Juan Mata dan Teknik Memunculkan Ide Secara Spontan

Mata

Tujuan utama dari kegiatan free writing yang hasilnya lumayan sering aku bagikan di blog ini, sebetulnya adalah untuk memunculkan ide secara spontan. Seringkali tulisan-tulisan yang akhirnya terbit adalah hasil dari teknik yang bisa diterjemahkan sebagai menulis bebas, hasil dari habit yang aku lakukan selama 10 menit setiap harinya.

Memunculkan ide secara spontan sampai muncul hal-hal yang tak pernah diduga, bagiku adalah hal yang sangat seksi. Kemunculan suatu ide yang aku bahkan tidak tahu dari mana asalnya, kemunculan kata-kata yang sangat tiba-tiba itu adalah hal yang paling seksi yang terjadi dalam pikiranku. Aku bahkan tak pernah menduga, kata-kata itu ada begitu saja dalam pikiran. Seksi sekali.

Dan tujuan utama mengapa aku sering membicarakan tentang free writing atau teknik menulis bebas ini, adalah agar aku selalu teringat bahwa menulis itu tidak sulit. Menulis itu menyenangkan. Dan tujuan utamaku mengapa sering membagi dan mengajak orang lain untuk melakukan hal serupa adalah agar aku juga semakin termotivasi. Sebab, aku percaya Hukum Newton kedua yang aku terjemahkan menjadi semakin banyak hal yang aku bagikan, semakin terasa manfaat yang aku dapatkan.

Mengenai teknik ini, ada lho yang pernah berkomentar—lewat tukar pesan dan lewat email—kalau menulis dengan cara yang seperti itu, seringnya menghasilkan tulisan yang berantakan dan tidak karuan bentuknya. Seperti membabi buta… tak jelas… seperti tidak punya rumusan. Seperti tidak ada kepastian topik apa yang sedang diangkat. Bahkan kadang menjengkelkan karena tulisan seperti yang diinginkannya tidak kunjung didapatkan.

Ya.

Memang.

Bukankah setiap teknik memiliki kelemahannya sendiri-sendiri? Dan kelemahan teknik memunculkan sesuatu secara spontan ini adalah : kebelumsiapan atau ketidakmatangan perumusan.

Kematangan dan kejelasan dalam perumusan dan struktur yang benar seringkali menjadi kabur, karena belum menemukan bahasa ungkap yang pas.

Namun aku sendiri mengalami manfaat yang menyenangkan ketika menulis bebas. Terlebih lagi volume dan rentang kegiatan menulisku berjalan seiring dan bersamaan dengan kegiatan membaca. Manfaat yang paling terasa adalah aku bisa menata pikiran. Ya tidak instan, itu jelas. Manfaat itu baru terasa setelah aku bisa konsisten melakukannya selama sepuluh menit setiap harinya.

Berapa hari yang dibutuhkan untuk latihan menulis bebas ini sampai terasa manfaatnya? Setiap orang berbeda-beda, tentu saja. Tetapi saya mematok 21 hari berturut-turut dan tak pernah putus.

Kenapa 21 hari?

Waktu itu saya menonton video obrolan antara Pandji Pragiwaksono dengan Deddy Corbuzier, jika kita ingin membangun sebuah habit, kita harus melakukannya bahakan harus dengan cara memaksanya utnuk latihan sampai 21 kali tanpa terputus. Jika 21 kali latihan itu bisa kamu lakukan dengan sukses tanpa terputus, maka kamu akan berhasil jika tidak, ya akan gagal. Karena dalam 21 hari tersebut, tubuh kita sedang menyesuaikan diri. Dan keberhasilan selalu diawali dengan kemampuan beradaptasi. Jika adaptasi berhasil, maka latihan itu akan membuahkan hasil juga. Dan ya aku berhasil melakukannya selama 21 hari tanpa terputus. Walau awalnya sampai seperti nangis-nangis darah begitu, memaksa tubuh ini untuk bisa survive, memaksa diriku bisa teguh menjalani komitmen itu. Terbayar.

Yak saya bisa bilang manfaat yang paling terasa adalah pikiranku sedikit mulai tertata. Bisa membuat pikiranku lebih tertata bagaimana saya memulai menuliskan rangkaian kata dari awal, pertengahan dan penutup. Bagaimana saya mencoba menuangkan gagasan-gagasanku. Bagaimana saya… yang paling penting adalah menulis dulu, tak perlu memikirkan apa manfaatnya.

Manfaat itu membuatku memiliki keyakinan, menulis adalah membebaskan. Jadi saya bebas untuk memutuskan apakah tulisanku hanya akan berhenti sebagai draft saja, atau muncul sampai ke blog. Bebas!

