Ditawari Janda

“… … … dua puluh lima, Pak?”

“Apanya, Bu, yang dua puluh lima?” tanya ku pada sahabat yang sekaligus menjadi partner kerja sehari-hari di kantor, aku tidak begitu memperhatikan pertanyaannya, beberapa kalimat awal terdengar hanya seperti gumaman.

“Kalau rencananya dua puluh lima, sekarang sudah mundur dua tahun.”

Aku hanya diam namun tetap menerka-nerka kemana arah pembicaraan itu.

“Selamat ulang tahun, Pak!”

Aku tersentak, lalu memeriksa Arlojiku, tanggal berapa hari ini? Seperti tidak yakin, sebab aku lantas mengayunkan kursi. Roda-roda itu segera meluncur mendekatkan ku pada sebuah dinding dan menempatkan jemariku pada kalendar bulan ini. Tertegun sejenak, iya ya, sekarang hari ulang tahunku. Sesungguhnya pagi ini pun aku terbangun tanpa mengingat hari ulang tahunku. Semalam juga aku tak ingat apapun, melainkan jatuh tertidur di atas manuskrip-manuskrip yang belum tersusun rapi dengan laptop masih menyala, yang tetap kubiarkan tak tersentuh ketika alam bawah sadarku mengrakkan tubuh untuk berpindah ke ranjang tidur.

“Sekarang sudah yang ke-27 kalinya njenengan sampai di bulan April. Semoga semakin didekatkan dengan jodohmu, Pak!” Dia menatapku dengan pandangan yang serius. “Ayolah ndang diniati, biar lekas bertemu.”

“Sebetulya aku sudah berniat di usiaku yang ke-24,” Aku kembali berapologi mengulang sebuah alasan sambil menerawang kembali pada ingatan masa lalu, “Seperti yang aku ceritakan waktu itu, kalau di akhir tahun aku akan melamar dia setelah upacara wisuda.”

“Sudahlah… jangan disesali…”

Aku berjengit, mendengar kata sesal yang dialamatkan padaku. Aku tidak pernah nyaman dengan sebuah penyesalan. Aku merasa sangat bodoh dan terlalu lemah jika berhadapan dengan penyesalan. Aku sangat tidak suka jika dituduh bahwa aku menyesali sesuatu. Tetapi aku tetap diam saja, walau sebetulnya, hatiku menggugat dan sangat inin mendebat. Dan sahbatku ini tidak tahu perasaan itu dalam hatiku, dia meneruskan.

Njenengan tidak akan pernah menang jika terus melawan alasan itu.”

Apakah dia mengeti? Aku bertanya-tanya.

“Gimana… Aku punya kenalan… Janda cantik dan masih muda.”

“Ha ha ha ha…” Spontan aku tertawa, aku tak bisa menahannya.

“Tenan lho, Pak! Cantik dan umurnya di bawah aku, masih tua an njenengan lah.”

Advertisements

Mainan Baru

IMG_20180310_193552[1]Woaaah! Hari ini aku dapat mainan baru! Dan sejak pulang kerja tadi, tidak bosan-bosannya aku memainkanya. Sebuah paket lengkap Violin itu aku pinjam dari temanku. Dari dulu aku selalu penasaran dengan alat musik yang satu ini. Violin amat berbeda dengan gitar walau sama-sama merupakan alat musik dengan senar atau dawai. Mungkin karena gitar lebih populer jadi cara memainkannya pun, menurut saya, mudah gitar. Dari pengalaman hari ini, aku tahu, ternyata aku adalah tipe orang yang mudah bosan, sebab aku mudah tertarik dengan hal-hal baru dan langsung giat mempelajarinya. Dan beberapa hal yang sudah aku kuasai biasanya menjadi tidak lagi menarik.

Namun, sampai tulisan ini dibuat aku masih sanggup mencoba dan terus mencoba bahkan sampai menuliskan beberapa lagu (bukan lagu utuh). Aku memang demen banget deh kayaknya soal menulis lagu. Sudah tak terhitung lagi lagu-lagu telah aku tulis, beberapa sudah aku aransemen menggunkan aplikasi Gutar Pro 5. Tapi dasarnya aku memang gak bakat sama musik, jadi lagu-lagu yang aku tulis sering berubah nadanya sesuai dengan suasana hati. Di kesempatan yang lain lupa sama melodinya. Dan untuk kasus lagu yang sudah pernah aku karang-karang liriknya bisa lupa liriknya. Dulu liriknya gak kayak gini, enaknya gini. Ya seperti itu deh. Hahahaha

Aku memang seneng banget nyoba hal-hal baru kecuali game. Aku paling mudah bosan dengan game, paling lama nyobain game itu sekitar sepuluh menitan lah, kecuali game sepak bola. Eh tapi, teka-teki silang dan catur itu termasuk game bukan ya? Kayaknya itu juga game… jadi yang aku maksud dengan game disini tentu permainan yang ada di hape atau PS gitu. Ah apa mungkin lebih tepat kalau disebut sebagai video game saja?

