Pengen Ganti Tema

Tapi aku galau! Sudah 4 kali nih aku mengkastom (customize) dan bolak balik ke menu setting tapi ujung-ujungnya tidak jadi di save dan di pasang juga. Geli  Open-mouthed smile

Sebenarnya aku suka dengan tema Scrawl ini. Meskipun gratisan, menurutku tampilannya bersih dan lapang. Tapi yah kadang manusia bisa bosan juga…

Yang pertama kali terpikirkan bila mengingat nama tema ini… ini plesetan dari scroll ya? Dan kayaknya iya,dilihat dari fituru tamanya memang scroll terus scroll terus. Jadi kalau baca blog jejakandi gak bakalan terpancing buat klik sana sini, udah langsung fokus scroll karena hanya lembaran berisi tulisan.

Ah gimana nih, masih galau aja… selain karena aku suka dengan tema ini, khawatirnya pembaca yang sudah sering mampir dan nyaman di blog ini menjadi enggak nyaman lagi. Seperti pengalamanku sendiri, salah satu situs yang paling sering ku kunjungi http://weaintgotnohistory.sbnation.com kalau ada kesempatan buka hape atau internet entah gak tau kenapa secara otomatis aku langsung menyempatkan mengunjungi situs itu. Dulu tampilannya sederhana dan ramping sekarang rada gimana gitu dan seringnya kalau buka dari opera mini–penggemar opera mini mana suaranyaaaaaaa—komentarnya gak pernah muncul. Harus masuk menu home dulu dan klik satu-satu icon komentar tiap post, kan gak asik. Iya sih aku tetep rutin buka situs itu, agak anu gitu…yah gimana lagi, konten di sana memang sungguh harus kubaca.

Ah tapi… apa artinya hidup kalau tidak mengambil resiko. Mungkin dalam 24 jam kedepan tema blog jejakandi ini akan berubah. Postingan ini bisa menjadi kadaluarsa. Salam Kadaluarsa!!

Advertisements

Ku Tangisi Kepergianmu

Di luar gelap malam telah jatuh, angin dingin berhembus kencang seperti terburu-buru jika pagi segera memecah, sementara gemintang di langit acuh tak acuh dengan kesunyian dunia di bawahnya. Suaraku seperti tenggelam tertelan oleh pesonanya. Ah ya dia memang selalu mempesona sejak awal kedatangannya, tapi mengapa kali ini dia membuatku terpana dan terbata. Karena yang ku lihat kini, dia ada di seberang sana, tidak lagi bersama kami.

Nemanja Matic, gelandang kami yang paling kami sayangi itu kini telah menyebrang ke Carrington Road. Nemanja, kamu adalah alasannya kenapa Red Devil malam ini bermain sangat bagus. Tanpamu mereka tidak akan bermain sebaik itu. Hal-hal seperti ini sudah aku prediksi sebelumnya, kepergianmu ke sana hanya menambah tangisku. Dan oh luka kami sekarang bagaikan digarami, andilmu dalam tim berseragam merah itu membuat pendukung-pendukungnya yang bebal dan sok itu menjadi semakin tak terkendali. Tanpamu saja mereka sudah sangat memuakkan, sekarang dengan penampilan yang seperti ini…. sungguh mereka menjadi semakin menjijikkan. Fanatik, dungu, bodoh yang selalu membuatku kehilangan selera makan.

Kepergianmu dari sisi kami menyisakan lubang yang besar, mengapa kau pergi, Nemanja? Kini kepergianmu ku tangisi. Dulu Juan Manuel Mata yang menyebrang ke sana. Sekarang dirimu! Dunia ini kadang-kadang tak adil, begitu yang kupikirkan. Tapi apapun keputusanmu, Nemanja, tangis sedihku kini menjadi tangis bahagia. Sebab kau pernah menjadi bagian dari kami…  dan sekarang kau akan melambungkan mereka ke level yang lebih tinggi tetapi di dalam hatimu… kau selalu biru… dan mereka bajingan-bajingan tengik itu… aku sudah mengantongi satu fakta, mereka tidak punya harga diri, sekarang lebih sering menjilat ludah sendiri. Dan mereka bajingan-bajingan penguk itu, yang hampir semuanya tidak menaruh respek pasti kena batunya.

Nemanja, semoga kau bahagia di klub barumu!

