Bahasa Diam

Hari itu adalah musim dingin, di bukit Alap-alap; tiga kilometer dari Desa Hujan, aku bertemu dengannya, sebut saja namanya Amir. Sebab semakin lama kuperhatikan, ia semakin mirip dengan Amir Khan karena perannya sebagai Rancho; satu dari 3 idiots dari ICE. Aku dan Amir tidak banyak bicara, atau lebih tepatnya kami saling berbicara dalam bahasa diam….

Sebuah Prosa: Perihal Kabarku

Jalan-jalan telah begitu sepi. Tempat-tempat yang dulu sering kudatangi bagaikan telah menjadi kota mati. Blok-blok toko tempat menjajakan berbagai onderdil bekas telah kosong. Pintu-pintunya telah bolong. Di banyak tempat hanya tinggal kusen-kusennya saja. Dinding-dinding penuh dengan bekas tempelan-tempelan kertas yang terkelupas. Tembok-temboknya telah memucat, warnanya memudar termakan usia; rapuh oleh panas matahari dan hujan. Atap-atap…

Munajat Si Perindu

Berdiri ku sendiri di sudut yang sunyi. Memandang luasnya hamparan dedaunan yang dingin. Lalu mengingat tentang masa-masa yang telah lama. Tentang saat berselimut dengan tebalnya kabut. Ketika berdiri di puncak tertinggi dari setiap gunung-gunung yang kudaki. Saat aku akan pergi ke dunia-dunia yang telah memudar. Tempat senja-senja telah menjadi temaram. Saat aku begitu lelah dan…

Napas Jiwa

Jika benar apa yang kudengar, ia adalah kecipak suara-suara yang surgawi. Di denyut nadi-nadi, sungai-sungai di bawah kaki; mengalir, melekuk, mengalun, menembus sampai batas kesadaranku. Aku terjaga sepenuhnya sungai-sungai surgawi itu, kudengar, mendesir indah menghanyutkan jiwa. Serupa dengan nyanyian rumput oleh gesekan lembut; desau angin yang mendesah; Seruling bambu melengking di bukit-bukit tinggi. Menukik jatuh…