Hal Tentang 3, 3 Penulis Indonesia dan 3 Penulis Mancanegara Idola Saya.

3 Januari 2018. Hemm tanggal 3, angka yang keramat; Trimurti, Trinitas, Tripitaka, Trisakti, Trisatya… Tri… Tri apalagi ya… Tri Rahayu wkwkwkwk. Eh bener lho Tri Rahayu juga keramat, di jagat manapun, terlebih di Jawa, sepertinya selalu ada deh orang yang namanya Tri Rahayu. Ada di sini yang namanya Tri Rahayu? Selamat! Kamu termasuk orang yang keramat, semoga selalu sehat wal afiat ya… hehehe!

Selain hal-hal yang tersebut di atas, ada hal tentang 3 yang sangat keramat dalam kehidupan sehari-hari saya. Hal tentang 3 itu selalu aku pegang teguh. Hal tersebut berkaitan dengan sunnah rosul. Ya, walaupun saya ini gak alim-alim banget dengan agama saya sendiri, tetapi soal sunnah-sunnah rosul, yang diajarkannya untuk dilakukan tiga kali, saya senantiasa melakukannya. Dalam Wudlu, membasuh muka, membasuh tangan, mengusap sebagian dari kepala dan membasuh kaki itu yang wajib kan hanya satu kali, selebihnya, melakukannya tiga kali itu sunnah.

Dari sunnah-sunnah wudlu yang kesemuanya disunnahkan untuk mengulang sampai tiga kali itu, aku pun punya prinsip untuk melakukan beberapa hal hanya 3 kali : Menelpon, ketika hendak menelpon seseorang, sudah tiga kali belum dijawab, aku stop. Tiga kali mengetuk pintu dan mengucap salam, belum dibukakan atau salamnya belum dijawab, aku stop. Ngajak orang untuk kencan pun, kalau sudah tiga kali ditolak, aku juga stop. Nembak cewek? Gak kuat kayaknya kalau sampai tiga kali :v

Dan pada kesempatan kali ini aku juga ingin ingin menuliskan tentang ‘3’. Yaitu tiga penulis Indonesia dan tiga penulis Mancanegara yang menjadi idola saya.

Sebetulnya tidak fair juga kalau saya hanya menuliskan tiga penulis idola saya, karena sesungguhnya saya banyak sekali mengidolakan penulis-penulis Indonesia, penulis mancanegara pun demikian, banyak sekali yang menjadi figur inspiratif dalam kehidupanku. Tapi karena ini tentang ‘hal tentang 3’ jadi cukuplah alasan ini untuk hanya menuliskan 3 penulis Indonesia dan 3 penulis mancanegara favoritku. Biar sesuai judulnya dong! Ya langsung saja berikut listnya :

enneagram-three-3
Sumber Photo klik

1. Langit Kresna Hariyadi

Pentalogi Gajah Mada-nya yang diterbitkan oleh penerbit Tiga Serangkai sudah cukup bagi saya untuk menyukainya. Pentalogi Gajah Mada yang terdiri dari Gajah Mada, Gajah Mada : Bergelut dalam Kemelut Tahta dan Angkara, Gajah Mada : Hamukti Palapa, Gajah Mada : Perang Bubat dan Gajah Mada : Madakaripura Hamukti Moksa itu bisa disebut Roman juga kan, ya?

Pertama kali aku mengenal Langit Kresna itu Continue reading “Hal Tentang 3, 3 Penulis Indonesia dan 3 Penulis Mancanegara Idola Saya.”

Advertisements

​For losing simplicity in simplifying a simplified simplistic it’s not simple.

It just more complex rather than complex variables, that is no less than complicated in finding good implicit and explicit x factors for generalizing a function which suited for all problems. So that its solution can perform a reality of dynamic state variable.

-Andy Riyan-

Concerning The ‘Puisi’ and The Poem of The Spirit

Not who I am, to live beneath the shadows,// to unintended wandering around the world,// to walk away beyond my instinct.// Beneath the shadow to live, No.// I am not that type of person./

Tentang sebuah puisi. Aku lupa membaca di mana, yang jelas sudah bertahun-tahun kata-kata ini hidup dalam diriku : “Puisi adalah kata-kata yang paling jujur,” atau “Kata-kata yang paling jujur adalah puisi,” atau yang mana sajalah yang lain, bisa dipilih untuk mengartikan sebuah puisi. Yang jelas puisi selalu berkelindan dengan sebuah kejujuran meskipun maknanya terkadang bias dan makna yang sebenarnya sering disembunyikan atau dikorbankan demi kata-kata yang berima-rima.

