Bajirut! Aku Nulis Apaan?!

Seseorang memang kerap sekali melakukan hal-hal aneh tanpa mereka sadari. Aku pun kadang baru sadar kemudian kalau apa yang aku lakukan itu seperti “Bajirut, aku tadi itu ngapain sih?” Di antara banyak “bajirut” itu, salah satunya, aku sering males membaca tulisan yang rumit dan enggak jelas, tapi aku sendiri justru kerapkali—bahkan sudah sampai tahap keranjingan—tidak…

Sebuah Jurnal: Kegiatan Membaca Menjadi Lebih Asyik Karena Ada Dialog dan Komunikasi

Kemarin telah aku katakan padamu, Amigos, bahwa sebuah dialog baru kemudian muncul menyertai pembacaan yang mana dari dialog itu lahirlah sebuah komunikasi yang hebat. Bukan sekadar dialog imajiner kukira, karena ia telah melibatkan cara berpikir hingga nampak dan memengaruhi suasana hati, melahirkan gagasan dan cara pandang baru untuk melihat dunia. Juga telah kukatakan padamu bahwa…

Sebuah Jurnal: Jangan Kau Bunuh Egomu

Perasaan bahagia itu bagaikan mengapung muncul dari dalam bumi, kemudian berubah menjadi pusaran angin yang sejuk dan berputar mengelilingiku dan akhirnya menyelimutiku dalam damai ketika aku kembali menemukan kenikmatan dan kesenangan saat membaca buku. Kebahagiaan itu begitu terasa ketika aku mendapatkan cukup banyak waktu untuk menghadiahi diri sendiri dengan keasyikan yang sederhana ini. Sebenarnya hadiah—berupa…

Persetan Dengan Jodoh!

Ternyata dulu aku bisa menulis sekeren ini. Makan apa sih? Semakin jauh aku berjalan untuk mencarinya, semakin jauh jalan yang kutempuh dan semakin tak berujung. Semakin aku larut di dalamnya, semakin pekat kabut yang menyelimuti dan menjadi bayang-bayang yang semula terlihat nyata menjadi fatamorgana. Semakin banyak aku berharap, sesering itu pula kebahagiaanku menguap. Laksana merindukan…

Surat Kepada Seorang Teman dari Indonesia

Engkau tanyakan padaku, “Apakah sudah baca?” ketika kami meyuarakan penolakan kami pada suatu hal—sebut saja peraturan yang mengikat bagaimana kami harus berfantasi—yang ditetapkan dengan semena-mena kepada kami hanya dalam semalam, secara tiba-tiba dan sembunyi-sembunyi. Aku tersentak dengan pertanyaanmu itu. Bagaimana mungkin aku sanggup membaca 1000-an halaman cerita fiktif itu dalam semalam. Lalu engkau sodorkan padaku…

Tentang Revolusi dan Pemberontakan bag. 2

Secara ringkas, pemberontakan adalah revolusi yang gagal. Pemahaman dangkal tentang perbedaan yang paling mendasar antara keduanya ini pernah kutuliskan agak panjang di blog ini. Lalu belakangan, setelah belajar lagi dan lagi, beberapa hal yang mulanya begitu abstrak mulai kupahami bahwa pemberontakan memiliki makna yang lebih luas, nyata dan mendalam dari hanya sekadar revolusi yang gagal,…

Sebuah Jurnal: Mencari Makna

Hidup ini singkat; jangan lupa bahagia, hidup ini indah; jangan lupa menikmatinya, hidup ini penuh makna; jangan lupa bersyukur, hidup ini hanya sekali; jangan menyia-nyiakannya, dan masih banyak lagi hal yang dapat dikatakan untuk mendeskirpsikan hidup ini tentang apa—hidup ini bla bla bla… terserah suka suka saja mau hidup ini bagaimana. Namun dari semua hal…

Jejakandi, Kamu Kenapa Lagi?

Writing could and should be able to relieve any pressure, menulis dapat dan seharusnya mampu mengatasi tekanan. Dan semoga dengan berbagi di sini aku bisa mengobati, mengangkat tekanan yang sedang aku hadapi. Tekanan? Apakah aku sekarang sedang tertekan? Oleh apa? Sejujurnya yang aku rasakan, aku tidak merasa sedang mengalami suatu perasaan tertekan oleh apa pun…

Sebuah Upaya untuk Menggenggam Makna Ketakwaan dengan Kuat

Aku terus bertanya-tanya apa sesungguhnya makna takwa. Aku terus mencari dan terus mencari. Seringkali ketika aku mendapatkannya—makna ketakwaan yang sesuai untukku saat itu—aku kembali kehilangan, beberapa waktu kemudian. Meskipun manusia memang tempatnya salah dan lupa, namun beberapa hal tak boleh dilupakan, salah satunya adalah makna ketakwaan. Semua manusia di sisi Tuhan kedudukannya adalah sama, yang…