Mimpi Buruk

Ini mimpi terburuk sepanjang keikutsertaan kami dalam mentas di England Premier League. Kami mendapatkan kartu merah di menit-menit awal pertandingan (13). Kapten kami, Garry Cahil di usir ke luar lapangan oleh wasit Craig Pawson. Begitu pemain kami menyusut menjadi 10 orang, malapetaka itu terjadi. Kami dibantai 0-3 tanpa balas di babak pertama.

Dengan label ‘juara beratahan’ tersemat atas nama kami, kami berusaha bangkit untuk mengejar ketertinggalan. Setelah bersusah payah, Alvaro Morata berhasil mengurangi selisih goal itu. Namun, malapetaka lain sudah mengintip dan menghantui. Begitu kesempatan itu tiba, maka habislah! FABREGAS mendapat kartu kuning kedua. Ia di usir lagi oleh Craig Pawson!

Craig Pawson, akhirnya dituding menjadi dalang oleh banyak orang yang kecewa dengan pertandingan malam ini. Sekian!

Sedih! Tetapi Tetap Semangat.

Kesempatan bagi Jeremie Boga untuk menembus starter tiap game sepertinya sirna. Tapi selukis kebanggaan tetaplah ada! Andreas Christensen, Kapten kami di masa depan menunjukkan permainan yang brilian. Dan dari para pemain sangat bagus! di sinilah mental-mental juara di asah! Salam #KTBFFH

Mandi Kembang

Hari ini aku mandi kembang lagi, setelah terakhir kali melakukannya sekitar 4 bulan yang lalu. Dulu aku rutin mandi kembang ini setidaknya sebulan sekali sejak insiden yang pernah menimpaku beberapa tahun yang lalu. Rasanya aneh sekali, bagi orang yang cukup (kalau tidak mau menyebut sangat) rasional seperti saya ini untuk mempercayai sebuah klenik yang konyol.

Sebenarnya aku tidak ingat, kapan pertamakalinya aku mandi meniru putri-putri keraton sejak dari jaman bahaeula hingga kemudian turun-temurun sampai kepada Ratu Shima yang terkenal, Pramodya Ayu Wardani yang agung, Ken Dedes yang elok, Tribhuana Tungga Dewi yang jelita hingga entah siapa yang apa, yang pasti saat insiden itu terjadi itu bukan kali pertamanya aku malakukan mandi kembang. Ketika itu, orang-orang mengatakan aku kena sawan. Sebab sehabis melayat aku jadi sering-sering kena demam tinggi. (Meskipun secara statistik, aku jarang sakit. Paling-paling 2-3 kali aku jatuh sakit dalam setahun, walau anehnya aku sakit dalam bulan yang sama sehabis melayat ke orang meninggal).

“Bah kena sawan!” kataku dalam hati setiap kali ingat klenik ini, kalau ada cermin yang bisa mengekspresikan wajah yang sebenarnya, pasti cermin itu menunjukkan aku sedang mencibir lalu menepuk jidat dan geleng-geleng kepala.

Tapi terlepas dari sawan atau sugesti atau logika mana yang mampu menjelaskan perkara ini dengan baik, mandi kembang ini membuat badanku rileks dan segar. Seumpama badan yang letih itu pun hanyut bersama air yang mula-mula mengguyur di sekujur tubuh. Seumpama lelah dan lesu yang membebani terangkat oleh uap-uap harum yang mengepul dan mengikat dengan udara bebas.

Dan apapun resikonya, mandi kembang itu enak sekali. Kamu bisa mendapatkannya di pasar dengan harga lima ribu. Dan cara menyiapkannya pun gampang, didihkan aneka kembang itu dalam satu ompreng (*baskom alumunium buat nanak nasi) sambil dibacakan Basmalah.

Saturday, August 12th 2017
Andy Riyan

Kemanusiaan Yang Memudar

Hallo Amigos! Aku sangat menyesal telah begitu lama tidak menyapamu. Aku sangat menyesal tidak menyempatkan diriku sendiri untuk menuangkan hal-hal kecil yang melintas dalam imajinasiku dan membagi pada dunia kedua ini. Sungguh aku sangat menyesal! Tetapi betapapun besar sesalku ini akan menjadi tidak berarti jika pada akhirnya tidak aku temui akhir dari penyesalanku.