Oh ya, sebetulnya malam ini aku sedang fokus nonton sepak bola, antara MU vs Liverpool, ya mumpung lagi tengah main, aku sempatkan menulis dulu, itung-itung nyicil.

Tentang pertandingan kali ini, MU mainnya cukup bagus malam ini. Dan ada yang aneh dalam perasaan saya: setiap bola bergerak kemanapun saya masih selalu memperhatikan pergerakan Nemanja Matic, aku benar-benar rindu dengan dia. Dan Jose Mourinho…. Well, walau kisah cintaku dengan dia sudah usai saat dia menyebrang ke Carrington Road, aku masih selalu mendo’akan dia untuk menjadi nomor dua. Aku tidak pernah menginginkan dia menjadi juara bersama MU. Aku hanya menginginkan dia menjadi nomor dua, dimanapun di Inggris. Mantan memang tidak boleh bahagia dengan orang lain! Wkwkwkwk.

Bolanya sudah mulai lagi, aku pending dulu.

Dan yak…. Aku telah kembali, dan skor akhir 2-1 untuk kemenangan MU. Permainan babak kedua memang tipikal Mourinho banget. Kalau klub yang dia pimpin sudah unggul, dia memang sering kayak gitu, aku dulu juga kesel banget pas masih di Chelsea, mainnya malah bertahan melulu. Yak sebagai True Blue, rasanya jengkel banget diserang habis-habisan. Beruntung malam ini MU mampu memperthankan keunggulan. Coba keunggulan sirna atau malah kalah… sakitnya tuh gimana gitu rasanya.

Oh ya kembali pada Violin. Baru beberapa jam saja aku latihan dengan alat musik bersenar empat itu, lengan tangan ku rasanya sudah sakit sekali. Aku pasti benar-benar tidak tahu teknik yang benar bagaimana cara pegang Violin atau Biola. Kalau lihat di panggung atau di live konser, kok pemusik-pemusik itu bisa betah ya berjam-jam manggul alat itu. Ah rasanya memang seperti itu tidak ada cara khusu. Benda itu tinggal di tahan di atas dada kiri, dan dagunya di tumpangin di bagian badan Violin. Tapi kok aku tersiksa banget ya.

Ah tapi bagaimanapun juga, pengalaman ini sangat menyenangkan… setidaknya aku pernah benar-benar memegang dan mencoba memainkan alat musik, yang menurut beberapa musisi, merupakan alat musik paling sulit. Ia sulit banget cara menentukan nada yang tepat soalnya tidak ada freet-freetnya sperti di gitar, tidak ada pembatas yang jelas antara tangga nada yang satu dengan yang lain. Meskipun bisa dipelajari dengan teknik, memainkan benda ini tetap mendewakan feeling.

Untuk kamu yang belum pernah mencoba… yakin kamu harus mencobanya. Sekian dari saya. Saya Andy Riyan, bukan seorang musisi. Hah hah hah!

Keterangan: Foto merupakan dokumen pribadi penulis.

Apa Judul Yang Harus Aku Berikan Untuk Tulisan Kali Ini?

Duduk. Kemudian menyalakan komputer dan membuka aplikasi wordproressor… dan… kemudian bingung apa yang harus dituliskan. Satu menit dua menit masih terpaku menatap layar monitor. Jari-jari kemudian bergerak-gerak menuliskan entah apa, selanjutnya tanpa sadar betul apa yang tengah dilakukannya, telunjuk kanan menekan tombol backspace hingga tak satu karakter pun tertulis di layar. Karena bosan, akhirnya ada sebuah keputusan untuk menyalakan internet. Tapi Ironi! Hal yang pertama kali dilakukannya adalah membuka wordpress–mungkin karena rindu ingin menuliskan sesuatu di sana. Kemudian cemas dan bingung lagi mau menuliskan apa. Tidak hanya sekali dua kali aku tersiksa dengan aktivitas semacam ini. Sudah lama sekali bahkan sejak aku belum membuat blog di wordpress bahkan lebih jauh lagi sebelum di tumblr.

Aku bisa saja mempraktikkan semua teknik untuk menulis dan mengalirkan ide. Tapi semua teknik itu hanya ampuh ketika aku tulis di buku harian dan di draft komputer… dan tulisannya hanya layak untuk dikonsumsi pribadi. Tidak untuk dibagikan atau di post di blog. Continue reading “Apa Judul Yang Harus Aku Berikan Untuk Tulisan Kali Ini?”

Perjalanan Pulang

The Journey Home by Andy Riyan. A diary of a man who struggling to regain his bravery to fight for dream and overcome reality.

