Sejak Tegur Sapamu

Berdiri di depan sebuah potong benda berbentuk persegi panjang; menatap kedalamnya, pada sebuah cermin kamu memperbaiki tatanan jilbab biru muda pilihanmu. Di wajah yang kamu tatap cermat–di dalam cermin itu–kamu meriasnya, menyapukan make up beberapa kali hingga merata. Sedikit memoles bibirmu dengan gincu.

Di luar aku telah menunggu. Berdiri melipat tangan kemudian memasukkannya kedalam saku seperti aku telah melakukannya ribuan kali. Berkali-kali aku mengedarkan pandangan ke arah pintu kemudian berpaling sebentar lalu mencuri pandang kesana lagi namun, masih tak kutemui batang hidungmu. Acapkali aku mendongakkan kepala memandang jauh keatas, mengira-ngira dalam senyap, meraba-raba dalam gelap, menghitung bintang-bintang di langit yang rasanya sama seperti menghitung menit-menit yang telah lewat.

peluang-hubungan

gambar : ini

Beberapa menit yang lalu sepertinya kamu masih merasa tak nyaman dengan pilihan baju. Seisi lemari telah kamu bongkar dan telah kamu jajal setiap warna dan model pakaian yang semakin mencemaskanmu. Ini adalah kali pertamanya kamu akan pergi denganku.

Waktu sudah menujukkan pukul setengah delapan. Sudah mulai terlambat.

“Ambillah waktu sesuka hatimu.” Kataku membatin.

Dalam kekosongan, karena lama menanti kehadiranmu, aku terjebak memikirkan kata-kata yang ingin kukatakan padamu saat nanti kamu muncul di hadapanku.

“Halo, kamu cantik malam ini… ah sial ini berlebihan.” Kataku menggerutu pada diriku sendiri. Kemudian mencoba kata yang lain “Halo? Kenapa lama sekali, kamu…” aku tidak bisa menyelesaikan kata-kata itu ”Ini sangat kejam!”

Aku kembali termangu ketika menatap pintu dengan cemas. Aku menjadi semakin gugup seperti tak akan sanggup mengucap satu kata yang akan merubah seluruh cerita hidup. Berkali-kali aku menghela beratnya nafas yang ku hirup untuk membesarkan nyali yang semakin mengkerut.

Selesai dengan sapuan gincu terakhirmu, kamu muncul kehadapanku dan kulihat kamu masih canggung seperti kurang nyaman dengan penampilanmu. Kerapkali kamu mencuri pandang pada jendela kaca yang gelap di samping pintu, seperti berharap dapat bercermin dengannya.

Aku tidak melihat ada yang salah. Bagiku kamu terlihat begitu cantik ketika kamu tak bisa menutupi pikiranmu. Kecemasan yang terlihat olehku yang tergambar di wajah sendumu membuatmu nampak sangat ayu.

Dadaku berdebar-debar memperhatikan setiap langkahmu dalam melipat jarak yang masih tersisa beberapa meter dariku. Sesuatu kemudian berputar-putar dalam perutku ketika akhirnya kamu sampai di hadapanku. Hanya keheningan yang menjawab senyum simpulmu dan seketika perutku rasanya seperti terpilin, rasanya aku telah menemukan rumahku. Mungkin aku tak pernah mengatakannya padamu namun, aku benar-benar ingin kamu tahu, kamu telah memilikiku sejak tegur sapamu saat pertama kita bertemu.

“Halo, Mas? Maaf membuatmu lama menunggu…”

“Ah tidak lama, kok.”

“Jadi akan kemana kita malam ini?”

Akan kemana kita? Aku benar-benar tidak tahu. Aku tidak benar-benar memikirkannya akan mengajak kemana kamu pergi. Sebenarnya ada tempat paling sepesial yang kumiliki di kota ini namun, ini terlalu awal dan mungkin kamu tak akan menyukainya. Karena tempat itu hanyalah sebuah jembatan yang di bawahnya mengalir suangai yang keruh. Hanya saja di tempat itu, kita akan merasa leluasa memandangi langit tanpa terhalang oleh bangunan kota dan kabel-kabel yang berantakan. Memeluk langit dan menunjukkan padanya satu bintang putih kemudian bersama-sama mendekap mimpi adalah keinginanku tapi,tidak malam ini. Dan pula aku tidak tahu apakah baginya bintang tidak hanya sekedar percikan di langit malam.

tugu-salah-satu-monumen-terkenal-di-yoyakarta

sumber photo : disini

“Bagaimana kalau kita keliling kota… dan mengunjungi tugu putih berkubah emas?” kataku lebih seperti ide asal-asalan daripada ide yang cemerlang.

“Boleh.” Jawabnya menyunggingkan senyumnya yang canti. Sebenarnya yang paling cantik yang pernah ku ingat.

Kemudian kunyalakan motor hitam yang akan menemani mengukir kisah kami berdua. Tak sekalipun merasa enggan dengan motor buntutku, kamu menaikinya dengan anggun dan mantap. Hatiku merasa lega. Sejurus kemudian kita meluncur di jalan-jalan yang sangat padat.

Lelah hanya berkeliling tak menentu kemudian berhenti di depan tugu di tengah persimpangan jalan. Sekedar saja kita kemudian berbagi cerita. Lalu melanjutkan perjalanan lagi. Lalu kita sampai di sebuah tanah yang lapang dan kita berjalan kedalam kerumunan orang. Namun kita merasa kita hanya sendiria, berdua di tengah semesta.

Gemerlap jalanan, keriuhan banyak pasang mata mencoba menculik perhatianmu. Namun kau hanya tersenyum. Senyum yang menumbuhkan sebuah makna dalam puisiku kemudian hari. Kau benar-benar telah mencuri pertunjukan malam itu. Karena kurasakan hanya ada rumput-rumput yang sedikit basah yang seperti menari yang mengelilingi kita. Daun-daun kemudian mulai berbisik mengisi teka-teki yang saling kita lempar dan kemudian kita tertawa. Kita bersenandung dan kemudian saling menatap. Matamu benar-benar tajam seperti api yang menyala-nyala, bergoyang-goyang hebat penuh semangat membuat rumah menjadi semakin hangat.

Kemudian ketika kamu berada disisiku dn mulai bersandar disampingku. Kurasakan detak jantungmu mengingatkanku akan usaha mengajakmu malam itu. Dan aku masih tak bisa mengatakan apa yang sesungguhnya ingin aku sampaikan padamu. Tapi kamu meraih tanganku dan mengajakku menari pelan menyapu debu-debu malam. Lalu kau mendorong bibirmu dekat dengan telingaku dan membisikkannya pelan.

“Terimakasih telah mengajakku pergi malam ini.”

Advertisements

Author: jejakandi

Mencoba mengolah rasa dan kata agar bermakna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s