Aku tidak terikat untuk selalu bisa memunculkan tulisan di blog. Jadi ya menulis aja setiap harinya, karena menyenangkan. Menulis bebas yang disertai dengan membaca membantuku untuk sampai pada titik yang penting menulis dulu ini.

Pikiran saya menjadi tertata, karena saya jadi terbiasa mengunggkapkan kata-kata lewat bahasa ungkap seperti yang aku baca. Ya saya setuju, kalau setiap orang memang harus mencari gayanya sendiri… stylenya sendiri. Tetapi aku yakin sebagaimana para vokalis, para penyanyi… seperti Armand Maulana, sperti Ariel mereka mengatakan bagaimana mereka membentuk dan menemukan suara khas yang dimiliki itu, tidak lain tidak bukan yaitu mereka menemukannya seiring dengan perjalanan waktu. Mereka menemukan kekhasanya sendiri, menemukan gaya dan stylenya sendiri seiring dengan perjalanan waktu. Mereka menjadi nyaman dengan vokal miliknya, kemudian jadilah trademark suara mereka. Jadi sehebat-hebatnya peniru suara, peniru gaya… mereka tidak akan pernah sama dengan yang ditirunya. Pengalamannya berbeda lah!

Jadi aku tidak akan terlalu mempermasalahkan jika saat ini tulisanku mirip dengan siapa. Tapi suatu hari aku akan menemukan tulisan khas, tulisan gayaku sendiri. Meski aku sampai detik ini juga tidak tahu sebetulnya tulisan-tulisanku mirip dengan siapa.

Coba saya ingat-ingat kembali, sepertinya dulu aku pernah memiliki gaya yang cenderung seperti Kahlil Gibran, karena memang ngefans berat sama penyair dari Lebanon ini. Kemudian pernah juga dimirip-miripin agar seperti Andrea Hirata. Kemudian semakin kabur dan tidak jelas, seiring dengan banyak penulis yang aku sukai; seperti JRR Tolkien, Pak Quraish Shihab, Cak Nun dan juga Pak Hernowo Hasim.

Tulisan-tulisan mereka adalah gaya menulis yang aku sukai. Aku tidak bermaksud mengadaptasi dan aku kira tulisan-tulisanku adalah campuran-campuran dari banyak gaya itu. Besar sekali kemungkinannya gaya menulisku sekarang ini, yang semakin tanpa bentuk ini dipengaruhi oleh mereka.

Tetapi hal terbesar yang paling berpengaruh dalam gaya menulis saya… saya akan bilang adalah gaya menulisnya Juan Mata.

Sejak membaca tulisan-tulisannya, saat dulu masih sebagai pemain Chelsea itulah awal saya bisa mulai dengan lancar menulis, dengan meniru gaya pembukaan dan penyampaian gagasan ala Juan Mata. Kalau Juan Mata menulisnya dalam Bahasa Inggris, kan? Tetapi aku menulisnya dalam bahasa Indonesia, jadi seperti dua hal yang sangat berbeda he he he. Seperti sekarang ini lah gaya menulis paling mutakhir yang aku miliki. Di lain hari mungkin bisa berubah lagi, siapa tahu. Yang penting terus belajar.

Sekarang, mengapa menata pikiran menjadi penting? Karena lewat menulis bebas, akan diketahui bentuk-bentuk yang semula parsial dan membingungkan. Menata pikiran setelah menulis bebas menjadi penting untuk menata kebingungan akibat dari banyaknya informasi yang masuk dan awut-awutan itu. Dengan membaca dan menulis bebas guna memunculkan ide secara spontan akan bisa dengan jelas memetakan masukan menjadi pola yang tersusun jelas alurnya, kronologinya dan bentuk dasarnya.

Jadi membaca dan menulis di sini seperti membaca dan memecahkan soal matematika, khususnya untuk kasus soal cerita dan kasus soal-soal dinamis. Bayangkan apa jadinya jika dalam membaca soal matematika dan kita bermaksud ingin memecahkanya hanya dibaca saja tanpa menuliskannya? Tentu akan sangat kesulitan bagaimana cara menjabarkan, menghitung dan menemukan himpunan solusinya. Kadang yang terjadi malah bingung untuk menyampaikan kesimpulannya dan apa yang sesunggunya terjadi di sana.

Saya Andy Riyan dari Desa Hujan © 2019


Link berikut ini adalah versi asli sebelum diedit dan terbit di blog. Tak jauh berbeda sebetulnya, monggo langsung klik (PDF) Memunculkan Ide Dengan Spontan

One Comment Add yours

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.