Nyalakanlah Pijar Lentera Hidupmu!

lentera

Sesungguhnya kita sedang hidup di lautan ilusi. Terombang-ambing kesana-kemari mencari kebenaran. Padahal sesungguhnya kebenaran itu sangat dekat dengan kita, tinggal nyalakan hati dan pikiran agar diri kita bisa menyala seperti lampu pijar.

Suatu pagi saya membaca sebuah buku. Saya tersenyum. Saya merasa sangat bahagia menemukan sebuah tulisan yang senafas dengan jalan pikiran saya. Lalu sepanjang hari itu saya begitu bersemangat melakukan semua aktifitas saya.

Di pagi hari yang lain, saya membaca buku yang berbeda. Saya tersenyum. Dan saya sangat bahagia menemukan sebuah tulisan yang bisa merangsang otak saya untuk berpikir. Saya begitu senang menemukan tulisan yang dapat menghidupkan pikiran saya sehingga otak saya bereaksi atas tulisan itu.

Di pagi hari yang lain lagi, saya membaca buku yang sama sekali berbeda. Saya tersenyum. Saya merasa sangat bahagia menemukan sebuah tulisan dengan pandangan yang sama sekali berbeda. Saya senang menemukan cara pandang baru bagaimana melihat dunia. Tidak jadi soal apakah itu hal yang lebih baik atau buruk. Cara pandang membuat saya memiliki cakrawala yang lebih luas, membuat saya seperti bisa melihat sebuah prisma dengan sisi-sisi yang semuanya dapat berkilauan memancarkan aneka warna.

Minimal berapa sisi-kah yang harus ada untuk membuat sebuah prisma?

Lalu suatu malam saya iseng mempertemukan semua gagasan itu, gagasan yang senafas, yang merangsang pikiran dan yang menawarkan cara pandang yang berbeda. Saya menemukan betapa meskipun topik yang saya singgung tidak berkaitan antara satu sama lain, ternyata mereka memiliki benang merah yang sama: berangkat dari suatu pola pikir dan itu menarik perhatian saya. Sekejap kemudian terbesit di benak saya betapa saya juga bisa terombang-ambing dan manggut-manggut saja tiap kali membaca suatu buku baru. Tiap kali saya menemukan gagasan baru dalam suatu buku, kemudian tiba-tiba saja saya membeo, menirukan apa yang saya tangkap dari buku tersebut, seolah semua buku yang baru saja saya baca adalah sebuah kebenaran baru. Padahal bisa saja mereka sama seperti saya: Ndobos!

Sulit dicari apa padanan kata ndobos dalam bahasa Indonesia

Tetapi kemudian saya menyadari setelah membaca keseluruhan buku, lebih-lebih lagi kepada penulis yang sama dalam buku-buku yang berbeda, bahwa mereka memiliki kecenderungan yang nyaris selalu sama kalau tidak ingin dikatakan selalu sama. Kebanyakan mereka konsisten dengan pijakan mereka. Di situlah kemudian saya mempunyai standar sendiri… kriteria sendiri tentang orang-orang hebat. Karena jika penulis tak punya titik pijak yang kukuh dalam moral, ideologi, politik ataupun agama, bagaimana ia bisa mengejek dunia?

Itu pun berlaku kepada mereka yang menulis di media sosial, seperti Twitter, saya mengambil contoh Twitter karena ini medsos yang paling saya sukai. Saya jadi bisa mengapresiasi mereka yang memiliki keahlian untuk nyinyir. Bagiku keahlian nyinyir itu bukan keahlian biasa. Saya rasa nyinyir yang pas dan pada tempatnya adalah hal yang bagus dalam hidup. Dan nyinyir pun punya tingkatan kualitas. Saya membayangkan seandainya Mahbub Djunaidi hidup di masa Twitter ini, saya sangat yakin kualitas nyinyirnya nomor satu. Ya, bagi saya Alm. Mahbub Djunaidi, setelah membaca kumpulan tulisannya, beliau adalah seorang yang gemar nyinyir… nyinyir yang sangat berkelas. Ketika seseorang bisa menyinyir untuk suatu hal, berarti ia memiliki titik pijak dan standar moralitas. Dan situlah karakter-karakter unik tumbuh menjadi sangat kuat.

