau selingan di saat kerja yang pas tidak menuntut kosentrasi tinggi, hehehehe. Nah lumayan lah bukunya Kahlil harus masuk di reading list ini, kayaknya aku akan pelan-pelan saja, kayak lagunya kotak, membaca Syair-Syair Cinta ini, rausah ngoyo.

“Bila cinta mendatangimu, ikuti dia. Walaupun jalannya sulit dan terjal. Ketika cinta memahkotaimu, ia akan menyalibmu. Cinta membuatmu mengetahui rasa sakit dari kelembutan. Cinta membuatmu berdarah dengan bahagia dan nikmat. Cinta membuatmu terbangun saat-saat senja dengan hati bersayap. Dan berterima kasih atas hari yang penuh suka cita. Ketika kau mencintai, janganlah berkata “Tuhan ada dalam hatiku,” berkatalah, “Aku ada di hati Tuhan.” Karena cinta hanya cukup untuk cinta.

3. Republik oleh Plato dan sekaligus buku ke- 4 oleh Plato : Simposium

Tadi aku bilang kalau aku pengen baca buku yang ringan-ringan ja, eh nyatanya buku Plato yang berjul republik dan Simposium ini tetep maksa masuk reading list. Yak gimana lagi, dari dulu aku kan suka sekali dengan para filsuf dan pikiran-pikiran mereka yang absurd serta jauh melampui zamanya.

Pertama kali aku diperkenalkan tentang filsafat itu ketika aku masih SMP. Aneh ya? Masih SMP sudah di perkenalkan pada Filsafat? Sejujurnya gak aneh sih, karena filsafat yang dikenalkan ke saya oleh guru saya dulu itu adalah filsafat paling dasar atau sepintas tentang filsafat aja deh, atau lebih tepatnya adalah tokoh-tokoh filsuf dalam Islam, seperti Al Ghozali yang belakangan justru meninggalkan filsafat dan malah memilih menjadi sufi. Ar- Razi, Al Kindi, Al Farabi. Dalam perkenalan itu, katanya, Al Ghazali mengecam para filsuf barat. Apa sih filsuf barat itu? Saya tidak pernah tahu. Dan hari-hari itu aku sering tidak bisa tidur hanya karena terngiang-ngiang kata filsafat yang aku tidak tahu apa artinya, yang bahkan tidak tahu filsafat itu apa.img_20180108_1743472099220260.jpg

Kemudian aku semakin tertarik dengan kata filsafat itu sendiri, ya hanya kata yang terdiri dari 8 huruf. Saya pun memulai dengan mempelajari biografi Al Ghazali, Ibnu Sina dan Ibnu Rusdy. Kemudian ternyata dan oh ternyata ada nama Aristoteles disebut-sebut disana, yang sebetulnya sudah aku kenal sejak kelas satu ketika beliau mengungkapkan teori tentang asal – usul makhluk hidup. Jadi aku cuma bilang “Oooo jadi filsfat itu sperti itu ya?” betul aku hanya punya kesimpulan mentah bahwa filsafat itu sperti itu.

Dan karena lingkungan saya memang buku ahli buku atau suka berkecimpung dalam dunia kepustakaan, otomatis akses buku sangat terbatas; aku tetap tidak bisa menelusuri filsafat secara luas. Perlahan-lahan kata filsafat pun memudar, yang bertahan hanya logika, logika dan logika yang sangat rasional yang terus berkelindan dalam matematika. Mulai dari saat itu kecintaan saya terhadap matematika tumbuh pesat dan meroket. Hingga ketika aku SMA, kalau tidak salah saat semester 4, aku bertemu guru matematika yang suka ngomongin filsafat, jadilah aku sering nanya-nanya ke beliau. Sampai akhirnya aku pun kuliah di jurusan matematika dan mengambil mata kuliah filsafat di semester dua, aslinya sih mata kuliah semester 6. Tapi semester dua aku sudah mengambilnya. Sejak saat itu, penekunanku terhadap filsafat mengantarkan aku pada perjumpaan dengan Plato dan gurunya Socrates, Thomas Kuhn, Hegel, Karl Max. Yak buku-buku standar anak kuliahan memang kayak gitu, ya? hahahahaha.

Dan buku Republik karya Plato ini, sebenarnya aku sudah punya kopiannnya dalam bahasa Inggris. Waktu itu aku diberi oleh teman chating-ku; orang Pakistan. Entahlah orang Pakistan membaca buku bahasa Inggris, buku Republik karya Plato, jalinan takdir macam apa ini hanya untuk menemukan Plato.