Suatu ketika sahabat penaku berkata: “Senja adalah saat ketika seseorang kembali pulang kepada keluarganya, mengistirahatkan lelah dari penat dunia yang terus berputar.” Dan aku sudah melewati banyak senja, tidak hanya sekedar sesekali saja, tidak hanya puluhan, ratusan kali aku telah melewati senja, namun aku belum menemukan rumah. Senja yang sama, masih tetap luka yang sama.

Senja tidak mengembalikan diriku pada kemanusiaanku yang semakin memudar. Sebagaimana aku masih terjebak pada pencarianku. Aku yang masih belum menemukan arti pulang meski kakiku telah menapak pada lantai-lantai di seluruh rumah. Aku masih belum merasakan pulang meski jemariku telah menyentuh dedaunan dari tanaman-tanaman yang tumbuh di halaman, yang senantiasa tercium dingin rerumputan sekalipun rumput-rumput itu telah menjadi kelabu. Aku masih gamang dengan aroma pulang meski paru-paruku telah penuh dengan manis dan sedapanya aneka masakan di dapur tempat pelipur lara itu.

Seharusnya hanya segelas kopi yang terhidangkan sementara aku menceritakan kisah-kisah tentang pengembaraanku dan seharusnya aku hanya duduk menemani dunia yang sepi ini dengan semua cerita apa saja yang telah memninggalkan jejak agar ku mengenangkannya.

Sekarang aku benar-benar percaya tentang pentingnya manajemen waktu. Ketika waktu yang aku miliki untuk dapat melakukan banyak hal terasa begitu sempit, begitu mencekik dan sungguh terbatas. Seringnya dalam berkelana, aku kecapekan. Aku ingin pulang menyelesaikan draft yang telah aku mulai. Ternyata bukan hanya waktu yang begitu mencekik, pikiran pun rasanya sudah terkuras. Sehingga apa yang ingin aku tuliskan pun tersendat-sendat. Aku mulai benar-benar iri dengan para penyair dan seniman yang sudah sangat produktif. Aku begitu iri akan para content creator yang tetap bisa mengisi lembaran-lembarannya dengan teratur disamping pekerjaan dan pengembaraannya dan perjalanan pulangnya yang sangat menuntut kegigihan dan kesabaran.

Aku ingin pulang. Ingin sejenak mengistirahatkan lelahku, sejenak bermimpi, mengembalikan energi dan semangatku yang pernah menggelora seperti dulu kala sebelum akhirnya aku harus melesat lebih gesit dan cepat. Aku membutuhkan pulang sebelum aku kemudian pergi lebih jauh dan menantang badai yang dahsyat di musim dingin. Kemanakah arah menuju rumah? Kemanakah langkah-langkah kaki ini harus tertuju? Aku ingin pulang.

Perjalanan Pulang, Andy Riyan, Maret 2018

I don’t know how to overcome this pain that I’ve held, for my regret of failing to take care of my mother because of overwhelming in work.

My Lord! I cried for whatever tears may become. I beg Your Mercy. Help me! Show me the way out to overcome this nightmare.

Cerpen : Orang-Orang Muslih dan Para Perusak

rahasia-kiamat
Sumber Gambar : Klik di sini

“Waduh tobat! Tobat… Tobat tobat nek kayak ngene carane.” Seru Kang Paijo ketika aku dan Kliwon sampai di Brak tempat kami–Aku, Kliwon, Kang Paijo dan Kang Paidi–saban sore ngumpul.

“Ada apa to, Kang?” Tanya Kliwon “Wong lagunya aja enak begini…”

“Untuk perempuan yang sedang dalam pelukan, Payung Teduh!” aku mengangkat dua jempolku dan menjentikkannya untuk mendukung Kliwon.

“… Kok misuh-misuh kayak orang kesurupan aja?”

“Njaluk disajeni!”

“Enak e, disajeni opo, Yan? Semprong atau gelas?” Kang Paidi meyahut celetukanku dengan kepingkal-pingkal dan tiada hentinya memukul-mukul alas duduk dari bambu.

“Nah pas banget, Kang! Ada dua gelas pecah, tuh, di rumahku tak ambilin po?” Aku pun ikutan memukul-mukul alas karena geli.

“Yan! Tega bener kamu, kamu juga Kang Paidi… ” Kliwon mecucu ke arahku dan Kang Paidi berganti-gantian. “Sahabat lagi susah bukannya menghibur tapi malah mengejek kayak gitu.”

Aku dan Kang Paidi bertatapan mata seoalah sedang saling mencari raut penyesalan antara satu sama lain. Kang Paidi menaikkan alisnya dan memberi isyarat ‘Kliwon sok suci tuh’ dengan gerakan kepalanya. Aku mengangkat bahu memberi isyarat ‘lah terus aku kudu piye?’. Kang Paidi malah mengulangi isyarat yang tadi.

