Jurnal 2021: Menjalani Mimpi

Halo Amigos! Senang bisa berjumpa lagi dengan kamu semunya. Dan meskipun aku tidak mengerti apa bedanya, ijinkanlah aku mengucapkan “Selamat Tahun Baru”, semoga di tahun 2021 hal-hal baik selalu mengiringi langkah-langkahmu dan semoga Tuhan senantiasa memberkahi hal-hal yang ingin kamu lakukan. Well, terima kasih kuucapkan karena sudah menanyakan kabarku. Dan beginilah kabarku saat ini… sebagaimana…

Bagaimana Aku Menulis

Daripada “Mengapa kamu menulis?” aku lebih suka pertanyaan lain. Pertanyaan itu sudah terlalu mainstream. Tentu saja, ada sekian banyak alasan yang menarik bagi seseorang untuk menulis, dan untuk aku, writing prompt untuk menuliskan alasan-alasan itu… juga sudah terlalu biasa. Ada 6 enam kata dasar yang dapat digunakan untuk bertanya, dari 5W +1H, mengapa Why harus…

Tentang 2020, Buku dan Aku

Sebelum menuliskan tulisan yang sekarang hadir di hadapan kamu ini—dengan judul yang sama— aku, bukannya menulis sesuatu yang gembira dan menyenangkan sebagaimana yang kuharapkan, malahan menulis jurnal yang isinya seperti orang depresi. Bajirut tenan kok. Memang menulis, kalau terus menerus mengikuti suasana hati, bergantung pada pola yang muncul… kadang bikin malu diri sendiri saja. Tetapi…

Sebuah Jurnal: Kegiatan Membaca Menjadi Lebih Asyik Karena Ada Dialog dan Komunikasi

Kemarin telah aku katakan padamu, Amigos, bahwa sebuah dialog baru kemudian muncul menyertai pembacaan yang mana dari dialog itu lahirlah sebuah komunikasi yang hebat. Bukan sekadar dialog imajiner kukira, karena ia telah melibatkan cara berpikir hingga nampak dan memengaruhi suasana hati, melahirkan gagasan dan cara pandang baru untuk melihat dunia. Juga telah kukatakan padamu bahwa…

Sebuah Jurnal: Jangan Kau Bunuh Egomu

Perasaan bahagia itu bagaikan mengapung muncul dari dalam bumi, kemudian berubah menjadi pusaran angin yang sejuk dan berputar mengelilingiku dan akhirnya menyelimutiku dalam damai ketika aku kembali menemukan kenikmatan dan kesenangan saat membaca buku. Kebahagiaan itu begitu terasa ketika aku mendapatkan cukup banyak waktu untuk menghadiahi diri sendiri dengan keasyikan yang sederhana ini. Sebenarnya hadiah—berupa…

Sebuah Jurnal: Jangan Sampai Tertipu dengan Kerja Kerasmu Sendiri

Sebagai pembukaan untuk tulisan kali ini, sekali lagi aku ingin mengutip sebuah kalimat yang sangat indah dari seorang Nazril Ilham, “Tulislah apa yang ada di dalam pikiranmu sekarang, tidak harus secepatnya berguna, tetapi yakinlah suatu hari nanti itu akan memiliki arti.” Mengapa aku membuka tulisan dengan mengutip kalimat yang indah ini, jawabannya akan diketahui nanti…

Sebuah Jurnal: Mengapa Aku Sering Mendorong Orang Lain Untuk Menulis

Ketika merayakan ulang tahun jejakandi yang kelima, aku pernah bilang, dalam jejakandi voices, bahwa blog ini dibuat setelah aku lulus kuliah, setelah aku tidak lagi memliki jabatan paling prestisius sebagai manusia yang fearless dan merdeka yaitu mahasiswa. Saat pertama kali membangun blog ini bahasa ungkap yang aku gunakan dalam menyampaikan pikiran masih sangat kacau, dan…

Bau Familier Itu Ampo Namanya

Semua orang mulai ramai-ramai menyebutnya sebagai bau Petrikor setelah membaca buku Aroma Karsa untuk mendeskripsikan tentang bau yang muncul ketika saat-saat hujan sedang datang. Aku yang mempunyai pengalaman pribadi soal mendeteksi bau ini tidak ingin menyebut hal yang sama. Aku pun mencari istilah yang tepat untuk mendeskripsikan bau-bauan ini, karena jujur saja kemampuan penciumanku sedikit…

Membaca Lapar-nya Knut Hamsun dan Mengaitkannya dengan Kiai Hologram-nya Cak Nun

Kamu selalu mengeluhkan padatnya pekerjaan sehingga kamu tak punya waktu untuk menulis dan menyelesaikan karyamu. Memangnya berapakah waktu yang kamu butuhkan untuk menghasilkan buku, novel, atau tulisan seperti apa yang diinginkan? Kamu selalu mengeluhkan suasana yang gaduh, lalu kamu berandai-andai seolah-olah kamu yakin dengan pasti jika kamu memiliki ketenangan kamu akan mampu menyelesaikan karyamu, mengeksekusi…

Sebuah Jurnal: Kalimat yang Sukses Mengejek Diriku

Entah mengapa dulu aku begitu ingin menjadi penulis. Mungkin aku mengira jika aku menjadi penulis maka aku sedang terjun ke dalam suatu dunia yang hebat; mendalami sebuah seni, menjalani tradisi intelektual dan bertransformasi bersama kaum-kaum pintar; membuat prasasti keabadian, dan bernafas dalam dunia yang penuh dengan kebebasan. Tapi kini aku mulai sadar, penulis terbentuk karena…