Terkikis habis sopan santunku

Mari kembalikanKita tulis puisiPada bentuk asalnya;Suara kehidupan Sebab terkenangkanOlehku, harumnya rerumputanIndahnya nyayianBisikan keqadiman. Layu tubuku, meluruh hatikuKering dan kosong jiwakuTak kuasa membendungnyaNurani dan pemberontakannya Terkikis habis sopan santunkuMuak sudah dengan segala ketakjujuranmu. Andy Riyan, Desa Hujan, 2021

Surat Untuk Sahabat: “A Letter From Me to Me 10 Years From Now

Ha ha ha! Halo, Bro. Apa kabar? Ha ha ha! Maafkan aku yang tiba-tiba menyapamu dengan tawa. Tapi jika kamu ingat hari ini (10 tahun yang lalu) kamu pasti maklum, karena memang kita, entah sudah berlalu sejak berapa lama, selalu suka begini; suka menertawakan diri sendiri. Kuharap kamu di sana masih suka tertawa dan menertawakan…

Mengapa Menulis Dibandingkan dengan Media Ekspresi Lainnya?

Mengapa menulis dibanding media ekspresi lainnya? Itu adalah pertanyaan yang cukup menarik yang diajukan oleh seorang komentator pada postingan yang berjudul Tanpa Sekat Tanpa Pembatas di jejakandi ini; Nita. Kurasa ini adalah komentar pertamanya di sini. Silakan Amigos bisa mampir di blognya Nita, di sini https://jnynita.com/ Sebagaimana telah kujawab di sana, bahwa menulis adalah media…

Melankoli Cinta Segitiga

Aku tak pernah melihat seseorang dengan raut muka yang lebih sedih dari seorang yang kutemui di suatu senja, di salah satu gerbong kereta api, dalam sebuah perjalanan antara Malang-Jogja. Perempuan yang kutemukan duduk menghadap diriku di sisi jendela itu terlihat begitu pucat dengan sinar mata yang redup. Aku tak ingat di mana perempuan yang berpakaian…

Naomi, Oh Naomi

“Biarkanlah terik mentari membuat kering berdua hati kita,” Rodrigo menatap wajah Naomi begitu lekat. Namun, Naomi membuang muka. Matanya tertuju pada barisan bukit di sisi utara kota. Ingatannya tertuju pada Jay, seorang pria yang telah ia kenal sejak Sekolah Dasar. “Di mana dia sekarang?” Naomi bertanya-tanya dalam hati. “Naomi…” panggil Rodrigo lirih. “Suatu hari tetesan…

Sebuah Puisi dan Tiga Soneta

Dan betapa beruntungnya dia, yang pernah memberikan tulusnya cinta
dan dia, yang telah menerima cinta yang begitu manis

Bahasa Diam

Hari itu adalah musim dingin, di bukit Alap-alap; tiga kilometer dari Desa Hujan, aku bertemu dengannya, sebut saja namanya Amir. Sebab semakin lama kuperhatikan, ia semakin mirip dengan Amir Khan karena perannya sebagai Rancho; satu dari 3 idiots dari ICE. Aku dan Amir tidak banyak bicara, atau lebih tepatnya kami saling berbicara dalam bahasa diam….

Bahasa Kesunyian

Dingin dan gelap; dingin yang meraba-raba indera perasa dan gelap yang menghalangi kedua mata. Dingin menyerang sekujur tubuhku; gelap tidak hanya membutakan penglihatan tetapi juga perasaan; kepekaan mata hatiku. Sekujur tubuhku yang membeku mematikan tidak hanya simpul-simpul kesadaran, tetapi juga akalku. Aku mati; I think I’m going insane—aku pikir aku akan gila; mataku tak dapat…

Lembaran Kertas dan Pena

Katakanlah kepada jiwamu! Tak semua tangis itu dosa dan kekanak-kanakan. Kau boleh menangis dan memohon pengampunan. Akan tetapi kau tidak boleh lupa untuk kemudian menghapus air mata itu. Lalu bangkit tegak dan sambut harapan yang lebih baik. Hal terindah yang dimiliki manusia adalah selalu terbit dalam hatinya sebuah optimisme, seperti mentari harapan yang hangat.

Ketika Keran Pertama Terbuka

Suatu hari ketika saya memulai untuk menuliskan ide dalam sebuah lembaran-lembaran buku tulis, kalimat pertama yang muncul begini: “Untuk pertama kalinya aku mempraktikkan free writing di buku.” Sebagai mana yang sudah saya katakan “ketika saya memulai untuk menuliskan ide” sebetulnya saat itu tidak ada ide yang pasti yang ingin saya tuliskan—saat itu yang muncul dalam…