Angin Yang Sama

“Bisakah kau merasakan, angin yang sedemikian lembut ini menyapa kita berdua?”

“Oh..”

‘Oh? bagaimana kamu hanya bisa bilang Oh saja,’ kataku dalam hati.

Ya, kamu tak akan bisa mendengar betapa detak jantung ini selalu berderap kencang. Dan tentu saja, langit biru yang sedemikian cerah ini tak berarti apa-apa untukmu. Seperti mengingat kala itu, ketika kita memandang pada langit yang gelap, hujan deras turun. dan butiran-butiran itu dengan sangat baik mampu menangkap seluruh perasaanku.

Gemericik hujan yang jatuh membuat lingkaran-lingkaran dan gelembung perasaan yang memutar-mutar, menghanyutkanku dalam diam yang penuh arti. Rasanya aku sanggup terus terjebak dalam hujan seperti itu selamanya, selamanya.. selama disisimu.

Namun yang terjadi pada perasaanmu sungguh lain. Wajahmu tampak cemas, kadang malah terlukis raut kesal yang mendalam. Se-membosan-kah ini aku, kau banyak bertingkah sangat gelisah tak pernah fokus dengan apa yang ingin aku sampaikan. Ingin sekali rasanya cerita banyak hal untuk bisa mengusir jenuh-mu kala terjebak hujan, namun urung semua, aku menahan. Ingin ku tunjukkn padamu bahwa segelap apapun langit, itu bisa menjadi indah, namun tak jadi, karena jika aku memandang pada mendung yang membawa hujan penuh perasaan, kamu memandangnya sebagai gelap yang menjengkelkan.

Dan meskipun kamu tahu, aku membenci basah kuyup karena hujan, kamu malah bersikeras untuk pergi. Pergi dan pergi mengajakku pulang. Kamu tahu aku keras kepala, dan enggan untuk bermain hujan, tapi raut wajah kesalmu membuatku tak sanggup menahanmu lebih lama. Akhirnya kita pergi., menembus kegelapan, menerjang hujan demi dia? Apa?!! Demi dia?! Mengapa harus dia?

Dalam kalut, tiba-tiba sesuatu menghentak, kamu tiba-tiba berbicara tentang sesuatu yang sama sekali tak kuduga.

“Angin ini adalah angin yang sama.. yang kurasakan saat aku bersamanya, memandang keindahan kota dari atas bukit yang penuh ilalang..” Katamu tegas, kamu memandangku begitu tajam, dengan sinar mata yang paling galak, seolah kamu benar-benar ingin membunuhku dengan tatapan mata itu. “Kamu tahu.. kadang hal yang kita rindukan adalah hal yang jauh yang tak akan pernah bisa kita miliki lagi?”

Kamu masih terus menatapku denga cara itu smapai akhirnya aku mengalah, mengalihkan pandanganku pada hujan yang deras turun membasahi hatiku yang panas.

“Tidak.” Hanya itu yang mampu terlontar dari bibirku, dari bibir seorang lelaki yang kalah.

(C) Andy Riyan

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s