Sebuah Prosa: Perihal Kabarku

Jalan-jalan telah begitu sepi. Tempat-tempat yang dulu sering kudatangi bagaikan telah menjadi kota mati. Blok-blok toko tempat menjajakan berbagai onderdil bekas telah kosong. Pintu-pintunya telah bolong. Di banyak tempat hanya tinggal kusen-kusennya saja. Dinding-dinding penuh dengan bekas tempelan-tempelan kertas yang terkelupas. Tembok-temboknya telah memucat, warnanya memudar termakan usia; rapuh oleh panas matahari dan hujan. Atap-atap…