Kudeta Atau Revolusi Yang Gagal?

Pasca lebaran, saat arus balik sedang sibuk-sibuknya, pekan ini terjadi peristiwa besar yang tak kalah nyaring bergaung di surat kabar baik cetak maupun elektronik, bahkan saking nyaringnya gaung itu seolah menenggelamkan berita kejayaan Portugal yang sukses menjadi kampiun Eropa setelah dengan sangat mengejutkan mengalahkan Perancis dan mencatatkan sejarah dengan mega bintang Cristiano Ronaldo memecahkan rekor Michael Platini sang legenda hidup Tim Nasional Perancis, ya suara yang bergaung itu apalagi kalau bukan Serangan di Nice, Perancis yang sampai tulisan ini di buat telah memakan korban hingga 80 Jiwa. Gelombang berita akan serangan menggunakan Truk yang di duga dilakukan oleh militan ISIS belum juga reda kita kembali di kejutkan oleh gaung sebuah pasukan militer mengkudeta pemerintah Turki.

f5f7fe63-4dd6-4e71-866e-2ae1e5837d5f_cx0_cy6_cw0_w987_r1_s_r1
pict.source klik disini

Kudeta yang melibatkan 754 personel angkatan bersenjata itu berhasil digagalkan oleh aparat keamanan Pro-Pemerintah Turki di bawah Presiden Tayyip Erdogan. Revolusi gagal. Kudeta oi! bukan Revolusi?

Kudeta (n) kup, pengambilalihan kekuasaan,perebutan kekuasaan, penggulingan;
KBBI

Kudeta dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pengambilalihan kekuasaan, perebutan kekuasaan, penggulingan kekuasaan. Tentunya dalam benak kita khususnya orang Indonesia, pemberontakan G30S/PKI disebut sebagai upaya penggulingan kekuasaan terhadap Presiden Soekarno, namun berhasil di gagalkan oleh Mayjen Soeharto yang menjabat sebagai Panglima Kostrad. Upaya tersebut dikatakan sebagai upaya kudeta tapi uniknya, menurut berita yang beredar selama ini korban penculikan yang melibatkan perwira-perwira tinggi itu diberi gelar sebagi Pahlawan Revolusi bukan sebagai Pahlawan Kudeta (?)

Baiklah lupakan kekacauan yang terjadi di otak dan tulisan saya ini. Mari kita berpetualang dengan mesin waktu kembali kepada sejarah jauh sebelum Tragedi 30 September itu, kembali mengingat kisah heroik Pangeran Diponegoro yang dengan taktik gerilya-nya telah membuat Pemerintah Hindia-Belanda —Natherlands Indische (jika ejaannya salah mohon dimaklumi)— kalang kabut, bangkrut, bahkan menjadi kekacauan yang sangat menyakitkan bagi pemerintah. Karena perang ini terjadi berlarut-larut hingga di seluruh pulau jawa. Oleh karena itu perang antara Pangeran Diponegoro melawan Pemerintah Hindia-Belanda ini sering disebut sebagai Perang Jawa. Perang yang terjadi selama 5 tahun ini berakhir setelah Pangeran Diponegoro di tangkap dan di adili.

bestorming_van_pleret

sumber gambar klik

Jadi sebenarnya Pangeran Diponegoro ini seorang Pahlawan atau Pemberontak?

Ya benar! Diponegoro adalah pemberontak bagi Pemerintah Hindia-Belanda, dan Diponegoro juga seorang Pahlawan bagi rakyat Indonesia, rakyat Bumi Pertiwi khususnya Jawa. Namun meskipun perjuangannya untuk bangsa Indonesia begitu gigih dan sungguh heroik tak terkira namun, beliau gagal merevolusi Pemerintahan Hindia-Belanda. Beliau tidak mampu mengusir Pemerintah Kolonial dan menggantinya dengan pemerintahan yang baru.

Kembali kepada kudeta yang dilakukan sekelompok militer di Turki, ijinkan saya untuk menyebutnya sebagai Revolusi Yang Gagal. Sebab KBBI belum menambahkan Kudeta sebagai upaya penggulingan kekuasaan dari pemerintahan yang sah.

Lalu apa hikmah yang bisa di ambil dari insiden Revolusi Yang Gagal ini? Setidaknya peristiwa itu bisa membuka mata dunia bahwa Turki bukan negara yang lemah, bahwa pemerintahan Turki mendapat simpati dan dukungan dari banyak rakyat di seluruh dunia, bahwa pemerintah bisa bersatu menghancurkan pengkhianat-pengkhianat mereka. Untuk menjadi negara yang kuat, perlu musuh bersama. Untuk menghancurkan sebuah kelompok perlu musuh yang tidak disukai rakyat banyak.

Seandainya negara Indonesia ini adalah dunia fiksi saya, saya pun akan menciptakan sebuah musuh yang terang-terangan melawan kedaulatan Indonesia. Dan saya akan mencintai musuh itu selama ia gagah berani dan secara jantan menantang pemerintah bukan secara sembunyi-sembunyi atau menjilat. Sebab saya benar-benar benci dengan musuh bersembunyi dalam selimut. Maaf itu hanya kelakar saya, tentu saya berharap Indonesia yang real adalah Indonesia yang damai tanpa peperangan indonesia adil, makmur dan sejahtera.

Selamat Malam, Saya Andy Riyan
Temanggung, 16 Juli 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s