“Ada apa to, Kang Paijo, sik bagus koyo Wedhus? Wajah riangmu sore ini pergi kemana?” Aku tak bisa merayu lebih manis lagi.

“Bagus koyo wedhus, raimu!” Jawab Kang Paijo. “Wajah riang! Wajah riang! Sok penyair kamu!”

“Ya kamu itu kenapa? Macam wong edan di pinggir jalan!” Tukas Kliwon tiba-tiba.

Aku dan Kang Paidi yang mendengar Kliwon berkata begitu, sontak langsung melempari kliwon dengan kulit. Aku melemparinya dengan kulit kacang, sementara Kang Paidi melemparinya dengan Kulit Pisang. “Sok suci!” dengus Kang Paidi. Kliwon marah, langsung mengambil kulit pisang yang mengenai pundaknya dan hendak melempar kembali ke arah Kang Paidi.

“Stooooooooooooooooooooooooooooooooooop!!!” Teriak Kang Paijo panjang keras sekali. Lalu membrendel kami bertiga dengan khotbah yang entah datang dari pikiran yang mana. Telunjuk kanannya menuding-nuding kami bertiga, sementara tangan kirinya berdecak di pinggang. Ia mendeliik menyeramkan, “Kalian semua telah berbuat aniaya! Kalian bukan orang muslih lagi! Kalian bukan Muslihin. Kalian bukan Muslihun! Dasar tukang-tukang berbuat kerusakan!”

Kami bertiga yang memang pada dasarnya adalah yunior dari Kang Paijo pun ketakutan. Kang Paijo tertua, disusul Kang Paidi, kemudian aku dan Kliwon. Aku dan Kliwon seumuran. Meski aku dan Kliwon adalah sarjana, sedangkan Kang Paijo dan Kang Paidi hanya lulusan SMA, kami hormat kepada mereka. Kalau mau cerita tentang bagaimana permulaan persahabatan kami, ah itu adalah cerita sangat panjang.

Masih ketakutan, aku kemudian mengambil tempat duduk mendekat ke Kang Paidi, Kliwon juga ngusel-ngusel ke sisi kami.

“Ngusel wae!” bisik ku ke Kliwon. Kliwon mendengus keras.

Kang Paidi memberi isyarat dengan telunjuknya yang ditempelkan ke bibir kepada aku dan Kliwon.

“Kang Paidi memukul-mukul alas duduk yang tidak bersalah, kamu itu berbuat aniaya… di tambah melempar kulit pisang kepada Kliwon, berarti Kang Paidi berbuat aniaya satu di tambah dua kuadrat.”

“Edaaaan! Aniaya wae ada kuadratnya, ha ha ha…” celetuk ku, tak bisa menahan tawa.

“Aniaya kuadrat untuk kamu juga, YANTO!!!” Kang Paijo mendelik sangar, marah padaku. Aku terkesiap dan mendadak tak bisa berkata-kata. “Kamu telah melmparkan kulit kacang yang tidak punya salah apa-apa ke kamu, terlebih lagi kamu melemparkannya ke saudara Kliwon dengan esmosi…”

“Emosi, Kang.”

“Sak karepku!” Bentak Kang Paijo kurang suka ceramahnya di potong oleh Kliwon. “Kamu berbuat aniaya kuadrat, Paham!”

Aku mengangguk-angguk, meskipun aku tidak paham betul yang dimaksud Kang Paijo.

“Kalian itu sudah berbuat aniaya dan berbuat kerusakan, tidak bisa disebut orang muslih lagi.”

“Interupsi Kang Paijo…” Kata Kang Paidi, “Mungkin yang dimaksud ‘kalian’ oleh Kang Paijo itu hanya Kliwon dan Yanto, saya tidak termasuk, wong tadi saya benerin Kandang Sapi nya Pak Lurah, seperti yang Kang Paijo saksikan sendiri.”

“Kamu juga termasuk!” Kang Paijo menuding Kang Paidi.

“Aku memperbaiki kok dibilang merusak…”

Tiba-tiba Kliwon bergumam : ”Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.’ Mereka menjawab: “Sesungguhnya hanya kami orang-orang muslih.” Sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang benar-benar perusak, tapi mereka tidak menyadari.”

“Apa lagi itu Kliwon?” Tanya Kang Paijo lunak.

“Kutipan surat Al-Baqoroh Ayat sewelas rolas.” Jawab Kliwon.

“Bentar! Bentar dulu, ojo main dolanan ayat sik. Sini sekarang kita diskusi aja. Kita nyatai saja dan lupakan ketegangan di antara kita, yang sudah berlalu biarlah berlalu.” Kata kang Paijo tiba-tiba lunak.

