Kaum Darurat Bahagia

Akhir-akhir ini terlalu sering menangkap kata ‘Bahagia’ di WP Reader. Seolah-olah kata-kata itu seperti aliran listrik, nyetrum ke sana kemari, dari penulis satu ke penulis yang lainnya. Sepertinya aku pun kali ini kesetrum juga oleh arus utama isu ini. Dan aku berharap tidak nyetrum ke pembaca dan penulis yang kebetulan nyangsang di blog saya ini. Sebab kalau nyetrum itu akan membuatmu menjadi… ah nanti saya ceritakan akan menjadi apa kamu.

Apa definisi bahagia? Banyak yang mendefinisikan bahagia adalah kebersamaan dengan seseorang yang dicintainya. Tidak sedikit juga yang mendefinisikan sebagai perasaan cinta yang membuat hati diliputi rasa senang. Dan teramat banyak yang mendefinisikan ‘bahagia itu sederhana yaitu ketika kamu bla bla bla.’ Dan terdapat banyak versi lain tentang definisi bahagia. Kalau definisi bahagia menurut versimu? (pertanyaan terhadap diri sendiri). Sepertinya aku mulai kebingungan untuk menjawab pertanyaan yang satu ini, definisi bahagia. Dan jika kamu sedang dalam kondisi yang sama seperti yang aku alami… salaman dulu… kita adalah Kaum Darurat Bahagia.

Ah definisi bahagia… jadi bagaimana definisi bahagia.

**

Beberapa hari yang lalu aku pergi ke suatu toko baju yang dekat dengan rumah. Semula berniat membeli baju koko dan sarung (niatnya dua-duanya mau tak beliin yang warna putih). Sebetulnya sangat beralasan mengapa aku berencana membeli baju koko dan sarung, baju koko yang setiap hari kupakai sudah tidak baru lagi dan warnanya sudah agak pudar—dulu warnanya krem menyala—dan meredup. Pendek kata, sudah tidak gilang-gemilang untuk lebaran. Sedangkan sarungnya—warna hitam—tetap awet; begitulah yang hitam selalu awet. Sesampai di toko, aku melihat kebaya dan baju batik. Aku jadi inget nenek dan kakek. Akhirnya aku membeli keduanya itu di tambah jilbab blouse lalu pulang dan tidak jadi membeli baju koko dan sarung.

“Wah kok putune lanang pinter nukok ke klambi karo ninekne karo kakekne.” Wah kok cucu laki kok pintar membelikan baju untuk neneknya dan kakeknya, begitu kata nenek ketika aku menghadiahkannya sepulang dari pasar.

Aku merasa lega sekali ketika barang yang kubeli disukai oleh nenek juga kakek. Sebab semula khawatir itu gak bagus dan nenek juga kakek enggak suka. Aku pun merasa lega, meskipun hanya sepotong kebaya dan baju batik setidaknya aku bisa menyenangkan mereka berdua. Dan dadaku pun terasa sangat lapang karena aku mampu menahan hawa pengen beli baju karena hanya untuk lebaran. Sudah lama sekali aku belajar menahan untuk tidak membeli barang hanya karena punya uang. Kemudian terlintas dalam benakku akan kenangan-kenangan yang melapis kuat dalam ingatan. Aku terlempar pada kenangan lebaran tahun lalu aku aku tidak membeli baju, hanya membeli sepasang sepatu, karena sepatu lama sudah jebol. Tahun-tahun sebelumnya aku terpaksa beli baju karena untuk menjaga perasaan orang tua.

“Mbok gak harus sekarang to Buk, kan ada hari-hari lain. Masa hanya karena lebaran aku harus ganti baju. Aku tuh males milih baju Buk. Enggak pasar enggak toko semuanya penuh sesak. Belum lagi jalanan macet sopir-sopir dan pengendara motor pada ugal-ugalan.”

“Ri salin ganti yang baru, malu pada orang, jaga perasaan ibu, apa kata orang kalau gak ganti baju, apa ibu terlalu miskin sampai-sampai gak bisa beliin baju untuk anaknya?” Titik air di sudut mata ibu membuatku leleh.

“Oh baiklah.”

Dan tahun ini aku tidak butuh baju lebaran, karena kayaknya aku akan jarang-jarang juga memakainya, baju-baju THR yang tahun lalu saja masih pada tergantung di lemari.

“Gagi golek bojo!” Buruan cari istri, celetuk nenek mengagetkanku.

“Ya, Nek.”

**

“Pak saya punya!” ujar temen sekantor ketika kami sedang istirahat siang.

