Bangunkan Tidur dari Mimpi

Kutuliskan puisi cintaKemana hati masih mengembaraDi sini, seperti seharusnyaKerinduan itu sirna Kini kau tahu ku tahuKupandang dikau di antara mentariKuselimuti dikauDari dinginnya mimpi Iqbal dan Rumi telah menungguDi satu titik di perjalanan waktuHalusnya seni dan cintaHempaskan kata-kata menjadi debu Kubentuk ulang semua untuk mengulangTelanjangi tabir kepalsuan, tidur bangun dari mimpi. Andy Riyan, Desa Hujan, 2021

Ide Itu Hanyalah Ilusi Jika…

Catatan Harian Andy Riyan, Desa Hujan, 12 Juni 2021 Menulis bagiku selain masuk dalam kategori ranah kerja intelektual, juga bisa dimasukkan dalam ranah kerja psikologis. Menulis seringkali telah membuktikan begitu ampuh untuk menjadi sebuah start, awalan, dari berbagai proyek dan renungan. Senyum mengembang, pagi ini, seiring dengan mentari yang menyembul di atas cakrawala dari balik…

Surat Untuk Sahabat: “A Letter From Me to Me 10 Years From Now

Ha ha ha! Halo, Bro. Apa kabar? Ha ha ha! Maafkan aku yang tiba-tiba menyapamu dengan tawa. Tapi jika kamu ingat hari ini (10 tahun yang lalu) kamu pasti maklum, karena memang kita, entah sudah berlalu sejak berapa lama, selalu suka begini; suka menertawakan diri sendiri. Kuharap kamu di sana masih suka tertawa dan menertawakan…

Mengapa Menulis Dibandingkan dengan Media Ekspresi Lainnya?

Mengapa menulis dibanding media ekspresi lainnya? Itu adalah pertanyaan yang cukup menarik yang diajukan oleh seorang komentator pada postingan yang berjudul Tanpa Sekat Tanpa Pembatas di jejakandi ini; Nita. Kurasa ini adalah komentar pertamanya di sini. Silakan Amigos bisa mampir di blognya Nita, di sini https://jnynita.com/ Sebagaimana telah kujawab di sana, bahwa menulis adalah media…

Melankoli Cinta Segitiga

Aku tak pernah melihat seseorang dengan raut muka yang lebih sedih dari seorang yang kutemui di suatu senja, di salah satu gerbong kereta api, dalam sebuah perjalanan antara Malang-Jogja. Perempuan yang kutemukan duduk menghadap diriku di sisi jendela itu terlihat begitu pucat dengan sinar mata yang redup. Aku tak ingat di mana perempuan yang berpakaian…

Tanpa Sekat Tanpa Pembatas

Untuk sementara ini, biarkan aku meninggalkan catatan tentang mural yang sedang viral. Mural yang sedang viral sekarang ini merupakan sebuah meme yang berhasil menarik pelatuk kekacauan yang tengah dialami pemerintahan sekarang. Pada diri manusia Indonesia sesungguhnya sudah tersimpan meme bahwa pemerintahan yang sekarang kerjanya sedang kurang beres, sehingga penghapusan mural yang tampaknya sederhana malahan menjadi…

Seorang Profesional yang Sedang Darurat Untuk Menulis

“Aku tidak tahu apa yang sedang ingin kulakukan sekarang. Aku tidak tahu apa yang ingin kulakukan dalam hidupku.” Sungguh itu adalah sebuah kalimat yang paling membuatku frustasi. Sebagaimana aku begitu putus asa ketika merasa ingin memproduksi sesuatu, begitu putus asa ingin menjadi sesuatu… tetapi apa yang kulakukan sekarang ini? Hanya menuliskan keresahanku. Keresahan yang kualami…

Mengapa Baru Sekarang, Tidak Dari Dulu-dulu?

“Aku bersyukur nikahnya baru sekarang.” Itu jawaban yang selalu kukatakan kepada orang lain yang menduga bahwa aku menyesal kenapa tidak menikah sedari awal. Tulisan kali ini lahir untuk menjawab topik itu. Mereka menduga aku menyesal, jika pernikahan memang segini indahnya, kenapa tidak sedari awal saja aku melakukannya. Tidak, aku tidak menyesal dan aku sama sekali…

Memahami Adalah Sebuah Pilihan, Bukan Seni

Suatu hari di awal bulan Februari, ya bulan lalu tepatnya hari Jumat tanggal 5 sebagaimana tanggal yang kucatat di buku harian, aku baru saja selesai membaca bab pertama dari buku “Matahari dan Baja”, sebuah terjemahan dari “Sun and Steel” karya Yukio Mishima. Buku kedua dari Misihima yang kubaca setelah “The Temple of The Golden Paviliun”….