Bahasa Diam

Hari itu adalah musim dingin, di bukit Alap-alap; tiga kilometer dari Desa Hujan, aku bertemu dengannya, sebut saja namanya Amir. Sebab semakin lama kuperhatikan, ia semakin mirip dengan Amir Khan karena perannya sebagai Rancho; satu dari 3 idiots dari ICE. Aku dan Amir tidak banyak bicara, atau lebih tepatnya kami saling berbicara dalam bahasa diam….

Bahasa Kesunyian

Dingin dan gelap; dingin yang meraba-raba indera perasa dan gelap yang menghalangi kedua mata. Dingin menyerang sekujur tubuhku; gelap tidak hanya membutakan penglihatan tetapi juga perasaan; kepekaan mata hatiku. Sekujur tubuhku yang membeku mematikan tidak hanya simpul-simpul kesadaran, tetapi juga akalku. Aku mati; I think I’m going insane—aku pikir aku akan gila; mataku tak dapat…

Senandung Di Tengah Badai

Di bawah derai hujan, di tengah sulitnya udara untuk bernafas karena beban oleh liku-liku kehidupan, Rahman bersimpuh di atas kaki-kakinya yang lelah. Matanya yang dulu berbinar seelok fajar tampak sayu memandangi langit yang kian kelabu. Hatinya yang dulu tabah kini goyah seperti hilang arah. Karena cinta hasratnya dulu begitu bergelora dan jiwanya pun penuh cahaya….

Mimpi Yang Mendalam

Demi secangkir kopi Yang tersaji setiap pagi Ku menantikan kehadiranmu, Kasih. Semoga hangat dan teduhkan hati. Setiap ku menyingsing fajar Di rumah tua di bukit ku sadar Inginku hadirkan dikau embun pagi Sejukkan aku dari beratnya mimpi Demi pagi saat mentari begitu hangat Di kala kulupakan untuk sejenak, dunia Mengheningkan cipta, mengolah jiwa Sungguh ku…

Sebuah Prosa: Perihal Kabarku

Jalan-jalan telah begitu sepi. Tempat-tempat yang dulu sering kudatangi bagaikan telah menjadi kota mati. Blok-blok toko tempat menjajakan berbagai onderdil bekas telah kosong. Pintu-pintunya telah bolong. Di banyak tempat hanya tinggal kusen-kusennya saja. Dinding-dinding penuh dengan bekas tempelan-tempelan kertas yang terkelupas. Tembok-temboknya telah memucat, warnanya memudar termakan usia; rapuh oleh panas matahari dan hujan. Atap-atap…

Ingin Kuistirahatkan Diriku

Istirahatkan dirimu dari kesibukan mengurusi duniamu. Urusan yang telah diatur Allah tak perlu kausibuk ikut campur. —Ibnu Atha`illah al-Iskandari— Keletihan dan penderitaan lebih sering kualami ketika aku merencanakan berbagai hal bagi diriku sendiri lewat keinginan-keinginan yang ambisius. Keinginan-keinginan yang tak kupahami asal-muasalnya, sebab sedemikian halus, apakah itu dari nafsuku ataukah ruhku? Tak jarang aku terjebak…

Seperti Gadis Remaja

Ku lihat senyum ratusan kali setiap hari Tak kurang bahagia ku melihatnya Tetapi kenapa berbeda jika yang tersenyum Adalah kamu Tiga belas tahun telah berlalu Sejak senyum yang tak biasa Yang kumaksudkan untukmu dan menjadi berarti Dan kau tahu, lalu kau tersipu Tapi kamu dan aku adalah anak sekolah Mendengarkan selalu nasehat orang tua, kiai…

[Cerpen] Naifnya Cinta

Pagi itu aku melihatnya sedang menyapu daun-daun mangga yang berserakan di halaman rumahnya ketika aku dan Kliwon tiba. Terakhir kali aku mampir ke rumah itu tiga tahun yang lalu, dan suasananya masih sama, sejuk. Ia tak meyadari kedatanganku sampai aku dan Kliwon mengetuk-ketuk teralis besi pagar rumah dengan arsitektur modern itu. Ia menoleh ke arah…

Cerpen: Zakiyah dan Maulid Diba

Asy raqol badru alaina… Terbitlah purnama di atas kita. Fakhtafat minhul buduru… Tertutuplah karenanya, purnama-purnama. Misla husnik ma ra aina… Keelokan sepertimu, tiada kami pernah melihatnya. Qottu ya wajha as sururi… Wahai engkau, si paras berseri. Anta syamsun… engkaulah mentari. Anta badrun… engkaulah purnama. Anta nuurun… engkaulah cahaya. Fauqo nuri… di atas cahaya. Anta Iksiru…

Fragmen: Hatiku Telah Patah!

“Jodohmu mungkin adalah dia yang suka jalan-jalan di hari Minggu.” Aku tersentak kaget. Kliwon memang ajaib. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba aja dia njeplak begitu. “Ha ha ha lambemu, Won!” Kang Paijo menimpali. Aku melirik ke arah Kang Paijo, raut mukanya penuh kegembiraan. Ia tertawa lebar. Di sisinya, Yanto, raut mukanya menyedihkan. Mendoan…