Jadi jelas buku ini tanpa basa-basi masuk dalam reading list, kebetulan juga ketika menemukan buku Plato ini, aku juga menemukan buku Plato yang lain, Simposium, yang lebih tipis dan membahas hal yang lebih spesifik tentang Cinta. Filsafat sendiri kan artinya Cinta. Philo dan Shopia. Hehehehe

wp-15155049571411937193170.jpgSIMPOSIUM :

Sayangku Socrates, kehidupan manusia semestinya di jalani : di dalam perenungan terhadap keindahan. Jika kau suatu saat mendapatinya, cinta tidak akan tampak bagimu sebagai emas, pakaian, anak laki-laki atau pemuda yang tampan —sebagaimana saat ini kau terkesima olehnya; kau dan banyak orang lain siap untuk menghadapi kehidupan dengan yang kau cintai kemudian hidup bersama selamanya, seandainya itu memang memungkinkan, tidak untuk minum atau pun makan bersama, tetapi hanya untuk selalu memandang dan bersama satu sama lain.

… yang separuh merindukan separuh yang lain, dan mereka merangkulkan lengan mereka satu sama lain dan saling menjalin, berharap untuk tumbuh bersama menjadi utuh, mereka sekarat oleh kelaparan dan kelumpuhan karen mereka enggan untuk melakukan sesuatu jika terpisah satu sama lain.

*

SIMPOSIUM merupkan salah satu karya Plato yang paling banyak dibaca dan dipelajari. Di dalamnya, hakikat Eros, Cinta, dan manusia ditelusuri melalui pikiran-pikiran terbaik yang pernah hadir dalam sejarah. Simposium berhasil memberikan pemujaan terbaik kepada Eros dan menyentuh sisi terlembut dalam diri manusia.

Ini reading list bagian pertama, reading list berikutnya sambung ke pstingan selanjutnya ya, selamat malam! Selamat membaca dan sampai jumpa. Saya Andy Riyan, masih di Desa Hujan.

9 Januari 2018

Keterangan : Foto-Foto merupakan dokumen pribadi.

​What Is Freedom To Me?

Kebebasan bagiku adalah ketika aku mampu melakukan sesuatu atau semuanya karena murni dari dorongan kehendak dan keinginanku. Aku menghendaki diriku untuk melakukan sesuatu sehingga aku mampu melakukannya sedemikian rupa, setulus hati dan segenap jiwa. Tak masalah jika itu ide orang lain atau saran dari orang lain atau bahkan lebih kasarnya adalah sebuah perintah dari orang lain, dari orang tua, dari atasan, dari bawahan, dari yang lebih tua ataupun dari yang lebih muda, tak masalah selama aku menghendaki diriku untuk melakukannya, itu adalah kebebasan. Sebab bagiku kebebasan sejati adalah tahu batasan pribadiku, memahami batasan kemampuanku untuk melakukan segala sesuatunya.
Bagiku kebebasan tidak menjadikanmu manusia yang bebas seutuhnya, tidak menjadikanmu raja di raja yang tak tersentuh apapun. Kebebasan menjadikanmu manusia yang merdeka, dengan segala konsekuensinya menjadi tanggung jawabmu. Kebebasan harus menjadikanmu manusia yang sepenuhnya bertanggung jawab, menjadi manusia yang memiliki prinsip untuk menyikapi semua pilihan yang tersedia untukmu atau menyikapi apapun yang tak tersedia pilihannya untukmu.

Sebab seandainya kebebasan itu berarti kamu boleh bertindak sesuaka hatimu tanpa batasan, itu artinya kamu masih terbelenggun pada nafsu kebebasan itu sendiri, terpenjara oleh keinginan kebinatangan yang hidup dalam dirimu. Kebebasan bagiku adalah aku bebas untuk membahagiakan diriku sendiri, bukan membahagiakan nafsu kebinatangan yang hidup dalam diriku.

As Gary Vaynerchuk said : “Not everyone is meant for greatness, but everybody does have talent that can produce happiness.

Pict : Writelight

What is freedom to me? That is you free to choose what you responsible for!

Ini adalah kebebasa bagiku, kebebasan bagimu itu apa? Silakan tulis dalam blogmu, tautkan postingannya ke post ini dan jangan lupa mentions saya di @jejakandi di tunggu ya.

—Andy Riyan— What is responsible to me?