Aku ragu-ragu, tetapi melihat Kliwon dan Kang Paidi duduk bersila dengan nyaman di dekat Kang Paijo, aku pun meyakinkan diri untuk ikut berdiskusi.

“Begini loh… “ Kang Paijo mulai bercerita. Pagi itu Kang Paijo pergi madrasah tempat anaknya bersekolah, bermaksud mau membayarkan SPP bulanan yang sudah nunggak selama satu semester. Pagi itu di madrash sedang ada upacara rutin hari Senin, tanpa sengaja, dari luar sekolah, Kang Paijo mendengar amanat Pak Habib, pembina upacara hari itu. Kang Paijo tertegunb dengan isinya, bahwa seorang siswa tidak mudah akanmendapatkan ilmu kalau ia menganiaya. Menganiaya teman, menganiaya kepada apa saja yang tidak berbuat salah, mencoret-coret meja atau tembok misalnya.

“Nah Won…!” Kata kang Paidi kemudian.”Sekarang coba terangkan kepada kami, ayat tadi yang kamu sampaikan kepada kita, sepertinya pas banget tuh dengan topik yang saya dengar dari Pak Habib tadi.”

“Begini…” Kliwon mengambil tasnya dan mengambil buku catatanya lalu mengambil posisi kemudian menerangkan dengan gaya akademisinya.

“Sobyek ‘mereka’, menurut Profesor Quraish Sihab dalam tafsirnya adalah orang-orang munafik. Dalam ayat tersebut disebutkan bahwasannya orang-orang munafik ditegur oleh Allah, dikatakan kepada mereka melalui nabinya, janganlah membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab sesungguhnya ‘hanya’ kami orang-orang muslih.

Selanjutnya menurut yang dijabarkan Profesor Qurais Sihab, orang muslih, yakni orang-orang yang mengadakan perbaikan, lebih lanjut orang muslih adalah siapa yang menemukan sesuatu yang hilang atau berkurang nilainya tidak atau berkurang fungsinya dan manfaatnya sedemikian sehingga ia melakukan aktifitas perbaikan yakni menjadikan sesuatu itu menjadi lebih memiliki nilai, menjadi lebih bisa diambil manfaatnya tanpa merusak atau mengurangi manfaat dari sesuatu itu. Jelasnya tidak menjadikan sesuatu masalah menuju masalah lain.

Lebih lanjut profesor menerangkan bahwa seseorang di tuntut, paling tidak, menjadi saleh, yakni memelihara nilai-nilai sesuatu sehingga kondisinya tetap tidak berubah sebagaimana adanya, dengan demikian sesuatu itu tetap berfungsi dengan baik dan bermanfaat.”

“Itu menjadi semakin cocok dengan cerita Kang Paijo mengenai Pak Habib yang bilang tidak boleh berbuat aniaya.”

“Seseorang yang telah berbuat aniaya menurut pemahaman saya berarti tidak saleh lagi, sebab perbuatan aniaya telah menjadikan sesuatu kurang manfaatnya, atau telah menjadikan sesuatu nilainya atau bobotnya tidak seberat sebelumnya, telah berkurang manfaatnya. Perbuatan aniaya itu banyak sekali macamnya, seperti yang sudah di jelaskan Kang Paijo, yaitu misalnya mencederai sesuatu bahkan benda mati sekalipun yang tak punya salah, yang tak bersalah apa-apa sama si pembuat aniaya.”

Kami semua termenung.

“Menganiaya diri-sendiri, menurutku adalah hal sederhana yang sering kita terlewatkan untuk menyadarinya.” Kataku menyambung diskusi yang terlalu asik dan membuat jengah ini.

“Misal, tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya artinya tidak menjadikan diri kita menjadi saleh, karena tidak bisa membuat waktu yang kita miliki menjadi lebih bermanfaat, bahkan cenderung melakukan hal-hal yang tak ada gunanya. Apalagi di zaman teknologi yang serba cepat ini, ironinya, malah banyak melalaikan kita untuk segera mengakhiri banyak hal yang tidak ada gunanya, semakin menjerumuskan kita kepada hal-hal yang lebih sedikit gunanya.. Internet, misalnya, yang telah berkembang menjadi semakin ngebut malah membuat kita asik di dalamnya. Tau-tau satu jam dua jam sudah terbuang sia-sia untuk perang verbal, perang kata-kata untuk nyinyir dan segala macem keasikan di sana. Dengan semakin mudahnya komunikasi, semakin mudah pula memicu kontroversi dan konflik semudah memencet jempol pada tombol send. Melalaikan dan mebuai diri kita di dalamnya. Kita terpaku dan terjebak dalam keasikannya. Ah benar-benar aniaya.

