Jejak Untuk Cinta Dan Fiksi

13 Januari 2017; Oh sudah tanggal 13 aja. Hari-hari terasa berjalan begitu cepat, bukankah begitu? Sepetinya baru saja kemarin kita merayakan tahun baru dengan membuat banyak resolusi yang cukup prestisius. Ah bagaimana resolusinya ada yang sudah jalan? Atau bagaimana target untuk mengawali semua yang akan dilakukan sepanjang tahun 2017, sudah mulai berjalan dengan lancarkah? Aku pribadi… Alhamdulillah banyak yang sesuai rencana. Hanya beberapa hal kecil saja yang mulai menyimpang. Tapi beruntung sekali, dari awal aku sudah mengkonsepkan untuk sering-sering mengevaluasi. Sudah bikin evaluasi harian dan mingguan. Jadi masih dini sekali penyimpangan itu dan masih terkendali dan dapat diperbaiki. Evaluasi bulanan belum, ya. Tentu saja. Kita baru sampai pertegahan bulan. Hemmmmfh seruput kopi dulu.

Kepada blog jejakandi yang semakin aku cintai, kali ini aku menulis bebrapa kalimat sebagai sebuah jejak, aku harap suatu hari nanti akan membacanya lagi sebagi sebuah refleksi untuk diri sendiri. Sebagai sebuah jejak yang ketika nanti aku melihatnya, aku merasa sesuatu telah berubah. Sebab aku percaya: Hari kemarin masih sama dengan hari ini, maka rugi. Hari esok lebih buruk dari hari ini, sama dengan menggali kubur sendiri. Hari esok lebih baik dari hari ini, jadilah… ini dia manusia sejati.

Dan well, akhir-akhir ini aku sulit sekali berkosentrasi untuk menulis fiksi atau melanjutkan semua rancangan fiksi yang sudah dibangun. Entah bagaimana aku jadi heran sendiri. Heran, sejak aku membuat resolusi tahun 2017 ini—tentang menyelesaikan 3 buku—mendadak imajinasi-ku yang liar hilang tanpa sebab yang pasti, yak kaki di kepala kepala di kaki.

Dan soal imajinasi-ku yang liar, aku jadi teringat komentar teman… aku kira komentar yang mengandung pujian. “Kalian berdua—menunjuk aku dan rekanku sesama penulis—kok bisa menulis cerita yang seperti itu, padahal tidak sedang jatuh cinta. Tulisan kalian sulit ditebak maksud yang sebenarnya dan darimana datangnya imajinasi itu, sepertinya itu tidak terjadi dalam kehidupan kalian, itu pasti kisah fiksi.”

“Ah kata siapa aku sedang tidak jatuh cinta? Setiap hari aku jatuh cinta, kok!” Kilahku waktu itu.

Aku sangat menyadari ke-kepo-an teman kami itu, sebab dia salah satu dari orang-orang yang melihat kehidupan kami yang sebenaranya setiap hari. Dari cara kami bertingkah, dari kami berteman dengan siapa. Kegiatan sehari-hari kami, dia tahu. Sederhananya apa yang tampak oleh mata dan dapat didengar oleh telinga, dia tahu. Tapi dia tidak tahu, kalau kami beruda, punya imajinasi yang saling terkoneksi dan teraktualisasi dengan kalimat-kalimat bersayap. Kalimat sebenarnya yang memiliki makna tidak sebenarnya. Teka-teki di dalam teki-teka.

flower-web-background-abstrak-blogger-abstract-wallpapers
Pict. source : di sini

Ya seperti yang aku katakan aku jatuh cinta setiap hari. Aku jatuh cinta melalui pandangan orang lain, makhluk lain dan benda-benda yang secara definisi biologi disebut sebagai benda mati. Aku jatuh cinta melalui itu.

Ketika aku memandang seseorang yang sedang jatuh cinta, aku pun merasakan gejolaknya dan kemudian mentransfer kedalam beberapa kata. Ketika aku memandang kepada hujan yang berjatuhan, aku merasakan kerinduan bumi terhadap langit. Pena-ku pun kemudian menari kepada sebuah khayal “Bumi dan langit dulu kala adalah satu, dan terpisahkan di awal masa. Hujan adalah cara langit mencumbu bumi, agar bumi tetap mencurahkan cintanya untuk menumbuhkan cinta-cinta yang lainnya, sebagaimana rumput-rumput liar di tanah-tanah tak bernama tumbuh dari cinta bumi dan dapat merasakan cinta ketika angin menyapanya. Dan harmoni dua benda itu membuat jatuh cinta siapa saja yang menganggap rumput yang bergoyang adalah seni cinta.” Ingin seperti bumi, aku jatuh cinta melalui cinta yang tumbuh di sekitar dan menarikan pena untuk menumbuhkan cinta yang lainnya.

Namun seminggu belakangan ini, aku benar-benar seperti kehilangan cahaya cinta. Beberapakali kepala ini ku benturkan meja, kadang dinding; mencoba mencari jawab dari tanya yang ku lemparkan. Aku tak menemukan sebab, mengapa aku tidak bisa menuliskan imajinasi sementara ini. Yang ada malah aku kembali teringatkan kepada kenangan-kenangan lama ketika hidup di penuhi oleh warna kelabu dengan hati sedingin es, dan tak mempercyai senyuman manis atau sapaan hangat.

Aku merasa perlu jatuh cinta. Aku perlu dicintai. Perlu patah hati. Perlu untuk merindu dan merasa dirindukan. Aku menyambut datangnya sebuah harapan. Tetapi kemanakah semua itu? Aku benar-benar sadar ketika sering mengatakan: “I try love to no one,’cause I don’t wanna waste my time.”Aku mencoba untuk tidak mencintai seseorang, karena aku tak ingin waktuku terbuang sia-sia. Itu… Aku hanya ingin membuktikan jika kekuatan cinta itu ada, yaitu ketika ia yang sebenarnya telah datang; aku tak bisa menolaknya. Dan rasanya jiwaku kini mengembara bersama cinta yang… seperti apa wujudnya… tertutup oleh sesuatu yang… juga seperti apa wujudnya; aku belum tahu. Aku bisa menolak dan mengendalikan perasaan itu.

Ini masih pertengahan Januari memang, tapi aku tak ingin kehabisan waktu, terlebih dengan adanya tragedi yang baru saja terjadi (kabel terbakar). Aku tak ingin dihatui dengan nyayian favoritku : Our time is running out! Our time is running out!

Aku benar-benar ingin menyingkirkan itu sedini semungkin aku bisa. I won’t let you bury it. I won’t let you smother it. I won’t let you murder it.

Andy Riyan; Jejak Untuk Cinta dan Fiksi
Ost. Perform:
Di Atas Normal—Peterpan
Our Time Is Running Out—Muse

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

5 thoughts on “Jejak Untuk Cinta Dan Fiksi”

  1. tentu saja jatuh cinta tiap harinya, karena bentuknya memang banyak (inget lirik lagunya Raisa dan Tulus). Tapi kayaknya kamu lagi ngarepin bentuk lain.?

    yang benturin kepala itu? serius? apa nggak terlalu ektrim? dielus-elus aja kepalanya, sapa tahu ada yang keluar… kaya jin keluar dari botol

    Like

    1. Ya begitulah, Mbak Momo jatuh cinta setiap hari juga, kan?
      Bentuk lain seperti apa misalnya? Aku tidak begitu yakin dengan hal seperti itu 😀
      Ekstrim tentu saja, karena dulu biasanya dapat diatasi dengan yang keluarin asap bukan jin tapi merokok. Aku sudah berhenti dan tidak mau melakukannya lagi.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s