Update status dulu lah…

Akhirnya aku sudah mewujudkannya untuk mengganti tema setelah melalui galau demi galau. Dengan diiringi ‘Separuh Aku’ -nya NOAH aku menuliskan status ini, lagu itu aku representasikan untuk tema yang lalu, ‘Scrawl’ aku ingin Scrawl tak pernah merasa sendiri karena aku selalu bersamanya… wihihihi.

Setelah dipikir-pikir; kebanyakan pembaca blog jejak andi ini membancanya menggunakan aplikasi resmi dari wordpress atau menggunakan fitur wordpress reader yang tersedia, jadi sepertinya pergantian tema tidak terlalu berpengaruhbagi mereka.

Yah beginilah tampilan blog jejakandi yang sekarang, belum ada headernya… besok lah tak buatin header biar terlihat lebih sesuai. Yak untuk pembaca yang pengen berkomentar atau menyampaikan apa saja terkait perubahan tema ini… monggo saya persilakan, mau menuliskan pesan dan kesan juga monggo dan kalau ada pertanyaan juga saya persilakan untuk meninggalkan pertanyaannya di kolom komentar atau kirim e-mail ke alamat ini : siapaandyriyan[at]gmail[dot]com

Sekian dan selamat malam Amigoooooos!!!

For Eternity

I walk close to the edge of night.
Didn’t know, it’s skies falling
or I am flying.
That I know, we and the stars
become neighbours.
Bellatrix and Orion
are in the next door.

One day on September.
I was looking for
a moment to remember.
The peace caught my self
and my souls
altogether.
All shall be better.
If they didn’t put on my hands
a giant monster.

I walk head towards tomorrow.
Time it’s only matter now,
but I keep push myself through anyhow.
And time,
the thing I have to decide wisely,
to being becoming with you
to live spare in eternity.

Poem written by jejakandi

Lemme zhine fo’ yeh, once fo’ zhe last ‘ime. Just pleaze lookin’ to my eyez. There’s a sparklin’ staa that haz to go fades. Yeh shall see it, when it comez to the end of its life. Here in zhe night, when zhe zweet words can’t ewen helpit to hold any longer. When silence and nozhingnezz even have no space to cover. All juzt waiting fo’ second to itz death.

Aku seorang pecundang, yang ujung-ujungnya
peduli hanya dengan keadaanku sendiri,
pada hanya jiwaku dan pada
hanya kesenanganku.

Aku seorang pecundang,
mencoba tidak mencintai seorangpun
sebab tak ingin waktuku terbuang sia-sia.

Kemana Kucari Lagi

Kemana mencoba lempar getaran jiwa. Saya, Andy Riyan… Mencarimu.

Kemana kucari lagi, cintaku yang dulu selalu bersenandung dalam puisi. Lelah rasanya, bertahan tanpa menorehkan jejak pena. Letihku bukan karena jiwa terkuras oleh semangat dulu. Letihku seolah tak bisa hidup tanpa mencumbu getar hati karenamu.

Kemana ku curi lagi, hatimu yang buat riuh damaiku. Gelombang pasang dari cinta yang menerjang, selalu membuatku siap berperang.

Kemana syair lirihku, yang dulu tertulis karena dirimu. Ya dirimu satu, nuansa-nuansa ilhamku. Dirimu pelangi dan mentariku, bintang putih pada malam gelapku.

Kemana mencoba lempar getaran jiwa. Hatiku hambar merasa, bagaikan padang semak belukar, tanpa bunga, tanpa rumput, tanpa angin segar.

Kemana menari pena liarku. Dulu pernah ciptakan kenangan indah. Saat menatap tenggelam mentari, kala kita berdua di danau itu. Ya hanya kita berdua.

Saya, Andy Riyan… Mencarimu.