Orang-orang mengatakan bahwa selukis indah masih mampu tercipta bahkan ketika matahari telah menjadi senja. Senja mampu mengembalikan mereka, robor-robot kehidupan, kepada keluarganya; mengembalikan burung-burung kepada sarangnya; mengembalikan jiwa yang lelah pada kesempatan yang lebih baik untuk esok yang akan tiba. Namun, tidak bagiku. Senja yang sama, masih tetap luka yang sama. Senja tidak mengembalikan diriku pada kemanusiaanku yang semakin memudar. Sebagaimana aku masih terjebak pada pencarianku. Aku yang masih belum menemukan arti pulang meski kakiku telah menapak pada lantai-lantai di seluruh rumah. Aku masih belum merasakan pulang meski jemariku telah menyentuh dedaunan dari tanaman-tanaman yang tumbuh di halaman, yang senantiasa tercium dingin rerumputan sekalipun telah menjadi kelabu. Aku masih gamang dengan aroma pulang meski paru-paruku telah penuh dengan manis dan sedapanya aneka masakan di dapur tempat pelipur lara itu.

Seharusnya hanya segelas kopi yang terhidangkan sementara aku menceritakan kisah-kisah pengembaraanku dan menemani dunia yang sepi ini dengan semua cerita apa saja yang mampu memninggalkan jejak agar ku kenangkan. Seharusnya sedikit saja tertulis sedihku ketika Chester Bennington, seseorang yang telah menulis banyak hal dan memperkaya masa mudaku, dilaporkan mengakhiri hidupnya. Mungkin aku bisa berbagi rasa yang sama dengannya ketika, tidak menemukan rumah sementara senja memudarkan kemanusiaanku yang semakin merenta.

Amigos! Tanpamu, aku telah menjadi mesin yang membosankan. Hanya ketika aku bermain dengan tempat dengan pola-pola rumit dalam sebuah jejak sederhana inilah aku merasa menjadi manusia. Satu garis yang menyimpang dari pola yang seharusnya urutdan runtut inilah yang justru membuatku menyadari bahwa aku bukanlah mesin, meski harus kuakui jika kemanusiaanku semakin memudar.

Kemanusiaan Yang Memudar
© Andy Riyan

For Eternity

I walk close to the edge of night.
Didn’t know, it’s skies falling
or I am flying.
That I know, we and the stars
become neighbours.
Bellatrix and Orion
are in the next door.

One day on September.
I was looking for
a moment to remember.
The peace caught my self
and my souls
altogether.
All shall be better.
If they didn’t put on my hands
a giant monster.

I walk head towards tomorrow.
Time it’s only matter now,
but I keep push myself through anyhow.
And time,
the thing I have to decide wisely,
to being becoming with you
to live spare in eternity.

Poem written by jejakandi

Dari Sebuah Kedai Kopi

Dari Sebuah Kedai Kopi
Oleh : Andy Riyan

Desember 2016

Aku datang ke kota ini untuk menemui seorang teman. Kota yang sudah hampir dua tahun ku(lupa)tinggalkan. Kini dihadapanku secangkir kopi terhidanglan dengan sepiring pisang goreng. Bila kedua aroma itu bersatu dalam keadaan kudua-duanya masih panas dan dalam keadaan ketika uap-nya masih mengepul-ngepul menggoda, maka tak ada hidangan yang lebih lezat atau lebih menarik perhatianku, yah setidaknya untuk saat ini. Karena kenyataannya satu jam setelahnya aku dibuat terkagum-kagum dengan seseorang yang bercerita di hadapanku.

Desember 2010

Sore itu, angin dingin berhembus dari celah-celah pepohonan yang banyak tumbuh menjulang di halaman kampus. Deras sekali sapuannya hingga membuat daun-daun pun kemudian jatuh berguguran dan tersapu ke segala arah, menari mengikuti irama ranting-ranting yang mendesah bagai sedang mempersembahkan sebuah background dalam scene musim gugur seperti di banyak film-film roman cinta, dimana tokoh utamanya tidak jarang menampilkan wajah-wajah seperti sedang dirudung nestapa. Dalam pada itu di bawah mentari—yang seharusnya masih—senja, di balik bayang-bayang pepohonan yang tak begitu jelas yang sebentar terlihat lalu detik berikutnya kabur lagi, kurebahkan diriku di atas rerumputan, tangan kuangkat tinggi-tinggi; ingin sekali kuraih puncak-puncak pepohonan itu dan berdiri di tasnya dan memandang luas kesekelilingnya. Di atas tanah ku hanya bisa membuka kedua tanganku, rasanya ingin kutangkapi semua daun-daun yang jatuh laksana hujan.