Aku pun menutup buku yang sedang ku baca, padahal sedang asik-asiknya. Dan aku menoleh.

“Punya apa, Bu?” tanyaku heran dengan pertanyaan yang tiba-tiba yang tak kutahu asal usulnya.

“Punya kenalan…” Ia membuka ponselnya seperti sedang mencari-cari sesuatu.

Aku diam karena bingung dari mana dan mau kemana sebenarnya arah pembicaraan ini.

“Sepertinya dia cocok banget sama Pak Andi, hobinya baca buku melulu, kemana-mana bawanya buku. Suka banget diskusi… pengen selalu beda dan segala macem. Pokoknya persis seperti Pak Andi.”

“Eeeee jangan!” Pekik temenku yang lain, “Kalau sama-sama kutu buku nanti tak ada komunikasi, dua-duanya diam dan duduk sambil ngopi. Pokoknya suram.”

“Bener tuh, Bu.” Kata temen yang lainnya lagi, “Pak Andi itu harusnya cari yang bertolak belakang, biar lebih berwarna dan saling mengisi.”

“Nah bener kan, Bu? Pak Andi itu harusnya cari yang cerewet, suka jalan-jalan, yang gesit dan lincah, yang sering ngajakin bikin apa gitu, ya.”

Aku cuma bisa nyengir. Dan entah bagaimana aku pengen tertawa ketika mendengar perkiraan-perkiraan tentang diriku. Selama ini aku tidak pernah menjadi topik pembicaraan. Dan itu aneh.

***

Ah jadi apa definisi bahagia?

Setiap hari selama 7 tahun ini aku bergumul ‘definisi’ namun untuk mendefinisikan bahagia ternyata begini sulitnya. Sudah 700-an kata aku tulis tetapi sama sekali belum mendefinisikannya. Pengertian definisi sendiri harus utuh, harus sesederhana mungkin tak boleh lebih tak boleh kurang dan sedapatnya janganlah panjang. Definisi tidak boleh berputar-putar dan jangan negatif. Kamu tak bisa mendefiniskan pintu yang terbuka dengan “Pintu tidak tertutup.”

Jadi apa definisi bahagia? Perasaan senang?! Perasaan puas? Perasaan lega? Perasaan semua tercukupi?

Aku bahagia ketika aku bisa menyenangkan nenek dan kakek dengan membelikannya kebaya dan baju batik. Aku bahagia ketika mendengar teman-teman membicarakan topik perkiraan-perkiraan liar tentang diriku. Itu bukan definisi itu teori yang telah menjadi fakta.

Karena semula ada hipotesis aku akan senang ketika nenak menyukai kebaya yang kubelikan. Hipotesis yang aku buktikan itu ternyata benar, aku merasa senang karena nenk menyukai kebaya yang kubelikan. Jadi aku akan senang jhika membelikan kebaya yang disukai nenek itu adalah teori.

Jadi sampai saat ini aku punya banyak teori tentang bahagia. Salah satunya, orang yang mengadakan Prompt tentang definisi bahagia ini pasti senang karena banyak yang mengikuti jejaknya untuk menulis tentang bahagia. Aku punya teori, seseorang yang bisa selalu berada di dekat orang yang dicintainya akan bahagia. Aku punya teori, seseorang yang dapat melakukan hal-hal sederhana yang membuatnya senang ia akan bahagia.

Meskipun aku punya banyak teori, sampai saat ini aku masih tidak bisa dengan jelas mendefinisikan bahagia. Dan jika kamu ternyata sama dan kesetrum dengan kebingungan untuk mendefiniskan bahagia… aku ucapkan selamat bergabung denganku menjadi Kaum Darurat Bahagia. Maaf aku menjadi begini, menjadi membingunkanmu yang kebetulan nyangsang di blog ini.

Selamat Malam! Kaum Darurat Bahagia! Hah hah hah!

 

(C) Andy Riyan || Kaum Darurat Bahagia || 20 Juni 2017

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

8 thoughts on “Kaum Darurat Bahagia”

  1. Soalnya bentar lagi mau lebaran dan dapet THR, jadi postingannya Bahagia melulu, huhuhu
    atau karena ada Giveaway mas…
    give awaynya memang tentang “mengeja bahagia”
    mungkin karena itu banyak artikel yang mengartikan kata bahagia versi mereka

    Liked by 1 person

    1. Iya bisa jadi tuh. Dua kemungkinan yang nilainya sama-sama besar haha.

      Nah makanya di akhir tulisan, aku menuliskan teori, yang bikin give away atau prompt lagi bahagia juga tuh karena banyak yang kesetrum. 😁

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s