Sore ini, aku berkesempatan membaca ulang semua—tidak semua, eh—puisi-puisi yang pernah kutulis di sepanjang perjalanan hidupku. Beberapa puisi memang sulit diungkap kembali feel-nya, dan beberapa puisi dengan mudah dapat tertangkap dan mampu menghadirkan kembali kekuatan seperti saat-saat puisi itu tertulis.

Terkadang aku tertegun ketika mengungkap sebuah makna dari larik-larik sajak yang kutulis sendiri, sebab tentu saja aku kemudian diantarkan kepada memori untuk mengingat kembali masa-masa yang telah lewat. Terkadang aku merasa menjadi makhluk lain dari luar angkasa yang tersesat dalam lemari-lemari sastra, menemukan harta karun yang tak ternilai harganya. Terkadang aku dibuat seperti seorang maniak yang menemukan buku-buku baru. Ketika membaca puisi-puisi yang telah aku tulis dulu, rasanya aku seperti membeli buku baru. Dengan tenang aku membaca ulang, masuk dan terkenang, seperti sebuah lingkaran hidup yang akan terus mengulang.

Berikut aku sajikan puisi dalam bahasa Inggris-nya, pada mulanya aku ingin memposting puisi itu dalam versi yang paling orisinal beserta imajinasinya sekarang, tapi itu membuat rumit dan membuat postingan ini tak enak dibaca, jika mau membaca puisi yang dimaksud bisa kunjungi link berikut ini Mengenali Jati Diriku (semula sudah aku buatkan link-nya dan aku hapus lagi, di terbitkan secara pribadi saja-lah).

Demikianlah pusi bahasa Inggris itu saya beri judul “The Spirit”

Not who I am, to live beneath the shadows,// to unintended wandering around the world,// to walk away beyond my instinct.// Beneath the shadow to live, No.// I am not that type of person./

I can’t deny for hesitant I held// I won’t stop going forward, nonetheless// the true power lies in my spirit,//to them, all despair will be defeated./

The spirit built my souls, always will,//for me to survive in every twists and turns.//Right and left of brain in my head, shall lead the way./

I look upon the sky was in grey,// no longer blue like in old days// because of shadow embracing the hopes of the day,// then I look within me, to the deep of the hearts,// dependable still, ready to compete, nevertheless./

Be strong, O my hearts! Along with my souls.// spirit sustains me, pushing me and morphing me, to terrific power,// to break the silence,// never stop breaking until destroyed and be ashes./

With you, those steps will not hesitate anymore.// Who lies in my hearts, always,//Someone I love the most who loved me,// give me solid power./

Stay, stay you beside me,// stay, stay you within my hearts,// I’ll be back to you, stronger/ and much more stronger because of you./

The fight will meet no ends there,// after finished my adventure,// time is upon us to journey together.// In joy and pain always together./

Wait, waiting for your time,// wait at dawn for my coming at the east,// I come with the sun,// rises in red to come for you./

I ain’t hesitate anymore, those spirit’s the cause,// because those spirit also there with you and with me here inside my hearts,// strong and won’t ever be froze up./

Concerning The ‘Puisi’ and The Poem of The Spirit
At the same time of the same day in the same world of today (C) Andy Riyan

Monolog Pagi

img_20171229_100229154873470.jpgAda yang sedang tidak beres pada hidup, jelas aku harus melihat lagi bagaimana cara berwudlu-ku.

Mengapa demikian? Memang demikianlah adanya, hidupku sesederhana itu : “Sik penting wudhu ne beres.”

Aku terlalu fokus pada hal-hal lain, sehingga wudlu kulakukan tanpa sadar belakangan ini. Jelas itu adalah kesalahan yang sangat besar.

Puncak tertinggi bagi kesadaranku sebagai manusia adalah wudlu.

Memang demikianlah adanya mengapa aku menulis. Menulis untuk diri sendiri. Dalam proses menulis, aku mengobati diriku sendiri, memberi makan pada jiwaku dan menemukan kembali fitrahku sebagai manusia sejati.

img_20171229_104849_1660565778.jpg

Monolog Pagi
©Andy Riyan

Gambar merupakan dokumen pribadi

The Sinner’s Poem : Self Destruction

Tak ada kedamaian bagi pendosa, tak ada rasa tenteram bagi yang tak mengenal cinta.