Berbeda jika komunikasi dengan alat teknologi yang canggih itu digunakan untuk hal yang penting. Berbagi ilmu, koordinasi antar lembaga, kolega, sesama litas kerja, atasan bawahan dimana lebih menekankan pada efisiensi dan anggaran, jual beli online yang telah cukup sarat dan rukunya dan lain lain. Yang sifatnya dalah tidak membuang-buang waktu sedemikian sehingga membuat kita malas beranjak karena terbuai kenyamanan di sana.

“Alhamdulillah…..” Seru Kang Paijo dan Kang Paidi serempak dan itu membuat aku dan Kliwon heran dan bertanya-tanya.

“Aku ora kenal internet…!” Seru Kang Paidi

“Aku yo ora nduwe semartphone.”

“Wooooooooooo generasi zaman old!!!” Kata Kliwon tepat ketika Adzan Maghrib terdengar. Kang paijo mengajak kami bubar meninggalkan brak lalu mengingatkan kami untuk segera pergi ke masjid.

Orang-Orang Muslih dan Para Perusak
Oleh Andy Riyan
Maret, 7th 2018

Ketengan:

*Brak : Pos temapt berkumpul, biasanya terdapat di pertigaan-pertigaan atau perempatan-perempatan di sebuah desa. Menjadi pos tempat orang-orang melakukan kegiatan ronda.

Daftar Pustaka : Tafsir Al Misbah, Quraish Sihab, Lentera Hati

Guruku Adalah Setan

“Sinau kok ora karo guru, berarti sinau karo setan.” Kata ibuku beberapa hari yang lalu ketika kami sedang duduk-duduk di ruang makan. Aku bercerita kepada ibuku kalau sekarang rasanya aku mulai menyesali masa mudaku yang hilang entah kemana. Seharusnya ada banyak hal yang bisa ku pelajari di masa- masa yang masih, katakanlah, selo, sempat, ada banyak waktu luang untuk membacanya, untuk menekuninya sebagai pelajar full-time.

Sejak aku telah berjanji kepada diriku sendiri, bahwa aku tidak akan melakukan perbuatan yang akan aku sesali, aku pun menegaskan bahwa, sekarang pun masih belum terlambat. As vivid says “Long life study.” Aku masih bisa belajar secara mandiri, berguru pada alam, berguru pada buku-buku dan bermain-main dengan apa yang aku pikirkan. Kemudian tibalah pada saat-saat seperti ini, aku mesti bertingkah seperti pelajar yang sesungguhnya. Sudah terpikirkan di benak ku sekarang untuk memulai membaca ngemil, seperti yang disarankan Pak Hernowo Hasim, lain kali aku tuliskan review bukunya, Free Writing, yang sebetulnmya sudah selesai ku baca dan buatkan reviewnya, tapi masih ada di jurnal. Dari membaca ngemil itu pun aku juga ingin mengikuti teknik yang dikemukakan oleh Pak Hernowo, yaitu ‘Mengikat Makna’. Teknik itu beliau pelajari dari penulis-penulis yang kemudian ia terapkannya dan telah dijabarkan secara ringkas dalam buku-bukunya. Secara garis besar beliau memahaminya dari perkataan Khalifah Ali Bin Abi Thalib Karamallahu Wajha (599-661 M) : “ Ikatlah Ilmu dengan menuliskannya.”

Lebih Lanjut, Pak Hernowo, menyampaiakn perkataan Imam Syafi’i (767-819M) :”Ilmu itu bagaikan binatang buruan, sedangkan pena adalah pengikatnya. Maka, ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Alangkah bodohnya jika kamu mendapatkan kijang (binatang buruan) tetapi kamu tidak mengikatnya sehingga akhirnya binatang buruan itu pun lepas kembali.”

Tetapi lagi kata ibuku, belajar tidak dengan seorang guru adalah belajar dengan syetan. Aku membaca ngemil, belajar dari alam, belajar dari orang-oarang yang aku temui, belajar dari buku yang ada seperti idolaku Musashi, Ronin di zaman Shogun Tokugawa, lalu aku pun mulai menuliskannya, pertanyaannya siapa guruku? Guruku adalah SETAN!

Salam hangat dari saya Andy Riyan, tulisan selanjutnya, insallah mengenai para perusak dan orang-orang muslih.

Temanggung, 9 Februari 2018

Note :

  1. Bisa direnungkan, Guruku adalah Setan? atau Setan adalah Guruku?
  2. Gambar fitur The Crabby Cook

Aku tak pernah mewakili perasaan siapa pun ketika jatuh cinta. Namun,  lebih sering, aku tidak mewakili diriku sendiri ketika maju selangkah menuju apa yang ku cintai. Semua puisi yang merangkai kisahnya adalah bukti yang paling otentik mengenai perasaan itu dan prosa yang merangkai perjalanannya adalah bukti yang paling munafik akan semua hal itu.

