[Detak Jiwa] Ku Mencarimu

Ku mencarimu, Kekasih. Bintang di segala malam, mentari di segala musim hujan di segala cuaca hangat di segala suasana mencari untuk temani meniti jalan gelap ini Jalan gelap hidup, penuh bahaya dan penuh berduri. Ancaman kematiaan setiap saat kehancuran yang mengintai begitu dekat. Telah kupilih dan memang aku yang memilih. Telah kudengar betapa berbahayanya. Kegelapan…

Enemy

There is no enemy greater than family. One does look simple it does not anymore.

[Puisi] Tangis Jiwa

Telah panjang memimpikannyatelah lelah kala terbangunkannyasemakin lelah terbangunkankusadari cintamu tak menunggu Ku menelusuri sudah rangkaiannya semua mimpi tak berhenti hingga menginginkannya terjadi Inginkan tuk saat terjaga ingin kan mengganti datang seribu warna terbitkannyalah harapan pelangi Bersamanyalah indah tawaaku yang seharusnyamentari dan sinar hangatnyapuisi-puisi bermakna Kehangatan hati yang hampa datang berganti meraih cintanya, memeluk hatinya miliki…

Dialog Topan dan Lelaki Pertama

“Camkan ini! Jika kau tak mengorbankan waktu untuk hal-hal yang lebih berguna. You do not deserve this happy live, anymore!”

“What’s going on, Pan?” Tanya seorang lelaki yang hobi minum kopi pahit dari sudut ruangan kepada seseorang lelaki lain yang juga suka minum kopi pahit.
“Keruh sangat wajah kau, Pan, sekeruh Kaliprogo di tengah kota.” Laki-laki pertama itu menyelidik dan sok nyastra dengan tidak mengalihkan wajahnya dari buku di tangannya, melainkan melirik ke sudut atas menembus langsung ke wajah lawan bicaranya. Gaya bertanya seperti ini, bagi orang yang aslinya tak pintar, bisa terlihat sebagai orang yang sangat pintar dan berwibawa. Gagah sekali tampaknya kalau saja bisa terus mempraktikkan gaya seperti ini ketika berbicara dengan siapa saja. Kalem tapi mempesona.
Masih tak ada jawaban dari lelaki kedua yang di sapa dengan Pan yang juga suka minum kopi pahit. Pan nama sapaannya berasal dari namanya, Topan. Bulir-bulir bekas guyuran hujan menetes dari rambutnya yang tegak seperti menantang langit yang menjawab guyonan sinis lelaki pertama itu.
Kedai kopi dengan interior gelap itu begitu lenggang. Lebih-lebih lagi kedai itu disengaja memiliki desain dengan suasana kelam, kesunyian menjadi semakin mencekam. Dinding-dinding gelapnya berhias lampu remang-remang dari bohlam-bohlam merah dan kuning dan dipasang pada sebuah dudukan lampu sedemikian rupa hingga menyerupai obor teplok laiknya obor yang berada di warung-warung makan dalam sinetron-sinetron laga jaman bahuela.

Screenplay 1 : Bunga Lily

TAMAN BALAI KOTA PEREMPUAN GEMUK : Gak papa sudah kering, boleh aku menerimanya, sekarang? Laki-laki kurus menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya. Perempuan gemuk itu pun tersenyum. (Satu bulan sebelumnya) DI SEBUAH KAMAR KOS MAHASISWA Seorang laki-laki kurus masih mengenakan jaket denim dan kemeja biru, terkapar di kamarnya. Wajahnya pucat masai. Tubuhnya terlihat tak berdaya. Ia terpejam…

Cantiknya Mubazir

“Berjalanlah kamu di atas jalanmu sendiri, begitupun aku, akan berjalan di atas jalanku sendiri.. Tuhan Mahatau.. kita kan sejalan lagi nanti.” Keheningan tidak mampu mengusai keadaan, meskipun malam telah jatuh pada titik kesunyiannya. Udara juga tidak menjadi dingin walau angin telah berhembus membawa kabut-kabut malam yang paling dingin. Keramaian di setiap sudutnya, di kota itu,…

Berat Langkah

Jika pijar di mata telah redup, dan percik api di hati telah terlupakan, dari mana harus aku jawab langkah-langkah yang berat… ini? Kadang rindu memang menahan dari langkah beratnya kehidupan… Tapi betapapun kuat rindu itu, hidup harus tetap berjalan.

Kliwon Brengsek

“Kliwon? Ngapain kamu di sini?” Kataku kaget, ketika tidak sengaja bertemu dengannya di sebuah kafe yang berada di pinggir jalan di desa kawasan pegunungan berkilo-kilo meter jauhnya dari kota Temanggung. “Ngopi lah… sesekali cari udara segar di luar!” Biasanya aku dan Kliwon bersama-sama dengan Kang Paidi dan Kang Paijo sering menghabiskan waktu di brak di…

Tentang Kisah Bu Sarah dan Pak Jono

“Masa njenengan tidak pernah jatuh cinta lagi sejak saat itu, Pak? Apa dia begitu tak tergantikan?” Sarah menatapku nanar. Aku kira ia memang bersungguh-sungguh untuk membantuku bangkit. Tak sehari pun ia tak pernah memotivasiku. Seolah-olah jika lewat sehari saja, maka aku akan semakin terpuruk dan tenggelam dalam kegelapan. “Ha ha ha… Cinta… ” Aku tersenyum…

Ditawari Janda

“… … … dua puluh lima, Pak?” “Apanya, Bu, yang dua puluh lima?” tanya ku pada sahabat yang sekaligus menjadi partner kerja sehari-hari di kantor, aku tidak begitu memperhatikan pertanyaannya, beberapa kalimat awal terdengar hanya seperti gumaman. “Kalau rencananya dua puluh lima, sekarang sudah mundur dua tahun.” Aku hanya diam namun tetap menerka-nerka kemana arah…