Damayanti & Nala : Terlantarkan Di Belantara Tak Bernama

“Bumbu masak, sayuran dan buah-buahan segar, dia pasti pergi untuk mengumpulkan itu.” Pikir Damayanti, ketika ia terjaga dari tidurnya, dan menyadari tak seorang pun di sisinya. “Nala?” Namun gung liwang-liwung itu senyap sekali. Suatu hal sedang berjalan tidak seperti sebagaimana seharusnya. “Nala?” Ia lalu bangkit dan berjalan diantara lebatnya pohon-pohon raksasa dan berseru memanggil, “Nala!”…

Prosa Di Hari Senja

Aku masih bersama senja setelah langkah kita tak lagi menapak di tanah yang sama, tak kusangka artimu sebagai tanda henti. Pernah ku kira itu hanya sebatas tanda koma, namun ternyata ia bersama malam menuju titik nyata, Ah! Sayang sekali padahal malam sedang sahdu-sahdunya. Ungu! Bukankah dulu kau berjanji setia padaku “Biarpun jingga menyentuh cakrawala tak…

Prosa Selepas Hujan

Sore hari selepas hujan, dua orang manusia sedang duduk bersama pada sebuah bangku panjang di suatu bukit rendah di tengah kota. Di belakang mereka tumbuh sebatang pohon yang rindang yang ranting-rantingya tumbuh memanjang meneduhi mereka dari gerimis yang merinai-rinai lembut. ​ Gambar disini Duduk bersisian antara satu sama lain, mereka memandang jauh kepada gedung-gedung tinggi yang…

Segi Empat #2

Duri,2019 Pagi itu gerimis hujan turun, rintik-rintik lembut seperti jarum tumpah di seluruh desa. Mula-mula hanya dedaunan di pekarangan rumah yang berkilauan seperti perak cair tertimpa sinar matahari. Sinar emas itu menembus di sela-sela gerimis yang lamban; pagi yang indah, garis halus yang merinai-rinai. Namun tak lama, selokan mulai tergenang oleh air yang beriak-riak mengalir…

Perkin’s Country Store and Merry’s House

Dia hidup lama dalam liku-liku kehidupan di sebuah gubuk tua bekas gudang aspal. Sebuah gubuk yang dulunya sering di pakai untuk menimbun drum-drum berisi getah pinus yang diangkut dari hutan. Gubuk itu berada di sisi selatan kota kecil di sisi yang salah dari trek jalan. Sehingga bangunan kayu yang reyot itu terisolasi dan sepi dari…

Segi Empat #1

21 Juli 1996 Berantakan. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan itu, keadaan ketika pertama kali Ai masuk kedalam ruang kelas satu; Bangunan di ujung undakan paling barat dari bagian sebuah gedung sekolah. Ai berdiri di depan pintu memandang kedalam kelas. Meja belajar tampak semrawut tak teratur, bukan, lebih tepatnya hancur, seperti isi kapal yang…

Sejak Tegur Sapamu

Berdiri di depan sebuah potong benda berbentuk persegi panjang; menatap kedalamnya, pada sebuah cermin kamu memperbaiki tatanan jilbab biru muda pilihanmu. Di wajah yang kamu tatap cermat–di dalam cermin itu–kamu meriasnya, menyapukan make up beberapa kali hingga merata. Sedikit memoles bibirmu dengan gincu. Di luar aku telah menunggu. Berdiri melipat tangan kemudian memasukkannya kedalam saku…

Bukan Pendosa Pertama

“There must be the world that I fail to understand even for only small piece about it. If evil must be come down to this world why they appear as human born.” __Andy Riyan Aku terbangun di pagi hari. Sendirian di sebuah rumah tua yang lebih mirip kandang daripada sebuah rumah yang paling lapuk sekalipun….

Gerimis Pagi

Kau telah jatuh cinta padannya dalam gemuruh tawa. Seketika ku tergoda untuk menjemput kata-kata yang sempat melintas di depan mata dalam kepala saat aku bertanya-tanya dulu kala. Lama berselang ku menutup telinga, kini terbayang mendengarkan suaranya sebuah derai yang menggema di dalam rongga dada. Membayang sebuah lagu ketika hujan dan bumi beradu dalam selang waktu…

Tujuan Yang Sama Akan Membawa Kita Bertemu

Jodoh itu tidak kemana-mana, jodoh ada dimana-mana… hanya kita saja yang berlarian kemana-mana. Jadi dimanakah dia? Aku percaya… jodoh tidak jauh dari lingkaran kita. Kita pasti pernah bertemu dengannya entah dimana. Banyak cerita terungkapkan mereka yang berjodoh dan menjadi suami istri itu bertemu di lingkarannya; teman seperjalanan, teman masa kecil, teman lama dan bahkan teman…