Terkuras Sudah Pikiranku

“Kalau begini kapan aku ketemu dengan calon istriku…” itu adalah hal yang sering aku keluhkan ketika menyadari bahwa pikiranku terkuras untuk banyak hal. Rasanya aku terlalu overwhelming dengan banyak pekerjaan. Dan kalau terus begini, sulit sekali bagiku untuk mencapai satu level lagi yang lebih tinggi.

Rasanya pun sudah lama sekali tidak menulis di blog, karena akhir-akhir ini aku sibuk sekali dengan banyak kegiatan. Pekerjaan yang bertumpuk-tumpuk dan tiada habisnya menyita waktu dari pagi hingga malam. Ada banyak acara kondangan. Beberapa perjalanan dinas, keseringan ada acara pergi njenguk temen yang lahiran bla bla bla… Adalah alasan yang paling klasik ketika seseorang kembali menuliskan buah pikirannya di blog. Yah bagaimana lagi sih, karena itu memang kenyataannya. Dan sekarang Ijinkan aku untuk memakai alasan klasik ini untuk yang ke sekian kalinya. Udah sering, ya, kamu kondangan, kapan nih gilirannya di kondangani? Eh! Njenguk temen lahiran ya? Kapan eh kamu melahirkan! Amsyoooong aku laki cuk!

Dulu aku berfikir setelah selesai kuliah aku bekerja dari jam-jam tertentu hingga jam-jam tertentu juga. 8 jam sehari tidak masalah begitu. Setelah selesai kerja aku bisa memanjakan diriku berselancar dalam literasi dan buku-buku. Kemudian mencurahkan pikiranku dalam tulisan-tulisan, membuat sebuah karya atau hanya sekedar berinteraksi di blog.

Hah… di kehidupan ini ternyata ada saja hal yang menyita waktu hanya untuk sekedar berselancar di wordpress. Sebetulnya aku sangat menikmati saat-saat ketika menggulung layar membaca tulisan-tulisan kece yang nongol di WP Reader; tidak seperti dulu, blog walking rutin saya lakukan, kali ini blog walking terasa hal yang begitu langka buatku… Maaf jarang blogwalking seperti dulu dan jarang berinteraksi. Padahal blog walking dan berselancar di wordpress adalah hal yang paling positif yang pernah saya dapatkan selama bermain gawai dan internet. Tapi ah sudahlah… sekarang mungkin memang ini fase-nya, tahap ketika blog jejakandi ini menjadi sebuah instrumen atau medium untuk melepaskan penat dan mereduksi beban di pikiran. Subhanalloh, kepala sekecil ini ternyata bisa memikirkan banyak hal, Ya? Subhanalloh, dengan otak sekecil ini, aku masih saja mau memikirkan hal-hal yang mungkin aku tak akan sanggup jika dalam kesempatan yang sama, aku sadar bahwa pikiran-pikiran itu hanya sampah yang faedahnya cuma sedikit. Subhanallah… masih sadar, aku memikirkan banyak hal sampai yang tak berfaedah pun, masih mau mencurahkan di sini. Ah begitu banyak yang aku pikirkan.

Pernah suatu ketika aku sempat memikirkannya untuk mengolah semua catatan harian di buku-buku, mengolah banyak file yang berserakan di drive sedemikian rupa mencari benang merah dari pikiranku. Namun nyatanya sekarang itu menjadi angan yang sungguh indah untuk terwujud.

Perasaan ini mulai membebaniku, ketika aku menemukan kenyataan ini tidak pernah sesuai dengan harapanku. Dulu aku berpikir, aku hanya perlu bekerja untuk mengisi kehidupanku, kemudian setelahnya aku hanya perlu memusatkan pada impian dan cita-cita… namun, ternyata aku bukan anak-anak lagi. Ada banyak tanggung jawab di luar pekerjaanku. Dan rasanya kemanusiaanku bakalan terus meredup kalau terus begini, semua yang aku lakukan ini tidak sesuai dengan passion-ku. Aku perlu menata dan membagi ide ini sehingga aku bisa tetap fokus pada tujuan yang sesungguhnya.

Apakah aku menyerah sekarang dengan kenyataan ini? Tidak aku tidak menyerah, hanya saja rasanya aku butuh sesuatu untuk membuat kehidupanku lebih tertata.

