Jurnal Pagi: Aneh! Jutaan Orang Waras Tunduk Pada Segelintir Orang Gila

“Sebuah anomali yang dahsyat telah terjadi di era digital ini. Padahal era digital baru saja dimulai beberapa tahun belakangan ini, namun efek global yang terjadi begitu masif, seakan-akan meruntuhkan kebiasaan atau fenomena-fenomena lama yang sudah mengakar budaya. Bagi aku yang hidup di persimpangan zaman, antara zaman sebelum era digital dan zaman peralihannya, ketika zaman digital…

Jurnal Pagi: Bukan Sok Moralis

“Apakah cuma aku yang merasa…” adalah sebuah pertanyaan aneh yang di antara jawabannya, pasti ada yang menjawab ‘eh sama, aku juga ngerasa begitu’. Ya nggak? Apakah cuma aku yang merasa waktu terasa cepat banget berlalu? Perasaan baru kemarin aja bulan Maret atau Februari?—aku lupa—ketika lockdown dimulai, eh tahu-tahu sekarang sudah bulan Juni aja. Bener-bener dah…

Jurnal Pagi: Isinya Kosong, Duh!

Halo selamat pagi Mi Amigos, selamat pagi para pembaca jejakandi, selamat pagi Indonesia. Selamat datang di Jurnal Pagiku yang sederhana. Benar kata orang, hari Senin, bagi sebagian orang adalah hari yang berat bila dibandingkan dengan hari-hari yang lain. Gara-gara tidak kunjung selesai menulis jurnal pagi, kemarin aku terlambat tiba di kantor. Selain itu, sampai siang…

Jurnal Pagi: Yang Lebih Penting Daripada Disrupsi Adalah Kemanusiaan

Aku sudah sering bilang sebelumnya, di tangan yang tepat teknologi dapat memberikan nilai tambah dan kebermanfaatan pada suatu benda atau platform yang ada, bisa juga sebaliknya justru cepat merusak tatanan sosial yang sudah berdiri kukuh dan memperlebar kesenjangan di tengah kehidupan masyarakat apabila berada di tangan yang salah. Aku pernah memberikan sebuah contoh, smartphone, di…

Jurnal Pagi: Belajar dari Mahbub Djunaidi

Sebelum menulis jurnal pagi untuk edisi hari ini, Ahad tanggal 7 Juni 2020, aku menyempatkan diri membaca sebuah buku. Buku lama yang jadi pilihanku, buku kumpulan kolom-kolom yang ditulis Mahbub Djunaidi. Ada jarak yang sangat jauh antara isi buku tersebut dengan diriku, seorang pembaca masa kini. Kolom-kolom pemikiran Mahbub Djunaidi itu ditulis pada era 70-an…

Jurnal Pagi: Lupakan Sejenak Gelisahmu Itu

Pagi kurasakan datang lebih cepat dari biasanya. Waktu-waktu yang ada kurasakan semakin berhimpitan dan padat. Sesungguhnya ia tak pernah mempercepat dirinya sendiri apalagi melambatkannya. Tetapi ketika normal baru perlahan-lahan mulai bergeliat dan merangkak, kelelahan yang kurasakan berlipat ganda. Tadi malam aku tertidur dengan buku berada di pelukanku. Tertidur ketika hendak ngebut guna mengejar jumlah bacaan…

Jurnal Pagi: Batal Ngomongin Buku

Hei apa kabar jurnal pagi? Dari pada ngomongin new normal atau normal baru yang bisa disingkat jadi norba dan diplesetin jadi new orba mendingan ngomongin buku kali ya? Tapi mau ngomongin buku juga terlalu pagi. Buku apa yang bisa diomongin di pagi-pagi begini, yang bisa ditulis secara singkat dan padat? Kenapa agaknya aku mulai lelah…

Jurnal Pagi: Pagi Yang Dingin

Sial. Dingin sekali. Hawa pagi ini dinginnya serasa meremukkan tulang-tulang. Bulan Juni yang ditandai dengan peringatan Hari Lahir Pancasila baru saja datang tetapi hawanya sudah sedingin ini. Sedingin Pancasila yang kesaktiannya semakin memudar. Atau sebaliknya, Pancasila sedemikian termat sakti sehingga ia sulit dijangkau oleh akal manusia-manusia yang picik. Falsafahnya sedemikian dalam sehingga tak mampu diselami…

Jurnal Pagi: Mengawali Tatanan Kehidupan Baru dengan Disiplin Tinggi

Ketika fajar tanggal 02 Juni tahun 2020 memecah di timur, aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk melakukan penyesuaian baru dalam tatanan kehidupan baru; ngaji lebih banyak, berlari lebih cepat dan menulis lebih cepat, singkat dan padat. Pagi ini seperti hari pertama ketika aku mengawali jogging dan jurnal pagi pada bulan Mei kemarin; dingin…

Jurnal Juni: Selalu Memiliki Harapan

Selamat pagi Indonesia, selamat datang bulan Juni, selamat datang new normal, dan selamat datang semuanya. Selamat menyusun agenda baru untuk penyesuaian-penyesuaian baru. Lalu, agenda apakah yang ingin dijadikan sebagai tumpuan untuk menyongsong hari-hari di masa depan? Aku memilih kedisiplinan. Everyday is everything new, kapanpun kamu ingin memulai hal yang baru tidak perlu menunggu momentum, setiap…