“Apa yang aku pikirkan sekarang?” Kataku pada diriku sendiri. “Hanya daun-daun yang berguguran di bawah temaramnya mentari senja, mengapa begitu indah?” Aku kemudian bangkit dan mengeluarkan dari dalam tas, sebuah buku ukuran sedang bersampul hitam berbahan kulit imitasi–buku yang kemana-mana selalu ku bawa–lalu menuliskan apa yang baru saja dikatakan itu.

“Apa yang harus kulakukan? Kemana aku harus berjalan menemukan jati diriku?” Sambil berpikir mengapa rata-rata anak kuliahan sering dihantui oleh pertanyaan seperti itu, kembali kujatuhkan lagi tubuh kurus ini ke atas rumput-rumput yang mulai menguning dan terlihat teramat lesu.

Dinginnya udara yang tengah berhembus bercampur dengan banyaknya dedaunan yang menyapa itu berhasil membuat sebuah perpaduan bau-bauan yang harum, dan rasanya seperti sesuatu yang segar atau dingin bila digigit. Dan dedaunannya yang singgah dan menempel di kulit terasa seperti tetesan embun pertama yang jatuh di pagi hari. Perpaduan itu cukup memberi semangat bagi siapa saja untuk bangkit dari keterpurukan di dunia yang telah mati, dunia yang gelap karena mendung yang menggantung dan kabut yang tak berujung, setelah hanya abu-abu yang terlihat di seluruh kota. Berbulan-bulan sudah kota itu tak berwarna selain hanya kelam seperti kisah masa lalu yang putih dan hitam penuh bayang-bayang kesedihan. Berbulan-bulan sudah kota itu lumpuh akibat erupsi gunung berapi yang berkali-kali meletus dan menyemburkan awan Wedhus Gembel dan memuntahkan abu yang tiada henti menghalangi masuknya sinar mentari. Sedemikian parah bencana itu hingga membuat aktivitas di seluruh kota terganggu. Debu-debu di jalanan setebal 5 senti menjadi becek oleh hujan, pasar-pasar sudah lama tutup total, bencana kelaparan mulai menjadi-jadi, wabah penyakit berdatangan, segala kebahagiaan terhisap dalam kehampaan dan tidak sedikit korban telah dilaporkan meninggal. Pendek kata kota itu menjadi seperti bumi Mordor, dengan Ereth Gorgoroth-nya yang menghampar tak berbatas dan tak bertepi. Hanya tarian dedaunan itulah yang hidup, tarian dedaunan itu seperti dua Hobbit kecil merangkak di negeri Mordor, sebuah harapan untuk bangkit dari kegelapan.

Namun, meski kegelapan telah menghampar sejauh mata memandang hingga hanya kabur dan bayang-bayang yang terlihat dan menjadi tak terlihat sama sekali semua gambar-gambar di baliknya. Meski karena kota itu menjadi semengerikan Silent Hill, mengisap seluruh semangat yang dulu pernah membara, menebarkan rasa putus asa yang sangat dalam, dan selalu mengingatkan pada bumi yang seluruhnya adalah surga yang kosong dan membuat penduduknya seperti Zombie. Tak menghalangi bagi seorang laki-laki untuk lahir dan menjadi seorang pemimpi. Yang kilat matanya selalu menyemburatkan cahaya lilin yang kemudian berkobar dan siap membukakan diri dari tirai-tirai gelap hatinya.

Angin, nama laki-laki itu, seorang yang berkharisma. Aku berkenalan dengannya tepat tahun lalu di sebuah kedai kopi.

*Bersambung


Re-edit cerpen yang ditulis tahun 2010. Cerpen yang cukup panjang dan sengaja dipartisi menjadi banyak bagian supaya bisa menemukan feel nya lagi seperti ketika dulu menuliskannya. Dan untuk memberikan nuansa flash cerpen sehingga mudah ditemukan benang merahnya dan mempermudah dalam penyusunan menjadi pecahan yang lebih utuh.