Lebih tertata… ini berarti kau sedang merasa sangat berantakan sekarang? Iya. Aku merasa sangat kacau. Pikiran ini rasanya terus terkuras dan kadang aku merasa bosan dan jenuh dengan semua yang aku lakukan. Gak cuma sekedar bosan atau jenuh… tapi ‘enegh’. Sebetulnya sih, hal-hal seperti ini bisa aku atasi ketika aku bertemu dengan sahabat-sahabatku. Aku menganalogikan mereka sebagai charger bagi smartphone android. Namun charger yang sering aku gunakan ini ternyata hanya charger pinjaman. Tidak mesti sebulan sekali bisa mengisi gairah dan semangatku. Padahal aku membutuhkannya setiap hari. Itulah yang aku pikirkan, itulah solusi yang aku butuhkan, sahabat dua puluh empat jam. Ketika memikirkannya… entahlah rasanya aku membutuhkan seorang istri yang bisa menjadi sahabatku. Rasanya hidupku akan sulit tertata jika belum memiliki seseorang yang demi dirinya aku akan bekerja sangat keras dan menikmati semua yang ku lakukan, yang demi dirinya aku akan terus meluapkan kegembiraan dan rasa cinta yang tak habis, yang demi dirinya energi-energi alami dalam diriku bisa terus berlipat sebagimana energi yang dimiliki orang-orang yang dinaungi matahari, yang dimiliki para Cardinal Fire, para Arian. Ya… walau memang aku menyukai apa yang aku lakukan, tapi jika begini-begini saja, tenyata bisa bosan juga nih otak. Daaaaaaaaaaaaaaaah capek, cukup sampai di sini dulu tulisannya.

Saya Andy Riyan, beginilah postingan pertama saya di bulan Februari tahun 2018.

Eh.. Sudah Februari aja ya? Kayaknya kudu siap-siap membuat daftar reading list lagi nih… Ada saran? Nonfiksi boleh, fiksi juga boleh.

Salam!

Sebuah Prosa : Sayap Sang Waktu

“Jatuh cinta padanya? Oh tidak!” katamu pada sahabatku ketika kau ditanya perihal tentangku.

Sahabatku itu pun melanjutkannya, menirukan kata-katamu, lengkap dengan ekspresi marah dan semua gerak tubuhmu : “Perlu hati yang telah hancur berkeping-keping, untuk dapat jatuh cinta padanya, perlu tangis yang telah habis untuk dapat memahaminya, perlu ruangan yang telah meledak dalam semestaku agar dia mampu masuk kedalam hatiku.”

Itu adalah sebuah cuplikan obrolan yang terjadi di sela-sela istirahat makan siang, ketika aku menemukan fotomu bebrapa tahun yang lalu dan membicarakannya dengan sahabatku. Bajingan! Sahabatku itu memang sungguh bajingan, ia selalu tahu cara mengolok-olok diriku.

Tentang fotomu itu, aku hanya ingin membayangkan betapa bagus pemandangan itu. Sebuah landskap yang luas. Bagai permadani lautan zamrud, menghampar di depan mata. Tetapi hal terindahya adalah senyumanmu yang terlukis itu begitu tulus menatap padaku. Entah sebetulnya senyum tulus itu menatap siapa, yang jelas itu adalah senyuman di depan kamera, dan aku bukan tukang-foto-nya.

Pernah kau bercerita–walau aku tak pernah tahu—,sebetulnya kepada siapa kau bercerita, betapa kau sungguh menyukai nyanyian hujan. Pernah kau menceritakannya bahwa kau merindukan angin pujaan yang berhembus bersama butiran-butiran bening itu, sementara aku adalah pembaca dari kesunyian. Perlahan aku menelusup di antara lembaran-lembaran dalam kehidupanmu dan kemudian menyadari bahwasannya kau adalah perindu yang kesepian di tengah orang-orang yang mengintarimu. Kau adalah matahari dengan sembilan planet lainnya yang mengintarimu, tapi kau merindukan cerita tentang bintang yang lama telah kau cari.

Kau tahu, bintang yang telah mengalami supernova itu telah mati dan menjadi lubang hitam? Aku berharap kau mulai merasakan letihnya menunggu angin pujaan, sebab angin laut masih berhembus dan kau akan merasakannya hanya di bibir pantai. Kau tidak akan merasakannya di gunung. Atau di tengah ilalang. Bagaimana aku tahu? Kau tak melihatnya? Aku berada di tengah ilalang sekarang, di sebuah negeri yang terlupakan, negeri tempatku besar di tengah pergaulan.

Well, sebagai pembaca dari kesunyian yang terlalu lama menelusup dalam lembaran kehidupanmu… kuharapkan, sekali lagi, sayap-sayap patahmu tersembuhkan dan menerbangkanmu mencapai mimpi yang telah kau cita-citakan sejak dulu. Dan biarkan jemariku menjadi sayap sang waktu, di pagi yang dingin ini aku berdo’a untuk kesembuhan cintamu.

Sebuah Prosa : Sayap Sang Waktu

Andy Riyan

Note: ‘Sayap Sang Waktu’ sebetulnya adalah judul puisi yang aku gubah di hari kemarin. Puisinya masih di simpan, menunggu saat yang tepat. Hemmmm

-Feauture image by : meditainment.com