Yang ku benci adalah diriku bila iri tumbuh di hati, kedengkian meliputi nafsu dan kemarahan mengendalikan egoku.

Dan bagi ketidakwarasanku, akal yang tak berguna, birahi yang menggelora dan dendam yang membara; adalah muara semua nista.

Andy Riyan

ALGORITMA DAN RESOLUSI TAHUN 2018

Cabang ilmu Matematika, Matematika Komputasi dan Pemograman Komputer yang memuat urutan kejadian atau urutan eksekusi, urutan kemungkinan, urutan konsekuensi dan pemrosessan yang dimulai dari Start dan diakhiri oleh End dari suatu proses apa saja. (Penulis)

Malam telah larut, suasana di desa sudah semakin sepi dan sedang beranjak untuk jatuh dalam lelap. Aku mengambil panci kemudian merebus air, entah bagaimana algoritma* ini selalu berjalan secara otomatis. Algoritma yang mana? Begini ketika aku mengambil panci dari rak tangan kiriku otomatis membuka keran kemudian dengan cekatan tangan kanan menempelkan mulut panci ke ujung keran dan hanya dalam hitungan ke lima tangan kiri sudah otomatis lagi menutup keran kemudian aku memutar badan sejauh 190 derajat maju beberapa langkah dan lagi-lagi secara otomatis panci pindah dari tangan kanan ke tangan kiri diikuti gerakan tangan kanan memutar knob kompor dan langsung menaruh panci itu di atas api.

Algoritma selanjutnya pun kalau dipikir-pikir juga sangat mencengangkan; setelah memastikan api biru menyala baik di bawah panci, aku mengambil gelas kemudian menyendok tiga sendok kopi dan setengah sendok gula, kemudian berdiri mematung sekitar 3-4 menit di depan kompor beserta pancinya lalu menuang air mendidih itu perlahan-lahan dengan jarak kira kira setengah meter tingginya antara mulut panci dengan gelas.

Semua algoritma ini berjalan hampir tak pernah kusadari. Dan menyadari algoritma-algoritma yang terjadi dalam kehidupanku ini membuatku benar-benar tercengang, bahwa apa yang aku lakukan itu merupakan sebuah repetisi yang jika terjadi suatu hal– hingga repetisi itu tidak berjalan secara wajar— sedikit perubahan perilaku akan terjadi pada hidupku.

Bagaimana mungkin diantara jutaan kemungkinan ini aku sering memilih hal yang sama atau lebih menyukai hal yang sama untuk dilakukan atau untuk disenangi berkali-kali. Dan bagaimana mungkin pula aku menjadikan diri sendiri terjebak menjadi objek observasi, untuk sebuah teori yang kubangun bertahun-tahun yang lalu bersama sahabatku yang kini Continue reading “ALGORITMA DAN RESOLUSI TAHUN 2018”

Lubang Di Hati

Terasa begitu kini
lubang di hati;
menusuk begitu sepi
lapisan-lapisan ingatanku.
Ada rasa yang tak terganti
tak akan mungkin.

Seribu tahun aku menunggu pun,
setiap hari pun embun menetes di hati,
selembut apapun napas membelai;
tak akan terganti.

Terasa begitu kini
sangat dalam lubang itu;
luas sekali.
Hingga kekosongan itu
akan tetap kosong selamanya.

Hanya ingatanku,
bersama rasa itu,
yang tersisa.
pun akan hilang juga
bersama memudarnya diriku
bila tak tinggalkan nama.

Kini begitu terasa
hangat rasa
yang kini tiada.
Ada.
Semula tak kurasa.
Tiada.
Begitu kini terasa.

Tiada itu akan selamanya.
Abadilah lubang di hati.
Abadi…
Abadi…
Abadi nyeri ini.

Lubang Di Hati ©Andy Riyan 

Di Ujung Pagi

Di relung harapku, aku menanti
di sisa hujan yang hanya gerimis kini
Aku masih saja menanti
di antara malam-malam yang lagi tak berseri
aku masih menanti
hingga di ujung pagi
mendung masih saja menggantung
dan harapku pun menjadi dingin lagi.

©Andi Andi Lumut
December, 23rd 2017