Saya suka dengan karakter-karakter unik dengan segudang idenya itu mampu menunjukkan dirinya, mampu membuat dirinya lebih menonjol di antara karakter unik lain. Tak diragukan lagi mereka memiliki standar moral dan pijakan yang kuat. Mereka… berarti satu hal, memiliki disiplin dan komitmen. Karena ide adalah makhluk yang abstrak. Tidak mudah untuk mewujudkannya dalam karya yang bisa dinikmati orang lain. Tidak mudah membungkus ide menjadi suatu suara pikiran yang menyuarakan juga pikiran orang lain. Tidak mudah mengemas ide sedemikian rupa sehingga orang yang dinyinyiri selain tersinggung juga terhibur.

Yang sungguh mengenaskan adalah mereka yang tidak punya standar moral dan pijakan sendiri. Dan yang paling menjijikkan adalah mereka yang kemana-mana menjilat. Tentu mereka adalah orang yang paling sial, selalu di manfaatkan dan selalu terseret oleh arus. Seperti pepatah lama, bagaikan air di daun talas.

Inilah pentingnya membaca, membaca dalam arti luas, membaca apa saja, meskipun di awal serasa terombang-ambing oleh banyak gagasan, pelan-pelan akan menemukan titik pijak yang kuat. Tak heran mengapa ada yang pernah mengatakan begini: seseorang itu dapat dilihat dari apa yang mereka baca.

Tetapi meskipun begitu, tidaklah berarti seseorang adalah apa yang mereka baca. Yang mereka baca hanyalah sekeping elemen yang membantunya berproses, yang memberinya stimulus bagi pikirannya untuk berpijar.

Dan ini sangat penting bagi kita untuk memiliki titik pijak yang kuat. Agar bisa bertahan di tengah gempuran dunia yang semakin gila, semakin materialistik dan penuh dengan intrik yang licik. Sebab sesungguhnya kita sedang hidup di lautan ilusi. Terombang-ambing kesana-kemari mencari kebenaran. Padahal sesungguhnya kebenaran itu sangat dekat dengan kita, tinggal nyalakan hati dan pikiran agar diri kita bisa menyala seperti lampu pijar.

9 Comments Add yours

  1. nunulis says:

    Sedang dicoba!!!

    Like

    1. jejakandi says:

      Joss!!! Kamu pasti akan menyala dengan sangat terang, sodaraku.

      Like

  2. sunarno says:

    dengan banyak membaca lama-kelamaan akan mendapatkan pijakan yang kuat, pendapat-pendapat yang ada lama-lama mengendap membentuk sikap dengan pondasi yang kuat. mari terus membaca

    Like

    1. jejakandi says:

      Mari, Pak Narno. Dan terima kasih telah memperkuat tulisan saya dengan ‘statement’ yang sangat kuat.

      Liked by 1 person

  3. Rahma Frida says:

    ndobos: membual

    saya suka tulisan yg mewakili pikiran saya ini, terima kasih.

    Like

    1. jejakandi says:

      Ah benar, ndobos sangat dekat dengan membual. Terima kasih, Frida.

      Yuk saling berbagi, siapa tahu tulisan-tulisan kita yang lain menemukan pembacanya dan dapat menghibur mereka.

      Liked by 1 person

  4. Rissaid says:

    Buku ibarat makanan bagi pikiran ~

    Like

    1. jejakandi says:

      Exactly! Dan sebagaimana makanan, ada yang bergizi dan tidak. Sudahkah Mbak Ris makan malam? Perhatikan gizinya ya, Mbak Ris.

      Like

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.