Tanpa Sekat Tanpa Pembatas

Untuk sementara ini, biarkan aku meninggalkan catatan tentang mural yang sedang viral. Mural yang sedang viral sekarang ini merupakan sebuah meme yang berhasil menarik pelatuk kekacauan yang tengah dialami pemerintahan sekarang. Pada diri manusia Indonesia sesungguhnya sudah tersimpan meme bahwa pemerintahan yang sekarang kerjanya sedang kurang beres, sehingga penghapusan mural yang tampaknya sederhana malahan menjadi…

Jurnal Pagi: Aneh! Jutaan Orang Waras Tunduk Pada Segelintir Orang Gila

“Sebuah anomali yang dahsyat telah terjadi di era digital ini. Padahal era digital baru saja dimulai beberapa tahun belakangan ini, namun efek global yang terjadi begitu masif, seakan-akan meruntuhkan kebiasaan atau fenomena-fenomena lama yang sudah mengakar budaya. Bagi aku yang hidup di persimpangan zaman, antara zaman sebelum era digital dan zaman peralihannya, ketika zaman digital…

Jurnal Pagi: Bukan Sok Moralis

“Apakah cuma aku yang merasa…” adalah sebuah pertanyaan aneh yang di antara jawabannya, pasti ada yang menjawab ‘eh sama, aku juga ngerasa begitu’. Ya nggak? Apakah cuma aku yang merasa waktu terasa cepat banget berlalu? Perasaan baru kemarin aja bulan Maret atau Februari?—aku lupa—ketika lockdown dimulai, eh tahu-tahu sekarang sudah bulan Juni aja. Bener-bener dah…

Jurnal Pagi: Yang Lebih Penting Daripada Disrupsi Adalah Kemanusiaan

Aku sudah sering bilang sebelumnya, di tangan yang tepat teknologi dapat memberikan nilai tambah dan kebermanfaatan pada suatu benda atau platform yang ada, bisa juga sebaliknya justru cepat merusak tatanan sosial yang sudah berdiri kukuh dan memperlebar kesenjangan di tengah kehidupan masyarakat apabila berada di tangan yang salah. Aku pernah memberikan sebuah contoh, smartphone, di…

Jurnal Pagi: Kerinduan Yang Sempurna

Pagi benar-benar dingin, aku sudah lari sejauh 3km dan kembali lagi sehingga total jarak tempuhnya 6km, tetapi tak ada keringat yang keluar. Rutinitas yang kujalani hampir setiap hari dan membutuhkan waktu sekitar 30 menit itu telah membawaku ke tempat seperti biasanya, keluar dari desa dan sampai di tepi sungai Selatan. Pagi ini benar-benar dingin meskipun…

Jurnal Pagi: “Kayaknya yang tipi lain yang bener.”

Bagus sekali. Benar-benar bagus kali ini. Ketemui lebih banyak orang keluar dari rumah guna lari pagi. Kutemui lebih banyak anak-anak SD dan SMP keluar dari rumah-rumah mereka; mengenakan sepatu kets, hoodie dan berlari gembira. Irama larinya memang masih menggelikan, temponya pun masih berantakan. Meskipun belum keluar dari Desa Hujan, itu adalah pemandangan yang bagus untuk…

Jurnal Pagi: Sehat dan Bugar Itu Beda!

“Sehat dan bugar itu berbeda.” Kata seorang dokter yang aku lupa siapa namanya. Aku merasa cukup sehat sekarang, tetapi aku tidak merasa cukup bugar. Aku tidak merasa bugar karena jarang sekali olahraga. Bahkan olahraga favoritku pun sudah bertahun-tahun tidak kulakukan. Begitu aku ingat, bahwa sehat dan bugar itu berbeda aku bertekad kembali meraih kebugaran yang…

Tak Berubah

Hari-hari telah berganti. Malam-malam telah jatuh berulang kali. Dan pula pagi berkali-kali bangkit sesering malam yang meluncur dengan cepat itu. Dan setelah sekian lama; setelah banyak hal yang berubah, aku masih saja sama, masih duduk di tepian jendela. Aku masih saja sama, masih dengan kesendirianku. Aku masih saja sama, lampu meja ialah yang menghangatkan tubuhku…

Terkalahkan

Ladang dari sawah padi yang luas, tampak menghitam kini di hari yang senyap, di pagi hari yang buta. Daun-daun nan gelap itu bergoyang-goyang tertimpa hujan yang datang bertubi-tubi—seperti dirimu kasih—selalu hadir membawa rindu. Dan seperti hujan itu pula, rindunya, mengendap indah di dasar hati, genangi ladang (cinta) itu. Segelas besar lemon tea panas melegakan tenggorokanku…

Monolog Pagi

Ada yang sedang tidak beres pada hidup, jelas aku harus melihat lagi bagaimana cara berwudlu-ku. Mengapa demikian? Memang demikianlah adanya, hidupku sesederhana itu : “Sik penting wudhu ne beres.” Aku terlalu fokus pada hal-hal lain, sehingga wudlu kulakukan tanpa sadar belakangan ini. Jelas itu adalah kesalahan yang sangat besar. Puncak tertinggi bagi kesadaranku sebagai manusia…