Sebuah Prosa: Tentang Senja

Senja yang sama adalah luka yang sama. Luka yang tak pernah mampu ku tepiskan sejak mentari, yang kita tatap bersama-sama di awal musim panas, itu telah merapatkan dirinya ke dalam pelukan sang malam. Luka yang sama yang telah membuatku lupa akan keindahan cinta yang tak berlogika.

Dan sejak hangatnya mentari dari cinta kita telah engkau bekukan, tak pernah lagi kurasakan hangat cinta yang memelukku. Hangat tubuhku menghilang bersama senja itu. Dan kemanusiaanku perlahan memudar sejak hari itu.

Bahkan di tahun-tahun setelahnya, hanya pernah sekali saja kucoba lagi tuk menyapa, namun cinta tak pernah lagi hangat karena kini ia telah berselimut logika. Meskipun aku mampu menumbuhkan seribu bunga di hatinya, meskipun semua kata telah kutulis menjadi nada dalam jiwanya, dan semua mimpi kurangkai menjadi puisi yang kemudian ia hirup seakan-akan telah menjadi nafasnya, tetap saja segala rasa terus mengembara.

Musim hujan yang tak kusesali datangnya, adakah ia menangis tak pernah kutahu, saat kukatakan padanya bahwa ragaku masih berkelana di padang-pandang tandus nan kering, hanya sesekali semak belukar yang menghampar, selalu sunyi di malam, dan tak pernah jernih sekalipun pagi telah kembali.

Kukatakan pula padanya jika senja yang sama adalah luka yang sama, karena kamu telah menghapus semua harapku. Kau membayang-bayang selalu dalam gelap bahwa dia yang datang pun tak akan sanggup membawaku pada gemerlapnya hari yang di bawa oleh mentari esok yang merah membara.

Tak pernah kukira, tenggelamnya mentari bersama senja itu, adalah terakhir kali aku menyambut malam dengan penuh gembira. Sebab kemudian aku dihadapkan pada kenyataan, di musim hujan, aku terhempaskan amukan topan.

Malam kemudian menjadi sangat jauh dan pagi menjadi tak terengkuh. Lalu semua bintang pun jatuh. Semua keyakinan runtuh; hanya aku yang mencari tempat berteduh namun kamu tetap saja angkuh.

Senja yang sama adalah luka yang sama. Membuat mataku perih dan berlinang air mata setiap kumelangkah mengikuti jejak kaki yang menuntunku pulang. Seperti sore ini, mataku menjadi buta, hingga aku terpaksa menunggu gelap sebelum ku meraba-raba ke arah setitik cahaya yang bagaikan berada di ujung sana.

Senja yang sama adalah luka yang sama. Saya Andy Riyan dari Desa Hujan.

3 Comments Add yours

  1. latifadelina says:

    Pedih…

    Like

    1. jejakandi says:

      Wkwkwkwk. Terima kasih sudah berkunjung, Mbak Latif.

      Like

      1. latifadelina says:

        Siap, sama2 👌

        Liked by 1 person

Katakan sesuatu/ Say something

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.