Tentang Petunjuk dan Jalan

A post shared by Andy Riyan (@jejakandi) on Jun 29, 2017 at 4:45pm PDT

 

Tentang Petunjuk dan Jalan
Oleh: Andy Riyan

“Bimbing (antar)lah kami (memasuki) jalan lebar dan luas.” QS. Al-Fâtikhah : 6

Ada terdapat banyak jalan yang membentang di depan kami. Dan diantara jalan-jalan itu banyak jalan yang menuju kepada Ridho Tuhan, baik itu yang berkelok-kelok naik turun banyak berbasa basi ataupun jalan yang singkat, cepat dan tidak bertele-tele. Sebagian merupakan jalan yang menjauh kepada mengingat Tuhan. Menyimpang dan semakin jauh menuju keaesatan yang sangat dalam. Maka kami memohon petunjuk kepada-Mu ya Allah, Engkau yang Mahasuci dan segala puji menjadi wajar jika hanya milikMu saja. Bimbing (antar)lah kami (memasuki) As-shirat Al Mustaqim. “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.” QS. Al Fâtikhah : 7.

Dan kami memohon kepada Allah untuk selalu membimbing kami kepada jalan yang menuju As-shirat Al Mustaqim itu setelah mendapat hidayah, karena sungguh kami tidak tahu diantara banyak jalan yang Allah Ridhoi ini bisa membelok lagi. Karena sungguh “Allah menambah petunjuk untuk orang-orang yang telah mendapat petunjuk.” QS. Maryam :76.

Sebab bisa jadi kami menjadi sesat setelah mendapatkan petunjuk-Nya. Sebab “Betapapun tajam dan pekanya indra manusia, betapapun tajamnya mata seseorang, ia akan melihat tongkat yang lurus menjadi bengkok di dalam air.” Tafsir Al Misbah Vol. 1, Quraish Sihab. Kejadian ini hanya bisa dijelaskan setelah mendapat petunjuk, bahwa itu adalah salah satu dari fenomena Fisika.

Tentang petunjuk dan jalan-jalan yang menuju kepada banyak tempat, tentu banyak pula yang menuju As-shirat Al Mustaqim. Hanya saja kami tidak tahu yang mana. Maka tak henti kami memohon. Berulang-ulang Al Fatikhah kami baca setiap harinya karena kami takut kepada kesesatan dan jalan yang jauh dan semakin menghindar dari mengingat Allah. “Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.” QS. Ali Imron : 8.


DAFTAR PUSTAKA

Sihab, Q., 2011, Tafsir Al-Misbah Vol.1, Jakarta: Lentera Hati

Hal-hal Sederhana Yang Bisa Dilakukan Utuk Merefresh Pikiran

Membicarakan tentang hal-hal sederhana yang bisa dilakukan untuk kembali menyegarkan otak tentu sangat relatif, berbeda-beda untuk setiap orang. Mood booster, begitu orang-orang biasanya menyebutnya. Mood booster sendiri secara sederhana bisa dimakanai sebagai dorongan untuk meningkatkan mood. Jadi apa relasinya atara mood booster dengan mind re-refresh? Yak betul! Seperti yang pembaca duga, ketika mood baik otak pun maksimal dan pikiran bisa bekerja dengan sangat baik.

Tentu ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk merefresh pikiran salah satunya adalah dengan jalan-jalan, piknik, travelling dan sebagainya. Namun ketika di momen libur lebaran seperti ini, ketika semua orang berbondong-bondong mengunjungi tempat wisata yang menyebabkan jalan-jalan menjadi macet, bukannya pikiran jadi fresh tapi malah jadi tambah stress. Lagi pula liburan ke tempat-tempat seperti itu makan banyak biaya juga, ya gak? Alternatif lainnya yang bisa dilakukan penulis untuk refreshing tentu membaca banyak buku lebih-lebih buku yang masih baru —cukup tau aja penulis sedang menghabiskan The Fall-nya Albert Camus, dan apa cuma perasaan penulis aja, kalau buku itu sangat sulit untuk dipahami seperti hati perempuan eaaaa *curhat–. Namun, itu bukan hal sederhana. Membaca buku bukanlah hal sederhana untuk penulis. Nah pengen tahu hal-hal sederhana yang biasa dilakukan penulis untuk merefresh pikiran? Langsung saja berikut ini…

1. Membakar Sampah

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Sumber gambar di sini

Membakar sampah adalah salah satu hal yang sederhana yang biasanya penulis lakukan untuk merefresh kembali pikiran. Biasanya aktivitas ini dilakuakan 3 hari sekali. Tentu mengherankan bagaimana hal sesederhana ini bisa menyegarkan kembali pikiran. Bagi penulis, membakar sampah itu bagaikan membakar kerumitan yang tengah berseliweran di kepala. Continue reading “Hal-hal Sederhana Yang Bisa Dilakukan Utuk Merefresh Pikiran”